Fate Or Destiny

Fate Or Destiny
Bonus Eps. Hampir Lupa


__ADS_3

Dear Readers... aku ingat punya satu hutang penyelesaian... jadi nulis satu bab lagi aja biar semua berakhir indah, karena kita semua selalu suka memilih happy ending, to live happily for the rest of one's life, sebuah keinginan mulia tentang kesempurnaan hidup.


Happy reading...


🍀


Tetap menjaga relasi baik dengan teman dan kenalan itu bisa menguntungkan, sekalipun di waktu yang lalu tidak menyukai orang itu, jika bisa bertoleransi karena sikap dan tindakannya tak melewati batas tak apa tetap menunjukkan keramahan, hanya menunjukkan kebaikan hati saja.


Indira, perempuan di masa lalu yang pernah mengejar-ngejar Benaya, sekalipun tak suka  Ben berusaha tak meladeni, bersikap simpatik dalam tahap kewajaran. Dan tak disangka perempuan itu menikah dengan seorang pengusaha dan sekarang punya beberapa proyek yang sedang dan akan berjalan di Manado.


Tak sengaja juga bertemu saat Ben sedang makan dengan anak-anak di sebuah gerai pizza. Keke tak ikut, si adek bayi sudah berusia dua bulan tapi Keke tidak suka membawa adek bayi mereka ke tempat umum, belum waktunya katanya nanti saja setelah lebih besar dan sudah lebih mengerti.


Ben sedang meladeni Lisya, sedang membantu menuangkan saos di piring segi empat berisi potongan pizza, Livia sendiri sedang asyik menikmati makanan yang dia pilih dalam diam.


"Ben..."


Indira mendekati meja Ben dan anak-anak. Rupanya dia duduk dekat saja dan langsung mendekat ketika mengenali Ben. Perutnya menunjukkan dia sedang hamil.


"Indira? Halo apa kabar?"


Ben menyapa, melihat postur tubuh wanita ini dia merasa tak perlu khawatir bersikap ramah.


"Baik... ini siapa?"


Indira ingin tahu, sejak hamil di selalu suka memperhatikan anak-anak, dan celotehan Lisya sejak tadi sudah menarik perhatiannya dan terkejut saat menyadari siapa yang meladeni dua bocah di meja sebelah.


"Anak-anak aku..."


Ben tersenyum saat melihat muka bertanya dari Indira, penasaran... terakhir bertemu Ben belum menikah, apa menikah dengan janda?


"Oh... anak dari istri kamu ya?"


"Bukan, tapi mereka adalah anak kami berdua..."


Ben coba menjawab simple karena kedua anak ini lagi peka akhir-akhir ini, Livia pernah bertanya suatu kali, apa papi-mami masih sayang mereka, kan sudah ada adek bayi, si Junior.


"Ini Yica, itu kakak Via, Onty..."


Lisya nyeletuk di antara mulut yang mengunyah makanan.


"Via sama Dede ponakannya mami Keke, tapi sekarang jadi anak-anak mami papi, ya kan papi?


Livia sekarang yang berkata, anak ini masih coba meyakinkan dirinya bahwa mereka anak-anak mami papi sekarang. Anak ini punya trauma ditinggalkan dan masih sensitif soal ini.


"Iya sayang... kalian anak-anak papi dan mami..."


Ben mengusap kepala Livia, anak itu tersenyum senang. Sementara Indira mengangguk memahami.


"Aku duduk di sini sebentar ya..."


Indira menunjuk sisi yang kosong di samping Livia. Dia suka sekali melihat cara Yica makan, menggemaskan, dia ingin punya anak perempuan dan sekarang bayi dalam perutnya berjenis kelamin perempuan.


"Oh... boleh... boleh..."


Ben menjawab ringan, walau bingung kenapa Indira tak langsung kembali ke meja sendiri, terlebih ada seorang pria yang terlihat jauh lebih berumur duduk di sana. Ben mengangguk ramah menyapa, dibalas senyum kecil oleh pria hampir setengah abad itu.


"Itu suami?"


"Iya... kami lebih banyak tinggal di sini sekarang, dia punya beberapa proyek di sini. Proyek kamu udah selesai?"


