Fate Or Destiny

Fate Or Destiny
Bonus Eps. Apa yang Membuat Bahagia


__ADS_3

Pagi ini seperti lain dari biasanya, bukan karena langit hari ini begitu cerah di luar sana, bukan juga karena masih ada kegembiraan hari kemarin saat mengetahui mereka akan segera punya cucu. Tapi ada nikmat pagi hari di ruko ini, ada mantan istri yang menyiapkan sarapan, rangkaian manis kisah-kisah dulu seolah melintas lagi.


Kemarin tanpa sengaja mantan istri yang menyiapkan sarapan, hanya melanjutkan pekerjaan si tante Lenda salah satu karyawan Keke. Tapi pagi ini, mama Virda sengaja bertanya pada papa Ramly pengen sarapan apa.


Dengan hati yang ringan dan sangat nyata ada pancaran senang di wajah, papa Ramly duduk pagi ini menghadapi sarapannya. Ada pisang goroho rebus yang cocok untuk diet karena diabetes, ditemani sambal roa kesukaan papa Ramly serta segelas susu rendah gula. Sederhana saja menunya tapi menjadi istimewa karena sesuatu.


"Kamu sarapan juga, honey..."


Papa Ramly menahan mama Virda ketika melihat gelagat wanita itu hendak turun lagi ke bawah setelah selesai menata meja.


"Ayo... temani aku sarapan, kamu tahu aku tidak suka makan sendirian..."


Mama Virda kembali ke area meja makan dengan ragu-ragu. Belum pernah mereka hanya benar-benar berdua saja. Ini masih pagi, anak-anak semalam tidur hampir jam dua belas, tak mungkin akan bangun sepagi ini. Keke sudah bangun tadi tapi masuk lagi ke kamar karena merasa pusing. Rommel sudah keluar sejak subuh mau jogging dengan pacarnya. Dan ada Benaya di kamar yang berhadapan dengan kamar Keke.


Mama Virda membuat susu untuk dirinya lalu mengambil tempat duduk di hadapan mantan suami. Beberapa waktu berlalu wanita dan pria setengah baya itu hanya duduk diam tak ada percakapan. Papa Ramly tenang menikmati makanannya, dan mama Virda sesekali menyeruput susunya dengan sikap canggung.


"Ben tiba jam berapa semalam?"


Gelembung sepi pecah kemudian oleh suara khas papa Ramly.


"Oh... jam sebelas mungkin..."


"Ike sudah tahu suaminya pulang?"


"Belum Ram... tadi malam Ben melarang kita membangunkan Ike. Ike sudah bangun sih tadi tapi belum sempat aku kasih tahu dia, dia lemes sekali, pusing katanya... dia berbaring lagi..."


"Ben masih tidur ya? Kamu kasih tahu dia Ike lagi pusing sekarang, honey..."


"Biarkan dulu Ram, kasihan Ben cape banget sepertinya, biarkan dia istirahat dulu."


"Ini... makan..."


Papa Ramly menggeser sebuah piring, ternyata tadi sengaja mengambil piring yang lain dan memotong-motong dua buah goroho rebus itu untuk mama Virda. Mama Virda menatap sejenak si mantan suami dan menjadi grogi saat menemukan pandangan lembut terarah pada dirinya.


"Terima kasih..."


Tak menjawab, papa Ramly justru mengambil wadah gula pasir di pantry dan meletakkan di depan mama Virda. Goroho mentah yang direbus menurut mama Virda rasanya hambar, tidak enak dimakan polos tanpa toping.


Memang pagi ini beda, mengetahui mantan suami masih ingat kebiasaannya yang suka menikmati penganan ini dengan taburan gula pasir, itu menghangatkan hati mama Virda. Tak ingin membedakan tapi kenyataannya almarhum suami bukan sosok yang memperlakukan istri dengan manis, bahkan seingatnya tak peduli apa yang dia suka dan apa kebiasaannya.


"Honey... itu tidak akan habis karena diliatin saja, apa perlu aku suap?"


Mama Virda melirik papa Ramly yang sedang tertawa pelan, mama semakin grogi. Astaga... sudah tua masih ada perasaan seperti ini.


"Apa sih... ada-ada saja..."


Mama memasukkan satu suapan di mulutnya mencoba menghalau rasa canggung yang ada.


"Pagi oma, pagi opa..."


