Fate Or Destiny

Fate Or Destiny
Bonus Eps. Inisiatif


__ADS_3

Keke selesai melakukan beberapa kebiasaan di pagi hari. Ben sedang lari di treadmill, saat Keke keluar dari kamar. Mereka ada di apartemen milik Ben di Jakarta. Beberapa alasan membuat Keke akhirnya mengiyakan ajakan Ben ke Jakarta. Pertama dia ingin ziarah ke makam mami papinya, selanjutnya karena orang tua Ben ingin membuat acara syukuran di rumah untuk pernikahan mereka. Dan terakhir dia kangen juga suasana kota Jakarta, hampir sepuluh tahun tak pernah sekali saja menginjakkan kaki di ibukota negara ini.


"Sweety... sini..."


Ben yang melihat Keke menuju pantry, memanggil istri tersayang. Saat bangun tadi, Keke sedang devosi pagi dan Ben tak ingin mengganggu jadi belum sempat saling menyapa.


"Ada apa?"


Ben selesai dengan exercisenya, dia turun dari treadmill dan langsung menyapa dengan ciuman di jidat sang belahan jiwa.


Cup... cup...


"Pagi sweety... sayang kamu..."


"Kirain mau apa... pagi juga..."


Keke segera berbalik lagi menuju pantry minimalis yang didominasi warna putih abu-abu, berniat membuat sarapan. Belum jauh, tubuhnya sudah ditarik lagi sang suami.


"Gemesss... belum berubah kamunya, masih gak romantis, gak ada manisnya..."


Ben setengah menggerutu tapi tak urung kedua tangan mencubit pipi kiri dan kanan sang istri.


"Apa sih kak Bens... ganti baju dulu udah basah kan sama keringat..."


"Aku bukan kakak kamu, aku suami kamu..."


Tangan belum dilepas, sekarang menggoyang-goyangkan pipi Keke.


"Mmemangg sssuami aku kan... siapa bbbilang bukan sihhh..."


Cubitan di pipi menghalangi Keke berbicara dengan jelas.


"Sama suami jangan kaku gitu ahh... kasih pelukan kek atau balas cium juga... gak mesti aku yang mulai sayang... kamu juga harus punya inisiatif mengekspresikan kalau kamu sayang aku..."


"..."


"Kamu sayang aku kan?"


"Lepasin dulu pipi aku..."


Pegangan di pipi mengendor.


"Sayang aku gak... nyonya Manoppo?"


"Kak Bens udah tahu kan, gak usah ditanya juga... apa sih nyonya-nyonya..."


"Gak mau disebut seperti itu? Setelah nikah predikat kamu nyonya Manoppo... bukan hanya Renske Supit..."


"Iya... iya... udah ya lepasin pipi aku..."


Keke memegang dua tangan Ben.


"Jawab dulu... sayang aku gak?"


"Sayang lah... kak Bens, jangan aneh deh..."


"Kalau sayang, gimana caranya manggil suami yang kamu sayang, masa masih manggil kak sih, itu sama aja kayak dulu, status aku udah berubah kan..."


"Memangnya aku harus manggil apa?"


Ben mengangkat bahu, dua tangan kini mengambil alih memegang lengan sang istri.


"Apa... ayo, 'kak Bens' itu udah pensiun, selesai masa berlakunya, tadi udah terakhir kali ya, gak boleh lanjut manggil aku seperti itu..."


"Apaan sih... bucin banget deh..."


"Gak masalah aku bucin... aku pengen denger istri aku panggil aku dengan sebutan yang istimewa, sebutan sayang..."


"..."


"Apa... ayo..."


"..."


Cup cup... dua ciuman di bibir. Jengah,


Keke meraih handuk di leher sang suami lalu mulai mengeringkan wajah dan rambut suami. Ben tertawa tapi masih menuntut...


"Apa? Ehh...?"


"Aku gak tahu... gak ada ide..."


"Mikir dong..."


Dua kecupan lagi di tempat yang sama.


"Apa ya... kak Bens aja yang..."


Dua tangan sekarang mengunci di punggung Keke dan cium-cium lagi.


"Gak ada kak-kak lagi..."


"Astaga... basah kan aku jadinya... ganti baju dulu ya..."


"Di tempat tidur juga keringatan kayak gini tapi gak apa-apa kamunya, malah meluk aku erat banget..."

__ADS_1


"Ihh... makin aneh deh..."


Keke mengetahui satu hal lagi dari suaminya belakangan ini, omongan suami selalu menyerempet soal ranjang.


"Hahaha... sweety, denger ya... aku hanya ingin kita setiap hari seperti ini, saling sayang selalu, saling perhatian, mesra aja tiap hari. Kita udah satu sayang... gak usah malu untuk menunjukkan rasa sayang... ya?"


"Iya..."


Ben tersenyum melihat reaksi istri yang imut di matanya, mimik polos seperti seorang anak kecil yang tengah diajari sesuatu, tangan mengusap sayang pipi istri sekarang. Keke tidak usah diajari soal masak seperti istri-istri yang lain saat baru menikah, sampai harus kursus masak segala. Keke pintar soal itu, tapi soal menyatakan rasa cinta dan sayang... Ben harus sedikit bersabar dan harus banyak mengajari istrinya, laki-laki sesuai kodrat memang harus di atas eh maksudnya harus banyak inisiatif...


"Apa, Rens?"


"Eh... itu kak Bens sendiri manggil aku dengan nama aku, udah ya? Seperti biasa aja..."


"Iya, sesekali aku pasti sebut nama kamu..."