"Yang kemaren? Udah... Ada proyek di Maknokwari sekarang, tapi aku baru aja resign..."


"Oh... kenapa?"


"Aku baru punya bayi, berat ternyata pisah sama keluarga..."


Ben jadi lancar bercerita, biasanya bicara seperlunya, efek sudah jadi bapak mungkin jadi lebih leluasa untuk berkomunikasi dengan orang lain.


"Wah... kebetulan di perusahaan suami aku ada posisi yang kosong. Dia lagi ngerjain proyek revitalisasi pantai Malalayang... aku tanya suami ya..."


Perempuan hamil tersebut bergerak kembali ke mejanya, berbicara sebentar lalu datang kembali ke meja Ben.


"Ben, kamu ke sana aja ngobrol langsung sama suami aku, aku yang temenin anak-anak kamu... boleh ya Onty ngobrol sama kalian?"


Indira tak menunggu persetujuan Ben, langsung duduk di sisi Livia lagi...

__ADS_1


Singkatnya, Ben dapat tawaran kerja dengan posisi dan salary yang kurang lebih sama. Rezeki tak jauh, jalan berkat tersedia buat Benaya --kan author yang ngasih, biar hidup Ben lebih gampang, dari pada Ben disuruh balik ke Jakarta mengikuti permintaan mama Litha sementara ceritanya Keke merasa tidak cocok tinggal di kota besar, sudah nyaman tinggal di Manado sama seperti author, tidak mau ke mana-mana lagi kecuali jalan-jalan, maaf author kebablasan ngoceh 🤭--


.


🍀


.


🍀


.


Kesibukan sedang terjadi di rumah opa Ramly di Tomohon. Hari ini hari yang special buat keluarga besar opa Ramly, semua keluarga berkumpul di sini. Keluarga Ben yang dari Jakarta juga datang semua, kali ini Rebecca tidak sendiri lagi, dia menikah dengan seorang kawanua juga anak teman nongkrong papa yang juga sudah menduda, ditinggal mati istri karena kecelakaan dan tidak memiliki anak. Rebecca sedang hamil anak ketiga, tapi tetap lincah ke sana ke mari sementara Matthew dan Mosses sudah lebih besar, dan lebih suka bermain game di ponsel. Inge dan Lody punya kembar perempuan berusia delapan bulan yang imut dan cantik, mungkin gen kembar dari keluarga Lody.


Si Ben Junior sangat lucu, batita yang berusia dua tahun setengah ini tak pernah berhenti berjalan dan bertanya tentang apa saja. Dia tak pernah lari-larian tak tentu arah ciri khas anak seumuran, dia selalu melangkah pasti dari satu tempat ke tempat lain dan selalu bertanya, dan anak ini seperti punya feeling mana tempat yang aman untuk petualangan kecilnya, dan manisnya si Junior tidak pernah menyentuh atau membanting apapun. Mama Litha saja bingung melihat cucunya, tapi dia teringat saat berjumpa Via dan Lisya pertama, dua gadis kecil itu juga sangat manis sikapnya, menantunya punya apa bisa mendidik mereka seperti itu?


"Apa ni... ni apa ya?"


"Itu bunga, Nior..."


"Apa ni?"


"Itu stoples kue..."


"Ndak enak..."


"Hahaha, emang Nior udah nyicip..."


Bagi Junior yang paling enak adalah makanannya sendiri. Via dengan telaten menjagai adiknya, memasuki masa remaja, Via sudah bisa diandalkan Keke untuk memperhatikan adiknya. Via mengikuti ke mana adiknya melangkahkan kaki kecilnya. Franklyn Delanno Roosevelt Manoppo, nama pemberian papa yang begitu terobesi menamai anaknya dengan nama salah seorang presiden Amerika.


"Capa tu?


"Itu oma Noniek..."


"Oma Niol banak (Oma Nior banyak)..."


Si Junior mendekati kumpulan saudara dari opa Ramly yang sedang bercengkerama di area ruang makan.


"Tu oma, tu oma, oma yaji, oma yaji (itu oma, oma lagi)


"Adik Via lucu ya... dia ngomong apa kakak Via?"


