
📱
"Sweety... gimana adeknya?"
"Pertumbuhannya sejauh ini baik sih, berat dan panjangnya sesuai, semua bagus kata dokter..."
"Kamu gimana, sayang? Sehat kan?"
"Iya... tapi udah gak kuat jalan jauh... kaki aku tambah bengkak..."
"Itu gak apa-apa? Mana... aku lihat kaki kamu..."
Ben langsung kuatir saat Keke menunjukkan kedua kakinya, warna kulit Keke yang putih mengekspos dengan jelas perubahan di kaki yang terlihat agak kemerah-merahan, serta jari-jari dan punggung telapak kaki yang mengembang membulat jauh dari biasanya.
"Kata dokter hanya mengurangi yang asin-asin aja sama berhenti minum kopi..."
"Kurangi aktivitas yang membuat kamu lelah ya sayang ya... sama selalu hati-hati di tangga ya, kalau nggak perlu nggak usah turun..."
"Iya..."
Wajah Keke kembali terpampang di layar ponsel.
Dalam hati Ben sebenarnya prihatin dengan Keke dalam keadaan hamil lebih banyak dia tinggalkan, tak seperti suami-suami yang lain yang bisa meladeni istri pada masa-masa kehamilan, dia tidak pernah mengalami repotnya mewujudkan acara ngidam sang istri.
"Tambah gemuk kamunya atau bengkak juga?"
Ben masih bernada kuatir.
"Dua-duanya mungkin... aku jelek ya?"
Keke tersenyum masam.
"Hahaha... tetep cantik kok... tapi lesung pipit aku menghilang kayaknya..."
"Apa sih... Jadi pulang kan Nyo?"
"Kali ini aku gak bisa..."
Keke terdiam sejenak.
Lama baru Keke bisa setuju dengan Ben soal pilihan Ben mempertahankan pekerjaannya sehingga pada akhirnya mereka lebih sering berpisah dari pada sama-sama dan Keke mulai terbiasa untuk tidak menuntut, tapi kali ini dia menginginkan Ben pulang.
"Inyo... Inge sama kak Lody mau nikah..."
"Waktu lalu aku udah sengaja cuti, tahu-tahu pernikahan mereka diundur..."
"Mereka harus melakukan itu, harus menyesuaikan dengan Mama Tua Irene dan Papa Tua Raf, mereka pulang ke Indonesia gak segampang Inyo pulang dari Manokwari kan..."
"Aku tahu, tapi aku juga tidak bisa seenaknya ambil cuti, aku rencana cuti nanti saat kamu melahirkan..."
"Tapi... Inge loh yang urusin pernikahan kita dulu, sementara sekarang aku gak bisa bantu apa-apa karena kondisi aku, Inge cuma minta kita hadir doang di nikahannya..."
"Nanti aku yang ngomong ke Inge dan Lody. Tolong ngerti hal ini ya..."
"..."
Dia hanya ingin melakukan sesuatu yang Inge minta, dia tak bisa melakukan sesuatu untuk membalas jasa Inge saat pernikahan mereka dulu. Ada kekecewaan yang menyusup di hati ibu hamil ini. Biasanya jika ada yang tidak sesuai dengan pikirannya atau ada hal yang tidak bisa dia terima bisa jadi sumbu peledak untuk mengungkapkan emosi, hari-hari ini Keke lebih banyak mengalah pada Ben, bila tak setuju sekarang Keke memilih diam saja.
"Sweety... kenapa diam?"
"..."
"Rens..."
"Gak papa, aku ngantuk, tapi jangan lupa jelasin ke Inge ya kalau Inyo gak bisa hadir nantinya..."
"Iya... jaga dengan baik adek kita berdua ya, kamu juga sweety..."
"Iya..."
.
🍀
.
Di dalam sebuah kamar di rumah sakit ibu dan anak ini, papa Ramly begitu cemas melihat keadaan anak semata wayangnya yang begitu menderita. Berbaring dengan gelisah dan kesakitan. Semua tidak mengenakkan buat Keke sekarang, berjalan tidak nyaman demikian juga saat duduk dan berbaring.