Suara Lisya terdengar bersamaan dengan pintu kamar yang terbuka. Suasana sedikit rumit di meja makan terselamatkan oleh celotehan Lisya dan tingkahnya, dia langsung menuju kamar Benaya.


"Dede... mau ke mana?"


"Mau bangunin papi, oma. Mau ajak liat adek bayi..."


"Ehhh ehh... adeknya belum ada sayang, kemaren sore dokter bilang masih 7 bulan lagi..."


"Adek bayi belum tumbuh besal? Belum lahil? Belum ada di kamal mami?"


Pertanyaan beruntun dari si kecil mengundang tawa papa Ramly, tertawa karena pikiran polos Lisya yang menganggap bayi bisa tumbuh dalam semalam.


"Iya... nanti... masih lama..."


"Yica kila pagi-pagi sudah lahil..."


Anak itu berbalik ke meja makan dan seperti biasa naik ke pangkuan sang opa yang masih tertawa.


"Ehh jangan gangguin opa sarapan De..."


"Yica mau salapan juga oma... Yica mau seleal sama susu..."


"Iya... oma buatkan ya..."


"Selamat pagi pa... ma..."

__ADS_1


Ben datang dari arah belakang, sudah bangun rupanya.


"Oh... Ben... selamat pagi."


Papa Ramly tersenyum menyambut sang menantu, tadi malam sempat bertemu sejenak.


"Papi... adek bayinya belum lahil, masih di pelut mami..."


Si kecil turun dari pangkuan opa dan mengarahkan tangan minta di peluk sang papi Bipi. Ben meraih tubuh Yica yang sudah semakin besar.


"Dede... Dede udah berat itu, kasihan papinya kalau Dede minta gendong, masih cape juga..."


Oma Virda mencoba membatasi kemanjaan sang cucu, memang tubuh anak itu sudah semakin besar, tapi masih suka minta dipeluk sama semua orang di ruko ini, anak ini memang menggemaskan sejak dulu.


"Yica belum besal kan papi?"


Ben hanya tersenyum sambil mengusap sayang kepala Lisya. Matanya tidak menemukan sang istri, langsung bertanya...


"Rens mana, ma?"


"Masih di kamar, dia pusing pagi-pagi, jadi dia tiduran lagi... morning sick sepertinya, Ben..."


"Morning sick? Rens sakit?"


Ben menurunkan Lisya.


"Itu kondisi ibu hamil di awal-awal..."


"Oh, aku liatin Rens dulu ya?"


"Yica ikut papi..."


"De... tadi malam kan udah main sama papinya... Dede sekarang sarapan..."


"Iya oma..."


Di kamar mereka, Ben menatap sosok yang begitu dirindukan. Dia tahu istrinya sedang marah padanya, hubungan mereka tak semulus perkiraan Ben. Jarak adalah inti masalahnya, sementara dia sendiri, seluruh pikiran, waktu, tenaga terserap oleh kesibukan dan prinsip kerjanya.


Ben mengambil posisi yang kosong di tempat tidur, berbaring di sana dan langsung memeluk tubuh Keke. Keke kaget dipeluk dan segera membuka mata, menyadari siapa yang ada di sampingnya, Keke menutup mata lagi. Perasaan sedih dan marah yang segera menguasai hati langsung bercampur dengan kondisi tubuhnya, membuat Keke bergerak ingin menjauh dan lepas dari pelukan Ben. Tapi Ben tak membiarkan segera mengetatkan pelukan. Keke yang terbatas karena tubuh lemasnya serta pusing yang masih mendera akhirnya diam pasrah.


"Sweety... kangen."


Ciuman datang susul-menyusul di seluruh permukaan wajah cantik tapi sedang kuyuh itu. Tangan suami masih memeluk erat, satu tangan telah disisipkan di bawah leher sang istri.


"Asin..."


Keke membuka mata, akhirnya mau menatap wajah suami, ahhh dia kangen juga...


"Apa?"


"Airmatanya..."


Sebuah cubitan tak bertenaga mampir di pinggang suami.


"Hahaha... aku kangen cubitan kamu juga..."


Keke bukannya sedang mengajak Ben bergurau dengan cubitannya. Mulutnya sudah penuh dengan semua hal yang telah dia tahan selama ini.


"Egois... bohong..."


Keke berpaling, menyusupkan kepala semakin dalam di lengan kokoh Ben hingga wajah menempel di dada suami. Tangannya masih melancarkan cubitan-cubitan lemah masih menyalurkan emosi yang masih tertinggal.


