
Kadang-kadang Keke berpikir, kedua ponakannya memang lahir untuk melengkapi hidupnya. Melewati banyak hal bersama mereka hampir tiga tahun ini, mengambil peran mama sekaligus papa, itu tidak mudah untuk dirinya. Tapi sejalan dengan waktu Keke merasa bahwa kedua bocah inilah sumber bahagia dan sumber kekuatan buat dirinya. Terutama tawa dan celotehan si kecil jadi hiburan buat dirinya saat cape, sedih atau tertekan.
"Via... bangun ya... sekarang Via harus sekolah, udah sehat kan."
"Via gak mau sekolah mami Keke..."
"Kenapa... masih sakit?"
Anak itu hanya diam di tempat tidur. Dia memang tertutup, sekalipun dipaksa dia tidak bisa mengeluarkan isi hatinya, jika Keke atau Rommel mendesak atau marah Via hanya mengeluarkan airmata tanpa suara.
Sejak peristiwa hari minggu anak ini sangat down. Demam selama dua hari. Kemarin sudah terlihat sehat, makanya Keke coba membangunkan dia untuk ke sekolah.
"Via..."
"Ya udah... boleh tambah sehari lagi gak sekolah, tapi besok janji Via harus ke sekolah ya...?"
Keke membalikkan tubuh Livia dengan lembut.
"Besok sekolah ya...?"
"Tapi mami Keke yang antar Via ke sekolah..."
"Boleh... sekarang juga boleh antar kok... ke sekolah ya?"
Via menggeleng, Keke akhirnya tidak memaksa. Ben sempat bilang Via harus dibawa ke Psikolog mungkin ada trauma, tapi Keke gak pernah tahu kalau di kota ini ada praktek Psikolog. Via pemurung dan pendiam mungkin ada alasan psikis.
"Baiklah... tapi nanti makan banyak ya biar tambah sehat... nanti siang mami Keke buatin Donut kesukaan Via... ya? Kali ini Via boleh bantu membuatnya..."
"Boleh?"
"Iya... boleh..."
Wajah murung anak itu sedikit bercahaya... dia mulai suka jika dilibatkan Keke saat membuat sesuatu si dapur. Ternyata benar kata si Benaya, Via harus dialihkan, diberi aktivitas supaya dia lupa kejadian dengan papanya.
Hmm tanpa sadar ada yang mulai mendengarkan Ben di sini.
Siang hari... setelah dapur bersih, Via turun dari atas.
"Mami Keke... kapan buat donutnya?"
"Bentar lagi ya... lantai masih basah baru dipel... naik aja lagi, nanti mami Keke panggil Via..."
"Iya... Via boleh telpon Om Ben?"
"Eh... jangan gangguin om lagi sibuk itu..."
"Tapi om Ben bilang Via boleh telpon..."
"Ya udah... telpon aja, tapi kalau gak dijawab jangan diulang-ulang..."
__ADS_1
"Iya... pinjam hpnya mami..."
"Ada di meja makan..."
Tak berapa lama, seseorang muncul di pintu samping, masih dengan baju kerja, setelan kemeja warna putih yang sudah digulung sampai siku dengan celana kain warna navy. Berdiri di pintu, tidak terlalu jelas karena silau cahaya matahari, tapi siluet tubuh itu sudah melekat di kepala Keke.
"Rens... "
Baris giginya nampak, dia sedang tersenyum datang mendekati Keke yang sedang mempersiapkan bahan kue. Baru hari ini dia menerima pesanan kue, kemarin dia lebih banyak menemani Via seperti saran Ben... eh lagi-lagi Ben ya...
"Eh... gak kerja?"
"Ada... lagi longgar, ada sedikit waktu jadi aku sempatkan ke sini..."
"Hah... disuruh ke sini sama Via gitu?"
"Iya..."
"Eh... masa diturutin, lagi sibuk kan, si Via ada-ada aja..."
"Gak apa-apa Rens, udah dua hari aku gak ke sini, kangen kali dia..."
Dan aku kangen kamu...
Pengen ngomong itu si Ben, tapi cukup matanya yang bicara, menatap pada satu titik, wajah Keke. Keke risih, langsung menyibukkan diri.