Sejak kemarin sekitar jam enam pagi mereka sudah ada di rumah sakit tempat yang direkomendasikan oleh dokter yang menangani Keke sejak awal mengandung. Keke kesakitan sejak kemarin pagi tapi pembukaannya tidak bertambah. Akhirnya Keke menjalani proses induksi, keputusan dokter setelah tidak ada perkembangan sampai sore tadi. Kadang rasa mulas itu datang tapi setelahnya seperti tidak ada tanda-tanda untuk melahirkan padahal seharusnya sudah saatnya melahirkan, usia kandungan sudah mencukupi.
Dan sekarang setelah proses itu, Keke sedang merasakan sakit yang begitu hebat, mama dan papa membantu Keke berdiri karena Keke ingin berjalan, saat kedua kakinya hendak menapaki lantai, dia tidak kuat. Akhirnya Keke duduk di kursi yang dengan sigap diatur Rommel untuk Keke. Keke memeluk mama Virda yang berdiri di sampingnya.
"Maafin Ike ma... Ike... Ike banyak salah... sama mama... Ma... ini sakit banget ma... maafin Ike... sakiit ma..."
Keke terbata-bata mengucapkan kalimatnya, meringis dan menangis karena nyeri yang tidak sanggup dia tahan.
"Jangan seperti itu sayang... Ike anak baik, Ike anak yang berbakti, jangan ngomong seperti tadi ya, doa aja biar Tuhan lancarkan persalinannya... yaa... mama sayang Ike..."
__ADS_1
Keke tambah menangis, semua ikut menangis.
"Aku panggil dokternya lagi kak..."
Rommel tak tega melihat Keke, dia bergegas ke luar mencari seseorang, paling tidak kehadiran seorang petugas medis di dalam ruangan bisa lebih menenangkan. Papa Ramly sejak tadi tak henti-hentinya berdoa, dan terus mengusap punggung anaknya, airmata terus keluar dari mata papa Ramly
"Papa telpon Ben ya..."
Keke tak menjawab justru semakin sedih, dia sangat berharap suaminya ada sekarang, dia butuh suaminya... tapi dia tak berdaya, cuaca buruk di Manokwari membuat kepulangan Ben terhambat. Ini musim penghujan, jangankan di sana, cuaca di Manado pun tidak menentu.
Belum sempat papa Ramly melakukan panggilan, ponsel sudah berbunyi.
📱
"Ben... gimana, sudah bisa terbang?"
"Udah di Makasar pa... untung pesawat ke Manado delayed juga, jadi masih bisa lanjut penerbangan hari ini. Mudah-mudahan 3 jam lagi udah di rumah sakit, ini lagi nunggu boarding..."
"Syukurlah..."
"Rensnya gimana pa..."
Papa mengarahkan ponsel pada Keke, yang sudah kepayahan menahan sakitnya.
"Sweety... sayang...."
Pemandangan menyedihkan membuat Ben merasa bersalah tidak mempercepat kepulangannya, padahal dia punya kesempatan itu minggu lalu, tapi dia menunda sehari lagi-lagi karena pekerjaan dan justru menjadi berhari-hari karena hujan yang terus menerus.
"Pa... panggil dokter aja, kasihan pa..."
Ben pun tak tahan memandang Keke yang seperti itu.
"Sudah... lagi dipanggil sama Rommel..."
"Sayang... aku udah hampir sampai... semangat ya... dikit lagi adek bayi kita lahir... yang kuat ya sayang ya..."
"Udah... gak... kuat... Nyo..."
Lirih dan terputus-putus suara Keke membuat Ben menitikkan airmata, berada jauh seperti ini membuat Ben hampir gila hanya bisa bicara tapi tak bisa menyentuh, hanya memandang sedih tak bisa berbuat banyak. Pelukannya pasti paling dibutuhkan istrinya. Airmata berubah dari setetes hingga menjadi aliran yang tak terbendung.
