Fate Or Destiny

Fate Or Destiny
Eps. 76. Hampir Saja


__ADS_3

Pernikahan yang indah tidak terjadi begitu saja, ada usaha dua orang yang menyatukan hasra t tertinggi untuk bersama, belajar menanggalkan diri sendiri untuk memahami seseorang yang lain, merubah banyak hal dalam diri sendiri untuk bisa menerima kebiasaan seseorang yang dicintai, berketetapan hati mengikat diri menuju puncak kesatuan yang lebih lengkap sebagai suami-istri.


Dan Ben sudah tak sabar untuk hidup bersama, pikiran dan khayalannya bergerak jauh dan semakin liar hari-hari ini.


📱


“Sweety…”


“Iya…”


“Kangen… ketemu ya…”


Seseorang tidak dapat menahan dirinya sekarang. Sejak tiba di sini bersama mama Litha, hanya di hari pertama dia bisa bertemu Keke. Setelahnya seminggu ini dia terpaksa mengikuti aturan mamanya yang melarang dia bertemu Keke lagi sampai hari pernikahan, melarang dia pergi-pergi meninggalkan tempat mereka menginap sementara ini, rumah keluarga papa Fredrik yang tidak ditinggali pemiliknya, di sebuah perumahan di pinggiran kota.


“Kan gak boleh? Kak Bens dilarang ketemu aku kan... Aku sih gak masalah, tapi kak Bens nanti dimarahin tante Litha.”


“Mama lagi gak ada, lagi ke bandara jemput oma aku sama saudara-saudara aku dari Semarang. Aku ke rumah ya.. ya?”


“Nanti ketahuan sama tante Litha gimana? Tante Litha juga ngomong ke papa soal itu, kak Bens…”


“Nanti aku ngomong ke om Ramly…”


“Video call aja…”


“Gak ahh… pengen ketemu…”


“Kak Bens… tiga hari lagi kita udah sama-sama terus, sabar aja…”


“Tiga hari itu masih lama sayang… aku ke sana ya?”


“Kak… aku gak enak sama tante…”


“Please… sweety, please…”


“Ya udah… terserah kak Bens, tapi tanggung sendiri akibatnya, ya…”


‘Iya…”


“ Oh iya, sekalian ambil mobil lagi di sini, papa sewa mobil satu lagi untuk keluarga kak Bens.”


“Oke… aku berangkat…”


.


“Siapa?”


Papa yang baru naik dari lantai bawah menangkap akhir pembicaraan Keke.


“Kak Bens, pa… pengen datang ke sini…”


“Ike… dia dilarang bertemu kamu, Ike jangan melanggar cara-cara keluarganya Ben, kebiasaan mereka…”


“Dia yang memaksa pengen ke sini pa, Ike malah gak pernah telpon kak Bens karena udah diwanti-wanti tante Litha waktu itu…”


Keke menjawab dengan emosi berbagai rasa, antara malu dengan kalimat bernada teguran dari papa juga rasa tak tega pada Benaya yang terus-menerus menelpon dia meminta bertemu. Papa Ramly hanya tersenyum masam, dia tahu gejolak yang sedang berkecamuk dalam diri anaknya, dan dia bisa membaca apa yang ada dalam pikiran calon menantunya.


“Seharusnya Ike menolak keinginan Ben…”

__ADS_1


“Kak Bens udah jalan ke sini, pa…”


“Ada maksud yang baik dari sebuah kebiasaan, dan tidak baik sebenarnya melanggar aturan dalam kebiasaan orang lain. Meski pun dalam kebiasaan kita tidak ada hal seperti itu, tapi kita akan bersatu dengan keluarga Ben, seharusnya kita menghormati itu Ike…”


“Kan anaknya sendiri yang gak mau mengikuti aturan mereka…”


“Ike juga memberi peluang…”


“Maaf pa… Ike telpon kak Bens, deh…”


“Biarin aja dia ke sini, kan sekalian ambil mobil…”


“Loh… papa tadi bilang…”


“Anggap aja papa gak tahu dia datang ke sini… kamu juga kangen kan?”


