Fate Or Destiny

Fate Or Destiny
Eps. 56. Rasa Hari Ini...


__ADS_3

Hari ulang tahun papa Ramly. Keke antusias menyiapkan menu makanan dan penganan ringan. Rasa cinta terhadap papa tumbuh dengan baik hari-hari ini. Perlahan kenangan indah terukir, kasih sayang sang papa sudah mendapat tempat terbaik di hatinya, dan luka hati karena ditinggalkan dulu seolah tertutupi dengan semua cinta papa.


Ya... papa Ramly ternyata punya cinta yang begitu besar. Tatapannya selalu lembut dan hangat, seperti sebuah ajakan setiap kali untuk Keke bersikap sama. Terhadap anak-anak, Lisya dan Via, dia tak sungkan memeluk dan membelai sayang. Terhadap karyawannya di ruko ini papa selalu menyapa dengan ramah. Perhatian papa pada Lody dan Inge pun seperti pada anak kandung saja.


Apalagi buat diri Keke si semata wayang. Bukan hanya cinta yang papa tunjukkan dalam sikap tapi banyak hal yang ingin papa berikan untuk Keke. Papa sering bilang kalau Keke boleh minta apa saja tapi Keke masih belum nyaman untuk menerima banyak hal dari sang papa. Semua tentang papa Ramly membuat Keke bertanya-tanya kenapa mama tidak mampu bertahan dengan papa dulu.


Di Green Hills...


"Cantik banget dekornya... Inge..."


Keke baru selesai menata makanan di meja yang disiapkan Inge di beberapa tempat. Keke berjalan mendekati Inge di dekat sebuah panggung kecil di area luar kafe yang sudah ditata sangat indah penuh bunga-bunga, ada banyak balon-balon warna putih hijau dan orange melengkapi dekor di area ltu.


"Hehehe... makasih, Ke... hasil kreasi aku sama karyawan sih... sederhana aja kok."


"Bagus kok... keren."


"Hehehe, makasih kalau gitu..."


"Tetap di buka untuk umum ya... ada banyak pengunjung kayaknya..."


"Tetap buka dong... toch area ini luas Ke, area pesta aja yang kita tutup untuk umum."


"Jam berapa mulai acaranya?"


"Gak tahu... itu Lody yang ngatur sih..."


"Kak Lody kok gak kelihatan sejak tadi..."


"Tauk dia ke mana..."


"Nge... kalian belum baikan?"


"Malas Ke... percuma juga. Dari dulu perasaan dia gak pernah jelas. Cukuplah... bukan saatnya lagi aku menunggu. Lagian setelah aku pikir-pikir sekarang, kita memang gak pernah jadian sebenarnya, dia gak pernah nyatain perasaannya, aku juga. Jadi memang gak ada ikatan sih, tapi deket sih, kayak saling ngerti aja bahwa kita saling butuh dan dulu bahagia aja ngejalanin seperti itu. Hanya sekarang... malah nyakitin gitu... yaaa udahlah..."


"Emang perasaan Inge sendiri gimana?"


"Akuu? Sayang sih... tapi aku harus lupain itu sekarang."


Inge bicara dengan suara sangat dalam seperti sedang menekan kesedihan dan kekecewaan agar tidak mencuat ke permukaan.


"Sorry ya... aku penasaran jadi tanya-tanya..."


"Gak papa Ke... aku juga butuh cerita ke seseorang, udah penuh di sini, pengen aku keluarin biar lega."


"Sabar ya Nge... suatu saat kamu pasti hepi juga..."


"Iya Ke... semoga ada seseorang yang bisa membuat aku nyaman, memperlakukan aku dengan baik... kayak kamu sama kak Benaya... kalian tuh serasi banget Ke... kelihatan banget saling sayang..."


Keke tersenyum kecil menanggapi, di hati dia mengakui soal Ben yang sayang padanya dan begitu perhatian, meskipun dia sadar bahwa dia kadang masih kambuh cuek ke Ben, Ben tak berubah. Tapi dia turut sedih juga dengan keadaan Inge dan Lody.


"Rens..."


Suara Benaya terdengar dan datang mendekati dua gadis cantik itu dengan senyum di wajahnya. Ben mengenakan kemeja yang dikasih Inge, dan terlihat sangat tampan dengan paduan celana putih, seperti mengeluarkan aura tampannya semakin cemerlang.


"Wah... kak Benaya, pikiran sama mata aku langsung fresh lagi liatin kak Ben..."


Ben tertawa... Inge beda dengan Keke, dia sangat luwes dan terbuka dan cukup menyenangkan. Senang bercanda kayaknya dan gak jaim.


"Kak Bens... udah lama?"


Keke tanpa sadar ikut merapat ke arah Ben yang sudah berdiri di sampingnya.


"Baru aja sampe. Ada papa aku Rens... ayo bertemu papa dulu..."


