
Bertahun-tahun mama Litha menunggu anak cowoknya memperkenalkan seorang wanita sebagai calon istri. Tak menyangka bahwa wanita yang dia tunggu sangat dia kenal. Dulu sering mendorong Ben untuk mencari tapi Ben tak acuh, bahkan sempat menyalahkan sikap Ben yang seolah tidak peduli. Sekarang mama Litha justru belum bisa menerima status Ben yang dekat dengan Renske.
Ini hari sabtu, lima hari sudah mama Talitha ada di Manado dan masih enggan diajak bertemu Renske dengan memberi alasan sehalus mungkin pada Ben. Awalnya Ben bisa memaklumi alasan mamanya, tapi, akhirnya dia heran dan sedikit curiga.
"Ma... ayo... ditunggu Rens makan siang. Anak-anak sudah lapar itu..."
Ben baru menjawab telpon dari Via yang mengatakan makanan sudah siap. Mosses dan Matthew jangan ditanya, mereka sudah ke sana sejak pagi. Sejak diantar Ben ke ruko pertama kali, kini mereka tidak sungkan bolak-balik ke ruko setiap hari untuk bermain dengan Via dan Lisya.
"Ma..."
Ben menggedor pintu kamar yang belum terbuka. Akhirnya mama keluar tapi belum siap, masih menggunakan daster dan ada rol rambut di kepalanya.
"Loh... mama belum siap?"
"Mama... di rumah aja Ben, masih ada makanan kok. Mama malas keluar rumah."
"Mama sakit?"
Ben menatap mamanya lekat.
"Tidak... hanya malas aja untuk pergi ke mana-mana..."
"Ma... rumah Rens gak sampe lima puluh langkah dari sini, gak sampe satu menit..."
Mama diam di ambang pintu kamar bawah.
"Ma... kenapa... gak suka bertemu Rens?"
"Eh... bukan itu..."
"Terus? Udah beberapa kali aku ajak, mama selalu menolak."
"Mama tidak menolak Ben, hanya..."
Mama tidak meneruskan kalimatnya tapi melangkah menuju meja makan dan duduk di salah satu kursi.
"Minggu ini Rens banyak pesanan makanan dan kue, dia kerja sampai malam. Beberapa kali dia pengen datang ke sini bertemu mama, aku yang melarang karena bilang mama yang akan ke sana sendiri. Ternyata mama gak pergi-pergi. Kenapa? Rens bukan orang lain loh buat mama, buat kita..."
Mama diam tak menjawab. Ben duduk di depan mama.
"Ma... aku ingat waktu itu mama antusias menyuruh aku cari Rens di sini, pengen tahu keadaan Rens, malah pengen bertemu... sekarang kok lain?"
Mama mengangkat muka. Dia tak mampu menjawab itu, dia tak ingin mengutarakan ganjelan di hatinya. Becca saja tersinggung waktu itu, dia tak mau Ben tersinggung dan marah padanya. Dia tahu sikap keras Ben sama dengan sikap suaminya. Mama berdiri, kemudian...
"Tunggu sebentar... mama ganti baju..."
"Gak usah dandan... cuma deket, depan rumah aja..."
Ben teriak karena mama sudah menutup pintu kamar.
.
Di ruko, Keke menunggu dengan cemas. Kenal tante Litha sejak kecil, tapi sudah lama tidak bertemu. Dan ini sangat tidak nyaman, terbebani dengan banyak pikiran, dia pacaran dengan Ben, belum tahu reaksi tante Litha soal itu. Walau ada banyak pesanan hari ini tapi Keke berusaha menjamu tante Litha dengan baik. Beberapa menu masakan sengaja dia buatkan untuk tante Litha.
Akhirnya mama Litha bertemu Keke hari ini. Mama menyalami Renske dengan canggung, dan Renske membalas sama canggungnya.
"Apa kabar Renske..."
"Baik tante Litha... tante juga baik?"
"Iya..."
Ben tertawa melihat kekakuan yang tercermin dari sikap kedua wanita di hadapannya.
"Hei... ma, gak usah sungkan di sini... anggap rumah sendiri..."
__ADS_1
Keke menyibukkan diri di area pantry. Dia bingung untuk memulai percakapan. Mama Litha memperhatikan lantai dua ruko itu, Ben bilang ini milik Keke, dan ada aktivitas di lantai bawah tadi yang juga sebagai usaha atau profesi Keke sehari-hari. Mama Litha harus mengakui, Keke yang sekarang beda dengan Keke yang dia lihat terakhir kali. Keadaan Keke yang sekarang terlihat baik.
Mama Litha berjalan ke arah balkon diikuti Ben. Di luar...
"Renske tinggal dengan siapa di sini, Ben?"
Ben belum sempat menjawab, anak-anak keluar dari kamar dengan celotehan mereka.
"Papi Bipi... Metu bilang kita mau makan pica..."
Lisya melompat-lompat di depan Ben.
"Lisya... nama aku itu Matthew, bukan Metu. Kita mau makan pizza bukan pica..."
"Metu kan?"
Lisya bersikeras...
"Mat... thew..."
"Iya itu..."
Ben tertawa... sisa cadel Lisya masih sering terdengar.
"Yica... salam sama oma Litha dulu... Via juga, sini Via..."
Lisya mengulurkan tangan ke arah mama Litha.
"Halo oma... ini Yica, itu kakak Via..."
