Fate Or Destiny

Fate Or Destiny
Eps. 80. Hepi Aja Dulu


__ADS_3

Selesai mandi dan mengenakan pakaian santai tapi rapi, Keke duduk di sofa panjang di ruang duduk yang terpisah dari kamar. Ben sedang mandi, dan posisi kamar mandi dengan kaca tembus pandang membuat Keke risih berada di kamar, Keke sendiri mandi saat Ben meneruskan tidurnya tadi.


Keke memindahkan channel tv besar di depannya mencari sebuah channel yang memutar film romantis dan mulai menonton, beberapa saat memperhatikan tapi mendadak mengganti saluran lagi saat cerita film menampilkan adegan hot di atas ranjang. Risih melihat itu, padahal dia sudah melakukan dengan Ben, dua kali malahan. Tapi kemudian mencari channel itu lagi, ternyata adegan itu sudah selesai, apa dia dan Ben sehot itu tadi subuh ya? Haha Keke ternyata penasaran juga.


Ben keluar dari kamar dengan tampilan segar.


"Mau sarapan sekarang?"


Ben langsung merapat duduk di samping istri, seperti magnet langsung menempel memberi rangkulan.


"Mmmhm... sebentar lagi deh... tapi sarapannya di bawah kan?"


Keke ingat Ben sempat ngomong tadi mau pesan layanan kamar.


"Di sini aja..."


Ben senyum menggoda Keke. Keke bergerak menghindari jari tangan suami yang entah sengaja atau tidak menyentuh sesuatu di bagian dadanya. Nampaknya tangan sang suami jadi suka kesasar kemana-mana sekarang. Tadi saat berbaring lagi berdua peluk-pelukan dan cerita-cerita di tempat tidur, beberapa kali Keke memindahkan tangan itu.


"Di bawah aja kak Bens, ya...? Gak enak... kan masih banyak keluarga kita di sini..."


"Gak ada yang akan nyari kita sayang... mereka pasti ngerti kalau kita gak muncul seharian ini. Aku pengen di kamar aja tiga hari ini, mau puas-puasin meluk kamu dan... wadoow... sayang, jangan suka nyubit ahh..."


Keke senyum masam dengan wajah malu.


"Kak Bens sih..."


Ben tertawa mendapati reaksi sang istri yang masih belum terbiasa dengan yang intim-intim yang mesra-mesra. Maka Ben melakukan sesuatu, menarik erat tubuh Keke masuk ke dalam dekapannya dan memberikan ciuman panjang di bibir dan ciuman menggoda di beberapa bagian yang dia temukan tadi subuh menjadi tempat yang paling sensitif untuk istri... Benar, respon tubuh Keke dalam pelukannya menunjukkan itu.


"Kita di kamar aja ya... aku pengen..."


Ben berbisik di sela aktivitas bibirnya.


"Kita udah rapi, nanti aja ya..."


Keke mencoba menghindari sesuatu.


"Apanya yang nanti aja?"


Ben menjauhkan kepalanya dan memandang dengan ekspresi semakin menggoda sang istri.


"..."


Keke salah tingkah.


"Apa... Rens?"


"Gak..."


Pancaran muka Keke langsung berganti warna. Ben tertawa lagi.


"Menggemaskan..."


Ben mengecup lembut pelipis istrinya, membawa kepala sang istri menempel di dadanya sejenak, dan mengusap sayang sebelah pipinya, gak tega melihat sang istri yang salah tingkah berkepanjangan.


"Sayang kamu... sayang aku juga kan?"


"Iya..."


"Kita sarapan di bawah ya... kamu perlu kenalan sama keluarga besar aku, mumpung semuanya ngumpul di sini, kita belum tentu bisa langsung ke Semarang..."


"Iya..."


"Rens..."


Keke mengangkat kepalanya, Ben sedang menatap serius wajah Keke dalam rangkulannya.


"Pengen tahu... apa yang paling kamu inginkan dari aku sekarang ini..."


"Maksudnya?"


"Aku ingin memberikan sesuatu buat istri aku, kalau aku bisa aku akan memenuhinya... Kamu gak mau pergi bulan madu, jadi aku ingin memberikan sesuatu yang paling kamu inginkan..."


"Aku gak kepengen apa-apa... kak Bens jadi suami aku udah sesuatu buat aku..."

