
Suhu dingin langsung terasa di pipi saat Keke turun dari mobil. Papa Ramly juga sudah turun dan menatap Keke dengan wajah yang berbeda saat masih berbaring di tempat tidur, lebih cerah dan bersemangat.
Dari tempat parkir langsung tertangkap mata hamparan rumput hijau yang luas yang tertata rapi, begitu menyegarkan mata. Anak-anak yang dibantu Ben turun dari mobil langsung berlarian di tempat yang luas dan terbuka itu, Ben refleks mengejar mereka.
Tempat ini luar biasa indah... tak bisa Keke gambarkan dengan kata-kata lukisan alam yang terpampang di depan mata. Keke berjalan perlahan, sesekali menghirup segarnya udara pengunungan. Papa Ramly berjalan di samping Keke, mengambil tangan kiri Keke dan menangkup dengan jemari tangannya yang besar. Terasa kasar di kulit tangan Keke tapi dia membiarkan kehangatan menjalar lewat genggaman tangan papa yang pertama kali sejauh yang bisa dia ingat.
Keke berhenti melangkah saat tanah mulai menurun, sesuatu yang amazing kini terpampang begitu menawan. Landscape kota Manado, pulau Bunaken, pulau Siladen dan pulau Manado tua, begitu luar biasa nampak di kejauhan. Langit sore yang lembut, ditutupi awan di atas kota Manado serta warna laut yang biru gelap sangat eksotis dari atas puncak Green Hills ini.
"Gimana Ike, suka tempat ini?"
Papa Ramly berdiri di samping Keke yang sedang memandang takjub tempat indah ini.
"Iya... sangat suka. Indah banget."
"Untung pengunjung tidak sebanyak biasa, jadi kalian bisa lebih leluasa."
"Udah berapa lama papa bangun ini?"
"Kira-kira tiga tahun. Setahun belakangan baru mulai ramai pengunjung, baru setahun ini juga papa menambah fasilitas dan menata beberapa bagian."
"Ini benar-benar indah pa..."
Tangan papa berganti memeluk Keke. Keke membiarkan perlakuan papanya, ternyata papa seperti ini, penyayang. Terlihat dari cara papa melihat dan dan memperlakukan anak-anak, dua bocah yang langsung menempel pada sang papa. Papa Reinhart sayang padanya tetapi setelah dia beranjak besar paling-paling papa mengusap kepalanya.
"Ben sayang anak-anak ya..."
Papa ternyata sedang memperhatikan Ben yang sedang kejar-kejaran dengan anak-anak.
"Iya pa... dia dekat dengan mereka, seperti jadi papa aja buat mereka. Kalau kak Bens gak datang ke rumah karena sibuk pasti dicariin, ditelpon suruh datang..."
"Ike... dia serius dengan Ike kan?"
"Sepertinya..."
"Dia baik?"
"Iya... kak Bens baik... dari sebelum kita pacaran saat Ike masih remaja, Ike tahu kak Bens baik dan sayang sama Ike."
"Papa lihat dia calon suami yang baik buat Ike..."
"Belum pa, kita belum memikirkan itu..."
"Oh ya? Berapa umur Ben?"
"31 tahun..."
"Mmmh... sudah cukup matang sebenarnya ya..."
Keduanya terdiam. Keke ingin mengutarakan bahwa Ben pernah menyinggung itu, tapi baru sekali, sekarang tidak pernah lagi. Apakah Ben akan jadi seseorang yang akan ada di sisinya sampai akhir hidupnya? Dia takut tentang itu, dia punya harapan yang tinggi soal menikah, tidak ingin seperti mama dan papanya.
"Ike sendiri bagaimana?"
"Apanya?"
"Sudah siap seandainya Ben ajak menikah?"
__ADS_1
"Ike... gak tahu..."
"Kenapa?"
"..."
Lama papa Ramly tak mendengar suara anaknya menjawab pertanyaannya. Dia merasakan anaknya menghembuskan napas berat, ada sesuatu tapi papa Ramly tak memaksa dan segera mengalihkan topik pembicaraan.
"Papa sebentar lagi mau ulang tahun..."
"Iya Ike udah dikasih tahu kak Lody, katanya mau ada syukuran ya, pa?"
"Oh... Lody bilang seperti itu?"
"Iya..."
"Dia belum ngomong ke papa, mungkin sengaja mau kasih surprise, dia suka seperti itu... hehehe."
"Kak Lody... seperti apa pa?"
"Dia baik, dia anak yang hormat pada orang tua, rajin dan pekerja keras, suka bantu orang, bisa papa percaya. Banyak urusan di perkebunan dia yang tangani sekarang... dia sangat membantu papa..."
"Pacaran sama kak Inge katanya..."
"Oh itu... mungkin saja... tapi biasa lah anak muda masih oleng sana-sini. Itu papa mengerti, papa pernah muda... tapi papa selalu ingatkan selalu kasih nasihat, dia boleh bergaul tapi jangan terlalu bebas, jangan free se x. Sejauh ini papa yakin dia mendengar nasihat papa, karena belum ada anak gadis hamil datang minta pertanggung jawaban... semoga dia tidak nakal di luar sana..."
"Ehh? Kak Lody play boy gitu?"
"Hehe... papa tidak tahu, tapi papa lihat dia belum serius dengan satu orang perempuan saja... Tapi papa tidak mau intervensi itu, biarkan dia menemukan dirinya sendiri. Sejauh ini dia masih baik-baik jadi papa tidak perlu khawatir."
