Fate Or Destiny

Fate Or Destiny
Eps. 69. Cinta untuk Mama


__ADS_3

Mama khawatir saat masuk kamar dan melihat anaknya sedang tidur tengkurap. Rommel bilang tadi bahwa Keke sedang tidak enak badan. Mama mendekati tempat tidur, menangkap dengan pandangannya gerakan Keke yang memukul-mukulkan punggung telapak kakinya ke tempat tidur.


“Ike… sakit apa?”


Keke membalikkan badannya dan menatap mama yang tangannya sedang merapat ke dahinya. Kebiasaan orang pada umumnya untuk memastikan seseorang sakit atau tidak, refleks tangan selalu meraba dahi.


“Ike gak sakit, ma… cape aja, tadi malam Ike gak bisa tidur, jadinya tengah malam Ike bikin pesanan kue untuk hari ini.”


Keke berdiri dari posisinya dan duduk di tempat tidur, sementara mama duduk di sebuah kursi di depan tempat tidur itu.


“Kenapa gak bisa tidur, Ike insomnia?”


“Gak sih sebenernya…”


"Lagi banyak pikiran ya?"


"Ehh?"


“Urusan nikah ya? Mama bantu apa? Jangan ragu minta bantuan mama kalau Ike butuh tenaga mama, mama siap bantu…”


“Urusan nikah sih udah ditangani Inge sebagian besar…”


“Jadi apa yang menganggu?”


Keke menundukkan kepala, dulu dia biasa menyimpan sendiri masalahnya. Tapi sekarang kok jadi lega saat ngomong ke Inge apa yang mengganjal. Mendengar pertanyaan mama juga mengusik hatinya, jadi pengen ngomong juga sama mama.


“Ma… Ike… Ike kayaknya gak jadi menikah, udah gak mau lagi.”


“Kenapa? Ada masalah apa?”


“Kak Bens sulit diajak ngomong sekarang, dia terlalu sibuk dan kurang peduli soal urusan kita berdua. Berkas penting milik dia yang Ike minta aja belum dia kirim sampai sekarang, padahal mengurus surat ke catatan sipil kan perlu waktu. Belum urusan lainnya, kayaknya dia belum siap untuk menikah…”


Keke mengeluarkan isi hatinya dengan suara berat sarat kekecewaan.


“Ike… yang penting sebenarnya adalah rencana awal kalian berdua. Selama Ben belum mengubahnya, teruskan aja.”


“Rencana kita bulan depan ma, tapi justru hal-hal yang penting yang gak memungkinkan, belum diurus. Gedung udah batal, surat-surat untuk capil juga belum ada…”


“Bicarakan dengan baik Ike… jangan diamkan kalau ada kendala atau masalah...”


“Di situ masalahnya, dia gak angkat telpon Ike, gak balas chat Ike, gimana mau selesai masalahnya.”


“Pahami aja keadaan kalian yang terpisah, mungkin dia memang tidak bisa bukannya tidak peduli.”


Keke diam, dia justru melakukan sebaliknya, tak mau lagi bicara dengan Ben, dia tesinggung dan merasa bahwa Ben benar-benar tidak peduli. Dia malas melanjutkan pembicaraan soal nikah ini. Keinginannya untuk itu sudah turun jatuh ke dasar hatinya.


“Mama ada urusan apa di Manado?”


Keke segera menganti topik pembicaraan.


“Mama bawa om mau periksa dokter. Tadi dari rumah sakit, kita terlambat datang, pasien di Poli banyak banget nomor antrian udah seratus lebih. Jadi kita mau menunggu dokter praktek nanti sore aja.”


“Om sakit apa?”


“Asam uratnya tinggi, hipertensi, sekarang ada asam lambung juga.”

__ADS_1


“Oh…”


“Ramly gak ada di sini ya?”


“Iya… papa pulang ke Tomohon, kak Lody gak ada jadi papa harus di sana.”


"Tapi ada mobil dia di bawah?"


"Papa pakai mobil yang lain, beberapa hari lalu dijemput sopir."


