Fate Or Destiny

Fate Or Destiny
Eps. 53. Jauuuuh


__ADS_3

Sebuah hubungan membutuhkan waktu, untuk lebih dekat, untuk saling mengenal, untuk mengembangkan sikap saling mengerti dan saling menyayangi. Jatuh cinta bisa terjadi saat pertama melihat seseorang, tapi perlu komitmen untuk bertahan dalam cinta itu. ~


Benaya berproses untuk mencapai titik ini. Hampir dua tahun dia di sini, dia bukan hanya berusaha supaya pekerjaannya berjalan dengan baik menurut tahapan pekerjaannya, tapi juga telah berusaha mendapatkan cinta Keke dan kini hubungan mereka sangat baik. Dia seperti mempunyai seseorang yang bisa dipercaya. Apapun yang terjadi dalam dua tahun ini, ibarat menemukan rumah yang aman di dunia, Keke tempat ternyaman untuk dirinya, seseorang yang paling banyak memberi dia kebahagiaan sampai saat ini.


Tapi kalimat bossnya sesaat tadi...


"Saya butuh kamu untuk menangani proyek itu, Ben... Pekerjaan kamu di sini sangat memuaskan, pasti kamu juga bisa mengatasi proyek itu..."


Boss mengulangi dan menegaskan kembali perkataannya saat melihat Benaya hanya terdiam sambil menatap padanya. Boss Nicolaas Hong datang dengan berita yang mengejutkan Benaya.


"Ben... proyek ini nilainya dua puluh kali lipat dari proyek di sini, dan kita memenangkan tendernya. Kamu terbukti mampu menangani proyek di sini meskipun banyak sekali masalah di sini sebenarnya..."


Boss kembali berbicara karena Ben masih diam.


"Ben... bonus untukmu sudah ditransfer ya. Dari saya pribadi juga sudah saya transfer. Officially kerjaan kalian di sini tinggal lima persen, makanya saya minta kalian siap-siap untuk pindah ke Manokwari. Tidak ada sub kontraktor di sana, mereka tidak menyanggupi, semua dari kita jadi kamu lebih gampang mengatur itu. Sudah ada staff di sana sebulan ini."


Manokwari... itu jauh dari Jakarta bahkan dari Manado... Ben seperti dipaksa untuk keluar dari dunianya yang nyaman dan tenang sekarang. Boss membicarakan bonus, pasti untuk menarik minat Benaya.


"Ben..."


"Aku kembali ke Jakarta aja boss. Ada pak Lukman yang bisa, boss kirim dia aja. Josh juga bisa diandalkan. Anak-anak... mereka juga bisa ikut Josh, boss juga bisa rekrut dua staff lain di kantor ini, kerja mereka bagus... mereka aja boss, kali ini aku gak ikut..."


"Ben... saya tidak percaya Lukman bisa. Kamu yang saya harapkan saat saya ambil proyek ini, saya berani ambil karena ada kamu bukan yang lain. Dan saya tidak mungkin mundur, proyek sudah mulai..."


Boss Nico yang baik, Manokwari itu jauuuuh boss, jauh dari Keke... tapi apa Ben bisa bilang kalau itu alasannya? Dan Jakarta sebenarnya sama jauhnya dari Manado Ben sayang... 🤭😛


"Ben... saya mohon jangan menolak. Bonus kamu kali ini rumah, boleh pilih di mana aja."


Ben tertawa sumbang. Di satu sisi dia tersanjung karena boss Nicolaas begitu bergantung padanya sekarang, dia orang penting untuk si boss sekarang. Dia boleh berpuas diri karena seperti menerima pengakuan dari si boss tentang keberhasilannya, tentang potensi dirinya yang besar, tentang boss bukan apa-apa tanpa dirinya.


Tapi di sisi lain, dia merasa tidak bebas sekarang Nilai proyek yang disebutkan boss justru membuat dia terbebani dengan beban yang besar. Dan dia mulai merasa dimanfaatkan untuk tujuan si boss untuk mendapatkan lebih banyak dan lebih besar. Pasti boss rela memberikan bonus besar untuknya... siapa yang kerja demikian keras di sini? Dirinya dan staff...


Tapi... karena boss juga, kesempatan demi kesempatan yang boss kasih ke Ben membuat dia bisa menggali dan memaksimalkan potensi dirinya. Karena boss percaya padanya, dan selalu mendorong dirinya untuk menjadi lebih baik. Boleh dibilang dirinya yang sekarang, sudah settle secara finansial, ada di titik ini karena si boss juga.