"Dia bilang omanya Junior banyak, oma Noniek..."


"Hehehe... opa Junior juga banyak, tuh sana itu opanya Junior semua..."


Tante Noniek tidak bisa menahan gemasnya meraih Junior dan memeluk bocah yang punya pipi yang seolah memanggil semua orang dewasa untuk mencubit...


"Opa yaji yaji?" (Opa lagi, opanya banyak juga?)


Mata si Junior membulat serius, tapi justru membuat semua orang tertawa. Ben dan Keke keluar dari kamar mereka, Ben cepat-cepat mengambil Junior dari tangan oma Noniek.


"Junior... kenapa minta gendong oma, Nior udah berat banget loh?"


"Ndak... Niol ndak minta..."


Si batita menggeleng sekuat-kuatnya saat kakinya sudah berjejak lagi di lantai.


"Ma Ade yang gemes Ben, gak apa-apa, dia masih seperti adek bayi buat Ma Ade, lucu..."


"Ndak Niol... tuh adek tuh... dua..." (Nior bukan bayi)


Telunjuk kecilnya menunjuk pada si kembar yang sedang duduk di kursi khusus, sedang disuapi makan oleh Inge.


"Hahaha, Nior protes disebut bayi... mash kecil udah pintar begini..."


Ma Ade Noniek menjawil pipi tembem milik si Junior. Sementara si batita sudah mulai jalan lagi, memulai petualangannya lagi di rumah besar ini.


"Nior... mau ke mana? Sini ikut papi..."


Ben mengulurkan tangan pada si kecil yang sudah rapih, mereka berdua mengenakan setelan jas berwarna hitam dengan dasi kupu-kupu. Dua pria punya wajah yang sama sekarang saling bergandengan menuju pintu depan.


"Sweety..."


"Iya... bentar Nyo..."

__ADS_1


Keke yang selesai menggunakan sepatu kemudian memanggil Via.


"Via... sini, mami benerin baju kamu... nanti cari adek kamu ya... kita berangkat sekarang..."


"Iya mami..."


Keke merapikan dress anaknya, ya, Via jadi anaknya sekarang, dokumen legal sudah diurus Ben, dan kedua anak perempuan ini resmi menggunakan marga Manoppo. Keke juga telah meminta kakaknya membuat surat pernyataan secara pribadi tidak akan mengambil mereka dari Keke. Bonita tak bisa menampik perasaan kehilangan dua anaknya, tapi dia juga tak bisa menampik fakta dua anaknya bahagia bersama Keke. Hanya sekali itu dia datang, bertemu anaknya untuk kemudian melepaskan mereka, dia sadar dia telah kehilangan mereka jauh sebelum dia membuat surat pernyataan yang Keke minta.


°Nge... kalian nyusul aja ya?"


"Iya... kita ketemu di Chapel aja... aku repot bawa dua bayi ini, gak bisa cepat-cepat, ini selesai makan baru bisa berangkat..."


"Ma Ade... ikut mobil Ike?"


"Ma Ade gampang... banyak mobil, tinggal pilih mana yang kosong..."


Keke mendekati papa dan mama yang sedang duduk di ruang depan, sejak tadi keduanya sudah siap.


"Ma, pa... udah waktunya berangkat... biar tepat waktu mulai pemberkatannya..."


"Ayo... honey..."


Papa Ramly berdiri lebih dahulu, kemudian membantu mama Virda berdiri. Mama Virda sangat berbeda dengan balutan dress putih semata kaki dengan lengan panjang. Sederhana tapi begitu anggun. Papa Ramly juga sudah terlihat begitu tampan dengan setelan jas hitamnya. Matan pasangan suami istri puluhan tahun yang lalu akhirnya berkomitmen untuk bersatu kembali, melupakan kisah kelam di masa lalu untuk merajut hari tua bersama-sama. Perlu waktu yang panjang sejak mama Virda menjanda untuk mengambil keputusan ini. Berulang kali papa Ramly meyakinkan mama Virda bahwa mereka boleh rujuk lagi, tidak ada yang salah dengan itu.