“Papaaa…”


Papa Ramly masuk ke kamar depan, dulu kamar Keke sekarang jadi miliknya setiap kali dia datang ke sini. Hati sang papa juga sedang menikmati bahagia, bisa ada di moment terbaik anak gadisnya semata wayang, bisa hadir lagi dalam kehidupan anaknya, bisa berbuat sesuatu buat anaknya, tak ada yang lebih membahagiakan dibanding hal ini. Mengenai Ben, dia percaya lelaki itu sanggup membahagiakan anaknya, melihat Ben mengingatkan dirinya puluhan tahun silam saat berusaha mewujudkan kebahagiaan bersama wanita yang paling dia cintai. Jadi dia bersikap toleransi pada Ben saat ini, berusaha memahami jiwa lelaki itu.


“Rens…”


Calon suami kini sudah ada di depan mata, langsung memeluk Keke erat untuk melepaskan semua rasa rindu yang makin hari makin kental saja, tak kuasa dia bendung gejolak dirinya yang ingin berbuat banyak pada calon istrinya. Tangan sempat berkelana ke beberapa tempat sensitif Keke, membuat Keke segera melepaskan diri…


“Sayang… masih kangen…”


Ben yang berniat memberikan ciuman menatap manja pada Keke yang telah menarik dirinya. Ada papa di dalam kamar, tiba-tiba papa keluar bagaimana? Keke beranjak ke tangga sambil menarik tubuh Ben, wajah Ben yang terlihat aneh membuat Keke tak nyaman.


“Kita ke atas aja…”


Di atas, Keke sengaja duduk di kursi tinggi tanpa sandaran, kursi bar yang dia letakkan dekat dengan dinding pagar.


Keke meringis, ini siang hari, matahari sedang terik-teriknya di atas sana. Dia jadi menyesali tidak membuatkan atap di area ini, tempat ini tak bisa digunakan saat siang hari atau hujan, mungkin perlu renov lagi, pikiran yang mendadak datang karena gugup menghadapi Ben yang sekarang. Keke akhirnya membiarkan Ben membawa dirinya ke ayunan hijau, padahal di situ juga agak panas, apa boleh buat tidak ada tempat yang baik sekarang untuk ngobrol berdua, masa membawa Ben ke kamarnya, melihat tindak-tanduk Ben sekarang dia bergidik. Baru saja duduk, tubuh Rens seolah hilang dalam rengkuhan tubuh pria tinggi itu.


“Udah gak sabar menunggu, Rens…”


Dan ciuman panjang tak terelakkan lagi, sebuah cara berciuman yang sangat beda terburu-buru dan agak sakit, bibir Keke beberapa kali kena gigitan Ben, belum dekapan Ben yang begitu erat mengunci pergerakan Keke. Ciuman yang begitu agresif penuh energi, terasa dalam masuk ke seluruh mulutnya. Sensasi yang lain yang Keke dapatkan lewat sentuhan di antara bibir mereka, Ben menjelajah ke semua bagian mulut Keke. Adrenalin yang terpicu bukan hanya diri Ben yang terasa panas, Keke juga mulai merasakan aliran dalam tubuhnya menghangat. Satu tangan Ben yang menahan tengkuknya serta tangan lain yang merambah beberapa area tubuhnya menghadirkan aliran dahsyat ke seluruh rasa di diri Keke, semua indra seolah lumpuh dalam cengkeraman hasra t diri. Tak tahan dengan tuntutan rasa yang semakin dalam dan memabukkan Keke juga tak ingin hanyut lebih jauh, Keke melancarkan senjata andalannya. Ciuman terlepas.


“Sakiit, Rens… kenapa sih suka nyubit aku…”


“Bibir aku juga sakit… kenapa ciumannya kayak gitu…”


Keke menjawab sambil mengatur intonasi suaranya, menahan deburan di dada dan aliran asing yang hadir di seluruh bagian tubuhnya karena cumbuha n itu. Dia memperbaiki kaosnya yang terangkat akibat permainan si calon suami.


“Maaf…”


Ben juga ikut mengontrol dirinya, mengambil ujung kaosnya dan mengeringkan area bibir Keke yang basah.


“Kak Bens… Kebiasaan.”


“Aku baru mandi, kaos aku bersih…”


“Iya… percaya, tapi gak perlu kayak gitu…”


Keke beranjak ke ujung ayunan menjauhi Ben. Ben yang memperhatikan itu segera meraih tubuh Keke lagi dalam pelukannya.


“Kak Bens… aku takut kak Bens lepas kendali…”

__ADS_1


Keke berbisik dalam pelukan Ben. Ben membuang napas beratnya, sejujurnya dia memang hampir menyerah tadi, rambahan pikirannya yang telah jauh memikirkan hal ini harus dia redakan sekarang. Sebuah usapan penuh sayang di kepala Keke mengganti aktivitas tangan yang sempat bergerilya tadi.