"Ben..."


Tatapan boss memelas ke arah Ben.


"Nanti aku pikirkan boss..."


"Jangan menolak Ben. Tidak ada orang lain, hanya kamu. Bonus kalian ke Thailand 5 hari nanti diatur Enrico untuk tiga minggu depan. Setelah itu kalian boleh cuti dua minggu lalu berangkat ke Manokwari."


Keren banget bonus dan fasilitas dari kantor ini untuk mereka, tapi Ben cenderung biasa aja menanggapi, sudah keseringan dapat bonus. Dia mulai galau soal Keke. Setiap kali mencoba masuk untuk membicarakan masa depan berdua, Keke akan diam seribu bahasa. Jika sebelumnya dia bisa memaklumi dan bersikap menunggu, kali ini dia harus memikirkan cara untuk mendapatkan persetujuan Keke bagi tahapan lanjut hubungan mereka.


Boss masih berbicara ini-itu soal proyek barunya, tapi Ben tidak bisa menyimak lagi, matanya menerawang, pikirannya menuju satu titik, Keke.


"Ben... saya pulang ke Jakarta besok. Saya balik ke hotel sekarang..."


Boss keluar dari ruangan Ben, pamit tapi Ben tidak mendengarkan. Boss sudah hapal kelakuan Ben. Tak apa kadang Ben bersikap tidak formal padanya, sudah biasa si boss, asal Ben jangan menolak apa yang dia tugaskan apalagi resign.


Tak lama setelah boss Nico pergi...


"Josh... saya ada urusan. Kalau ada yang penting telpon saya aja. Kalau saya tidak balik ke sini suruh Elijah kunci ruangan saya..."


"Baik pak..."


Ben menuruni tangga dengan cepat, di bawah dia berpapasan dengan Farly dan Fransien yang terlihat saling menggenggam tangan. Ben menatap tajam, makin lama makin berani mereka berdua di lingkungan kantor bersikap seperti itu.


"Kerja yang bener!! Jangan pacaran saat kerja!"


Ujar Ben dengan suara berat tegas dan datar saat melewati mereka berdua.


"Ehhhk... maaf pak..."


Farly spontan melepaskan tangan Fransien dan menjauh. Bagus juga buat Fransien bisa mengalihkan perasaannya dari Ben, tapi cukup di kompleks rumah aja dia melihat mereka seperti itu jangan di kantor.


"Mau ke mana si boss siang-siang?"

__ADS_1


Fransien berbisik mengekori dengan pandangan saat si boss naik ke mobilnya.


"Gak tahu... ayo naik aja, entar boss balik kita kena damprat..."


Farly naik tergesa meninggalkan Fransien yang masih di anak tangga bawah.


.


☘


.


Di ruko....


Ben tidak bisa langsung ngobrol dengan Keke. Di kantor dia bisa mengalihkan pekerjaannya pada staffnya atau berhenti jika dia mau meskipun sibuk, tapi pekerjaan Keke beda, satu tenaga sangat berarti, di saat sibuk dia tidak mungkin begitu saja meninggalkan kerjaan. Keke hanya melayani Ben makan siang dan menemani sebentar kemudian sudah turun lagi ke dapur.


Kali ini anak-anak bermain di rumahnya, jadi Ben sendiri di lantai atas. Cuaca sedang sangat panas, dan menambah panas otak Ben yang belum juga menemukan langkah terbaik untuk dirinya dan nasib cintanya. Dia memang butuh Keke untuk membicarakan itu.


Keke muncul lagi membawa satu nampan berisi beberapa kemasan dessert yang dia kenal. Ben masih duduk diam di tempat dia makan tadi. Keke meletakkan nampan di meja.


"Mau makan ini sekarang?"


"Nanti aja Rens..."


"Aku simpan di kulkas, nanti kak Bens ambil sendiri ya..."


"Iya..."


Keke membereskan bekas makan Benaya, melirik Ben yang terlihat beda...


"Kak Bens... nanti bilang ke aku kapan tante Litha pulang, biar aku siapin oleh-oleh."


"Iya..."


Keke mengernyitkan dahinya...


"Kak Bens kenapa? Sakit?"