Dokter bersama seorang perawat masuk ke ruangan diikuti Rommel.
"Dok, anak saya sudah kepayahan, sakitnya sudah terus-menerus, dia juga sudah sangat lemah... tolong dok, tangani sekarang saja..."
Papa Ramly berkata sambil terisak, rasa sayang pada putrinya membuat rasa takut cemas dan rasa kasihan bercampur membuat pria setengah abad ini tak kuat menahan emosinya.
"Iya... kita periksa dulu ya... bantu ibu berbaring..."
"Mel... Mel... jangan dimatikan!"
Ben berteriak frustrasi di layar ponsel itu, tak pedulikan lagi orang-orang yang ada di ruang tunggu bersama dia.
"Iya kak..."
Tirai hijau yang mengelilingi brangkar ditarik sang perawat, papa Ramly keluar dari sana.
"Mel... tolong deketin ke Rens ponselnya, aku pengen liat dia..."
"Pa... kak Ben ingin lihat kak Kekenya..."
Papa Ramly mengambil ponsel dan memutari bagian luar brangkar yang masih tertutup tirai hijau itu ke bagian kepala di mana ada mama Virda sedang menenangkan Keke.
"Honey... ambil ponselnya, Ben ingin melihat Keke."
Papa Ramly berkata tanpa membuka tirai. Satu tangan mama Virda menjulur keluar di bagian ujung tirai, lalu menghadapkan ponsel ke wajah Keke.
"Sweety... I love you... I love you..."
Hanya kalimat itu yang bisa Ben ucapkan. Keke hanya mengangguk lemah sambil menutup mata.
"Sudah saatnya, kita akan bawah ibunya ke ruang bersalin ya... doakan biar semuanya lancar..."
Informasi yang melegakan diberikan sang dokter, walau belum mampu meredakan tekanan bagi semua. Ben yang ikut mendengar, juga berteriak seolah melepas tekanan pada dirinya sendiri.
"Ma... jangan dimatikan ya... ponselnya..."
"Iya Ben... iya..."
"Sweety... I love you..."
Calon bapak yang gugup juga takut tidak punya kalimat lain lagi untuk diucapkan.
Dokter sudah keluar ruangan menunggu Keke di ruang bersalin, perawat yang tadi sudah kembali bersama seorang perawat lain untuk memindahkan Keke. Saat Keke tiba di ruangan bersalin, saat yang sama panggilan boarding terdengar.
"Sweety, aku udah mau naik pesawat sekarang, yang kuat ya... aku sayang kalian berdua..."
Telpon berakhir, sebentar lagi dia akan melihat bukan hanya istrinya tapi juga bayi mereka, anaknya sendiri. Adrenalin yang berpacu dalam darah akibat kumpulan peristiwa beberapa jam ini membuat Ben tak sabar ingin segera masuk dalam pesawat. Antrian panjang membuat dirinya berdiri gelisah, apalagi dia berdiri paling belakang karena fokus pada istrinya saat panggilan boarding terdengar.
__ADS_1
Dalam keadaan seperti ini baru Ben betul-betul menyadari konsekuensi berat dari sebuah pilihan mempertahankan pekerjaannya. Dia punya janji hati sekarang untuk istri yang paling dia sayang dan buat anaknya. Dan pilihannya sudah bulat. Dia mengambil ponselnya kembali, mencari sebuah file yang sudah lama dia buat, dan mencari sebuah nama di aplikasi hijau, boss Nicolaas Hong dan final decision, resign... send. Dia akan mengurus secara formal nanti, sekarang fokus pada keluarga dulu.
Dalam hatinya sekarang, keluarga adalah pilihan pertama dan utama, soal berkat, dia tak boleh khawatir, Tuhan sudah memberi dia anugerah dengan kehadiran seorang anak, tak lama lagi dia akan melihatnya, dia juga percaya Tuhan pasti menjamin semua hal mengenai masa depan anaknya, masa depan keluarganya, pasti selalu ada jalan berkat rumah tangga yang akan terbuka di depan sana.