“Bangunan ini sudah luas banget Ike, mama kaget waktu turun dari mobil tadi, sudah berubah…”


“Mama lama gak ke sini…”


Mama menatap Keke lekat, ada banyak lubang dahulu dalam hubungan mereka, banyak kesalahpahaman dan banyak sakit hati yang terpendam. Mama ingin memperbaiki itu. Keke yang sekarang semakin terbuka membuat mama ingin melakukan sesuatu.


“Sekarang mama janji sama kalian, mama akan sering ke sini, mama tidak mau jauh-jauh lagi atau membuat jarak dengan kalian, kalian darah daging mama. Mama tak habis menyesali dulu pernah meninggalkan kalian."


"Iya ma... sering-sering ke sini aja, anak-anak senang banget, sering pamer mereka punya oma..."


Keke menimpali, dia juga tidak ingin lagi berkunjung ke tempat mama, tak ingin bersinggungan dengan anak-anak dari si om. Karena jika itu terjadi, dia gak yakin bisa menahan diri, dan papa pernah ngomong bahwa mama yang akan susah nantinya. Mama aja yang datang ke sini.


"Iya Ike... iya. Kalian anak-anak mama yang hebat, walaupun tidak ada orang tua dan kalian harus berjuang sendiri tapi kalian berhasil hidup dengan baik... mama bangga sama Ike dan Rommel…”


Mata mama berkaca-kaca. Dia terpaksa meninggalkan mereka karena suami dan anak-anak sambungnya yang menolak dengan keras. Dia akhirnya mengorbankan anak-anaknya, tadinya dia pikir menikah lagi adalah solusi untuk keadaan ekonomi mereka, ternyata sebaliknya, dia justru tak bisa menjamin kebutuhan anak-anak. Syukur anak-anaknya bisa betahan dan melewati kesulitan dengan tangan mereka sendiri.


“Ma… boleh gak Ike tahu, kenapa mama meninggalkan papa. Maaf ma, Ike mengungkit masa lalu.”


Mama menghela napas dalam. Dia tahu anaknya pasti ingin tahu apa yang terjadi. Keke sudah dewasa dan tidak apa jika dia tahu juga, dia ingin penjelasan dan semoga dia mampu memberikan penjelasan yang diminta itu.


“Mama yang salah Ike, mama belum dewasa waktu itu, masih cengeng dan belum bisa mengendalikan emosi, mama baru dua puluh lima tahun, masih egois...”


“Mama tidak kuat saat keluarga papa bergunjing, selalu menyindir soal status mama sebelum menikah dengan papa. Keluarga papa memang menentang pernikahan kami, mereka punya pandangan yang konservatif. Mama bukannya mengambil hati mereka justru menunjukkan sikap melawan karena sakit hati dengan perlakuan mereka yang tidak adil pada mama."


"Ramly tidak salah Ike, mama yang terlalu cepat menyerah dan tidak berpikir panjang, tidak memikirkan Ike, cepat-cepat minta cerai."


"Mama nikah pertama kali umur berapa?"


"Kelas dua SMA. Beda dengan Vosye... dia pintar dan fokus belajar, mama terlalu bebas bergaul hasilnya mama harus punya Bonita dan berhenti sekolah. Boni belum setahun mama cerai dan bertemu Ramly, menikah dan punya Ike."


"Papa Ike pria baik, mama menyakiti dan meninggalkan pria paling baik dalam hidup mama..."


Mama terisak, perasaan yang sama yang selalu ada sejak dulu kini menyeruak lagi memenuhi semua rongga hatinya, rasa bersalah pada mantan suaminya.


"Mama bahagia sekarang?"


"Akhir-akhir ini mama bahagia, karena bisa sering melihat kalian... itu saja cukup untuk mama..."


Ike trenyuh mendengar pengakuan mama, sedih karena pernah menjauhi mama, sedih karena keadaan mama.


"Ma... papa masih sayang mama... foto nikah mama papa masih papa simpan di kamarnya... foto kita berempat dengan kak Boni juga ada di kamar papa..."


