
Suatu sore, para pekerja bangunan sudah pulang, Keke berdiri di area lantai dua bersama papa Ramly memperhatikan hasil pekerjaan hari ini. Teras yang dulu tempat cuci-jemur telah berubah tersambung dengan bangunan baru itu, rencananya area itu untuk tambahan dua kamar. Tiang-tiang sudah selesai, tinggal menunggu waktu untuk lanjut pengecoran lantai tiga.
“Di sini jadi kamar Ike aja, setelah menikah pasti butuh ruangan lebih besar.”
“Kamar aku yang sekarang cukup luas pa… ini jadi kamar papa aja.”
“Nanti papa menggunakan kamar Ike yang itu, papa juga gak setiap hari di sini kan... Di sini ada kamar satu lagi, kalau ada keluarga lain datang dan menginap ada tersedia kamar.”
Keke tak menjawab, bangunan ini atas inisiatif juga biaya dari papa, fungsinya seperti apa Keke bersikap menerima saja. Kehadiran papa dan Ben membuat Ike tak lagi memutuskan apa-apa sendiri walaupun menyangkut kehidupannya, belajar menerima orang lain ikut memberikan atau memikirkan kenyamanannya.
“Pa…”
Suara Lody terdengar kemudian, sekarang berdiri di sisi Keke. Lody merangkul Keke dan memberikan senyuman, Keke membalas dengan senyum kecil di wajahnya. Kakak yang ini memang tak membatasi lagi interaksi mereka, dia pribadi yang hangat mungkin karena besar dengan papa jadi sikap papa menular padanya. Sebelum Keke tahu perasaan Lody pada Inge, dia tidak selega sekarang menerima kehangatan sikap Lody. Papa berhenti memeriksa bangunan dan berjalan masuk ke ruang makan, Lody dan Keke mengikuti.
“Minum apa kak?”
“Kopi hitam Ke… kalau ada…”
“Ada kak, sebentar ya…”
Lody ikut duduk di sekitar meja makan bersama papa.
“Kamu jadi berangkat?”
“Iya pa… besok subuh. Malam ini nginap di sini…”
“Kak Lody mau ke mana?”
Keke datang dengan secangkir kopi hitam panas dan meletakkan di depan Lody.
“Mau ke Malang…”
“Ada acara?”
“Kakak rencana kerja di sana, ada teman kakak yang menawarkan…”
“Loh… yang Tomohon siapa yang urusin kalau kak Lody pergi?”
“Ada Elon, selama ini kakak dia yang bantu, dia bisa kok, orangnya bertanggung jawab juga.”
Papa terlihat sedih Lody akhirnya memutuskan pergi. Dia pernah mengutarakannya dua bulan yang lalu, ternyata dia serius.
“Kak… papa butuh kak Lody loh, kenapa pergi?”
__ADS_1
Lody diam, susah dia menjawab pertanyaan Keke karena dia tahu itu benar. Dia tidak tega meninggalkan papa Ramly terutama soal urusan pekerjaan di perkebunan. Dua bulan ini dia ragu dan terus menimbang-nimbang, tapi dia tak bisa bekerja dengan baik karena masalah Inge. Sikap Inge padanya sangat mengganggu hatinya, dan dia tidak kuat menghadapi penolakan Inge. Dia tak mungkin berhenti mencintai Inge, cinta yang terlambat dia sadari. Tapi dia harus belajar hidup tanpa Inge, membentangkan jarak dengan Inge adalah cara terbaik menurutnya.
“Pergilah, papa ijinkan kamu pergi tapi ingat rumah kamu adalah bersama papa, jangan ragu untuk pulang lagi kalau kamu tidak nyaman di sana. Pergilah, kamu juga butuh pengalaman, laki-laki harus punya banyak pengalaman hidup.”
Papa Ramly menatap anak lelakinya sejenak kemudian berdiri dan masuk kamar. Keke sempat melihat mata sang papa yang mengkristal.
“Kak… papa sedih sepertinya…”
Lody hanya menunduk, dia tahu hati sang papa, rasa sayang sang papa untuk dirinya. Tapi dia tidak bisa memikirkan cara lain untuk menata hatinya yang berantakan akhir-akhir ini.
“Papa punya kamu, Ke… ada kamu, papa gak akan terlalu sedih.”
“Aku mau nikah, kak Lody gak ada…”
“Nanti aku usahakan pulang saat itu…”
“Karena Inge kan?”
Lody menatap Keke yang duduk di depannya sekilas, kembali menunduk. Guratan sedih semakin jelas di wajah itu.
“Aku bodoh selama ini tidak menyadari bahwa aku sayang dia, aku banyak menyakiti dia. Aku gak siap kehilangan dia, tapi aku gak bisa memaksakan perasaan aku sekarang.”