"Maafkan aku ya..."


"Gak mau..."


Suara tangisan kecil terdengar, tapi ini bukan lagi karena marah atau sedih, emosi negatif begitu cepat menguap dalam dekapan mesra suami, ini tangisan manja seorang istri.


"Sayang... maaf ya..."


"Gak... Inyo gak peduli perasaan aku..."


"Aku punya alasan..."


"Gak mau denger..."

__ADS_1


Nada suara Keke membuat Ben tahu, kemarahan istri sudah tak tersisa. Dia menjauhkan kepala Keke dari dadanya, mengeringkan air mata dengan ibu jarinya sambil menatap lembut, kemudian melabuhkan ciuman panjang yang berbalut kerinduan penuh di bibir yang memucat itu.


Hasrat sejenak menguasai, ciuman menjadi tuntutan, jutaan neuron dalam tubuh mengirim signal dalam bentuk gelombang elektrokimia ke sirkuit sentral otak tentang kerinduan keduanya. Tapi...


"Inyo..."


Keke melepaskan tautan dengan paksa.


"Sweety..."


"Pusing Nyo..."


Ben lupa sesuatu di sini...


"Oh... iya... iya."


Ben menutup dengan sebuah ciuman lembut di bibir istri.


"Udah berapa bulan usia bayi aku di sini?"


Ben mengelus perut Keke sebentar kemudian berpindah mengelus pipi istri.


"Dua bulan, tepatnya sembilan minggu..."


"Aku happy... sweety, makanya langsung pulang."


Keke tersenyum, respon suami ternyata berbeda dengan pikirannya.


"Kenapa sih... malas nelpon aku, aku gak suka ya..."


"Maaf ya... selain memang sibuk, aku sakit."


Keke menajamkan matanya memperhatikan fisik suami. Memang saat memeluk tadi dan melancarkan cubitan terasa beda, suaminya kurus sekarang. Kelihatan sekali juga di bentuk wajah.


"Sakit apa?"


"Malaria... Di sana memang daerah endemi. Waktu ke sana pertama kali, aku langsung minum obat anti malaria, tapi pas pergi ke sana sesudah kita nikah aku lupa. Sebulan kemaren aku merawat..."


"Masih sakit ya? Masih pucat, kurusan sekarang..."


Keke memperhatikan wajah suaminya, sekarang ada rasa iba juga sesal karena sudah marah-marah tanpa tahu alasan sebenarnya.


"Udah mendingan sih, tinggal pemulihan kondisi fisik aja... susah makan di sana, gak ada makanan yang cocok, kerjaan juga lagi banyak, makanya jadi sakit."


"Kenapa gak kasih tahu sih?"


"Sengaja, pasti disuruh pulang kan, aku pengen kerjaan beres dulu..."


"Kok gitu..."


"Aku merasa sakitnya gak seberapa awalnya, karena sehari sakit besoknya udah sembuh, begitu terus, ternyata malaria seperti itu kambuh setiap 48 jam..."


"Inyo... kerjaan masih lebih penting dari pada kesehatan?"


"Iya... iya... pas parah banget, udah gak bisa ngapa-ngapain juga. Pengen pulang tapi dokternya melarang, harus selesai pengobatan dulu baru bisa pulang... Dua hari lalu terakhir kontrol dokter, jadi kemaren pas Yica kasih tahu aku soal adek bayi, aku langsung ke bandara, untung masih ada sit di pesawat... tapi kelamaan transit di Makasar jadi udah malam banget sampe sini, kamu udah tidur, pintunya dikunci lagi, jadi nahan diri sampai pagi untuk peluk kamu..."


Keke tak bisa menahan diri untuk meluapkan semua kerinduaannya, segera mencium suaminya di semua tempat yang dia bisa diiringi tawa gemas sang suami...


"Katanya pusing..."


"Iya... tapi kangen...."


Keke kemudian memeluk suaminya erat, seolah tak ingin berpisah sejengkal saja. Haha si nona kaku dan suka menyimpan marah, bersama Ben dia jadi berbeda...


Keke tidak takut-takut atau ragu-ragu menyatakan kebutuhannya sekarang, yaitu menyatakan apa yang membuat dia bahagia.


.


.


Happy weekend yaaa...


Blessing 😇


.

__ADS_1


✳


__ADS_2