
Kadang-kadang seseorang kehilangan hubungan dengan orang lain karena satu alasan, dan kemudian oleh satu alasan juga mempertemukan mereka lagi. Seseorang bisa punya alasan untuk tidak menyukai tapi kemudian menemukan begitu banyak alasan untuk mencintai orang yang sama. Begitu banyak alasan dan motif dalam sebuah hubungan.
Ben seperti masuk dengan paksa dalam kehidupan Keke, tiba-tiba ada di lingkungan yang sama dan kehadirannya tidak bisa lagi diingkari Keke, perlahan rasa itu terus tumbuh dan Keke menemukan begitu banyak alasan untuk menyerahkan hatinya pada Ben, tak pernah berpikir dulu bahwa Ben akan menjadi suaminya. Di saat teman-teman SMA menjadi pengagum terang-terangan, Keke justru sebaliknya. Sekarang, cinta begitu hangat di antara mereka.
Benaya masuk ke dalam kamar dengan dua kantong plastik di tangan berisi minuman botol dan beberapa jenis snack. Tadi dia keluar, beberapa kali balik ke kamar mengecek kondisi istri saat Keke sedang terlelap. Sekarang tubuh istri yang bergerak di atas tempat tidur sebuah pertanda istri sudah bangun.
“Rens… udah enakan?”
Keke membalikkan tubuhnya menghadap suami yang duduk di tepi ranjang. Tak menjawab Ben, hanya menikmati usapan tangan suami di punggungnya.
“Makan sekarang ya?”
Suara lembut suami terdengar tapi Keke masih malas bersuara, mata hanya memandang suami yang semakin mendekat ke arahnya. Dengan posisi masih duduk di samping Keke, Ben memberikan sebuah ciuman di pipi, dan membelai sejenak. Ben tak menyangka reaksi tubuh Keke akan separah tadi di atas speed boat.
“Masih lemes ya?”
Keke mengangguk pelan.
“Ayo makan… aku juga udah laper, belum makan, nunggu kamu bangun.”
“Kenapa gak makan aja?”
“Mau bareng istri, yuk sayang, aku minta bubur polos tadi, siapa tahu kamu hanya kepengen itu…”
Ben memutar ke sisi yang lebih dekat dengan tubuh sang istri, mengulurkan dua tangan supaya istri bisa berpegangan untuk bangkit.
“Makan di mana?”
“Di sini, aku udah minta makan siang kita dibawa ke sini, tuh ada di ruang sebelah…”
Ada dua pintu di sebelah kanan kamar, yang satu pintu ke toilet, dan yang satu ke pantry kecil dan ruang makan, ruangan dengan pintu geser di bagian yang menghadap pantai. Di pojok depan ruangan itu ada juga pintu kecil akses menuju teras di depan kamar yang juga menghadap ke pantai.
Setelah membantu Keke duduk di sebuah kursi Ben menggeser dua pintu, sehingga ruangan menjadi lebih terbuka, dengan cepat bau khas pantai menyerbu ruangan bersama hembusan angin. Bila keluar dari ruang makan itu, langsung menuju bibir pantai, ada kursi panjang untuk bersantai dengan payung di atasnya dan set meja kursi outdoor khusus di depan kamar itu. Kamar mereka berada paling ujung di resort itu, Inge mememilihkan kamar terjauh dengan alasan biar pasangan honeymoon tidak terganggu. Dan benar, di sini agak tenang, suara riuh keluarga mereka yang bermain di tepi pantai terdengar samar saja dari sini.
“Mau makan di luar atau di sini?”
“Di sini aja…”
Keke menatap hidangan di meja tanpa selera, rasa mual masih sedikit tertinggal, mulut masih terasa kering dan sedikit pahit.
“Makan dong… sini aku suapin…”
Ben berhenti makan melihat sang istri hanya mengaduk piring.
“Gak usah, aku makan sendiri…”
Ben tersenyum, istrinya masih enggan dilayani ataupun bermanja padanya.
“Kenapa? Masih gak enak perutnya?”
“Iya, sedikit. Mulut masih pahit juga…”
“Bentar aku buatkan teh hangat ya… mau tawar atau manis?”
“Teh tawar aja…”
Keke akhirnya makan sedikit karena paksaan suami, gak enak juga melihat suami yang begitu perhatian dan begitu sabar meladeni dirinya. Selesai makan air muka Keke sedikit berubah lebih cerah.