"Tapi beneran gak ada ide, udah ya? Seperti biasa aja... kak Bens aja, udah pernah dibahas juga kan..."


"Waktu itu aku gak serius, sekarang harus diganti..."


"..."


"Atau... mami papi aja?"


"Ehhh? Kita belum punya anak..."


"Kita udah punya dua..."


"Emmh... lepas ya, aku jadi ingat mau telpon anak-anak, Via sedih banget kita pergi..."


"Bilang dulu..."


Suami masih memaksa.


"Ehmm... Inyo deh..."


"Ehh? Kenapa nama itu?"


"Iya itu aja, aku dengar oma manggil kak Bens Sinyo... Aku pilih yang lebih gampang aku ucapkan..."


"Hahaha... kamu emang gak kreatif..."


"Ya udah kalau gak suka. Kayak abg baru pacaran deh, harus punya panggilan sayang..."


"Dasar kamu... coba, pengen denger..."


Keke kehilangan daya menghadapi keinginan kuat suami, akhirnya karena tatapan suami yang menuntut...


"Inyo..."


"Lagi sayang..."


"Inyo... my Inyo..."


"Hahaha... not bad. My Inyo... mmh... I love it..."


Cup... cup.


"Aku pinjam handphone kak Bens, aku mau telpon Via sebelum dia ke sekolah..."


"Eitt... gak ada kak Bens lagi..."


Keke membuang napas penuh, apa daya keromantisan suami sekarang setara dengan para aktor Hollywood... --Pahami aja Keke, toch suka juga kan...


"Inyo, pinjam handphone ya, istrimu gak punya pulsa, belum dikasih nafkah sama suami jadi belum bisa beli pulsa..."


"Hahaha... kalau kesel jangan nyindir... mulai bulan depan gaji aku... aku transfer ke rekening kamu."


Ben mengacak rambut di kepala istri yang sekarang berwarna coklat, dan membiarkan istri lepas dari pelukan.


"Gak usah, aku becanda, gak bermaksud seperti itu, aku punya uang sendiri."


"Itu kewajiban aku..."


"Iya, nanti kita bicarakan. Mana handphonenya?"


"Di kamar sayang, di atas nakas."


.


📱


"Via... udah siap ke sekolah?"


"Udah, mami. Mami kapan pulang?"


"Mami seminggu di sini..."


"Hikss... mami gak tinggal di Jakarta kan, pulang lagi ke sini kan?"


"Iya... iya, minggu depan udah pulang kok..."


"Hiksss... jangan lama-lama..."


"Matiin dulu hpnya, kita video call..."

__ADS_1


Keke ikut sedih, dia ingat trauma Via. Tubuhnya yang udah hampir setinggi Keke tapi punya hati yang rapuh, gampang tersakiti. Saat wajah Via muncul di layar, ada airmata di pipi anak itu.


"Via... jangan nangis dong. Mami Keke gak lama di sini. Teruskan sarapannya ya?"


"Iya..."


Ponsel sudah Via letakkan di penyanggah ponsel, dan anak itu kembali makan lagi.


"Dede udah mandi?"


"Udah, lagi ganti baju sama oma Wisye..."


"Via ada buat PR?"


"Ada mami. Mami... oma kemarin ke sini, katanya opa udah pindah ke rumah sakit yang di sini.


"Iya, mami tahu kok, mami telpon oma kemarin."


"Opa Ramly belum datang mami..."


"Iya... opa sibuk... ini papi Bipi mau ngomong..."


Keke mengalihkan ponsel ke tangan Ben.


"Via mau dibeliin apa dari sini?"


"Via boleh minta?"


"Boleh sayang... Yica juga. Mana Yica?"


"Masih di kamar. Papi, Via pikir dulu baru Via bilang mau apa..."


"Oke... oke... Jangan sedih ya... mami sama papi pasti pulang."


"Iya..."


"Via siap-siap ke sekolah, sabar nunggu papi sama mami ya... jangan nangis sayang..."


"Iya papi... ini Dede udah selesai ganti baju..."


Wajah di layar handphone berganti wajah riang Lisya. Ben menarik Keke untuk duduk berdekatan.


"Papi Bipi... Yica pengen ke Jakalta..."


"Iya... nanti ya kita ke sini kalau Yica liburan ya..."


"Iya... iya, Yica minta oleh-oleh banyak-banyak..."


"Hahaha... iya... iya..."


"Ini mami..."


Kepala Keke dibawa Ben mendekat padanya.


"Papi Bipi bucin, peluk-peluk mami..."


"Astaga...Dede, anak kecil ngomong seperti itu..."


"Onty Ine yang bilang waktu di Silamen..."


"Siladen sayang..."


"Iya... itu."


Ben tertawa, Keke juga. Lisya selalu menghibur mereka semua.


"Udah dulu Yica mau salapan, Yica mau sekolah, dadah..."


"Dadah Via, dadah Dede..."


.


Handphone Keke letakkan di meja.


"Hei... kenapa nangis sayang..."


"Kangen mereka... baru sekali ini pisah..."


Tanpa diminta Keke memeluk Ben dan bersandar di dada suami. Ben tertawa pelan, istri mulai punya inisiatif, dan itu sesuatu.


.


.


Ekspresikan cinta dan sayang pada pasangan, jangan tunggu orang lain melakukannya 🤭


Jangan sampai saat pasangan udah dipanggil babe atau yayang sama orang lain baru nyadar 🥴😢🤭


Ambillah inisiatif, kasih selalu mengambil inisiatif, kasih selalu mencari kesempatan untuk melayani...


.


💟


.

__ADS_1


Salam sayang buat readers aku yang baik hati...


__ADS_2