__ADS_1


Ben senyum mendengar suara lembut Keke, bibir mengecup sayang di dahi Keke.


"Beneran gak pengen apa-apa? Aku ingin minta sesuatu dari kamu, tapi pengen penuhin keinginan kamu dulu..."


"Sebenarnya... aku pengen sesuatu tapi bukan barang..."


"Apa... Rens?"


"Aku... pengen kak Bens setelah ini cari kerja di sini aja, aku gak mau kita kayak waktu itu, kak Bens sibuk, aku jadi punya prasangka gak baik... hubungan kita jadi gak baik akhirnya... tapi aku gak maksain keinginan aku, terserah kak Bens..."


"Itu ya?"


Permintaan yang sederhana sebenarnya, Ben mengerti Keke tidak ingin berjauhan lagi bukannya tidak menyukai pekerjaannya.


"Sebenarnya aku suka pekerjaan aku di perusahaan yang sekarang. Project di Manokwari juga sudah mulai lagi, persoalan di sana sudah membaik. Tapi aku ngerti maksud kamu buat hubungan kita... sebenarnya pengen resign setelah pekerjaan di sana selesai."


Ben diam beberapa waktu.


"Oke... tapi kasih aku waktu untuk cari solusi ya? Minimal aku dapat pekerjaan di sini, kalau untuk bangun usaha baru itu butuh perencanaan matang. Aku kepala keluarga sekarang, aku harus punya penghasilan. Jadi aku minta kamu ijinkan aku ke sana dulu, aku janji gak akan lama, aku sudah ngomong ke boss soal ini. Kamu prioritas aku sekarang, Rens..."


"..."


"Gak apa-apa aku ke sana dulu ya?"


"Iya... Tapi jangan seperti kemaren, gak mikirin perasaan aku..."


"Gak akan... beda sekarang..."


Pelukan kembali dieratkan, kepala Keke kembali bersandar lagi di dada suami. Dalam pelukkan Keke bertanya kemudian...


"Permintaan kak Bens apa?"


"Jangan tunda kehamilan ya... aku udah berumur, udah pengen anak sendiri..."


"Oh... kirain apa. Gak ditunda kok, on proggress malahan... "


"Eh... iya ya... aku udah sekali tanam benih hahaha... berarti duluan permintaan aku ternyata yang diproses..."


"Iya sayang... tapi sekarang ini yang paling memungkinkan adalah proses membuat bayi... kita harus rajin-rajin membuatnya... wadoww..."


Pelukan terlepas, cubitan tidak sempat dihindari.


"Rens, nanti badan aku biru semua bukan karena kamu cium tapi karena cubitan..."


"Maaf..."


Keke memilin jarinya sendiri, berjanji menahan diri tak akan sembarangan mencapit tubuh suami. Rasa bersalah membuat Keke mengusap area pinggang yang selalu menjadi sasaran jarinya.


"Mmh, kita jadi ikut ke Siladen?"


"Siladen? Kak Bens pengen ke sana juga?"


"Iya... karena semua keluarga kita mau ke sana, aku jadi pengen ikut. Selama di Manado aku gak pernah jalan-jalan juga. Ada momen ini, jarang banget keluarga bisa ngumpul sebanyak ini. Aku kangen oma juga. Kita ikut ya? Inge baru wa tadi, nanya kalau kita jadi ikut..."


"Oh... padahal udah aku kasih tahu Inge kalau aku gak ikut..."


"Eh... kamu gak mau ya? Kenapa?"


"Aku... aku takut naik kapal."


"Kenapa takut sayang?"


"Aku gak bisa berenang, aku takut ada di atas air..."


"Serius? Ikut aja ya... gak apa-apa sayang... ada aku. Ikut ya? Mengalahkan rasa takut justru dengan menghadapi rasa takut itu. Dua hari di sana, Rens... sekalian bulan madu..."


"Bulan madu kok rame-rame..."


"Pengen bulan madu berdua juga ternyata eh? Katanya gak perlu bulan madu... katanya bulan madu itu setiap hari bisa di mana aja..."


"Kak Bennsss..."


"Hahaha...."

__ADS_1


Ben langsung menangkap jemari sang istri yang siap diluncurkan ke pinggangnya. Masih auto terulur, kebiasaan.


