
Keke berbaring tengkurap di tempat tidurnya, mencoba menghilangkan kekesalan dan kemarahan pada Ben yang memuncak hari ini. Dia tak mendapatkan penjelasan apapun tentang sikap tak acuh Ben pada beberapa hal yang dia kirimkan lewat aplikasi hijau. Beberapa point yang memerlukan persetujuan Ben, bercentang dua tapi tak berubah warna.
Kak Bens kok gitu amat sih???
Masa chat aku gak dibaca???
Dia yang mau secepatnya nikah kan, bukan aku!!!
Kayak aku aja yang kebelet nikah di sini!!!
Aku yang mengurus semuanya sendiri, hanya memerlukan persetujuan, bukan meminta dia datang!!!
Apa segitu sibuknya???
Keke mengangkat kepalanya dan memandang telpon yang masih dipegang sejak tadi…
Jika kak Bens gak menjawab telpon aku sekarang, nomor kak Bens aku blokir… biar tahu rasa!
Keke menekan tombol memanggil di layar ponselnya, sejak tadi dia telpon berkali-kali tidak diangkat, memandang dengan kesal dalam beberapa bunyi panggilan belum dijawab… dan…
Bang Ben… ada apa sebenarnya? Beneran mengejar target kerja, atau apa sih? Keke udah ngamuk bang... 😢
Seperti kemaren-kemaren, selalu saja yang menjadi alasan Ben adalah kesibukannya, itu membuat Keke mulai berpikir tentang hal-hal yang tak masuk akal, tentang hal-hal yang negatif. Keke memutar tubuhnya telentang menghadap langit-langit kamar, kalau ada Ben di depannya, pasti mulutnya sudah mengeluarkan semua uneg-unegnya dengan lancar tanpa filter dan dengan nada tinggi pastinya.
Keke berpikir Ben mulai tidak peduli tentang pernikahan sekarang, menunda-nunda banyak hal dengan perkataan “tunggu aku pulang aja… atau “tolong ngerti ya, aku lagi sibuk…”
Beberapa kali acara telpon niatnya melepas rindu justru hanya meninggalkan kekesalan di hati Keke, karena Ben hanya berbicara seperlunya karena masih di kantor atau udah mengantuk karena menelpon di jam yang salah, Keke selalu gak sadar waktu di tempat masing-masing berbeda sejam.
Inge telah beberapa kali menelpon menanyakan kepastian tanggal resepsi, karena di gedung yang mereka booking hanya tersisa 2 tanggal kosong di bulan yang mereka pilih, dan harus ditentukan hari ini jika tidak ada customer lain yang menunggu. Akhirnya Keke harus membatalkan kedua tanggal itu, karena tak kunjung bisa berkomunikasi dengan Ben.
“Ke…”
Inge masuk ke kamar Keke dan ikut tiduran di samping Keke. Hari ini Inge datang dari Tomohon, sekalian memastikan keputusan Keke.
“Tumben jam segini kamu di kamar…”
“Lagi gak banyak pesanan, tante Lenda bisa tangani sendiri…”
Keke bangun dan duduk bersila di tempat tidur sambil bersandar di dinding kamarnya.
“Nge, batalin aja kedua tanggal itu, kak Bens belum bisa kayaknya…”
“Makanya Ke… urusan gedung itu harus yang pertama… secepatnya. Memilih tanggal sesuai dengan keinginan kalian itu harus paling kurang 3 bulan sebelumnya, kurang dari itu ya seperti ini hanya mengikuti hari atau tanggal kosong yang belum dibooking orang…”
Keke memberengut, sejak awal dia sudah mengingatkan itu sama si calon suami tapi sampai sekarang si calon suami yang udah ngeselin abiss tidak memikirkan itu.
“Ya udah… resepsinya di Green Hills aja.”
“Eh… itu desperate banget sih kata aku kalau dibuat di sana. Pa Ade juga pasti gak setuju say…”
“Nge… tempat itu bagus banget, kalau orang menginginkan Garden Party suasananya dapet banget…”
__ADS_1
“Tapi fasilitas pendukung harus ada Ke… Toilet umum kita masih sementara ditambah, direnov biar lebih nyaman untuk pengunjung. Parkiran juga masih sementara diperluas. Itu aja udah jadi kendala, belum memenuhi syarat sih, belum listriknya… masih banyak fasilitas yang kurang memadai untuk acara seperti itu…”
Inge ikutan duduk bersila di tempat tidur memeluk salah satu guling Keke.
“Muka kamu kusut banget, kenapa say…”
“Aku jadi males nikah…”
“Hehehe… kamu alamin itu juga…”
“Apa??”
“Syndrom Pranikah…”
“Apaan itu…”
“Itu istilah aku aja sih. Gara-gara bantuin beberapa saudara yang mau nikah, kayak kamu lah, sama… mereka ngomong kayak kamu tadi. Mungkin karena stress sama semua urusan, berdebat karena gak sepaham, karena keinginan yang gak sama. Kadang aku suka ketawa sendiri aku yang jadi juru damai… hehehe.”
