Fate Or Destiny

Fate Or Destiny
Eps. 18. Kamu Bukan Orang Lain


__ADS_3

"Rom... anak-anak mana?"


"Di atas om... Yica udah ngantuk tadi di bawa kakak untuk tidur..."


"Tumben jam segini Yica udah ngantuk..."


"Cape kali om... tadi kebanyakan main dia gak bobo siang..."


"Oh... Via juga?"


"Anak itu ada di atas juga lagi ngerjain PR ..."


Ben datang malam-malam. Frekuensi Ben berkunjung jadi berkurang setelah membaca gelagat Keke yang tak lagi membalas sapaannya dan cenderung menghindar. Dia mundur sejenak, tak ingin memaksa Keke untuk bersikap seperti sebelumnya. Sejak Ben meminta Keke menyebutkan namanya, sejak itu Keke berubah.


Lantai atas ruko sudah selesai, dan Ben belum berani naik walaupun dengan alasan bertemu Lisya atau Livia. Tiap ke sini Ben menahan diri hanya sampai di toko tak lagi masuk ke dalam.


"Om sibuk ya? Jarang ke sini..."


"Iya... lagi ada yang dikerjakan..."


Ben duduk di sebelah Rommel di belakang lemari display berisi penganan ringan, sementara Rommel di belakang counter pulsanya. Padahal ingin sekali bertemu Keke, kalau bisa sebenarnya dia mau langsung mencari Keke. Rindu melihat lagi dengan bebas sosok Keke, meski tak bertegur sapa, itu cukup dibanding sekarang ini... Keke begitu jauh.


Ben sadar sekarang bahwa rasa yang dia miliki untuk gadis bernama Keke adalah rasa cinta. Yaaa... Benaya telah jatuh cinta pada seorang Renske. Apa yang tak pernah timbul dalam hatinya dahulu, tak pernah terlintas dalam imajinasinya, itu yang dia rasa sekarang. Si papa Fredrik jika tahu boleh tertawa senang sekarang, obsesinya jadi nyata.


Ben yang mati-matian menolak untuk nikah dengan gadis Manado, sekarang seperti menelan perkataan sendiri. Ben yang menyingkirkan hubungan percintaan dari hidupnya, sekarang tak kuasa menolak pesona cinta dari seorang wanita.


Tapi jalan cintanya tidak mudah, gadis yang dicintai tidak memberi sedikit pun jalan untuk dia masuk dan menunjukkan cintanya. Hatinya tertutup rapat. Dan ini sudah beberapa minggu Keke menjauh, entah bagaimana menyentuh hati itu, Ben tak punya cara selain menunggu.


"Mau dessert om... ambil aja..."


"Boleh..."


Ben melihat klappertart di lemari di depannya, ada sendok plastik di situ, dia mengambil satu dan mulai menikmati, sempat membayangkan Keke saat membuat itu.


"Rom... Rens kalau marah seperti apa sih? Menghindar gitu ya?"


"Rens...?"


"Keke..."


"Oh... kak Keke kalau marah sih... ya... dia ungkapin aja langsung. Kayak kemarin kak Keke marah karena aku mau aja pelanggan meminta rantang di hari minggu, padahal kita minggu libur, yaa kak Keke langsung bilang aja, setelah itu selesai. Emang om merasa kak Keke marah ya sama om?"


"Iya... dia menghindar setiap aku datang..."


"Kak Keke emang gitu sih... sama orang lain gak suka ngobrol..."

__ADS_1


Masa? Apa aku orang lain?


Ben tak menyukai hal itu. Jalannya masih jauh berarti.


"Kenapa?"


"Aku gak tahu, dari dulu seperti itu. Om kenal kak Keke udah lama ya?"


"Sejak umur lima tahun kayaknya, saat dia di Jakarta kita sering banget ketemu. Om Reinhart dan tante Vosye sahabatan sama orang tua aku..."


"Oh... pantas..."


"Kenapa..."


"Kak Keke suka galak, jutek, sama laki-laki tapi sama om biasa aja..."


Ahh... sepercik harapan muncul di hati Ben. Tapi penasaran kenapa Keke jutek sama lelaki. Apa trauma sama suami?


"Emmh... papanya anak-anak gak pernah ke sini ya...?"


"Oh... gak pernah. Sejak pisah dari kak Bonita gak pernah datang ke sini..."


"Bonita??"


"Kakak paling tua, mamanya Via sama Yica..."


Percikan harap tambah besar. Ben jadi ingat perkataan Yica juga Via waktu itu, dia pikir sebutan mama dan mami itu orang yang sama yaitu si Keke.