“Duduk di luar sebentar ya… setelah itu baru istirahat di kamar lagi…”
Ben menarik pelan tangan Keke biar Keke bangkit dari tempat duduknya. Sejak tadi Keke irit bicara, suasana yang tidak nyaman buat Keke, masih sukar berbaur di tengah orang-orang yang baru bertemu, terlebih keluarga Ben yang selalu memandang dengan mata menyelidik. Dan rasa tak nyaman akibat mabuk laut yang belum sepenuhnya menghilang, juga perasaan takut melihat air yang banyak.
“Pakai sandal ini…”
Ada dua pasang sandal jepit di depan pintu keluar, Keke memilih yang lebih kecil.
“Di sini aja ya…”
__ADS_1
Keke menunjuk kursi kayu panjang di bawah payung berlapis spons tipis warna biru.
“Iya… nanti sore berenang ya…”
“Kak Bens aja…”
“Sweety… harus biasakan, lama-lama kamu pasti merasakan asyiknya bermain air laut. Anak-anak juga gak sabar pengen berenang…”
“Dede sama Via di kamar siapa?”
“Tuh… di sebelah kita aja kok, di situ ada 2 kamar, satu kayaknya kamar papa sama Lody, satunya mungkin anak-anak sekamar sama Inge dan temennya… siapa namanya, lupa…”
“Mima…”
“Anak-anak lagi nyari kerang… lihat tuh sana, kamu bisa ngeliat gak orang-orang di kejauhan sana, itu anak-anak semua pada ke sana…”
“Siapa yang ngawasin mereka?”
“Ada kok orang dewasa yang ikut, Beca ikut kayaknya… gak usah khawatir…”
Keke menyipitkan mata… memandang di kejauhan ada orang-orang yang terlihat kecil sedang ada di tepian pantai pasir putih itu.
Matahari menjelang sore ini sudah berkurang teriknya, pepohonan besar yang banyak juga membuat adem, ditambah hembusan angin yang lebih dari sepoi-sepoi. Keke duduk bersandar di kursi malas itu, sementara Ben mendekat ke air bermain sebentar di tepian pantai, masuk ke air sampai melewati betisnya. Air terlihat berwarna hijau jernih, di bagian pantai yang lebih dalam nampak ada banyak karang membuat pantai terlihat eksotis, dominasi warna putih pasir laut yang lembut, sebuah pemandangan yang tak membuat jenuh. Tak sabar ingin snorkling, melihat keindahan di bawah air itu.
“Rens… sini…”
Keke menggeleng. Ben datang, mengulurkan tangan.
“Ayo… udah gak terlalu panas, sini jalan-jalan di dalam air dulu, bentar lagi baru kita nyebur…”
Keke yang terus menolak setengah diseret suami, saat telapak kaki menyentuh air, Keke bergidik dan spontan menjauh, dan gelombang kecil yang datang seperti mengejar kaki Keke membuatnya semakin bergerak menjauh sambil melompat kecil menghindari air yang segera hilang seperti terserap pasir putih itu. Ben tertawa tanpa melepaskan pegangan tangannya.
“Hahaha… sweety… air gak akan melukai kaki kamu… tenang aja ya…”
"Aku ke kamar aja yaa..."
Ben kemudian memeluk Keke dari belakang, dua tangannya melingkar di depan dada Keke. Kemudian membawa tubuh mereka berdua berjalan masuk ke air asin itu.
“Ayo jalan pelan-pelan… tutup mata aja dulu.”
Beberapa ciuman Ben di bagian pelipis kanannya memberi efek meneduhkan, membuat Keke menjadi sedikit tenang saat merasakan air pantai menerpa kakinya.
“Buka mata sekarang…”
Keke kaget ada wajah suami yang langsung menyergap bibirnya dan meluma t pelan dan lembut. Agak lama hingga Keke rileks menikmati sentuhan sang suami, tanpa Keke sadari air sudah melewati lututnya, hingga celana pendek yang dikenakannya basah. Ben masih menahan ciuman mereka lebih lama. Setelah terlepas…
“Celana aku basah…”
Keke melihat kedua kakinya. Ben mengeringkan bibir Keke yang basah dengan jemarinya.
“Bener kan kata aku, air laut gak akan melukai kamu…”
“Aku tahu… tapi memang aku takut aja lihat air yang banyak seperti ini, apalagi air dalam yang gak terlihat dasarnya…”
“Sekarang gimana perasaan kamu?”