Keke memang mulai memikirkan perkataan Benaya waktu itu, dia sedang mendekati seseorang, dirinya kah? Keke takut dengan kemungkinan itu, takut membayangkan dekat dengan seseorang, termasuk Benaya. Dia tahu dirinya tidak dapat menolak Ben karena anak-anak, membayangkan keceriaan anak-anak saat bersama Ben. Rasanya tak tega merampas itu dari mereka, jadi sekalipun ada sudut hatinya tak nyaman tapi dia harus mengabaikan itu.
Keke menolak dengan halus untuk berinteraksi lama-lama dengan Ben.
"Mau bikin klappertart? Udah lama gak makan itu..."
"Oh... gak. Mau buat donut."
"Oh... kirain... aku ke atas ya..."
"Iya..."
Mengapa ada orang yang tega mengabaikan anaknya, dan mengapa ada orang juga yang mau peduli. Tidak tahu apa dasar sikap kepedulian Ben, tapi sejauh ini dia menangkap ketulusannya pada anak-anak.
Di satu sisi, Keke tak ingin memberi ruang lain untuk Ben selain posisi seorang kakak seperti dulu, itu lebih nyaman untuknya... walau jujur dia tergoda dengan sebuah rasa yang asing tapi mendebarkan yang pernah muncul, rasa yang mengisi sepi dirinya, tapi secepatnya dia menekan rasa itu, menyimpan rapi di kedalaman relung hatinya.
Tiga suara bersahutan terdengar, Ben mengendong Lisya dengan satu tangan, tangan yang lain mengandeng Via. Dia tampak begitu penyayang, padahal bukan siapa-siapa kedua bocah itu. Hati Keke kembali tergugah, menghangat, tapi dengan cepat dia menetralkan hatinya.
"Mami Thethe... ini papi Bipi... papi Bipi..."
Celotehan riang si kecil dalam gendongan pria bertubuh proporsional itu menyapa Keke.
Hahh? Bipi itu Keke tahu, sering mendengar dulu panggilan akrab teman-teman untuk Benaya, tapi papi...?
__ADS_1
"Rens... aku kembali ke kantor ya... ada yang nunggu aku ternyata..."
Keke hanya menoleh sepintas dan melempar senyum sekilas juga. Ben menurunkan Lisya yang langsung menuju ke bagian depan ruko, ada Rommel di sana.
"Via, papi Bipi ngomong sama mami Keke dulu sebentar... boleh?"
"Iya..." Via menyusul si Lisya ke depan.
"Udah dapat psikolog buat Via?"
"Aku... belum cari sih... mungkin di sini gak ada..."
"Masa? Nanti aku carikan deh..."
Kenapa dia begitu peduli?
"Rens... bentar malam ada waktu gak?"
Keke menoleh, tak menjawab tapi mimik muka bertanya jelas di wajah itu.
"Aku pengen ajak kamu keluar..."
Keke tercenung... apa mau Benaya, apa maksud dia? Jangan-jangan dia mau... Oh...Keke tak ingin situasi itu. Bagaimana cara menghindar?
"Maaf kak mungkin gak bisa... aku banyak pesanan, baru hari ini aku terima pesanan lagi..."
Suara Keke berubah datar, tak menatap Ben sekarang. Suasana kaku kemudian dan Ben tahu sikap Rens apa, dia tak ingin kedekatan.
"Besok malam?"
"Maaf, mungkin gak bisa juga..."
Seperti membentur tembok lagi rasanya, padahal Ben berpikir dia telah menemukan jalan untuk masuk, ternyata...
"Baiklah... tapi ada sesuatu yang pengen aku omongin sama kamu... nanti cari waktu ya..."
Keke hanya diam tak menanggapi.
Hati memang penuh rahasia, demikian juga sikap seseorang...
Kadang seperti sangat mudah dipahami seperti sangat dekat...
Tapi entah apa yang terjadi di dalam hati, entah apa yang menjadi penyebabnya...
Tiba-tiba seperti ada kabut yang dengan cepat datang menutupi...
Kemudian hati dan sikap jadi tak terbaca lagi.
.
__ADS_1
.
✳