"Opa Lamly... Yica haus..."
"Ayo kita ke kafe pesan minuman hangat buat kalian..."
"Opa... gendong... Yica cape lali-lali (lari-lari)..."
"Ehh... Dede gak usah, kasian opa, Dede berat itu..."
"Sini... gak apa-apa, opa masih kuat buat gendong Lisya..."
Lisya pun digendong opa Ramly. Opa Ramly tubuhnya memang cukup tinggi. Tubuhnya masih terlihat kokoh. Dan tubuh gembul Lisya terlihat tak masalah dalam gendongan si opa.
"Ayo... Via juga ikut opa, kita ke sana, ada rumah kecil juga di dekat kafe, kalian bisa main di dalam..."
Tiga orang itu berjalan menjauh dari Keke dan Ben. Tak menunggu lama, Ben meraih tangan sang pacar dan berjalan menuruni bukit berumput itu. Ada sebuah tempat yang nampak sepi dari pengunjung, Ben memilih tempat itu.
Dua buah kursi dari ban bekas serta sebuah meja ada si situ, Keke duduk di salah satu kursi. Alih-alih duduk di kursi yang satu lagi Ben memilih duduk di rerumputan persis di depan kaki Keke. Tanpa canggung Ben bersandar di kaki Keke yang akhirnya sedikit terbuka karena tekanan punggung Benaya.
"Gimana perasaan punya papa lagi Rens?"
"Bahagia... gak bisa aku bilang dengan kata-kata..."
"Aku senang lihat kamu dan papa kamu tadi... nih... aku sempat ambil foto kalian berdua..."
Ben menyodorkan ponsel ke atas kepalanya, sedikit menyampingkan kepala menengadah untuk melihat wajah Keke. Ponsel diambil, Keke membuka ponsel tanpa password itu, ada foto dirinya sebagai wallpaper, candid tentu, entah kapan foto itu diambil Ben. Muka Keke memerah, malu melihat fotonya di ponsel Ben. Meneruskan membuka gallery, dan melihat foto yang diambil Ben tadi... sebuah foto yang indah, foto pertama dirinya dalam pelukan sang papa. Keke tersenyum rona bahagia jelas di wajahnya.
"Kak Bens kirim ke aku ya fotonya..."
Keke berujar sambil menyerahkan ponsel, padahal penasaran ingin melihat lebih banyak foto di ponsel itu. Berapa banyak foto dirinya di sana? Sepertinya... lebih dari satu.
__ADS_1
"Sini..."
Ben meraih kepala Keke, mendekatkan wajah Keke ke samping wajahnya. Dagu Keke akhirnya menempel di bahu Ben, pipi mereka saling menempel.
"Senyum sayang..."
Keke tersenyum canggung awalnya, beberapa foto selfie diambil Ben, dengan beberapa gaya Ben yang berubah-rubah. Setelah sesi foto selfie pertama berdua selesai Keke menarik wajahnya menjauh. Keke malu dengan posisi intim mereka, ada orang lain di sekeliling mereka walau berjauhan.
"Mau lihat fotonya?"
Ben menawarkan. Dia sudah mengganti wallpaper tadi dengan foto baru mereka berdua.
"Boleh..."
Ben menarik dua tangan Keke melewati bahunya dan meletakkan di bagian dadanya, mau tak mau wajah Keke kembali ke posisi saat mereka berfoto ria tadi. Ben menggosok-gosokan pipinya ke pipi Keke sejenak, menahan sebentar tangan Keke lalu dia mulai membuka ponselnya. Saat tangan Keke merenggang...
"Jangan dilepas tangannya... jangan bergerak sayang..."
Tubuh kaku Keke akhirnya melunak saat Ben mengusap pipinya sebentar. Ben membuka gallery foto, keduanya memperhatikan hasil jepretan Ben yang banyak tadi.
"Kamu cantik di sini sayang..."
"..."
"Mana ponsel kamu? Kita foto lagi dengan ponsel kamu..."
"Gak bawa, ada di tas di rumah papa..."
"Kebiasaan kamu... nanti aku kirim foto kita."
"Kak Bens... ke atas aja ya... dingin ternyata gak pake sweater..."
"Nanti dulu... pengen lihat sunset dari sini, sebentar lagi... lihat mulai ada warna-warna jingga kan... cantik banget ya..."
"Tapi..."
Ben menarik tangan Keke..."
"Duduk depan aku deh... biar dinginnya gak terasa."
Ben membantu Keke duduk di rerumputan seperti dirinya, tepat di depannya, dan membawa Keke bersandar di dadanya. Ben memegang dua tangan Keke melipat tangan itu di bagian perut Keke dan membungkus dengan kedua tangannya. Keke sempat memperhatikan sekeliling, pengunjung nampaknya mulai berkurang, Keke masih suka jengah jika berdekatan dengan Ben dengan dilihat orang lain.
"Masih dingin?"
"Gak..."
Keke bersandar nyaman sekarang, detak jantungnya yang berubah sesaat tadi perlahan normal lagi, menikmati perlakuan Ben sebagai ungkapan sayang untuknya. Ben membuat dia merasa istimewa, merasa dicintai dan itu tak terlukiskan.
.
.
Foto di atas diambil dari sebuah tempat wisata.
Tapi aku gak promo tempat itu ya... semata-mata utk kepentingan isi cerita aja...
.
.
__ADS_1
✳