“Mmmh… mungkin jadi berkurang takutnya…”
Rasa takutnya tadi teralihkan dengan ciuman suami, tak sadar udah masuk lebih dalam, air kini sudah mencapai pinggangnya. Benaya melepas pelukan, tapi Keke langsung berpegang erat di tubuh suami.
“Hahaha… gak apa-apa…”
Semakin ke sini Keke semakin beradaptasi, berdua mereka berjalan bersisian di kedalaman air sepinggang untuk Keke, meskipun masih dalam rangkulan suami dan tangannya juga berpegang pada tubuh suami tapi Keke semakin menikmati sensasi yang ditimbulkan terpaan air asin di tubuhnya. Dari kejauhan pasangan honeymoon itu seolah enggan terpisahkan, padahal Ben sedang membiasakan Keke menikmati air laut menjelang sore ini.
Sesuatu terjadi pada Keke, jalannya setelah dengan Ben menjadi sangat berbeda, perubahan hidupnya memang tidak dramatis, tapi dia mulai menikmati bagaimana membiarkan suaminya menolong dia menghadapi sesuatu yang tidak ingin dia hadapi, seperti hari ini, belajar mempercayai suaminya, membuat rasa takut terhadap laut sekarang berubah menjadi suatu kenikmatan tentang keindahan pantai.
__ADS_1
“Rens berhenti sebentar…“
Ben menahan langkah Keke, dia membungkuk, sejenak kepalanya hampir masuk ke dalam air.
“Ada apa?”
“Tunggu airnya tenang ya… nah… coba kamu perhatikan, cantik gak…”
Setelah air tenang, tak jauh dari kaki mereka ada terumbu karang warna putih yang meliuk-liuk mengikuti irama air, dan ada ikan-ikan kecil sedang bermain di sana.
“Iya… cantik… indah…”
“Ini baru di pinggiran Rens, keindahannya belum seberapa… baru dilihat dari luar. Lebih indah lagi kalau lebih ke dalam. Tadi aku udah lihat banyak foto terumbu karang di sini, indah banget, jadi pengen lihat langsung."
"Tau gak Rens... apa yang tampaknya menakutkan, sebenarnya belum tentu seperti itu. Kamu takut laut, padahal di dalam laut itu menyimpan banyak keindahan. Kalau kamu bisa mengatasi itu, kamu bisa dengan mudah belajar berenang bahkan kamu bisa menyelam. Besok aku mau menyelam bareng beberapa sepupu aku…”
“Menyelam?”
“Iya…”
“Di dalam laut?”
“Iya sayang… masa menyelam di kasur, itu nanti malam sama kamu… hahaha… aduuh…”
Sebuah cubitan manja di pinggang di balas Ben langsung dengan sebuah lumata n di kedua bibir Keke.
“Mulai sekarang, setiap kali kamu nyubit aku, aku balas kayak tadi…”
“Apa sih…”
Keke yang malu memukul pelan lengan suami, di timpali suara kekehan sang suami.
“Mami Keke…. Mami…”
Rombongan anak-anak tampak mendekat, ada Lisya dan Livia bersama mereka, dan ternyata ada beberapa orang dewasa juga yang ikut anak-anak itu mengeksploitasi pantai mencari kerang yang bertebaran di sepanjang pasir putih itu.
“Mami… kita punya banyak kelang… lihat… bagus-bagus…”
Lisya berlari mendekati Keke dan Ben menyodorkan sebuah kantong plastik putih berisi banyak jenis kerang.
“Iya, bagus… cantik.”
“Yica mau simpan di kamal dulu, mau belenang sekalang… ayok… mami belenang juga kan?”
“Iya… mami mau berenang juga…”
Ben yang menyahut kini melepaskan rangkulan, hanya mengenggam tangan istri dan mengikuti Lisya dan Via. Mereka masih berjalan di dalam air, tapi Keke tidak menampakkan wajah takut lagi.
Ketakutan yang sebenarnya ada di pikiran seseorang…
.
.
💟
.
Hi... jumpa lagi kita 😄
Tapi....
Kayaknya mau tamat ya guys
Tengkyuu udah nemenin aku sampai part iniiii....
.
__ADS_1
🙏🏻🙏🏻🙏🏻🙏🏻🙏🏻🙏🏻🙏🏻
💟💟💟💟💟💟💟