Keke mendekat dan menempelkan tangan ke dahi Benaya. Tangan Keke langsung ditangkap Ben, dan satu tangan lagi meraih pinggang Keke, memeluk pinggang ramping itu sambil mukanya dia tempelkan ke perut Keke yang berada tepat di depan wajahnya. Tangan Keke yang dia pegang, dia angkat ke kepalanya, kemudian dua tangannya mengunci di pinggang belakang Keke. Keke bingung sesaat, tapi saat Ben diam lama di posisi itu, perlahan Keke mengusapkan tangannya yang sudah ada di kepala Ben sejak tadi.


"Gak balik ke kantor lagi?"


Suara Keke pelan bertanya saat Ben tidak mengubah posisinya. Kepala Ben mendongak, dagu kini menempel di perut Keke, mata terlihat sayu.


"Gak... pengen ada dekat kamu..."


Tangan Keke bergerak lagi mengusap Kepala Ben, dia tersentuh pandangan tak biasa dari Ben, seperti sedang membutuhkan seseorang, dan itu dirinya.


"Aku bau bawang..."


"Udah biasa..."


Ben mendusel-dusel perut Keke dengan hidungnya...


"Kak Bens..."


Tangan Keke berhenti bergerak di kepala Ben dan dia merenggangkan tubuhnya dari Ben. Ben senyum singkat tanpa melepaskan tangan yang masih mengunci tubuh Keke.


"Udah kayak parfum kamu aja sih itu..."


"Gak normal hidung kak Bens ahh..."


Ben kembali bersandar nyaman pada Keke, kembali mengeratkan pelukan.


"Sweety, aku tidur di kamar kamu ya... di luar panas."


Keke tak kuasa menolak keinginan Ben yang tampaknya sedang punya masalah, tidak tega menyuruh Ben pulang dan tidur di kamar sendiri padahal hanya dua menitan dari sini sudah bisa tidur nyaman di sana. Lagi pula, percuma berdebat, buang waktu, pekerjaan di bawah menanti dia.

__ADS_1


"Ayo..."


Keke menuju kamar diikuti Ben. Keke menutup jendela lalu memasang pendingin ruangan. Dua kali sudah Ben masuk ke sini. Kamar Keke nyaman, dia benar-benar tak ingin jauh dari Keke sekarang, dia pengen beristirahat di sini semoga membantu pikirannya jadi tenang dan terarah lagi, bisa logis lagi.


"Pinjam kaos kamu ya..."


Ben menuju kamar mandi untuk membilas wajah dan tangan, sementara Keke terpaku di tempat. Ben muncul lagi dengan wajah basah, kemeja yang sudah terurai dan lengan baju yang digulung.


"Sayang... pinjam handuk..."


"Eh... iya..."


Keke menuju lemari mencari-cari apa yang Ben butuhkan, memilihkan kaos oversize untuk Ben gunakan. Saat menyodorkan ke Ben...


"Nanti kita ngobrol ya... ada yang aku pengen tanya ke kamu... udah, kamu boleh kerja sekarang..."


Keke masih menatap Ben mengira-ngira ada apa dengan sang kekasih hati...


"Sayang... mau lihat aku ganti baju ya?"


"Eh... gak..."


Siapa yang mau, jangan aneh.


Keke memutar badannya, tapi tangannya sudah ditangkap Ben, dan Keke kembali masuk di pelukan Benaya.


"Sebentar, aku butuh sesuatu sekarang..."


"Apa??"


Muka Keke mulai tegang. Tatapan Ben yang dalam dan memohon membuat Keke sedikit panik.


"Sesuatu di sini..."


Telunjuk Ben menusuk-nusuk lembut tempat penuh magis di pipi Keke. Keke yang sadar pikirannya tadi terlalu jauh sedikit menggelengkan kepala.


"Kenapa?"


Ben membaca reaksi Keke, tangan masih di pipi.


"..."


"Mana... aku butuh itu sayang..."


Keke akhirnya tersenyum, dan dua pola lengkung di tempat yang sama terbentuk. Perlahan Ben mendekat dan mencium dua sisi pipi Keke tepat di lesung pipitnya.


"Kak Bens... udah ya..."


Keke yang berdebar menarik diri. Cepat-cepat meninggalkan Ben, lalu menutup pintu dari luar.


Cinta berbuat banyak untuk Keke terlebih Ben, menemukan seseorang yang dicintai dan mencintai, berada di samping dirinya membuat dia bisa sejenak bersembunyi dan melepaskan diri dari sejumlah masalah.


.


.


Dear readers...


Enjoy yaaaaa


🤭😛 💪😇✌🥰😎


.


💚💚💚


.

__ADS_1


✳


__ADS_2