Si cerewet mengambil alih perkenalan dengan si oma, dia menunjuk dirinya, dan menarik tangan Via untuk salaman dengan oma Litha. Si oma akhirnya tersenyum karena tingkah menggemaskan dari Lisya.
"Cantik-cantik ya..."
Hati oma tak bisa menahan tangan untuk mencubit gemas pipi tembem Lisya. Dia pernah berharap punya cucu perempuan.
Dari ruang makan, Keke memberi isyarat ke arah Ben yang sedang melihat padanya, bahwa sudah saatnya makan, Keke selesai mengatur semuanya.
"Ma... kita makan sekarang, ayo anak-anak, nanti besok baru kita makan pizza ya..."
"Sekarang aja papi Bipi... masa besok... inginnya sekarang..."
Mosses cemberut menatap papi Bipi, berharap keinginannya diiyakan si om.
"Besok aja, tuh... mami Keke udah masak banyak makanan, enak lagi..."
Ben mendekati meja makan, diikuti mama Litha.
"Tante... ayo makan, semoga tante suka..."
Keke menguatkan hati menyapa tante Litha mencoba mengurai kekakuan mereka. Keke banyak belajar dari Ben selama ini untuk lebih welcome dengan orang lain, tidak usah ragu mengajak orang lain berbicara.
"Ini Renske yang masak semua? Banyak sekali..."
"Gak semua tante, sebagian menu rantang hari ini, ada karyawan yang masak itu... yang ini aja yang Renske masak tante..."
Keke menunjuk beberapa menu masakan yang terlihat lezat. Celotehan Matthew dan Mosses mewarnai makan siang itu, dan mama Talitha memperhatikan dengan diam-diam semuanya. Mama Litha melihat dua bocah perempuan yang makan dengan teratur di meja kecil mereka berdua, terlebih si kecil yang meskipun masih belepotan makannya tapi makanan tidak berhamburan di meja itu, sungguh pemandangan yang menenangkan oma Talitha, dia terbiasa dengan keributan dua cucunya di meja makan.
"Tante... tambah ya..."
"Ehmm.... cukup. Makanannya enak, terima kasih."
"Rens memang pintar masak, ma..."
Renske hanya mengulum senyum dengan wajah memerah, kali kesekian mendengar pujian sang pacar untuknya, tapi ini di depan tante Litha dia jadi malu.
__ADS_1
Mama Litha berpindah duduk di sofa dan mulai rileks, dan berusaha menjalin percakapan. Dia harus berjiwa besar menerima Keke lagi untuk ada di tengah keluarga, Ben terlihat yakin dengan Keke. Lagi pula Keke menunjukkan sikap yang baik. Mama mengikuti suara hatinya untuk mulai mempercayai keputusan anaknya.
"Rens... kenapa, dari tadi kayak tegang gitu..."
Ben memegang kepala Keke sejenak, lalu mulai membantu Keke membersihkan piring kotor.
"Gak kenapa-napa..."
"Karena mama kan?"
"Ehh... iya..."
"Hehehe... dia tante Litha yang kamu kenal sejak dulu, santai aja. Kamu tahu mama kan?"
"..."
Meski Ben merasakan sesuatu pada sikap mamanya, tapi dia menyimpan itu untuk dirinya sendiri.
"Nah... selesai, ayo kita ngobrol dengan mama..."
"Aku ke bawah sebentar kak Bens, mau buat adonan kue, nanti mereka yang teruskan."
"Oh... ok..."
Ben menyempatkan mencuri satu ciuman di kepala Keke. Refleks Keke mendorong Ben, tapi Ben malah menarik Keke lagi ke pelukannya dan memberi ciuman lagi di tempat yang sama.
"Kak Bens... ada tante Litha, ada anak-anak juga, lepasin..."
"Kangen..."
"Nanti aja..."
Keke melepaskan diri dan berjalan canggung ke arah sofa, dia sempat menangkap mata tante Litha tadi yang memperhatikan mereka berdua tadi.
"Tante... Renske turun sebentar, mau lihat pekerjaan di bawah..."
"Oh... iya, silakan..."
Saat tubuhnya berbalik ada Ben di belakangnya. Keke menatap Ben dengan membulatkan matanya, Ben yang sengaja masih berdiri menghalangi jalannya.
"Kak Bens..."
"Hahaha... sana..."
Ben mengusap sejenak pipi Keke lalu menyingkir memberi jalan. Mama Talitha yang memperhatikan itu, melihat pancaran wajah anaknya yang begitu berbeda, terlihat bahagia. Mama menarik napas dalam dan menghembuskan perlahan. Ben duduk dekat mama...
"Keke mau buat adonan kue katanya, baru naik lagi ke sini..."
"Oh... ada berapa karyawannya?"
"Berapa ya... udah tambah banyak sih sekarang, usaha dia makin lancar sih... Enak sih masakan dia menurut aku, makanya makin banyak yang cari. Mama udah cicip kue-kuenya Rens kan.... gimana menurut mama?"
"Iya... enak."
Mama harus membentangkan tangan selebar-lebarnya, untuk menerima segala hal tentang Keke, dia melihat cinta di mata anaknya. Dan selama ini dia adalah mama yang selalu mendukung anak-anaknya...
.
.
Hi... maaf ya baru up... ada sstu
Semoga masih stay bersama cerita aku...
🙏🙏🙏
__ADS_1
.
✳