
Hampir seminggu papa Ramly menginap di ruko. Papa ingin mengawasi sendiri pekerjaan para tukang di bagian belakang ruko yang sudah mulai dibangun untuk 3 lantai. Tambahan bangunan 8mx8m ini tidak hanya untuk kamar papa Ramly jadinya. Keke menerima saja, karena kondisi bangunan lama memang sudah kurang layak.
Keke membeli kasur tambahan dan diletakkan di kamar Rommel, papa tidur berdua Rommel. Keke menikmati kebersamaan dengan sang papa, meladeni sejak bangun tidur dan tidur lagi, itu menciptakan kegembiraan batin untuknya. Dan... papa ternyata sosok yang manja tapi Keke senang karena merasa dibutuhkan si papa.
Beberapa kali juga Lody muncul tapi tidak pernah menginap. Keke mulai merasa nyaman dengan Lody, dia percaya nalurinya yang menilai sikap Lody yang lebih tulus sekarang, membuat Keke lebih leluasa berinteraksi.
Selesai makan malam... papa didaulat Via membantu anak itu selesaikan PR-nya. Baru seminggu ini anak itu masuk sekolah sudah ada PR ternyata. Si kecil juga sudah sekolah dan lagi senang-senangnya mencorat-coret bukunya. Mereka bertiga ada di kamar anak-anak sekarang.
"Kak Lody gak nginap aja, udah malam..."
"Gak papa Ike... kasihan Inge hanya berdua Ma Ade di rumah. Lagian deket aja kan, paling sejam udah sampe rumah..."
"Kak Lody bawa mobil suka ngebut sih..."
"Haha, suka ngantuk kalau gak ngebut..."
Lody yang masih duduk di sekitar meja makan itu mendongak menatap Keke yang baru selesai membereskan meja makan itu.
"Ike... boleh kakak ngomong sesuatu?"
Keke duduk di depan Lody lagi...
"Apa kak?"
Lody nenunduk sebentar, tangannya memainkan tusuk gigi di meja.
"Inge pernah ngomong sesuatu gak sama Ike?"
"Ehh... soal kalian?"
"Iya..."
"Pernah, gak banyak sih... "
"Dia... dia gak mau lagi sama kakak..."
Lody berkata pelan dengan mimik sedih. Dia berusaha mendekati Inge lagi, tapi Inge bersikap sebaliknya.
"Kak Lody sayang sama Inge?"
"Iya..."
"Udah ngomong tentang perasaan kak Lody yang sebenarnya ke Inge?"
"Belum sih, dia menolak setiap kali kakak ajak bicara..."
"Inge pernah ngomong soal status kalian yang gak jelas. Kak Lody harus bilang itu dulu, biar Inge jelas soal itu."
"Mmh... kakak minta bantuan ya... ngomong ke Inge..."
"Ehh... kalau soal perasaan ngomong sendiri... perempuan lebih suka denger sendiri pengakuan itu dari mulut lelaki yang dia suka..."
__ADS_1
"Begitu ya? Tapi gimana ngomongnya kalau Inge gak mau lihat muka kakak..."
"Pasti ada caranya, yakin aja dan usaha juga."
"Gitu ya... Mmh... kakak pamit aja ya..."
"Ike titip klappertart ya buat kafe..."
"Oh... mau dijual di sana juga?"
"Inge yang minta kak..."
"Oh gitu... enak sih buatan kamu. Kakak mau pamit ke papa dulu..."
Lody beranjak ke kamar anak-anak. Lebih baik seperti ini ternyata, merasakan penerimaan Keke untuknya lebih dari sebelumnya. Hampir saja dia berbuat kesalahan dengan keinginan tak terarah sebelum ini, niat mendekati Keke hanya untuk sebuah kebiasaan buruknya bersenang-senang. Ada saat yang tepat dan orang yang tepat pula yang dikirim Tuhan untuk membuat seseorang berhenti melakukan hal-hal tak bertanggung jawab. Lody merasa sekarang saatnya untuk bersikap benar, dan Keke seperti seseorang dikirimkan untuk dia bercermin dan membuat dia lurus dan dewasa.
Papa Ramly keluar kamar bersama Lody kemudian...
"Jangan ngebut... hati-hati bawa mobil..."
"Iya pa... Lody pergi ya..."
"Kak... klappertartnya ada di meja di toko, tanya Rommel ya yang mana... Hati-hati kak..."
"Iya... titip papa ya..."
Lody merangkul Keke sejenak kemudian beranjak turun. Keke senyum simpul, merasakan sikap sayang seorang kakak. Papa Ramly duduk di sofa, Keke datang duduk di sebelah papa.
"Belum. Ben jarang ke sini?"
"Sibuk banget katanya, dia pengen beresin semua kerjaan dengan baik."
"Tanggal berapa yang kalian pilih?"
"Tanggal 8 pa... itu bertepatan hari minggu."
"Acaranya harus di rumah papa ya...?"
"Iya pa... di sini juga berantakan kan... lagi banyak bahan bangunan di mana-mana."
"Ike... Ike harus beritahu mama... minta mama hadir, ini acara penting buat Ike..."
Keke terdiam dan menunduk. Selama ini dia enggan berkomunikasi dengan sang mama, tahu kabar mama hanya dari Rommel. Entah kenapa rasa sakit selalu terasa setiap mengingat mama.
"Ike..."
Papa membaca sesuatu dari sikap diam Keke.