Cinta bisa mengubah yang pahit menjadi manis, yang sedih menjadi bahagia, yang sakit menjadi sembuh, yang putus asa menjadi punya pengharapan. Mungkin dulu pernah terluka karena cinta, maka cinta yang sama bisa membalut luka, pernah menderita karena cinta maka cinta yang sama bisa mengubah penderitaan menjadi keindahan hidup, pernah tersakiti karena cinta dan cinta yang sama bisa membuat seseorang berkomitmen untuk memberikan yang terbaik...


Sebuah paradoks kehidupan... ketika berkata mencintai maka ada kesempatan yang sama besar untuk menyakiti. Ketika berkata ingin membahagiakan maka ada kesempatan yang sama besar untuk membuat airmata mengalir. Yang bertahan dalam cinta hingga akhir adalah mereka yang sanggup memaknai kedalaman cinta: mencintai pasangan seperti mencintai diri sendiri, sama halnya menyakiti pasangan itu artinya menyakiti diri sendiri.


Kebahagiaan memancar di semua wajah mereka yang hadir di Chapel ini saat pemberkatan berlangsung. Papa Ramly, mama Virda, dan lebih lagi buat Keke. Ibu tiga anak ini paling tidak bisa menahan emosi kali ini, keinginannya dikabulkan oleh Bapa pemilik kehidupan. Ben menggenggam erat tangan istrinya, turut berbahagia bersama Keke. Tiga anak mereka duduk dengan manis di samping papi mami selama ibadah pemberkatan berlangsung. Jika Junior gelisah dan bosan dia hanya akan berpindah duduk di pangkuan papi atau di pangkuan mami, setelah itu duduk lagi dengan manis di tempatnya sendiri. Orang-orang gemas melihat tingkah anak kecil itu.


Saat tiba untuk memasangkan cincin, Lisya maju membawa sebuah keranjang cantik berisi sepasang cincin. Junior minta ikut, akhirnya Keke mengijinkan ketika melihat opa Ramly menganggukkan kepala tanda tak masalah anak itu naik ke atas. Via akhirnya mengandeng tangan Junior naik, dan mereka bertiga berdiri berjejer di samping opa Ramly. Orang-orang menanti si kecil apakah akan membuat kekacauan, ternyata tidak. Dia hanya berdiri sambil menunjuk dan bertanya pada kakaknya...


"Apa tu?"


"Cincin..." Via membungkuk sedikit sambil berbisik.


"Napa tu?"


"Opa pasang cincin sama oma..."


Via berbisik lagi.


Saat selesai memasangkan cincin, opa Ramly diijinkan mencium oma Virda... dalam kebahagiaan yang begitu nyata, opa Ramly melakukan itu, tiga buah kecupan ringan di dahi dan di pipi kanan kiri. Saat momen indah itu selesai, Junior meminta opa Ramly mengendongnya dan meminta mendekatkan pada si oma. Junior juga mencium sang oma, diikuti reaksi tertawa dari semua orang. Oma Virda bakas mencium cucunya, juga meraih kepala dua cucu perempuannya dan melakukan hal yang sama.


"Nyo... anak kamu itu..."


Keke tertawa bahagia melihat moment itu. Ben apalagi, putranya ini suka meniru apa yang dia lakukan pada istrinya. Pertama tentu Ben yang mengajari, lama-lama dia akan melakukannya setelah melihat Ben. Ben masih meneruskan tawanya, lalu melakukan hal yang sama seperti yang papa Ramly baru lakukan, mencium istri dengan tiga buat ciuman sayang.


"I love You, sweety.... kamu kebahagiaan aku..."


"Cuma aku?"


"Anak-anak juga..."


Keke lebih berbahagia lagi, semua terasa lengkap dan indah kini dalam rahmat Sang Maha Pengasih, jalan hidup yang dia beri begitu menakjubkan buat Keke.


.


.


Aku juga bahagia bisa mengakhiri ini... selalu ada keindahan saat kita menebar cinta, saat kita membagi kasih sayang...


Love you all 💚


Baca cerita baru aku yaaaaa 💚


🦋 MUSIM AKAN SELALU BERGANTI 🦋


.


🍀


.


__ADS_1


__ADS_2