
Mobil berhenti. Dua bocah tertidur sejak tadi, dan belum menyadari mobil sudah berhenti. Ben belum membuka pintu tapi Keke sudah melepas seatbelt.
"Rens..."
Tangan kanan Keke dipegang Ben.
"Iya?"
"Jangan turun dulu, tunggu sebentar..."
"Ada apa?"
Keke memperhatikan apa yang Ben lakukan. Paper bag putih dengan tulisan Ayodhya Gallery dibuka dan Ben mengambil sebuah kotak warna hitam, membukanya dan mengeluarkan sebuah kalung dari sana. Saat melihat apa yang ada di tangan Ben, Keke membulatkan mata, hati terasa mulai ada debar. Untuk dirinya kah?
"Sini..."
Lembut suara Ben, menarik tubuh Keke lebih dekat dengan senyum kecil di wajah, Keke perlahan mendekatkan diri dan debaran semakin merambah dadanya. Kedua tangan Ben terangkat melewati bahu Keke dan Ben memasangkan kalung mas putih itu di leher Keke. Keke menunduk melirik liontin kalung di tangan Ben, inisial nama mereka berdua. Ben memesan kalung itu di Ayodhya Gallery, salah satu toko perhiasan di kota ini.
(Anggap aja itu kalungnya ya... ijin ya, anggap aja bantu promo ðĪŠ).
"Suka?"
"Iya, cantik..."
Malu-malu Keke menjawab dengan suara lirih dan sedikit bergetar. Ben membetulkan liontin itu. Terlihat manis setelah terpasang dengan manis di leher si gadis manis.
"Makasih kak..."
"Jangan pernah dilepas ya?"
Keke mengangguk dan memberikan sebuah senyum untuk Ben. Kalung itu telah melingkar sempurna di leher jenjang Keke. Bagi Ben boleh dibilang itu sebagai tanda kepemilikan seorang Benaya terhadap Rensnya. Dia ingin setiap lelaki yang melihat Keke akan tahu lewat kalung itu, Keke tidak sendiri lagi, sudah ada pemiliknya.
Cinta bukanlah melulu karena hasil tembakan busur miss Cupido si Dewi Asmara, melainkan sesuatu yang diciptakan oleh dua insan. Jika si pria dan si wanita belajar menciptakan maka dua insan yang saling suka akan menguasai salah satu kemahiran terpenting dan terindah dalam hidup yaitu kemahiran mencinta. Dan Keke sedang belajar hal itu sekarang.
Masih saling tatap, jarak masih sangat dekat. Keke tak lagi mengalihkan tatapan dalam sekejap, dia menahan netranya masuk ke dalam hitamnya mata Ben, sesuatu dia temukan di sana, binar mata kak Bensnya berisi nyanyian dan irama serta puisi cinta untuk dirinya. Dan hatinya membara sekarang, ada rasa yang sama sementara menguasai relung hatinya.
Ben mengambil satu ciuman dengan lembut, sesuatu yang selalu ingin dia lakukan. Rensnya harus semakin diberi penegasan bahwa mereka itu dekat, punya hubungan istimewa, saling memiliki. Cara Ben adalah semakin sering memberi sentuhan mesra saja, sebab otak si Rens harus dijejali dengan itu biar selalu ngerti siapa Ben dalam hidupnya... Mungkin Keke gak selambat itu ya, hanya sikapnya saja yang masih sulit keluar dari casing lama dirinya yang nyaman sendiri, jadi kadang masih kaku aja terhadap Ben.
Saat Ben berhenti sejenak...
"Kak..."
Suara Keke pelan penuh getar, menahan sesuatu yang indah yang merasukinya, tapi ada hal lain yang tak boleh dia abaikan di belakang...
"Apa sayang?"
"Anak-anak..."
Dengan enggan Ben mengakhiri keinginannya yang masih ingin menambah durasi ciuman lebih panjang. Ben menarik sedikit lehernya dan menoleh ke belakang, melihat ke arah dua bocah yang sudah terbangun.
"Mami Keke, udah campe (sampe) kita?"
"Iya, De..."
"Yica jangan turun dulu ya... tunggu papi Bipi bantuin turun dari mobil.
"Iya... iya... ðķ Happy ya ya ya... happy ye ye ye..."
Lisya menyanyi senang di jok belakang. Setelah Ben membantu kedua anak itu turun dari mobil yang cukup tinggi untuk mereka, Ben meraih tangan Keke dan menggenggamnya, berjalan mengikuti anak-anak yang sudah berlari ke arah rumah.
