
Hari-hari dilalui dengan berat oleh Keke, karena begitu terbatas beraktivitas. Kakinya berangsur membaik, sudah tidak bengkak, nyeri sudah jauh berkurang, kulit yang tadinya merah sekarang berubah kecoklatan dan sebagian mulai mengelupas.
Untung saja luka bakar yang dia derita hanya kategori derajat satu, hanya di lapisan epidermis, lapisan kulit luar yang terkena. Dia banyak bengong saat itu, makanya jadi teledor. Tapi setidaknya bukan cairan panas yang benar-benar baru mendidih yang tersiram pada kakinya, ada jedah waktu yang lumayan, dan itu sebuah keuntungan buatnya, luka bakarnya tidak terlalu parah, penanganan awal di rumah yang tepat juga ikut menentukan.
Keke sendiri di kamar besar yang diperuntukkan sang papa untuknya. Sejak jumat sore dia sudah ada di rumah papa ini bersama papa dan anak-anak, dan anak-anak punya kamar sendiri di sini.
Hari ini hari dia akan terikat resmi dengan Benaya. Acara tunangan direncanakan jam 5 sore.
Cinta muncul begitu saja, ketika dia menemukan keindahan dalam banyak hal yang Ben tawarkan, maka dia merasakan sesuatu dari lubuk hatinya yang menarik semua cinta Ben untuk menempati hatinya, dia menyambut Ben, dan cinta Ben di hatinya membuat cintanya juga tumbuh mekar untuk seorang Benaya.
Keke memandang gaun putih yang tergantung di hanger. Dia harus banyak bersyukur punya sepupu yang bisa diandalkan, entah bagaimana kreativitas si Inge yang membuat gaun ini ada, gaun anak-anak dan mama juga.
“Ike…”
Papa masuk kamar Keke diikuti Inge.
“bagaimana kaki Ike sekarang?”
"Udah semakin baik, pa… masih ada senut-senut dan gatal sih…”
“Udah dicoba Ke?”
Inge bertanya saat melihat posisi Keke di depan baju putih miliknya.
“Belum… sepertinya pas aja…”
“Itu ukuran aku say, postur kita sama aja sih mudah-mudahan pas di badan kamu… gak tahu punya ma Ade Virda apa muat atau gak…”
“Mama sama kayak aku, Nge… tapi aku gak tahu mama datang atau gak…”
Keke menjawab pelan. Dia memandang gaun di hanger yang lain yang bahannya sama dengan gaun anak-anak. Dia tidak mungkin memaksa mama untuk datang meskipun akhirnya tumbuh harapan itu, ada mama dan papa di acara penting dalam hidupnya.
“Mama tidak memberi kepastian?”
“Iya papa… gak apa-apa, Ike maklum. Mama kayaknya gak enak bertemu papa. Waktu itu juga batal datang ke rumah karena tahu ada papa…”
“Punya nomor hp mama?”
“Papa mau telpon mama?”
“Iya… papa mau coba bicara…”
Keke menimbang-nimbang sejenak, boleh tidak dia melakukan itu, apa reaksi mama nanti?
“Ike…”
“Iya… iya…”
Masih berjalan sedikit pincang, dia masih berhati-hati dengan kaki kanannya itu, Keke mendekati sebuah meja bulat kecil di samping jendela mengambil ponselnya. Sementara papa keluar kamar mungkin mengambil ponsel miliknya.
“Ke, orang salonnya datang jam 10. Ada perawatan dulu, aku gak tahu apa aja perawatannya, tapi kamu pakai baju yang ada kancing depan ya biar gampang buat ganti baju nanti.”
“Makasih, Nge… kamu bikin semuanya mudah buat aku…”
“Jangan makasih dulu say, acara belum mulai… masih banyak kerjaan aku. Makasihnya nanti aja saat aku mau nikah gantian kamu yang urusin aku…”
“Udah baikan sama kak Lody ya…”
“Ehh… gak, udah end… Kan nikah bisa dengan siapa aja yang datang nanti dan bisa tulus sayang aku…”
“Kak Lody sayang banget sama kamu, Nge. Dia sedih banget cerita ke aku kalau kamu cuekin dia sekarang…”
“Udah… jangan bahas dia…”
Inge mengambil baju Keke dan menempelkan ke tubuhnya sendiri sambil mematut diri di depan kaca.
“Gaunnya panjang ya?”