"Kapan om Fredrik datang dari Jakarta?"


"Jumat malam... tapi papa langsung ke kampung bertemu saudara."


Ben merangkul lengan Keke lalu melabuhkan sebuah ciuman di puncak kepala.


"Eiiit... kalian, jangan romantisan depan aku dong... bikin iri tau gak..."


"Bisa aja kamu Nge... aku pinjam Rens sebentar ya..."

__ADS_1


"Lama juga gak papa... sana menghilang dari pandangan aku, mata sama hati aku sakit liat kalian mesra-mesra gitu..."


"Hahaha..."


Tawa Ben pecah melihat mimik seolah begitu teraniaya di wajah Inge. Keke ikut tertawa, dia tahu sepupunya suka membanyol. Tapi Keke harus akui sikap Inge yang selalu menyenangkan, meski saat seperti sekarang, walau dia tak dapat sepenuhnya menutupi kegalauan hatinya dengan sikap konyolnya.


Keke berjalan mengikuti Ben bertemu orang tuanya. Sejak diberitahu Ben bahwa orang tuanya akan datang, mengetahui keinginan Ben dan tuntutan pekerjaan Ben, Keke coba berpikir dengan baik dan coba yakin pada tindakan Ben untuk mereka berdua. Dia juga berusaha menyingkirkan bayangan buruk pernikahan yang selama ini begitu kuat mencengkeram dirinya.


"Pa, ma... ini Rens..."


Keke melepaskan tangannya yang digenggam Ben...


"Halo om, tante..."


"Renske... apa kabar..."


Om Fredrik menggenggam kuat tangan Keke saat berjabat tangan. Keke gugup.


"Baik om..."


"Tante..."


Tante Litha juga ikut menjabat tangan Keke, hanya menganggukkan kepala dengan sedikit senyum di wajah. Tante Litha lebih banyak diam sejak mengetahui niat Ben dan maksud kedatangan suaminya.


"Eh... kita ke rumah aja kak Bens, bertemu papa..."


Keke menunjuk rumah kecil di sebelah kafe. Papa dan anak-anak ada di sana.


"Tante, om... mari..."


Keke berjalan dengan menenteramkan degupan di dada. Sikap tante Litha sesaat tadi ikut menambah jumlah deguban itu.


"Ben... cari anak-anak dulu, mereka langsung lari ke mana tadi, mama kuatir..."


"Mama papa ikut Keke aja kalau gitu, aku cari Mat dan Mosses dulu..."


"Biarkan saja Ben, anak laki-laki sudah besar juga... lagi pula gak mungkin hilang di sini..."


"Iya... nanti aku cari mereka, aku antar mama papa dulu bertemu om Ramly."


Ben berlari kecil menyusul Keke yang sudah agak jauh. Di rumah, om Ramly tampak sudah rapih, anak-anak juga. Seragam yang dipilih Inge, hijau putih, terlihat cocok di tubuh papa, papa Ramly terlihat lebih muda dan segar.


"Pa... orang tuanya kak Bens udah ada..."


"Oh... baik. Kamu siap-siap Ike... ganti baju, sebentar lagi acara di mulai..."


"Iya..."


Keke berdiri menunggu di depan pintu, saat orang tua Ben dekat...


"Tante, om... mari masuk aja..."


"Selamat siang..."


Om Fredrik menyapa papa Ramly. Para orang tua saling berjabat tangan, dengan ramah papa Ramly mengajak duduk di sofa dan mulai bercakap-cakap.


"Kak Bens... aku ganti baju dulu... kak Bens temenin mereka ya..."


Keke berbisik dan menuju area belakang rumah itu, ada tante Noniek dan beberapa saudara dari Leilem lagi duduk-duduk di sana.


"Ma Ade, keluarganya kak Bens udah sampe... boleh tolong suguhin minum sama kue dulu, Ike mau siap-siap..."


"Oh iya Ke... Ini sudah banyak keluarga yang datang, Lody juga udah nyampe..."


"Kak Lody ke mana memangnya?"


"Tadi jemput keluarga kita di Leilem..."


"Oh... ya udah, Ike masuk ya Ma Ade..."


"Iya...


.

__ADS_1


🍀


.


Acara berlangsung khidmat dan penuh keharuan. Saat papa Ramly berdiri di tengah acara menyampaikan beberapa kalimat mensyukuri segala kebaikan yang dia terima, terutama tentang Keke. Tangis bahagia papa Ramly saat memperkenalkan Keke kepada semua keluarga. Juga ada penyesalan tentang perpisahan sekian waktu yang telah dilewati tanpa adanya Keke di sampingnya. Ada harapan papa Ramly untuk tak berpisah lagi sampai hari tuanya.