"Sejuk ya udaranya..."
"Iya, kita di pegunungan kan... lama-lama dingin kak..."
Keduanya saling melempar senyum, sementara anak-anak sudah berteriak memanggil opa Ramly. Di teras mereka berhenti, pintu terbuka lebar tapi tak ada orang yang menyambut mereka.
"Mami Keke... gak ada orang..."
"Coba Via panggil lagi..."
Suara nyaring anak-anak bersahutan di depan pintu masuk itu menggema di dalam ruangan. Tak lama tante Noniek yang Keke tahu sepupu dari papa Ramly muncul tergopoh-gopoh.
"Oh... ada Renske... mari masuk... ini siapa cantik-cantik..."
Tante Noniek menyapa anak-anak. Lisya yang cerewet dan gak sungkan ngobrol dengan orang yang baru bertemu menjawab...
"Ini Yica, ini kakak Pia... itu papi Bipi, itu mami Keke..."
"Wah pintar... Yica pintar..."
__ADS_1
"Bukan Yica, Yi... Ca"
Ben tertawa, dia ingat perkenalannya dengan si Lisya dulu.
"Namanya Lisya tante..." Ben menukas.
"Oh... Lisya ya?" Tante Noniek menatap Lisya...
"Iya... Yica..." Lisya menganggukkan kepala.
Semua tertawa mendengar Lisya yang protes kesalahan ucapan tante, padahal dia juga sama.
"Papa ada, tante?"
"Ada di kamar, Ramly kurang sehat, masuk aja gak apa-apa."
Saat telpon kemaren papa gak ngomong kalau lagi sakit. Keke berjalan ke kamar papanya dengan perasaan yang berubah, ada rasa khawatir tumbuh sekarang untuk sang papa.
Kamar yang luas sangat bersih dan apik dengan furniture pilihan, di tengah-tengah ada tempat tidur besar dan papa Ramly berbaring membelakangi pintu di bawah selimut tebal. Keke mendekat hati-hati mengamati sejenak saat mengitari tempat tidur itu. Papa Ramly sedang menutup mata. Keke menatap wajah papanya dengan khawatir, terlihat pucat dan kuyuh. Keke tak ingin menganggu, diam saja di tepi tempat tidur itu.
Mungkin karena memang tidak sedang tidur hanya menutup mata, tak beberapa lama mata itu terbuka.
"Ike... nak..."
"Papa... baring aja..."
Keke duduk di tepi tempat tidur saat melihat papa susah payah hendak duduk.
"Gak apa-apa, Papa masih sedikit lemas aja, gula darah papa naik lagi..."
"Papa gak ke dokter?"
"Belum..."
"Ke dokter kalau gitu, Ike antar ya..."
"Iya... nanti ya... papa ada obat rutin... Ini sudah membaik kok..."
Papa Ramly memandang Keke dengan senang, merasakan perhatian Keke ternyata beda dengan menerimanya dari Noniek atau Lody. Papa meraih satu tangan Keke.
"Papa senang Ike di sini."
Keke menggeser posisi duduknya lebih dekat ke papanya yang sudah duduk bersandar di headboard tempat tidur.
"Kalau gulanya tinggi cepat merasa cape memang. Papa seminggu ini menghadiri beberapa acara, gak jaga pola makan, jadi seperti ini."
"Check up semua aja pa, menyeluruh..."
"Iya, rencananya begitu... nanti mau ke Manado, dokter pribadi papa gak praktek di Rumah Sakit Gunung Maria lagi."
"Iya... Ike yang antar ya?"
"Iya... papa memang perlu menginap, cape kalau langsung pulang, jam prakteknya malam. Papa sudah pernah sekali, dapat antrian no 5, tapi selesainya udah lewat jam 10, ditambah tebus obat, sampai di sini sudah lewat tengah malam."
"Oh... yang waktu itu papa mampir di rumah Ike?"
"Iya..."
"Kenapa gak nginap aja?"
"Berdua Lody, papa pikir gak ada kamar..."
"Kan Rommel bisa pindah, papa sama kak Lody bisa di kamar itu..."
"Iya... nanti ya kalau kontrol lagi. Anak-anak sama Rommel ikut?"
"Iya, tapi Rommel gak ikut."
"Kenapa gak telpon Lody suruh jemput?"
"Diantar kak Bens, pa."
"Oh begitu... Ike makan sekarang ya, Noniek papa suruh masak banyak makanan..."
