
Masa lalu, seperti apa pun indahnya hanya bisa dikenang dan seperti apa pun pahitnya jangan sampai merampas semua energi untuk hidup bahagia di masa sekarang...
Seorang wanita turun dari sebuah mobil hitam. Wanita dengan tinggi rata-rata sekitar 160 cm, cantik dan punya wajah yang ramah. Masih muda kelihatannya, mungkin di kisaran akhir duapuluhan. Dari mobilnya bisa diperkirakan wanita ini cukup berada untuk ukuran di kota ini. Tapi bila dilihat tampilannya terlihat sederhana, hanya berjeans ria plus kaos oblong kebesaran lengan pendek warna putih yang digulung lengannya.
Rommel menatap dari dalam ruko, wanita itu tampak ragu untuk masuk. Berdiri depan pintu ruko yang sudah dibuka semuanya karena sudah lewat siang hari, sejenak membaca neon box yang bertuliskan Keke's Catering & Dessert yang ada di bagian atas pintu ruko.
"Emm... selamat siang..."
"Siang... ada perlu apa?"
"Saya mencari seseorang, boleh tanya... ini alamatnya Renske Supit?"
"Iya kak..."
"Renskenya ada?"
"Ada. Ini siapa?"
"Saya Engline... saya dari Leilem. Boleh bertemu Renske?"
"Sebentar kak..."
Rommel masuk, ingatannya soal Leilem muncul seketika, suami kedua mama, papanya kak Keke berasal dari desa itu.
"Kak... di depan ada yang nyari..."
"Siapa?"
Keke sedang menyiapkan isian lumpia. Hari ini dia hanya membuat sedikit, bukan pesanan hanya untuk dijual di ruko. Panada, lalampa, susen dan balapis sudah diletakkan di lemari display, lumpia yang terakhir, baru dia akan beristirahat.
"Engline... dari Leilem."
"Engline?"
"Kamu aja Mel yang tanya ada perlu apa, tanggung ini..."
Rommel keluar lagi, kakaknya suka keras kepala dan percuma dia membantah.
"Kak... kak Keke lagi sibuk, ada perlu apa ya?"
"Emm... bilang aja penting, urusan keluarga. Tolong ya dek... perlu banget bertemu Renske..."
Rommel masuk lagi.
"Kak... perlunya sama kak Keke, urusan penting katanya, urusan keluarga. Keluarganya kak Keke itu..."
"Keluarga? Siapa?"
"Gak tahu, makanya kak Keke keluar, nanti aku yang terusin itu... tinggal dicampur jadi satu semuanya kan?"
"Iya... jangan lupa kacang tumbuknya, ada di toples..."
"Iya... buruan sana ke depan..."
__ADS_1
Dengan malas Keke membuka celemek dan melepas sepatu kebesarannya saat di dapur, mengganti dengan sandal jepit yang ada di tangga. Keke ke depan.
"Yaa?"
Keke menatap wanita yang berdiri di seberang lemari display, dia tak mengenal si Engline ini.
"Renske?"
"Iya, saya Renske... siapa ya?"
"Saya Engline... masih ingat oma Beatrice?"
Keke mencoba mengingat nama itu, sepertinya pernah mendengar nama itu, tapi Keke lupa.
"Oma Beatrice? Maaf... saya tidak ingat."
"Om Ramly?"
Tak usah diingatkan... meskipun sejak usia lima tahun Keke hanya bertemu dua atau tiga kali tapi dia tidak akan melupakan nama itu.
"Iiiyaa... saya ingat."
Wanita di depan tersenyum lebar saat mendengar jawaban Keke.
"Emm... om Ramly ada di mobil, ingin bertemu Renske."
Wanita yang mengaku bernama Engline tak menunggu persetujuan dari Keke langsung berbalik ke arah mobil yang sudah diparkir agak masuk di selasar depan ruko Keke.
"Ike... nak..."
Pria yang dalam ingatan masa lalunya yang sedikit saja hanya sebatas nama. Tak ada ingatan lagi soal detail wajah dan tubuh fisik. Ada foto mereka bertiga dulu saat Keke sebesar Lisya, yang tergantung di rumah ini saat belum direnovasi, tapi sosok itu berbeda kini. Pria yang ada di hadapannya ini rambutnya sangat mencolok karena lebih banyak putihnya. Dan... dia tersenyum, Keke jadi tahu dari mana lesung pipit di wajahnya.
"Ke... ini papa nak... sudah lama ingin bertemu Ike..."
Keke masih diam. Dia tidak tahu perasaan apa yang dia miliki untuk pria setengah abad ini. Sosok papa yang melekat dalam ingatannya adalah papi Reinhart, papi yang begitu sayang padanya. Papa yang ini... papa yang telah meninggalkannya.
"Ike anak papa..." suara berat itu terdengar lagi.
Pria ganteng berkulit putih ini menatap dengan rindu wajah anaknya. Sekian tahun telah lewat, dia tak melihat perkembangan putri satu-satunya. Sejak lama pula hanya menyimpan rindu. Dia menatap duplikat dirinya, yaa semua yang ada pada Renske secara fisik sembilan puluh persen menunjukkan bahwa Renske mirip dirinya.
"Ke... Ike lupa papa ya?"
Pria yang masih menatap Keke itu matanya sudah berair, ada sejumlah emosi yang memicu, penyesalan, kerinduan, kekecewaan.
Penyesalan karena dulu dia tidak mencoba mempertahankan hak asuh atau paling tidak tetap menjaga hubungan silaturahmi dengan anaknya.
