Fate Or Destiny

Fate Or Destiny
Eps. 7. Titik Patokan


__ADS_3

"Pak... apa ada yang bapak perlukan?"


"Untuk sekarang belum..."


"Kalau begitu saya pamit. Nanti sebelum makan malam saya ke sini..."


"Baik... eh... Farly... kunci mobil tinggalkan..."


"Oh iya pak, sudah saya letakkan di meja makan..."


"Ini daerah apa namanya, saya pengen keluar, nanti nyari tempat ini pakai titik apa ya?"


"Saya kurang tau pak, saya baru sekali ini ke sini. Sebentar pak, saya carikan di M*aps..."


Farly mengeluarkan ponselnya dan membuka aplikasi peta.


"Kalau gak salah lokasi ini sebelahnya dealer Suz**ki. Jalan depan tadi Samrat 33 pak... ini dealernya, tapi kalau bapak pakai patokan dealer itu nanti posisinya di jalan Boulevard pak.... oh ini ruko depan situ namanya Keke's Catering. Pakai patokan ruko itu aja."


Benaya ikut membuka aplikasi yang sama...


"Jalan Samrat 33 kan..."


"Iya pak..."


"Oh ya... ketemu... Keke's Catering. Baik... terima kasih."


"Permisi pak..."


Benaya naik lagi ke lantai atas berniat memindahkan isi kopernya ke lemari besar berwarna putih. Kamar atas ini bernuansa putih tulang dan coklat susu. Pertama kali masuk rumah ini dia sudah menyukai interiornya, simple dan elegant. Dan khususnya kamar ini baru masuk sudah merasa nyaman, ada jendela kaca besar bertirai coklat muda yang mengarah ke jalan depan rumah, ada pintu yang bisa keluar ke teras.


Teras beratap ini tepat berada di atas garasi seluas 4 x 5 m dengan 2 pintu akses, satu dari kamar ini satu lagi dari ruang tv. Benaya telah punya rencana untuk memanfaatkan teras yang cukup luas ini, yaitu menjadikan sebagai area exercise untuknya.


Selesai merapihkan pakaian dia mengambil 2 pasang sepatunya dan membawa ke luar kamar, meletakkan sepatunya di tangga paling bawah. Merasa haus, Benaya membuka kulkas... kosong tak ada apapun. Tak ada air, ada galon besar tapi masih kosong.


Benaya berjalan keluar mencari si penjaga untuk dimintai tolong. Si penjaga sedang tertidur di pos. Tak enak mengganggu tidur orang lain, Benaya membuka pintu gerbang memutuskan mencari sendiri kebutuhannya.


Saat keluar dari lorong sempit ini tak terlihat ada warung, ketika menoleh ke ruko, matanya menangkap ada lemari pendingin minuman di sana. Dia melangkah ke ruko yang tepat berada di samping lorong masuk menuju rumah tinggalnya mulai hari ini.


Hanya ada seorang anak kecil sedang duduk bersandar di kursi sambil memegang dot susu yang hampir habis. Anak itu menatap Benaya dengan mata sipitnya yang masih malas terbuka, nampak masih mengantuk. Anak kecil itu turun dari kursi dan mendekati Benaya, mendongak ke atas lalu...


"Om... beyi puca? (beli pulsa)..."


Benaya menatap anak kecil dekat kakinya, tersenyum kecil, sedikit heran anak itu tidak takut, sepertinya terbiasa melihat orang asing.


"Butan? (bukan)"


Anak perempuan itu melanjutkan karena Benaya masih diam.


"Beyi apa...? Beyi tutis? (beli kukis, kue)"


Tangan kecilnya menunjuk lemari display yang berisi beberapa jenis kue dan dessert kemasan. Benaya mulai menangkap maksud anak itu ternyata menawarkan sesuatu... beyi artinya beli rupanya. Benaya mendekati lemari minuman...


"Om mau beli air minum..."


Anak kecil berpipi chubby itu menuju pintu di belakang lemari display makanan dan teriak di sana...


"Momemel... ada oyang (orang)... mau beyi..."


"Ada oyang..." suara cadelnya terdengar lagi...


Seorang cowok keluar dari sana...


"Beli apa?"


"Air mineral... ada kemasan besar?"

__ADS_1


"Ada... mau berapa?"


"5 botol... sama teh botol itu 6..."


"Sebentar ya..."


"Beyi puca uga (juga)?"


Suara cadel itu kembali menyapa telinga Benaya. Gadis kecil itu sudah berdiri lagi dekat Benaya.


"Lisya... habisin susunya dulu..."


"Cudah abis... "


Mata sipit yang sudah terbuka sempurna bukan mata mengantuk lagi, menatap Benaya tanpa kedip.


"Puca itu apa?"


Benaya bertanya penasaran apa yang dimaksud anak itu. Anak itu menunjuk counter pulsa.


"Beyi tuto..."


"Maksud si Lisya pulsa... kuota..."