"Papa udah makan? Ike ambilkan?"
"Boleh, minta ke Noniek ya..."
Papa Ramly seperti mendapat kekuatan seketika saat menemukan kecemasan yang ada di wajah Keke. Keke keluar dari kamar langsung disambut Yica...
"Mana opa?"
__ADS_1
"Ada di dalam, opa sakit."
"Yica macuk boleh cama kakak Pia?"
"Boleh, kasih salam sama opa tapi jangan berisik, terus langsung keluar lagi..."
"Iya. Kaka Pia, ayook..."
Keke mencari Benaya di ruangan besar itu, matanya menangkap bayangan Ben di balik kaca jendela besar, Ben ada di teras samping. Keke meneruskan langkah ke ruang makan yang juga begitu luas. Tante Noniek sedang mengatur meja makan.
"Tante... makanan papa mana?"
"Oh... sebentar tante siapin. Ramly mau makan di kamar lagi ya...?"
Keke memperhatikan ruangan itu, ada dapur bersih modern tapi tampaknya tidak pernah digunakan. Hatinya tergerak, suatu saat pengen masak di rumah papa ini.
Di kamar, Via sudah tiduran nyaman di sofa dengan remote tv di tangannya. Lisya ada di tempat tidur sedang ngobrol dengan papa Ramly. Keke meletakkan nampan berisi makanan di sebuah meja bulat kecil dekat tempat tidur. Di meja itu ada tempat obat milik papa Ramly.
"Pa... makan dulu."
"Ike tolong deketin ke sini mejanya..."
Papa bergeser ke tepi tempat tidur dan menurunkan kaki. Keke mengangkat meja warna hitam itu dengan hati-hati. Lisya juga berpindah dan duduk di dekat papa Ramly.
"Mami Keke, opa Lamly itu opana Yica..."
"Iya... Dede jangan ganggu opa dulu, opa mau makan..."
"Yica ndak ganggu, Yica duduk cini..."
Keke melihat ke arah papanya yang sedang mengusap kepala Yica. Lisya gampang dekat dengan siapa saja, kali ini opa Ramly yang ditempelin. Papa makan perlahan, Keke menarik sebuah kursi duduk mengamati papanya.
"Kalian juga harus makan, udah mau jam 1 ini..."
"Iya, nanti selesai papa makan..."
"Ike... sisa halaman belakang di ruko yang masih ada rumah lama, itu berapa meter kira-kira?"
"Itu kira-kira 8 meter pa, sampai ke pagar tembok rumah belakang."
"Papa ada rencana bantu Ike bangun itu, kalau Ike tidak keberatan. Papa ingin tambah kamar di atas, biar lebih leluasa kalau papa ke rumah Ike..."
"Oh..."
"Papa ada rumah di perumahan Green Garden yang di ring road, tapi ada sepupu Ike tinggal di situ."
"..."
"Ike ijinkan?"
"Eh... itu... terserah papa..."
Sekarang Keke menyadari ada orang-orang yang berarti buat dia, ada di sekitar dirinya, dan kadang melakukan sesuatu untuk dirinya atau untuk kepentingan bersama, seperti Ben, dan sekarang papanya.
"Papa sudah selesai, sekarang kalian yang makan ya..."
"Iya opa, Yica lapal..."
"Kita tinggal ya pa..."
.
Selesai makan, anak-anak kembali masuk kamar papa Ramly. Keke selesai membantu tante Noniek, bergabung dengan Ben yang kembali berada di teras samping.
"Dari tadi di sini kak?"
"Iya... suka pemandangannya."
Ben menarik tangan Keke dan meletakkan tangan Keke melingkar di pinggangnya tapi tidak melepaskan tangan Keke menangkup dengan jemarinya, tangan yang satu merangkul pundak Keke. Mereka menikmati view kota Manado di bawah langit bersih yang terang. Sesekali Ben memberikan kecupan lembut di sisi kepala Keke yang sejajar dengan pundaknya. Keke menikmati kebersamaan itu. Siang yang manisss.
Lody masuk terburu-buru, dia baru dari gudang mengontrol bahan yang dimuat di beberapa truk yang akan ke Kalimantan lewat perjalanan darat, juga yang akan ke pelabuhan Bitung untuk dikirim ke Sorong.
Dia melihat agak lama ke arah teras samping...
.
.
Happy Weekend.
Maaf yaaa setiap Jumat mmg gak bisa up.
__ADS_1
Salam paling hangat untuk semua ððâðŠ