Papa sudah masuk lagi dan bertanya pada Inge, tangan mengambil ponsel di tangan Keke, mencari sendiri nomor mama Virda.
“Iya pa Ade, biar luka Keke gak terekspose… dia harus cantik di hari bahagianya… hehehe…”
Papa duduk di single sofa di samping meja bulat itu, Keke bersama Inge duduk di tempat tidur.
Panggilan papa tersambung…
__ADS_1
📱
“…”
Papa mengela napas tak kentara. Kedua gadis yang penasaran memperhatikan papa Ramly.
“Honey, aku Ramly…”
Inge menyikut pinggang Keke di sampingnya dan berbisik…
“Pa Ade manggilnya masih honey, kebayang gak gimana dulu?"
“Mungkin terbiasa seperti itu, jadi yaa…”
Keke mengangkat bahu.
“Honey… jangan ditutup ya… aku perlu ngomong…”
Papa Ramly berdiri dan keluar kamar.
“Omg pa Ade… sama mantan istri masih sweet banget…”
“Ada yang niru papa kayaknya…”
“Siapa?”
“Kak Lody… manggil ‘yang’ terus walaupun dicuekin sama kamu…”
“Ah… dia mah basi… neg sekarang aku dengerin dia…”
“Maafin kak Lody, Nge…”
“Ehh calon penganten gak usah urusin hati orang lain…”
“Baru tunangan belum nikah… masa calon penganten…”
“Hehehe… ayo keluar, kita sarapan aja, kamu harus makan biar sehat dan fit buat nanti sore…”
.
💐
.
“Mama datang dengan siapa?”
“Mama dengan Shello, dia pengen ikut. Pengen ketemu kamu katanya.”
“Naik apa ke sini? Sebenarnya Ike udah kasih tahu Rommel untuk jemput mama, tapi karena mama bilang waktu itu gak bisa…”
“Mama dijemput sopir Ramly…”
“Oh… Makasih ma… udah datang. Ike senang mama mau ke sini…”
Mama Virda hanya tersenyum di kursinya. Sebenarnya sangat nampak rasa tidak nyaman di wajahnya serta gestur tubuhnya. Keke memandang mama dari sisi tempat tidur di mana ia duduk, dia dapat merasakan ketegangan dan ketidaknyamanan sang mama.
“Ma… kenapa?”
“Gak apa-apa Ike… mama juga senang bisa hadir di acara ini.”
“Maaf ya… papa mungkin memaksa mama…”
“Tidak… Ramly hanya bilang kebahagiaan putri kita akan sempurna kalau mama datang juga… makanya mama hadir Ike, mama ingin Ike benar-benar bahagia.”
Mama berdiri dari kursi dan duduk dekat Keke.
“Ike… mama minta maaf ya… banyak salah mama sama Ike.”
Keke mau menangis mendengar perkataan mamanya.
“Ma… Ike juga punya salah sama mama… Ike minta maaf, ma…”
Airmata akhirnya tak bisa dibendung.
“Aduh… maaf mama bikin Ike menangis, make upnya gimana…”
__ADS_1
Padahal mama menitikkan air mata juga. Mama mengambil tissue dan memberikan pada Keke. Pintu terbuka, Inge masuk.
“Kak Benaya dan keluarganya udah sampe Ke. Bentar lagi acara dimulai, nanti Pa Ade akan masuk juga ke sini, kalian bertiga akan keluar kamar sama-sama. Eh… kamu nangis ya? Aku panggil Sonya buat benerin make up… bentar…”
Inge keluar dari kamar digantikan sang papa yang masuk kemudian. Papa sempat menangkap pemandangan sedih seorang mama dan sang putri yang mengusap airmata. Sejak mantan istrinya tiba di sini dia hanya memandang dari jauh, sengaja tidak menyapa untuk memberi ruang pada mantan istrinya biar lebih leluasa berada di sini. Mama Virda juga langsung dirias jadi mereka belum bertegur sapa. Kali ini mereka bertiga berada di satu ruangan, setelah kurang lebih dua puluh satu tahun berlalu…
Papa Ramly berdiri di depan dua wanita yang selalu ada di hatinya, yang satu bisa dia bawa kembali ke dekapannya, tetapi yang satu sudah tidak mungkin lagi.
“Ada apa, Ike… honey?”