Mama Virda semakin terisak. Dia juga merasakan hal itu, mata hatinya bisa melihat dan mengenali kerinduan dan cinta yang masih disimpan mantan suami untuk dirinya, walaupun Ramly menutup dengan rapi tapi feelingnya merasakan itu saat acara tunangan Keke. Tapi dia tahu sudah tidak mungkin untuk mereka berdua, dan sudah sangat terlambat untuk memperbaiki hal yang salah. Dia bahkan tidak berani untuk meminta maaf, merasa tak layak untuk mengatakan kata itu.


"Maaf Ike, mama membuat Ike sedih..."

__ADS_1


"Ehh... gak ma. Mama udah sarapan?"


Keke menoleh ke jam dinding, hampir jam sebelas.


"Sudah tadi pagi-pagi sebelum ke sini. Di luar ada om dan Sarah..."


"Kenapa si Sarah ikut?"


"Oh... dia yang atur keuangan mereka. Dia tidak percaya mama bahkan si om yang punya duit, makanya dia ikut, mungkin takut mama mark up uang ke dokter hehehe..."


Mama tertawa dalam sedih.


"Astaga ma... bener-bener mereka, keterlaluan banget. Nanti Ike ngomong..."


"Jangan Ke... Ike jangan campuri urusan mereka, mama udah lama tidak peduli hal itu."


"Ma... si om kerja keras banting tulang, semua hasil mereka yang nikmati, sementara mama yang ngurus si om harus cari duit sendiri, gitu kan ma?"


"Iya... tapi sudahlah, mereka anak-anak si om..."


"Itu gak bener ma... Itu urusan Ike juga, mama itu mama Ike, Ike gak rela mama hidup seperti sekarang..."


"Sudah Ke... tidak ada gunanya menambah musuh. Mama tidak apa-apa. Mama sudah pasrah sama Tuhan soal hidup mama. Yang penting sekarang doa mama selama ini sudah terjawab, bisa sama-sama kalian lagi..."


"Ya udah, nanti Ike yang bantu mama, Ike bisa sekarang ngasih uang buat mama... Ike minta mama jangan nolak lagi Ike kasih uang ya... Ike pengen mama hidup lebih nyaman... ya ma?"


"Iya... iya... hanya mama minta jangan memusuhi mereka, biar mama bisa hidup tenang di sana..."


Mama menatap Keke, Keke mengerti pandangan itu. Ahh kenapa dia tidak punya hati yang lapang seperti Rommel, rasa dongkol karena si om menolak bantuannya, menolak menggunakan kulkas dan TV yang dia kirimkan, juga perkataan si Sarah membuat dia enggan keluar kamar.


"Ike gak pengen ketemu mereka?"


"Ma... Ike lagi malas ke luar kamar... Ike mau mandi juga... bentar lagi anak-anak pulang ma. Si Dede pasti senang banget ada mama..."


"Iya... mama gemes lihat dia, cerewet juga... pintar ngomong dia..."


Mama Virda tersenyum, dan tidak sabar bertemu cucunya sendiri. Ada cucu juga di Pondang, tapi dia sedih karena anak-anak kecil itu diajari untuk membenci dirinya.


.


Mama tidak pernah mementingkan dirinya sendiri, sekalipun kadang anak-anak tidak memahami ini dan melihat dengan cara berbeda sehingga sering menyalahkan sikap seorang mama.


Mama adalah sosok dengan pengorbanan tanpa batas dan punya kasih yang melampaui pengertian anak-anaknya...


Semangat ya mama-mama, para readers tersayang...


Kalian adalah seseorang yang mau memberikan sepotong kue kecil milikmu sendiri kepada seorang anak yang telah makan potongan terbesar kue itu sebelumnya...


Kalian adalah sosok yang selalu menyimpan airmatamu sendiri demi senyum anak-anaknya...


Kalian membiarkan anak-anak bersandar kemudian membuat anak-anak kuat sehingga tak perlu bersandar...


Banyak cinta untuk mama 🥰


👩‍👦‍👦

__ADS_1


💚


👩‍👧‍👧


__ADS_2