Ada kerinduan yang dia miliki bertahun-tahun lamanya untuk berjumpa dengan anak gadisnya.
Kekecewaan terhadap mantan istri yang segaja menjauhkan Keke dari dirinya, juga sedikit kecewa karena Keke terlihat tidak mengenalinya... semua terkumpul jadi satu di wajah yang mulai dimakan usia itu.
Keke tak juga bereaksi, tak menyambut tapi tak menolak hanya berdiri diam dan tak menatap pria yang mengaku papanya lagi.
"Ke... papa minta maaf ya nak... kita jarang bertemu, papa tahu baru-baru ini, kalau Ike sudah di Manado lagi. Salah satu orang kerja yang yang bikin lantai atas ruko ini asal Leilem, dia yang kasih tahu papa tentang Ike."
__ADS_1
Keke menunduk. Dia ingat itu pasti om Tonny saat ngobrol dulu dia bilang kenal dengan papanya Keke. Dan tentu gampang saja pria ini mencari alamatnya karena rumah ini milik pria ini dan mama saat masih menikah dulu.
"Ke..."
Keke mendengar isakan berat dari pria di depannya. Dia merasa dilempar ke masa lalu saat ini, tapi tak menemukan kenangan berharga dengan pria yang menyebut dirinya papa sekarang. Yang dia ingat hanyalah cerita sang mama siapa papanya, yang memilih bercerai dengan mama. Itu saja sakit terasa, memilih bercerai dengan mama berarti memilih meninggalkan dia juga. Tapi pria itu sekarang menangis di depannya.
"Ke... maafkan papa ya nak... papa ingin Ike tahu siapa papanya Ike. Papa datang cari Ike, karena papa selalu ingat Ike, tidak lupa sama Ike."
Pria setengah baya itu tak mendengar satu kata pun dari mulut Keke. Dia memahami situasi ini terlalu mendadak buat Keke. Dia juga paham bahwa Keke merasa asing terhadap kehadirannya. Pria ini mengambil keputusan untuk tidak memaksa diterima dengan baik oleh Keke, sekarang cukup sudah memperkenalkan diri lagi sebab sekian tahun tidak pernah berjumpa. Masih ada waktu lain untuk datang lagi.
"Ke... boleh ya papa datang bertemu Ike lagi... Ike tidak menolak kan kalau papa datang lagi... Papa berharap Kita sering bertemu nanti... papa pamit sekarang ya... semoga Ike sehat-sehat selalu..."
Pria itu tersenyum saat Keke pelan mengangkat mukanya, saling bertatapan sejenak. Keke segera berpaling, dan papanya Keke beranjak menuju mobil. Giliran si Engline yang datang mendekat.
"Renske... boleh minta nomor handphonenya?"
"Eh... saya tidak hafal..."
"Emm... saya simpan nomor yang tertera di atas aja ya?"
Tangan Engline menunjuk neon box di atas pintu.
"Iya..."
Engline menyimpan nomor telpon Keke di ponselnya. Kemudian...
"Saya pamit dulu, nanti kami ke sini lagi..."
Gadis itu melempar senyumnya yang ramah kemudian berbalik naik ke mobil. Mobil hitam itu pun pergi dengan meninggalkan bunyi klaksonnya dua kali, dan jendela depan terbuka, ada lambaian tangan pria itu untuk dirinya.
Ike... seperti berputar ke masa lalu, panggilan itu, mama juga memanggilnya seperti itu. Keke adalah namanya belakangan ini setelah dia membuka usaha catering menggabungkan suku kata akhir dari dua namanya. Ike... ya dia ingat nama kecilnya, orang-orang yang mengenal dia di masa kecilnya saat bertemu sekarang pun menyebut dia seperti itu, Ike. Mami Vosye juga kadang memanggilnya seperti itu.
Papa... papa... Keke mengulang kata itu. Dengan mama Virda saja dia tidak bisa dekat, bayangan mami Vosye terlalu mendominasi. Tapi pria tadi terlihat baik, terlihat begitu menginginkan hubungan baru dengan Keke, terlihat ingin diakui sebagai papa, berulang-ulang dia menyebut dirinya seperti itu, bayangan papi Reinhart pun melintas. Dan Keke menangis... orang tua yang dia cintai dan selalu dia rindukan sudah tak ada, orang tua kandungnya masih ada, tapi tak ada benang yang menghubungkan perasaan mereka.
.
.
Kata orang... kaca spion untuk melihat ke belakang, itu kecil ukurannya tapi ada manfaatnya untuk keselamatan berkendara...
Kata author... kita hidup di masa sekarang, tapi ada hal-hal yang dari masa lalu yang tidak bisa kita lepaskan, yang punya peran membentuk keseluruhan dan keutuhan hidup kita yang sekarang. 😚ðŸ¤ðŸ˜‰âœŒ
.
Happy weeked... Ehm... ternyata author bisa up.
Lancar banget nulis part ini karena lagi kangen papa yang sudah sembilan bulan berpulang, papa yang begitu penyayang. Rasa kehilangan masih begitu kental terlebih melihat mama yang limbung tapi berusaha tegar.
Berbahagialah kalian yang masih punya orang tua yang lengkap. Yang masih punya papa, jika ada sesuatu yang terjadi akhir-akhir ini hemm... lapangkan hati dan telpon say hello atau berkunjung, ini akhir pekan hehehe... secara aku pengen banget tapi gak bisa lagi 🙂😔💔
Enjoy....
✴
__ADS_1