.
🍀
.
Pukul dua dini hari...
Sang papa masih takjub dengan replika dirinya yang begitu mungil, terbungkus kain putih dan topi putih, anak laki-laki, belum punya nama, baru tersemat nama mamanya di papan nama hijau di sisi depan box bayi itu. Selama setengah jam dia memandangi anak lelaki miliknya yang membawa secara sempurna gen miliknya dalam fisik kecilnya. Bentuk hidung, mata, dan bibir sama persis dengan foto dirinya saat bayi dulu. Begitu juga bentuk jari tangan kaki yang sempat diintipnya sesaat tadi.
Tangisan Ben mewarnai ruangan itu tadi saat Ben tiba, lega karena mengetahui Keke selamat, bayi juga selamat dan sehat, punya bobot dan panjang yang normal, lengkap semua tidak ada cacatnya. Keke sedang istirahat di brankarnya, begitu lega saat suaminya bisa tiba juga dengan selamat.
Setelah puas memandang makhluk kecil pemberian ajaib sang Pencipta untuk melengkapi kebahagian hidupnya, Ben membersihkan diri lalu mendekati brangkar. Keke membuka mata.
"Heiii... kenapa gak tidur, sweety...."
Ucapan dan ciuman bertabur begitu banyak rasa sayang berlabuh lagi di kepala Keke.
"Gak tahu kenapa, pengen tidur sih, tapi gak bisa..."
"Udah tanya dokter?"
"Tadi udah ditanya ke perawatnya, katanya gak apa-apa, kondisi aku semua bagus sih... katanya reaksi tubuh setiap ibu setelah melahirkan berbeda-beda..."
"Bisa geser dikit?"
Keke menggerakkan tubuhnya perlahan, seperti tak ada rasa sakit yang tersisa setelah melahirkan kecuali pada bekas jahitan akibat tambahan pintu buat si adek bayi, rasa sakit yang sebanding dengan bahagia yang datang setelah akhirnya bisa melihat adek bayinya.
Ben ikut berbaring di sebelah Keke, memeluk istrinya dengan lembut, mencium beberapa bagian di wajah sang istri.
"Aku bahagia banget sweety, semua berakhir baik, kita tidur sekarang? Biarkan oma opa yang melihat adeknya sebentar karena kamu butuh tidur biar tubuh kamu cepat pulih..."
Keke mengangguk di pelukan hangat suami, pelukan yang selaku dirindukan.
"Sweety..."
"Iya..."
"Aku udah resign..."
"Beneran?"
"Iya..."
"Serius?"
"Iya..."
"Gak akan berubah?"
"Gak, udah sebulat hati aku..."
"Gak akan menyesalinya?"
"Hahaha tumben banyak nanya... Gak, gak akan menyesal. Kalian pilihan aku sekarang..."
Keputusan Ben yang semakin kuat setelah melihat langsung anaknya.
"Ini hadiah terindah buat aku setelah adek bayi... keinginan aku saat menikah adalah kita selalu sama-sama, Inyo tahu kan... itu mimpi aku selama ini... kita cari uang di sini aja yaa..."
Ben menatap Keke penuh cinta, keinginan istrinya begitu sederhana, dan dia mau mewujudkan mimpi indah itu, seperti melunasi hutang janji waktu itu, dan itu melegakan juga membahagiakan.
"Iya... iya, tidur ya aku juga udah ngantuk..."
"I love you, Inyo..."
"Love you more, sweety..."
.
.
Dia tahu rancangan terbaik yang ada pada-Nya untuk semua insan, sebuah rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepada semua insan di dunia hari depan yang penuh harapan....
.
.
Terima kasih banyak permirsa... hutang aku lunas ya... 😊😊
Maafkan... perlu waktu sebulan hanya untuk satu episode 🤭
🍀
__ADS_1
Blessing 😇
🍀