
Rahasia saling cinta hanya dapat dipahami oleh dua kekasih, walau jalannya tak terlihat, tak bisa diselidiki oleh logika, bukan juga sekedar pengertian abstrak yang tak bisa dijelaskan. Cerita cinta yang mungkin mulai ada dulu sekali saat Benaya sering antar jemput atau saat Renske terpaksa menginap di rumah Benaya.
Sekian waktu berlalu, mereka berjumpa lagi, meski tak saling tahu atau mungkin juga tidak memahami bahwa sudah ada benang merah yang mengaitkan mereka berdua. Kini hati mereka terpaut lebih dari sekedar luapan emosi saling tertarik pada penampilan fisik dan pribadi masing-masing. Tapi cinta telah berpadu dalam ikatan kasih sayang yang terus bertumbuh semakin kuat. Bertunangan, jenjang awal sebelum sah sebagai suami istri.
Acara resmi pertunangan sudah berakhir, undangan dan keluarga sudah bercengkerama dengan kelompok masing-masing. Benaya dan Renske baru selesai meladeni banyak keluarga yang memberi ucapan selamat dan meminta foto bersama.
Ben menatap gadis di sampingnya yang duduk sambil menghembuskan napas penuh.
“Sweety, cape ya?”
“Gak sih… hanya kaki aku yang senut-senut, belum kuat berdiri lama… sepatunya juga terlalu tinggi…”
“Sorry, aku gak pernah beli sepatu perempuan, aku ambil sesuai advis orang toko…”
“Aku gak biasa pake heels…”
“Mau aku pijit?”
“Ehh… jangan, gak mau…”
“Malu ya banyak orang? Kayaknya udah ada ijin melakukan banyak hal untuk kamu walaupun ada banyak orang…”
“Gak ahh…”
“Sayang… coba kamu perhatikan, orang-orang pada nyuri pandang ke kita, pengen lihat atau pengen tahu mungkin, beneran gak kita saling sayang…”
“Gak perlu diumbar, udah tunangan pasti saling sayang…”
“Emang kamu sayang aku?”
“Udah sejauh ini masih nanya seperti itu…”
“Aku pengen denger itu hari ini, sejak pagi di telpon, di sini, udah lebih sepuluh kali aku ngomong I love You, gak pernah kamu bales…”
“Gak perlu diomongin kan…”
“Ini moment spesial sayang… pengen denger, please…”
“Kenapa sih, kayak abg butuh pernyataan lagi…”
“Sweety… gak ada hubungannya sama umur, cinta bukan hanya ditunjukkan tapi diucapkan. Mulai hari ini, aku pengen kita saling mengucapkan kalimat itu… setiap hari…”
Keke memandang pria dewasa di sampingnya yang sekarang telah jadi tunangannya. Hubungan mereka lebih mendalam sekarang. Hari ini Ben sangat berbeda dengan balutan pakaian resmi, kemeja putih berdasi abu-abu, dan celana kain abu-abu, lucu sih dia pakai dasi, rambut disisr klimis, tapi keren abis.
Ben, seseorang yang menyatakan bahwa dia mencintai Keke, dengan karakter yang semakin lama semakin Keke mengerti bahwa Ben bukan hanya mengendalikan banyak hal dalam diri Keke, melakukan banyak hal tanpa bertanya, peduli dengan hal-hal di sekitar Keke, dan satu lagi akan terus menuntut sampai Keke memberikan jawaban.
“Rens…”
Tatapan dalam dan memohon menggugah Keke kemudian, harus dia akui bahwa cinta itu nyata semakin kuat di hatinya sekarang.
“Aku sayang kamu…”
Keke mengatakan dengan suara pelan dan setengah menunduk, Ben begitu merapat duduk memiringkan badannya di samping Keke, tangannya hampir tidak pernah dilepaskan Ben sepanjang acara. Ben menyentuh dagu Keke sesaat, mengangkat pelan dagu itu supaya bisa saling pandang lagi.
“Makasih sayang… Aku cinta kamu, sangat cinta. Aku masih suka heran dengan cara kita bertemu lagi. Jalan Tuhan itu unik banget ya…”
“Maksud kak Bens?”
“Aku kan paling malas pulang Manado, paling gak suka sama keinginan papa agar aku nikah dengan orang Manado. Aku malahan dapat tugas di sini, bisa-bisanya juga perusahaan mengontrak rumah untuk staff Jakarta tepat di belakang rumah kamu, jalannya pun hanya ada akses itu, mau tidak mau kita pasti bertemu. Itu jalan yang unik kan untuk bertemu kamu lagi… itu bukan kejadian acak sayang… ”
“Aku pengen tahu, kenapa suka aku, kenapa jadi sayang aku?”