“Maaf, Rens… hampir saja kita… aku hampir gila memikirkan ini.”


“Jangan dipikirkan kalau gitu…”


“Gak bisa sayang… makanya aku ke Jakarta waktu itu, tinggal serumah dengan kamu, memandang kamu setiap waktu terlalu menyiksa. Bekerja membuat aku lupa sejenak… diam di rumah seminggu ini membuat aku jadi sedikit tertekan.”


“Gak lama lagi kak Bens… sabar aja ya… Lebih indah jika terjadi pada waktunya… aku punya prinsip itu, aku hanya ingin memberikan seluruh hidupku untuk suami aku. Kak Bens saat ini belum jadi suami aku, sabar ya. Aku juga gak tahu seperti apa rasanya, tapi aku ingin itu terjadi saat kita benar-benar sudah sah, oke?”


“Maksud kamu Rens?”


“Ya… malam pertama itu harus terjadi sesudah kita menikah, aku ingin seperti itu, jadi jangan menggoda aku lagi…”


“Iya… iya. Tapi aku penasaran dengan sesuatu. Maaf ya kalau aku tanyakan ini… kamu masih…”


Ben berhenti sejenak, memandang Keke dalam, tapi tak berani meneruskan kalimatnya. Sesuatu yang tidak bisa dia lupakan, dan sesuatu yang menjadi salah satu alasan dulu dia ingin menjadikan Keke istrinya, sesuatu yang dia pikir telah terjadi pada Keke karena ada kesalahannya di sana.


“Aku masih apa?”


“Kamu masih… virgin?”


“Hah? Kenapa pertanyaannya seperti itu? Kak Bens pikir aku gadis yang sembarangan, gak bisa jaga diri aku?”


Suara Keke mendadak tinggi, terkejut dan tersinggung dengan pertanyaan Ben. Keke melepaskan pelukan Ben. Ben menahan tangan Keke.


“Bukan sayang… bukan. Maafkan pertanyaan aku membuat kamu marah. Tapi aku pikir kamu dulu diperkos a Marlon, itu kejadian yang aku dengar dari mama dulu. Itu yang membuat aku merasa berdosa sama kamu… gak bermaksud menuduh kamu seperti itu… maaf ya… aku gak tahu cerita sebenarnya…”


Keke menurunkan pandangannya juga emosinya, sekaligus heran pada Ben. Jadi maksudnya selama ini Ben tahu dia sudah tidak virgin dan masih berkeinginan kuat menjadikan dia istri?


“Kak Bens pikir aku sudah tidak…”


“Iya… maaf.”


“Kak Bens aneh…”


“Kenapa aneh?”


“Iya… orang lain mencari yang masih virgin, kak Bens kok beda?”


“Beda? Aku gak tahu kenapa aku begitu menginginkan kamu padahal fakta yang aku tahu seperti itu, mungkin awalnya karena rasa bersalah sama kamu. Kenyataan lain, aku suka kamu meskipun tahu kamu janda dengan anak dua. Itu gak aneh Rens… Aku merasa Tuhan menginginkan kita bertemu lagi di sini, sejak awal kamulah cinta buat aku, tidak ada alasan mengapa mencintai kamu, hati aku memilih kamu… itu aja.”


"Jadi, kak Bens gak mempersoalkan ini, jika beneran aku udah... "


Keke masih belum percaya dengan sikap Ben.


"Mungkin situasinya berbeda lagi kalau kamu sengaja bohongin aku... aku mengharapkan buka segel tau-tau ternyata... udah gak..."


Keke menatap Ben, sesuatu yang baru dia tahu sesaat tadi membuat dia terpana, begitu menakjubkan cinta Ben untuknya. Keke menatap seseorang yang mencintainya, tak perlu banyak kata untuk mengungkapkan cinta Ben sebenarnya, hanya lewat tatapan lembut dan hangat itu Keke mengerti seberapa besar sayang Ben untuk dirinya, apalagi semua sentuhan dan perhatian Ben. Sosok yang merubah temperamen buruk dalam dirinya, seseorang yang dia tahu akan ada di kemudian hari, berjalan bersama, menjaga dengan tulus, dan semoga tidak akan membuat dia terluka dan tersakiti, kalau pun terjadi, semoga cinta yang dia punya dapat membalut luka hati itu.


.


.


Salam sayang utk semua....


.

__ADS_1


💟


__ADS_2