"Oh... nanti ya om beli pulsa... dede namanya Lisya ya?"


Keramahan anak kecil itu menular pada seorang Benaya.


"Yica, Yi...ca..."


"Oh... Yica ya..."


Ben mengikuti cara Lisya mengucapkan namanya, anak itu menganggukan kepalanya. Benaya tersenyum.


"Ini... totalnya Rp. 72.500."


Benaya menyodorkan selembar uang merah dan meraih kantong plastik berisi minumannya dari tangan Rommel.


"Ini ada kok uang kembalian..."


Rommel menuju meja kecil berlaci dan mengambil sejumlah uang di sana. Sementara Benaya tak menunggu Rommel berbalik, dia melambai ke arah Lisya dan keluar dari ruko.


"Om pegi (pergi)..."


Lisya berkata sambil berjalan masuk ke dalam. Rommel tersenyum kecil, masih banyak sisa uang. Mungkin orang kaya yang royal, saat belanja tidak butuh uang kembali.


"Mel... ada pesanan 50 cup salad... tolong bantu ngepak, pembelinya udah otw..."


Keke datang dengan 2 dus putih besar berlogo Keke's Dessert di tangannya, meletakkan kotak itu di atas lemari display.


"Iya kak..."


Dengan cekatan dua pasang tangan itu menyusun cup salad ke dalam dus.


"Tadi ada orang beli air mineral uang kembaliannya masih Rp. 27.500..."


"Hapal gak mukanya, besok-besok dia belanja di sini lagi kamu kasih uangnya..."


"Mhmm, hapal kayaknya, ganteng soalnya..."


"Oh laki-laki..."


"Iya... tapi tadi dia bilangnya keep aja sisanya..."


"Oh ya udah... rejeki namanya... kirain dia lupa ambil uang sisanya..."

__ADS_1


"Kak... nambah 5 rantang lagi boleh gak? Ada yang nanya beberapa hari ini, mereka tau kita terima pelanggan lagi, sampai maksa-maksa kak... penghuni kost-kostan di lorong sebelah..."


"Nambah makanan sih gak masalah Mel kalau cuma lima rantang lagi, tapi antarnya itu yang tambah repot..."


"Gak repot kok, kan di satu lokasi aja... ltu lokasi pengantaran terakhir sih..."


"Oke kalau gitu, tapi harus lunas bayarnya, nanti mulai di bulan baru biar gak sulit pembukuannya..."


"Si Titin minta kerja lagi kak... udah 2 kali dia wa..."


"Baru 2 hari berhenti... udah kakak duga dia gak mau berhenti sebenarnya... udah, suruh datang aja besok mulai kerja, nanti dia yang tangani dessert sama kue, dia udah pernah kakak ajarin... kasian juga udah lama sama kita sih ya... liat dia jadi ingat kita dulu..."


"Berarti tambah pengeluaran gaji karyawan dong..."


"Bisa tercover lah... kan pelanggannya bertambah, anggap aja kita bagi-bagi berkat buat orang yang butuh... banyak menabur pasti banyak menuai... Gak rugi juga si Titin kerja lagi di sini, dia udah ngerti cara kerja kita..."


"Eh... ini lagi diomongin, dia telpon..."


📱


"Iya Titin..."


"Gimana, Mel? Boleh gak aku kerja lagi?"


"Iya... kata kak Keke besok kamu mulai kerja..."


"Bener? Makasih ya Mel... Besok aku masuk kerja lagi... makasih..."


.


"Kayaknya senang banget dia kak..."


"Hehehe.... eh itu mungkin yang order salad, liatin Mel, lagi nyari kali dia... kakak lupa terus pasang papan nama di atas pintu toko... ingatkan nanti ya, kita pesan neonbox..."


"Wow keren banget neonbox kak, mahal... baliho aja..."


"Harus keren dong... sekalian promosi kan..."


"Terserah kakak deh..."


Rommel keluar ruko Keke's Catering itu mendekati mobil Avan*a Hitam yang berhenti tepat pintu toko, sesaat dia balik lagi dan si sopir turun mengikuti Rommel.


"Iya ternyata yang pesan salad... katanya gak ada papan nama jadi agak susah nyarinya..."


"Tuh kan...berarti harus segera pesan neonboxnya, lagi pula dessert kakak makin banyak peminatnya..."


"Namanya udah yang itu... gak diganti lagi?"


"Lihat nanti... "


"Mari pak... ini pesanannya sudah siap. Totalnya Rp. 600.000."


.


Kegigihan dan ketekunan berusaha akan mendatangkan hasil yang bukan hanya dapat dinikmati oleh diri sendiri tapi bisa juga menjadi berkat untuk orang lain...


~Author~


.


Enjoy ya... baca dengan hati gembira, karena author juga nulisnya dengan perasaan yang sama... jangan lupa berikan kegembiraan juga buat author dengan LikeCommentFav&Hadiah....


Blessed to bless.... 😚


.

__ADS_1


✴✴✴


__ADS_2