Keke menatap tepat di mata jernih Benaya, mencari sesuatu yang selalu menjadi pertanyaan di hatinya.
__ADS_1
“Itu rahasia Yang di Atas, aku gak bisa nolak perasaan itu Rens… Aku berpikir, sejak kamu masih remaja itu aku sudah jatuh hati tanpa aku sadari.”
“Gak mungkin… Kak Bens lupa gimana memperlakukan aku waktu itu… perasaan gak ada cinta-cintanya…”
“Tapi… aku gak ngerti kenapa aku gak pernah bisa punya hubungan lebih dekat dengan perempuan lain. Tapi di sini, saat sering memandang sosok kamu dari jauh, aku seperti ditarik untuk terus melihatmu. Saat tahu kamu Rens, aku coba menjauh tapi gak bisa…”
“Kak Bens bohong ahh… dulu sama kak Holly, kan pacaran….”
“Holly? Oh dia… Kan gak lanjut, cuma dua kali jalan bareng, itupun ada kamu jadi satpam… hahaha...”
“Waktu itu aku dipaksa kak Bens kan, diancem juga supaya gak ngadu ke om Fredrik…”
“Tau gak, si Holly gak mau jalan lagi karena ada kamu. Dia marah karena aku malahan pegang tangan kamu bukannya tangan dia, hahaha, padahal aku takut kamu kabur terus aku dimarahin mama.”
“Beneran gak lanjut waktu itu?”
“Iya… males juga belum apa-apa udah marah-marah. Dia ngomong, pilih kamu atau dia… aku bilang aja… Rens lah… kalau gak yaa aku gak ada alasan sama papa buat pake mobil, aku gak suka panas-panasan naik motor.”
“Kak Bens gak punya perasaan… nyakitin ngomong seperti itu.”
“Mungkin karena dasarnya aku cuma sekedar suka… Beda sama kamu, dicuekin, didiemin, gak dianggap… tapi aku tetap aja suka, tambah sayang, gak bisa aja gak lihat kamu…”
Ben mengecup singkat pelipis kanan Keke, benar-benar memanfaatkan setiap moment dengan menciptakan keindahan, menyalurkan semua rasa yang telah memenuhi seluruh ruang hatinya. Kelegaan tentang perjalanan cinta yang semakin pasti membuat bahagia bertambah-tambah, menjadi dorongan untuk Ben menyatakan lewat tindakan fisik yang semakin intens.
“Mesra-mesraan terus yaa kalian… masih banyak orang kali…”
Rebecca datang dan duduk di samping Keke, dan langsung merangkul tangan Keke.
“Kak Becca, makasih ya udah datang… udah makan?”
“Udah Renske… makanannya enak-enak… kamu yang masak?”
“Bukan kak, hehehe, gak dibolehin turun dapur sama mereka…”
Ben menatap kesal pada adiknya yang datang menggangu momentnya bersama Keke. Baru sekarang mereka bisa ngomong banyak, sejak Keke kecelakaan dia gak bisa dekat-dekat Keke, selalu ada om Ramly di kamar atau di ruang makan, makanya dia sungkan. Tapi hari ini dia merasa lebih bebas, gak perlu sungkan lagi memeluk Keke meskipun ada om Ramly atau orang lain.
Rebecca cengengesan di tempat duduknya.
“Gak nyangka, kamu beneran jadi adek aku…”
“Becca… Rens kakak kamu sekarang, bukan adek! Kamu juga Rens, jangan panggil kakak…”
“Aneh tau gak… Aku tuh lebih tua tiga tahun dari Renske, kak…”
“Umur iya, tapi status dia kakak ipar…”
“Aku juga udah biasa manggilnya kak Becca… masa manggil nama doang…”
“Memang kenyataannya seperti itu…”
Ben menjawab gusar, jadi ingat dulu, dua wanita ini akan selalu saling membela jika berhadapan dengan Ben.
“Iiih kakak, sama aku gak pernah lembut deh, ngegas terus… Kok bisa sih jatuh cinta sama kakak, Renske? Gak bisa bersikap manis dia kalau sama perempuan…”
“Kak Bens baik kok sama aku…”
“Serius? Sekarang gak teriak-teriak lagi sama kamu? Gak kasarin kamu lagi?’
“Kamu itu ya… ini hari bahagia aku, ngomong gak pakai perasaan...”
Ben melepaskan tangan Becca yang masih merangkul Keke, dan membawa Keke ke dalam rangkulannya.
“Iihh… belagak posesif…”
__ADS_1
“Sana, lihat anak-anak kamu, masa mama yang urusin mereka…”
Rebbeca cemberut, lalu melangkah pergi tanpa ngomong sesuatu lagi.