Keke hanya memandang sosok tinggi kekar yang duduk termenung di hadapannya. Kakak angkatnya yang gak kalah ganteng dengan kak Bensnya, walau kakak yang ini terlihat lebih kekar posturnya dan kulit yang kecoklatan karena selalu ada di bawah terik matahari. Wajah yang nampak sedih dan begitu tidak berdaya menanggung cintanya.
“Inge tahu?”
“Gak, aku gak pamit… biarkan aja seperti itu, toch aku bukan siapa-siapa untuk dia.”
“Dia pasti sedih juga, kak… aku tahu kok Inge sayang kak Lody juga…”
Lody senyum pedih, dia juga tahu itu, tapi mungkin rasa sakit yang dia torehkan di hati Inge membuat rasa sayang itu menghilang sekarang.
Beberapa waktu Keke dan Lody, duduk diam di sana dalam arus pikiran yang berbeda. Karena sebenarnya Keke sedang galau juga, hampir dua bulan berpisah Keke mulai mengenal arti rasa rindu. Ada perasaan tak nyaman menunggu telpon dari Ben yang sangat jarang minggu ini. Minggu-minggu awal di sana aja dia rajin menelpon. Ada perasaan sedih juga ketika panggilan telpon darinya tidak dijawab. Menahan rindu ternyata tak enak, bertanya-tanya apa si kak Bens gak punya rasa rindu juga. Ben hanya berjanji mengontrol penyelesaian pekerjaan tahap awal, kemudian cuti untuk mengurus pernikahan mereka. Tak ada janji lain, semisal janji menelpon tiap malam.
Sejak insiden di dapur, papa Ramly menjadi lebih protektif, meminta Keke untuk tidak turun langsung memasak di dapur. Keke diminta papa me-manage karyawannya, sehingga dia tidak perlu turun tangan untuk mengatur semua hal. Keke hanya harus mengontrol saja atau hanya mengolah dessert atau menu makanan yang memerlukan keahliannya, atau jika tenaganya memang dibutuhkan karena jumlah pesanan yang banyak. Waktu lowongnya jadi banyak, otomatis berubah menjadi waktu merindu yang menyiksa.
.
☘
.
.
__ADS_1
“Ike… “
“Iya?”
“Udah sejauh mana persiapan nikahnya?”
Papa bertanya saat sarapan pagi, Sejak subuh mereka sudah bangun karena Lody harus ke bandara subuh-subuh. Dia tak ingin diantar papa dan Keke, hanya diantar sopir. Akhirnya Keke memasak untuk papa, dan mereka di meja makan sekarang sarapan di jam 6 pagi.
“Ehh Itu… kayaknya sebagian besar udah fix. Inge sih yang tahu detilnya…”
“Masih butuh berapa lagi, nanti papa transfer…”
“Gak perlu pa… dari kak Bens masih ada…”
“Papa udah bilang ke Inge… siapin yang terbaik buat pernikahan Ike…”
“Iya… Inge ngomong itu…”
“Kalau uang dari Ben gak cukup kasih tahu papa…”
Keke tersenyum kecil. Waktu itu juga Ben ngomong kalau uangnya belum cukup kasih tahu dia. Ike sendiri bingung dengan konsep pernikahan, dia hanya ingin pernikahan yang sederhana, dia menolak beberapa ide Inge yang terlalu wah menurutnya. Ben tidak bisa diajak berdiskusi, jangankan nanya progress persiapan pernikahan mereka, sekarang pun jarang menelpon sekedar menanyakan kabar.
Apa dia terlalu sibuk?? Atau…?
Kalimat ini yang selalu meresahkan hati Keke. Dia mengetahui satu fakta bahwa di sana semua staff tinggal di satu rumah aja, beda sama yang di sini, Ben punya rumah sendiri. Hal itu yang sedikit mengganggu, ada staff perempuan juga di rumah itu. Dia tak nyaman dengan kenyataan itu, walau dia berusaha mengenyahkan pikiran tersebut. Yang membuat dia sedikit tenteram kak Bensnya gak punya track record yang buruk soal wanita. Tapi tetap saja, dia butuh kabar, butuh informasi.
Setelah nikah nanti, kayaknya dia tidak siap hidup berjauhan seperti ini. Sekarang aja belajar hidup tanpa Ben membuat dia stress, jengkel dan kadang marah-marah setelah mengirim sebuah teks dan tidak berbalas.
Kak Bens…. Lagi apa di sana sih???
.
.
Sorry ya, aku jarang up, lagi fokus dgn mama. Dia sedang berusaha hidup tanpa papa kami, dan itu berat buat dia.
Makasih doanya utk mama aku.
Blessing 😇
.
✳
__ADS_1