"Ike, kami berdua banyak salah sama Ike. Tapi sama seperti papa yang tidak berhenti mencintai Ike meskipun Ike tidak bersama papa... mama juga sama Ike... mama pasti sayang anak-anaknya."
Keke masih tak bersuara.
__ADS_1
Jika mama sayang, kenapa mama memilih menikah lagi dan membiarkan anak-anaknya sendiri, ada cucu-cucu mama juga. Tidak peduli, tidak mau tahu bagaimana anak-anaknya bertahan hidup. Kalau pun datang pasti bawa masalahnya sendiri. Mama egois.
"Ike..."
"..."
"Ike... beritahu mama ya..."
"Gak usah pa... papa aja udah cukup buat Ike..."
"Ke... mama pasti sedih saat tahu Ike sudah tunangan tapi mama tidak dilibatkan..."
"Biar aja pa... selama ini juga mama tidak peduli saat Ike sedih. Memang mama gak pernah ada kan buat Ike. Sejak dulu pa... waktu Ike menolak dibawa mami, nangis-nangis, malah Ike dipukuli dibentak-bentak, Ike masih ingat itu pa... Saat balik ke sini juga, mana mama peduli soal kebutuhan Ike, Ike cari duit sendiri pa, mama sibuk sama suami barunya. Ike harus ngurus Rommel juga. Mama suruh kak Boni kerja, tapi anak-anak mama tinggalin di sini... Ike yang urus semua... mana pernah mama datang bawa sesuatu, mana pernah mama datang saat anak-anak sakit. Ike... Ike... selalu sendiri pa... Mama gak pernah sayang Ike... hikss... hikzz..."
Keke menutup wajahnya dengan kedua tangannya, apa yang selama bertahun-tahun ini rapih tersimpan di sebuah sudut hatinya akhirnya tumpah-ruah di hadapan papa Ramly bersama tangisannya. Keke yang kuat dan lama tak pernah menunjukkan emosinya di hadapan orang-orang, sekarang mulai saat bertemu Ben kemudian bertemu papa, Keke jadi sering menangis.
Papa meraih Keke menyandarkan tubuh yang sedang rapuh itu dalam dekapannya. Rasa bersalah juga menyeruak di dada lelaki itu. Kesalahannya di masa lalu seperti berputar lagi dan menghantam hatinya. Dia tidak bisa menyalahkan istrinya, dia yang merasa paling bersalah, dan itu sakit saat tahu bahwa ada banyak tahun yang sulit yang dilewati putri kesayangannya. Berjuang sendiri, dengan tanggung jawab yang tidak seharusnya dia pikul. Dia hanya melihat Keke yang sekarang. Papa Ramly juga menangis... Pelukan dia eratkan.
"Maafkan papa sayang, papa yang paling bersalah di sini... maafkan papa nak..."
Lama baru tangisan mereka reda. Papa masih mengusap sayang anaknya, di kepala, di punggung, membawa segenap perasaan sayang dalam usapan itu. Pelukan diurai sang papa...
"Ike... nak..."
Papa turut membantu Keke mengeringkan airmata, lalu mengeringkan airmatanya sendiri.
"Ike dengarkan papa ya..."
Keke hanya menatap mata papanya.
"Ike harus tahu satu hal penting, mama itu sayang Boni, Ike dan Rommel. Itu pasti, walaupun mama tidak bisa menunjukkan itu pada kalian. Papa yakin mama pasti tahu kesalahan mama terhadap kalian, mama pasti juga merasa bersalah karena mengabaikan kalian, bahkan mungkin sedang menghukum dirinya sendiri, merasa tidak bisa dimaafkan oleh anak-anaknya. Mungkin setiap kali datang ke sini dan melihat kalian rasa bersalah dan rasa tertuduh itu ada."
"Papa sedikit tahu keluarga mama yang sekarang, ternyata di rumah itu mama tinggal dengan anak dan cucu suaminya juga, bukan hanya berdua suaminya. Seandainya mama tak acuh terhadap anak-anak, tapi tidak ada oma yang tidak rindu sama cucunya, papa saja langsung jatuh hati pada Livia dan Lisya. Mama juga pastinya, tapi mama tidak enak datang ke sini walaupun rindu kalian semua."
"Ike... berikan kesempatan untuk mama juga dekat dengan Ike ya... sama seperti papa yang mendapatkan kesempatan itu. Kalau mama yang menjauh, coba Ike yang datang mendekati mama... pasti mama tidak akan menolak Ike... papa masih ingat betul bagaimana mama sayang Boni dan Ike, itu tidak berubah Ike hanya tersembunyi sekarang ini..."
Keke menangis lagi. Sekarang dia duduk bersandar di sofa sambil memandangi tangannya yang terkunci. Keke mengingat sikap dinginnya terhadap mama setiap kali mama datang berkunjung. Mungkin itu juga yang membuat mama enggan sering-sering datang dan seperti kata papa tadi, membuat mama semakin merasa bersalah.
Saat kita enggan memulai sesuatu yang benar, maka kita tidak akan pernah memperbaiki apa yang salah. Jika memaafkan bukan sesuatu yang sulit untuk dilakukan, maka orang tidak akan tahu arti kesalahannya sendiri. Bukalah pintu maaf bagi orang lain, sebab sebelum dia meminta maaf pasti dia telah bertempur mati-matian dengan egonya untuk mengakui kesalahannya ~author~
.
.
💚
.
✳
Cheer up ya...
__ADS_1