Keke memandang aneh pada Benaya, lama dia tak melihat Ben yang berkata ketus dan datar, hampir dua tahun melihat Ben lagi, rasanya setiap hari Ben manis aja, bahkan selalu memperlakukan Keke dengan lembut. Apa Ben hanya lembut padanya? Dia memang sering memperhatikan kalau Ben datang ke ruko, dia hanya akan menjawab karyawannya tapi tak pernah memulai percakapan dengan mereka, tak akan menyapa mereka saat datang. Sikap sama kak Becca tadi, itu sikap kak Bens yang dia tahu dulu.
Jangan-jangan setelah nikah jadi berubah ya??
Keke menggeleng perlahan mengusir pikiran yang bisa merusak bahagianya hari ini. Elijah datang mendekati mereka…
“Pak… boss Sonny sama istrinya mau pamit…”
“Ok, Rens… ke sana yuk, bertemu boss Sinar Jaya… boleh jalan sampai teras depan?”
.
💟
.
Staff Benaya hadir semua. Besok mereka siap balik ke Jakarta sebelum lanjut ke Thailand untuk bonus jalan-jalan mereka. Proyek sudah selesai. Ini hari terakhir, pesta tunangan boss mereka jadi semacam Farewell Party juga karena ada beberapa staff kantor Sinar Jaya yang ikut datang. Mereka betah duduk-duduk di teras samping yang punya view yang amazing. Ada meja prasmanan juga yang diletakkan di teras luar itu, selain hijau karena ada taman asri di situ, udara sejuk pegunungan membuat mereka nyaman duduk santai, ada banyak kursi outdoor yang diatur di tempat itu, lagi pula makanan kayaknya gak habis-habis sejak tadi.
Inge ada di sana, duduk bercakap dengan Rolly, ternyata mereka pernah bertemu dan pernah jalan sama-sama satu kali. Saat itu mereka berdua bertemu di Kedubes Amerika di Jakarta, Inge coba mengurus visa ingin menyusul mama papa yang sudah bertahun-tahun di Amerika. Sebelumnya pernah applied, dan hanya sang mama yang bisa tembus. Setelah oma Beatrice meninggal, Inge mencoba peruntungannya lagi, tapi ditolak akhirnya dia tinggal dengan Pa Adenya di Tomohon sini. Inge bertemu kedua kali dengan Rolly di kantor Kedubes Surabaya, nasib mereka sama lagi, sama-sama ditolak.
Di tempat lain, Lody menatap dengan sakit hati, selama acara makan Inge tak beranjak duduk dekat dengan seseorang yang waktu ulang tahun papa Ramly hadir, sekarang ada di acara ini juga. Inge kadang mengambilkan sesuatu. Lody jadi bertanya-tanya, siapa orang itu. Perasaan takut kehilangan Inge menyelimuti dirinya sekarang.
Saat Inge masuk ke dalam rumah…
“Yang…”
Dengan cepat Lody mengambil tangan Inge dan menariknya berjalan mendekati papa Ramly.
“Lepasin aku…”
“Temenin aku… ya… please…”
Suara Lody sangat lembut, setengah berbisik di dekat telinga Inge. Masih berjalan melewati beberapa keluarga dekat yang menyapa mereka berdua, sekaligus menyentil hubungan mereka…
“Kapan nyusul kalian berdua?”
“Gak lama lagi… doakan aja ya…”
Lody menjawab dengan senyum, Inge hanya tersenyum masam. Kalau gak ada orang, dia pasti sudah berontak melepaskan tangannya. Saat agak lengang…
“Lepasin tangan aku…”
“Jangan menghindar lagi, Yang… aku gak kuat. Aku bisa mati kalau kamu giniin aku terus…”
“Mati aja sana, emang aku pikirin…”
Lody berhenti, Inge juga. Lody memandang Inge sebentar dengan tatapan putus asa. Dia kemudian melepas tangan Inge, dan berlalu dengan cepat dari ruangan itu. Tadinya dia bersedia mengantar Ma Ade Virda pulang ke Pondang Amurang dan mengajak Inge, biar bisa bicara saat berdua di mobil. Merasakan penolakan Inge terus-menerus sampai sesaat tadi, membuat ego lelakinya terguncang, dia harus menyerah kali ini. Inge mengikuti dengan pandangan sedih.
Ada yang sedang berbahagia dalam dekapan cinta yang memeluk jiwa, dan ada yang hatinya menggelepar merana karena tersakiti oleh cinta.
Jalan cinta tak terselami…
.
☘
.
✳
__ADS_1