"Si Bonita tinggal di mana gak pernah terlihat di sini?"


"Kak Boni jadi TKW di Singapura... udah 2 tahun lebih..."


"Oh..."


Jadi, apa yang menyebabkan Keke tak memberi peluang untuk dia mendekat, mengapa dia begitu dingin terhadap lelaki? Jangan-jangan trauma itu? Ben teringat 7 tahun lalu, perasaan bersalah yang sama akan hadir jika mengingat itu. Dan sekarang dia semakin ingin membawa Keke di sisinya, ingin melihat lagi tawa manis Keke, rindu lesung pipit di kedua pipi Keke saat tertawa.


Dia sadar dia tak bisa mengubah Keke untuk membuka diri. Keke bisa berubah oleh keinginannya sendiri, tapi harus ada sesuatu yang membuat dan mendorong dia berubah. Siapa yang akan melakukan itu? Mungkin Ben tak boleh terus mundur dan pasif sekarang, jika dia diam tidak akan ada perubahan apapun, Keke akan tetap berdiri di tempatnya dengan tembok tebal dan jarak yang dia bentangkan. Ben harus berbuat sesuatu, Ben yang harus datang mendekat dan merobohkan benteng itu. Niat dan tekad menjadi kuat lagi...maju Benaya 😉


"Om..."


"Rom... jangan panggil om... aku jadi merasa udah tua banget..."


"Hehehe.... aku panggil apa dong?"


""Panggil nama boleh, Bipi aja, itu nama kecil aku... di sini biasa kan panggil nama tanpa embel-embel apa..."

__ADS_1


"Gak sopan ahh... hehehe aku panggil kak Bipi deh..."


"Terserah kamu..."


"Eh kak... minta tolong jagain sebentar, sampai kak Keke turun ke sini... aku mau antar pesanan klappertart, mau dibawa ke Jakarta besok pagi, deket aja di lorong sebelah..."


"Boleh... boleh..."


"Makasih kak..."


"Iya..."


Setelah Rommel pergi, beberapa waktu berlalu ruko terasa sepi. Tidak ada pengunjung membuat Ben duduk diam dan merasa lucu, siang hari dia jadi boss di kantor dengan gaji fantastis, dan malam ini dia jualan pulsa...


"Mel... sana antar pesanannya, udah beberapa kali mereka wa... udah ditunggu..."


Keke duduk di tempat Rommel tadi, mata di ponsel sedang menjawab pesan, tak menyadari bahwa yang duduk di sampingnya sekarang adalah Benaya bukan Rommel.


"Mel..."


Mata memandang sekarang dan... saat menyadari siapa yang duduk dan sekarang menatapnya, Keke spontan berdiri hendak masuk lagi.


"Rens..."


Ben berdiri dan langsung menghalangi pintu masuk. Keke batal bergerak ke arah pintu, berdiri canggung di depan Ben.


"Duduk aja... aku akan pulang..."


Keke duduk kembali mendengar perkataan Benaya. Ben melangkah keluar dari belakang lemari display mengarah ke luar ruangan itu. Tapi kemudian Ben berbalik lalu berkata tanpa jedah...


"Rens... aku tau kamu menghindari aku, entah apa alasan kamu aku gak ingin tahu. Tapi kamu harus tahu bahwa mulai malam ini aku gak peduli, kamu menghindar, kamu gak bicara padaku, kamu gak melihatku, itu gak masalah. Tapi aku akan terus ada di sekitar kamu, bicara padamu, melihat padamu. Aku akan datang dan datang lagi, sampai kamu mau melihat padaku dan bicara padaku. Banyak hal yang ingin aku lakukan buat kamu untuk menebus kesalahanku di masa lalu... bagi aku kamu bukan orang lain Rens..."


Benaya berhenti bicara dan masih memandang Keke yang tertunduk, tapi dia tahu Keke mendengar apa yang dia katakan.


"Kamu bukan orang lain buat aku..."


Meskipun Keke masih diam, tapi menyimak perkataan Ben tadi dia tahu sekarang bahwa dia akan menghadapi Ben yang berbeda mulai besok...


.


Keke... kamu juga harus tahu, author kasih bocoran... jika Ben sudah bertekad, maka dia tidak dapat dihentikan.... nah loh... apa tekad si Ben ya? Readers tahu lah... apalagi author. Keke juga tahu lah... Keke bukan gadis bodoh kan, ya gak Ke.. eh Rens... 😉 Tapi boleh gak buka sedikit saja hatimu, biar lancar nulis yang romantis-romantis....


Enjoy reading... Happy weekend... Blessing 😊


.

__ADS_1


.


✴✴✴


__ADS_2