Keke melihat kebahagiaan terpancar di wajah papa yang masih terlihat ganteng di usianya yang sekarang. Bahagia juga membuncah memenuhi seluruh rongga di hati Keke. Duduk di samping Ben yang terus bersikap posesif pada dirinya, membuat perasaan indah begitu paripurna sepanjang acara pidato papa berlangsung. Sesekali dia mengusap pipinya karena airmata yang setiap kali merembes tanpa diminta, sementara Ben beberapa kali mengusap lengannya memberi dukungan.


Selesai memberikan beberapa kalimat syukurnya di panggung itu, papa Ramly tidak diijinkan sang MC untuk turun dari panggung. Dia mengundang keluarga dekat papa Ramly, mulai dari Keke, kemudian Lody, Inge untuk mendampingi sang papa memasang Lilin ulang tahun di sana. Tiba-tiba papa meminta mic dari si MC.


"Saya meminta anak saya juga untuk naik ke sini... Rommel, dia anak lelaki saya juga."


Rommel menatap papa Ramly dan menunjuk dirinya.


"Iya... nak, hanya kamu yang bernama Rommel di sini. Tolong bawa naik juga Lisya dan Via yang cantik, mereka cucu-cucu saya juga. Kalian membuat hidup saya semakin lengkap... ayo..."


Walaupun malu tapi Rommel merasakan serbuan rasa yang beda di relung hatinya, om Ramly mengatakan sesuatu yang lama dia nantikan dari seorang pria bernama ayah, pengakuan sebagai anak. Om Ramly memberikan perasaan bahagia itu, meski datangnya bukan dari papa kandungnya. Rommel memeluk Lisya dan meraih tangan Via kemudian menuju panggung.


"Ben..."


Mama Litha berbisik pada Ben yang duduk di sampingnya. Ben menoleh.


"Rommel itu siapa sebenarnya?"


"Dia adiknya Rens, tapi beda papa."


Jawaban Ben membuat mama Litha menangkap sesuatu, sepertinya pak Ramly tadi secara implisit menyatakan mengakui kedua gadis cilik itu juga seperti Rommel, bukan anak atau cucu kandung.


"Lisya dan Via juga?


"Iya... mereka anak dari kakak Rens yang tertua, beda papa juga. Rens anak satu-satunya dari om Ramly, Lody itu anak angkat, dan Inge keponakannya."


Ben menjelaskan saat memandang raut wajah ingin tahu dari sang mama.


"Oh? Mereka bukan anak si Renske?"


"Bukan ma... Renske belum menikah, gimana sih mama..."


Ben menatap mamanya tajam, jangan-jangan mama...


"Saya juga meminta seseorang lagi untuk ada di sini, calon anak laki-laki saya yang lain... Benaya Manoppo..."


Ben sedikit terkejut tapi dengan sigap dan percaya diri dia bergegas naik diikuti tatapan penuh tanya dari banyak undangan yang rata-rata adalah keluarga dekat om Ramly. Saudara mereka memberi banyak kejutan hari ini. Tatapan itu terjawab saaat Ben memilih berdiri di samping Keke, dan langsung meraih tangan Keke dalam genggamannya. Penegasan juga terbaca lewat gesture keduanya yang sering saling lihat, saling senyum di panggung itu di sementara acara berlangsung.


Acara puncak pun berlangsung dengan suasana yang semakin bahagia. Papa Ramly selain penuh kasih sayang tapi sosok yang gampang menangis rupanya, ucapan selamat dari anak-anak dan dua bocah diwarnai airmata papa Ramly. Dan nampaknya di bawah di tempat duduk masing-masing orang-orang yang hadir larut juga dalam suasana yang tercipta.


Di tempat duduknya mama Litha terdiam dalam sejuta rasa. Prasangka dan ketidakrelaannya sebelum ini terhadap Renske memang dia akui salah. Begitulah perasaan seorang mama yang menginginkan anaknya mendapatkan yang terbaik dalam hidup.


Mama duduk diam dalam perenungannya, menyadari bahwa sosok Renske adalah pilihan anaknya, adalah gadis yang pernah dia inginkan juga untuk jadi pasangan anaknya. Tapi prasangka yang dia biarkan menguasai hatinya sempat menyesatkan dirinya pada penolakan. Dia pernah mendoakan Ben mendapatkan pendamping yang sepadan, dan Renske mungkin jawaban doanya. Mama menghembuskan napas lega.


.


.


🍀


.


Manusia memang suka aneh ya... cepat menerima sesuatu yang baik, cepat menerima penghargaan, sama cepat dengan sikap menyalahkan dan menghakimi orang lain....


Hanya sedikit orang yang bisa dengan cepat menyadari lalu intropeksi dan mengakui kesalahan. Kebanyakan akan terus berdiri di tempat yang sama, mencari peluang untuk melanjutkan kritik lagi....


.


Semangaaaaat


lv u all


💚


.


__ADS_1


__ADS_2