Mama Virda mengangkat kepalanya sejenak dan segera menunduk dengan debaran yang langsung memenuhi dadanya, tak berani menatap papa Ramly. Sejak tadi panggilan itu menganggu dan mengusik hatinya, membawa ingatannya ke puluhan tahun silam, membangkitkan lagi ribuan penyesalan dalam dirinya. Mama Virda tak bisa menjawab dan merespon mantan suaminya.
“Gak apa-apa pa…”
Keke menjawab pendek sambil memperhatikan mama yang semakin gelisah. Keke memberi isyarat lewat tatapan matanya pada sang papa.
“Honey, apa kabar?”
Mama masih menunduk tak bersuara.
“Ma… papa bertanya sama mama loh…”
Keke meraih tangan mama Virda, terasa dingin. Mama kemudian menjawab pendek…
“Baik Ram… aku baik.”
Pintu terbuka…
“Acara sudah dimulai ya… lagi ucapan selamat datang, aku bilang ke om Sammy panjangin dikit, biar sempat benerin make upnya Keke… Onya… cepetan ya…?”
“Iya… iya, Sonya ngerti kalo acara gini suka bikin baper, sini manisku Sonya bikin kamu cantik lagi…“
Inge keluar lagi, dia harus memastikan semua step acara berjalan dengan baik. Mama Virda berpindah ke tempat duduk semula. Keke beranjak ke depan cermin. Papa Ramly mengambil sebuah kursi dan menempatkan di samping mantan istrinya.
“Aku senang kamu mau hadir, honey. Kita sudah melewatkan banyak hal dari hidup putri kita, aku ingin menebus semua itu…”
“Ram… panggil aku Virda saja…”
“Aku memanggilmu dengan cara yang aku ingat…”
“Tapi itu tidak baik sekarang, status kita berbeda sekarang, aku tidak ingin ditertawakan keluargamu…”
Mama Virda menjawab lirih, sejak tadi tak bisa menatap langsung pria yang dulu begitu menyayangi dirinya. Papa Ramly menarik napas berat, dulu keluarganya adalah duri dalam hubungannya dengan istrinya, sekarang pun mantan istrinya masih seperti itu, tembok pemisah mereka adalah keluarga papa Ramly. Tapi sekarang beda, orangtuanya keduanya telah berpulang, dua kakak perempuannya juga telah tiada, mereka yang paling tidak setuju dengan pernikahannya dulu. Sekarang pun terlihat jelas apa yang menjadi alasan istrinya enggan untuk hadir di sini.
“Honey… mereka yang menentangmu dulu sudah tidak ada. Tidak ada yang akan menertawakanmu di sini, sekarang tidak ada yang menolakmu di sini. Aku hanya ingin kamu berbahagia juga karena hari ini putri kita sedang bahagia. Aku minta maaf padamu untuk semua yang kau lewati dulu saat bersamaku, aku minta maaf untuk semua perlakuan keluargaku padamu, aku minta maaf karena pernah bimbang memilih kamu atau keluargaku. Tapi hari ini, aku minta kamu sejenak lupakan hal-hal yang tidak baik itu ya… kita harus mendukung anak kita… jika hati kita berdua lapang, itu baik untuk Ike…”
Mama Virda akhirnya menatap mantan suami yang juga sedang mencari tatapan itu.
“Onya… udah?”
Inge membuka sedikit pintu kamar, hanya kepalanya yang menyembul di antara pintu.
“Udah say… udah cantik lagi Renskenya…”
“Ok. Pa Ade sama Ma Ade mengapit Ike ya keluar kamar. Jangan lupa senyum semuanya…”
Kebahagiaan bukan hanya simbol, bukan juga tameng, tapi bersumber dari hati yang penuh cinta. Dua orang yang menguatkan hati untuk bertemu demi kebahagiaan sang putri sekarang berdiri di sisi kiri dan kanan, siap untuk membawa sang putri menjemput kebahagiaan yang lain untuk masa depannya.
Keke, ada banyak kasih sayang untukmu hari ini, so berbahagialah…
Saat hati tersakiti, ego akan membuat seseorang menyembunyikan bahkan menghilangkan kasih sayang di hatinya...
Dan sebaliknya kasih sayang bisa membuat pribadi seseorang menjadi baik...
Dan... biasanya perilaku kasih sayang menular ☺💚
.
Kakak2 semua...
mungkin besok gak up ya... aku harus menemani mama aku...
Tengkyuuu udah sayang sama aku 🤭☺
.
__ADS_1
🍀
✳