“Memang seperti itu kok perasaan aku sekarang…”
“Santai aja, say. Ada harga untuk bahagia kan…”
Masalahnya orang yang mau nikah dengannya itu gak tahu apa masih niat atau gak. Seperti lepas tangan, seperti gak peduli, bukan prioritas lagi mungkin. Keke jadi merasa sendiri di sini.
Inge menatap ponselnya, ada bunyi notifikasi pesan masuk, membaca sejenak kemudian…
“Ke… yang pasti kalau masih mau gedung itu bulan depan udah gak bisa. Dua bulan depan pun udah gak bisa request tanggal, aku share aja ke kamu chat mereka, biar kamu bisa tentuin sendiri tanggal mana yang kamu mau, tapi gak bisa lewat minggu ini… oke say?”
Keke hanya menatap dengan sorot yang berbeda, tidak antusias lagi tentang pernikahannya.
“Udah mikir sampe situ sih… nantilah… sekarang cuman bantu saudara aja atau temen. Udah yaa… aku gak bisa lama-lama di sini. Mau mampir Mantos sebentar, ada yang pengen aku beli…”
“Nge… kak Lody telpon aku kemaren, nitip salam buat kamu…”
“Hadeeh, pake nitip salam, emang gak punya nomor aku apa…”
“Pengen ditelpon ya kamunya?”
“Ehh… gak… gak... Jangan ngomong seperti itu ya sama dia…”
Inge berdiri salah tingkah, karena sejujurnya dia berharap Lody menelpon, ingin mengetahui kabarnya, mengapa juga dia memutuskan pergi, padahal… ahh ada yang merindu…
.
📈
💤
.
Ketukan di pintu kamarnya membuat Keke berdiri dengan malas. Tadi malam dia tidak bisa tertidur, dari pada gelisah dan pikiran tak menentu Keke turun ke dapur dan dia mengalihkan pikirannya dengan membuat 3 jenis kue masing-masing 100 buah, dan baru selesai sekitar jam lima subuh. Rasa cape kemudian membuat dia tertidur dan baru terbangun karena ketukan keras itu. Kepala agak pusing saat berdiri, berjalan tidak seimbang mencapai pintu. Ada Rommel di depan pintu.
__ADS_1
“Kak… ada mama datang bersama om dan menantu si om…”
“Mau ngapain?”
Tidur hanya beberapa jam serta perasaan yang belum normal lagi membuat kalimat ketus keluar dari mulutnya. Keke berbalik ke tempat tidur dan telungkup lagi di atasnya. Kebiasaan Keke jika sedang galau adalah tidur dengan posisi itu.
“Kaaak… mama datang ke sini, kok kayak gak suka…”
Keke diam saja, moodnya sedang hancur dan enggan untuk menanggapi prasangka Rommel.
“Kak, mama padahal senang banget itu… Kak Keke kok jadi berubah lagi kayak dulu gak suka kalau mama datang ke sini…”
Suara sedih Rommel membuat Keke sadar akan sesuatu, cepat dia memutar tubuh.
“Kak Keke seneng kok mama ke sini. Mereka yang datang bersama mama… iya kak Keke gak suka mereka ke sini.”
“Kaak…”
“Kak Keke hanya jujur Mel, kak Keke gak suka mereka dan gak mau ketemu mereka.”
“Gak sopan tau gak ada tamu terus tuan rumahnya ada tapi gak mau ketemu…”
“Mel kak Keke gak bisa seperti kamu terlalu baik sama orang…”
“Kak… kita harus baik sama semua orang, kita yang bahagia kalau seperti itu, gak menyimpan marah…”
“Iya... iya... udah ahh… panggil mama aja ke sini, kak Keke malas keluar, masih ngantuk, tadi jam lima baru kak Keke tidur.”
Keke telungkup lagi.
“Kak… kak Keke blokir nomor kak Bipi ya… udah lima hari katanya coba nelpon kak Keke gak bisa… aku sampai harus bohong berkali-kali tiap kak Bipi nelpon di nomor aku… kak Keke gak mau ngomong. Ada apa sih kak?”
“Panggil mama aja Mel, gak usah bahas si Bivi itu… males.”
“Ya udah… kalau kak Bipi nelpon aku bilang terus-terang yaa… kak Keke lagi marah…”
“Terserah!”
.
.
Perbedaan emosional dan mental antara pria dan wanita dapat menjadi penghalang yang tidak dapat diatasi terhadap sebuah hubungan, apalagi jika diabaikan atau ditanggapi secara keliru... namun perbedaan yang sama ini bila diketahui dan dihargai dapat menjadi jembatan ke arah hubungan yang memuaskan.
Ayooo Ben, peka dikit... mood Keke untuk nikah udah hancur kayaknya.
.
.
Tengkyuuu buat semua perhatian untuk aku, dan cerita ini. Alurnya semoga tetap berkenan di kakak2 semua...
__ADS_1
Lv U all
🥰