"Sayang... ikut ya? Gak usah takut sama laut... Percaya sama aku, naik kapal itu aman, nanti aku ajarin berenang di sana... ya?"


Ben menatap lembut membagi keberanian pada sang istri. Akhirnya Keke menganggukkan kepala.


"Oke, aku wa Inge dulu, dia pengen tahu secepatnya untuk nambah kamar buat kita di ressort..."


Keke hanya diam. Bersama Ben Keke keluar dari comfort zonenya, banyak hal yang akhirnya dia lakukan bukan karena kehendaknya sendiri. Tapi sejauh ini dia merasa nyaman dan tidak terintimidasi atau terpaksa sih. Semoga dia bisa mengalahkan rasa takutnya dengan air dan gelombang laut.


.


🍀


.


Di bawah... keluarga besar yang menginap di hotel ini sedang menikmati breakfast. Setelah menyapa sang oma serta orang tua masing-masing, dan keluarga Ben yang lain yang belum sempat kenalan langsung dengan Keke saat acara resepsi, Keke dan Ben memilih duduk di pool terrace, dan menikmati sarapan pagi di meja khusus untuk dua orang.


Tangan Ben tak henti bergerak di sekitar tubuh sang istri, entah memegang punggung, memegang tangan, mengambilkan tissue, matapun akan kembali menatap di satu titik, wajah sang istri. Dan sesekali meladeni apa yang dibutuhkan sang istri. Posesifnya seorang Ben ditimpali sikap malu-malu Keke, pertama dia tidak terbiasa dilayani, yang kedua Keke malu karena tahu ada banyak mata yang mengamati mereka, maklum mereka sedang jadi bintang di sini, jadi pusat perhatian orang-orang.


"Eh... kenapa pasangan pengantin ada di sini?"


Rebecca menghampiri meja sarapan Keke dan Ben di hotel itu. Dia baru turun untuk sarapan karena Mosses dan Mathew terlambat bangun.


"Memangnya kita harus ada di mana?"


Ben menjawab santai tak seperti biasanya suka ketus dan datar sama adik sendiri. Efek baru nikah begitu kentara di wajahnya, aura muka begitu berbeda tak bisa menyembunyikan pancaran bahagia, membuat Ben semakin mempesona saja.


"Ya... di kamar lah, biasanya kan pengantin baru suka gak keluar kamar berhari-hari... hehehe."


"Husssh... ada Mat sama Mosses, bicara sembarangan."


Ben mendelik walau tak urung tersenyum juga. Selesai mengambilkan makan untuk kedua anaknya, Rebecca menarik kursi dan bergabung di meja Keke dan Ben...


"Eh... sana, masa gangguin kita?"


Ben menolak dengan kalimat dan sorot mata tajam.


"Iihhh... aku gak gangguin kok, kalau aku masuk kamar kalian itu baru mengganggu, tapi ini di luar kamar... kakak jangan ngelarang aku, aku pengen ngomong sama Renske..."


"Sini aja kak Becca... gak apa-apa..."


Keke tersenyum sambil menggeser sedikit posisi kursinya.


"Gimana malam pertamanya Renske, gimana kakak aku?"


"Kak Beccaa..."


Keke blingsatan ditanya seperti itu tapi saat memandang suaminya, Ben senyum-senyum, padahal sebelumnya mengganggap adiknya sebagai gangguan.


"Berapa kali semalam Renske... gimana kakak aku mantap gak dia?"


Becca masih melanjutkan, wajahnya misterius antara sengaja menggoda pasangan penganten itu atau memang serius ingin tahu. Dan ajaibnya kakaknya terlihat tidak marah sama sekali dengan pertanyaan absurd untuk Keke.


"Kak... kenapa nanya yang itu sih... kak Becca udah pernah ngalamin, ya seperti itu lah..."


"Pengen tahu dong, soalnya kakak kelamaan nikah, aku sempat curiga kakak gak normal. Tapi melihat aura kakak pagi ini sih... aku yakin banget kakak puasss banget deh... semalaman ya kalian... hahaha..."


"Kak... pindah sana..."


Sekarang justru Keke yang mengusir Rebecca.


.


💟


.


Yang hepi-hepi aja dulu...


.


__ADS_1


__ADS_2