
Mengetahui fakta bahwa wanita yang selalu menarik atensinya, sosok yang pelan-pelan telah terukir di benak dan di hatinya ternyata remaja manja menyebalkan di masa lalu, tidak mengubah fakta bahwa rasa itu tetap ada, rasa yang berbeda, bukan hanya sekedar penasaran atau sekedar suatu ketertarikan.
Kurang lebih dua minggu Ben mencoba berhenti memperhatikan aktivitas di lorong sempit itu, tidak menoleh bila melewati ruko itu, menenggelamkan diri dalam semua kesibukan di proyek. Tapi justru hatinya nelangsa, justru bayangan sosok itu semakin menguat di benaknya.
Weekend kembali datang. Anak-anak mencoba merayu sang boss untuk jalan-jalan, ada tempat wisata yang sedang happening yang membuat anak-anak penasaran ingin berkunjung ke sana. Tapi boss mana mau pergi ke tempat-tempat seperti itu. Si boss ditinggal sendiri di kompleks.
Di ruang makan Ben sementara menikmati sarapan paginya yang terlambat, 3 butir ayam kampung rebus setengah matang. Masuk video call dari sang mama yang merindu karena sepekan ini anaknya susah dihubungi.
📱
"Ben... sedang apa...?"
"Sarapan...."
Ben mengangkat mangkok berisi telur rebus yang sudah dikupas.
"Oh... kenapa akhir-akhir ini susah dihubungi?"
"Sibuk ma..."
"Oh... begitu."
"Mama papa sehat?"
"Iya sehat... Mosses juga sudah pulih..."
"Bilang Beca anak-anak jangan jajan sembarangan. Lebih baik bawa bekal dari rumah, lebih higienis... karena makan sembarangan kena tipes jadinya..."
"Iya... anak-anak padahal udah senang mau ke Manado bertemu kamu eh... batal."
"Nanti aku sempatkan pulang ya... bilang anak-anak."
"Kapan Ben?"
"Minggu depan kayaknya bisa..."
"Oh... mama minta dibawain klappertart sama abon cekalang fufu ya..."
"Iya nanti aku carikan..."
"Ben... mama sudah wa alamatnya si Renske, sudah kamu cari belum?"
Oh mama... dia itu deket banget ternyata hanya bertetangga, tapi anakmu lagi berusaha menjauh ini...
"Iya... udah."
Ben menjawab pelan. Rasa entah apa namanya menyeruak lagi, resah karena kangen sebenarnya tapi dia coba menyimpan di sudut hatinya. Ben menahan hatinya tapi rindu untuk melihat Rens tambah lama tambah kental saja.
"Udah ketemu Renske?"
"Udah...
"Gimana... gimana kabar dia, aduuuh mama jadi pengen bertemu Renske deh..."
"Dia baik ma, udah punya anak 2..."
"Oh... sudah menikah ya?"
__ADS_1
Suara antusias mama berubah.
"Iya... anak yang besar sama dengan Mosses, kelas 3 SD... yang kecil umur tiga tahun sepertinya..."
"Oh... Renske langsung menikah rupanya saat itu ya..."
"Ya... mungkin."
"Ben... anak yang besar umur berapa?"
"Gak tau, ma..."
"Yang besar itu anak sambung dari suaminya ya?"
"Eh... aku gak tau ma... Kenapa mama ngomong seperti itu?"
"Ya... mama jadi ingat Vosye meninggal 7 tahun yang lalu, kalau anaknya Renske udah kayak Mosses, berarti udah 9 atau 10 tahun kan..."
Ben tidak pernah pikirkan itu. Tapi baik Lisya dan Livia wajah mereka berdua mirip banget, dan sama sekali tidak mirip Rens. Mungkin saja si mama benar. Tapi kenapa jika itu hanya anak sambung dari suaminya masa malahan diurus si Rens ya? Atau dia janda cerai mati?
"Mungkin aja ma..."
"Mama titip salam kalau kamu bertemu dia lagi..."
"Iya..."
Saat menutup telpon, Ben tak mau lagi menahan diri untuk tidak pergi ke ruko itu, sebagian hati berkata ada rindu, sebagian lagi rasa penasaran karena informasi sang mama. Segera lelaki itu mandi, dengan menggunakan outfit santai kakinya melangkah ke ruko depan.
"Omen... Yica bica nayi ceda ceda... jauh"
"Wah... Yica pintar ya..."
Ben memandang melalui pintu ruko yang baru terbuka sedikit, mencari seseorang. Yang muncul si Livia. Ben memperhatikan anak pemalu itu, ingin mengetahui sesuatu, anak ini sudah bisa ditanya-tanya...
"Via gak sekolah ya..."
Via hanya mengangguk. Ben mendekat ke arah Livia dan berjongkok, mata tetap memperhatikan Lisya.
"Yica jangan sampai ke pinggiran situ, nanti jatuh..."
"Omen... nda ica putay (gak bisa berputar)."
"Dia bilang apa Via?"
"Sepedanya gak bisa berputar katanya..."
Via menjawab pelan. Dia masih kaku menghadapi Ben. Ben membantu memutar arah sepeda Lisya.
"Via umur berapa sekarang?"
"Sembilan tahun..."
"Papa Via mana, om gak pernah liat..."
"Papa Via sama Dede pergi, mama juga..."
Anak itu menjawab tertunduk, Ben menangkap kesedihan di mata cantik anak kecil itu. Ben mendekat berjongkok lagi dekat Via dan mengusap kepala anak itu. Dia menyesal menanyakan sesuatu yang sensitif untuk anak ini hanya karena rasa ingin tahunya. Tapi satu hal yang dia tahu sekarang Rens ditinggal suaminya. Eh tadi anak itu bilang papa mama mereka berdua kan ya? Dan sesuatu yang tidak dia sangka, anak pemalu itu lebih merapat kepadanya, Ben akhirnya mendudukkan anak itu di atas satu pahanya.
__ADS_1
"Via... jagain Dede ya... mami Keke mau antar rantang..."
Ben menoleh dan mencari wajah itu. Keke berdiri di antara pintu ruko yang hanya terbuka selebar dirinya, masih mengenakan celemek dan sepatu boot plastik, kepala terbungkus seluruhnya dengan kain kembang-kembang hijau.
"Rens..."
Keke sedikit menganggukkan kepala dan tersenyum tipis. Dia masuk lagi tanpa membalas sapaan Ben. Meskipun tak menyangkali keberadaan Ben tapi Keke masih melihat Ben sebagai orang asing.
Keke keluar lagi bersama Titin dengan rantang di tangan, meletakkan di keranjang plastik besar berwarna biru di bak belakang kendaraannya, ada 8 keranjang besar-besar di mobil pick up itu. Ben memperhatikan beberapa kali Keke dan Titin bolak-balik.
"Via liatin Yica ya...om mau bantu maminya Via..."
Via berdiri dari duduknya enggan melepas sentuhan Ben padanya. Di suka melihat diam-diam saat beberapa kali Ben dan Lisya bermain.
"Rens... ini mau dimuat ke mobil semuanya?"
Ben melihat rantang yang begitu banyak di atas meja. Keke terkesiap Ben begitu dekat di sampingnya.
"Eh... yang di sebelah sana gak, itu diantar pake motor..."
Ben pun meraih dua rantang di tangan dan mulai membantu si Keke. Sejenak gadis itu melongo tak menyangka, akhirnya dia pun tersadar dan melanjutkan pekerjaannya. Dia harus gerak cepat karena ingin tepat waktu selalu dalam pengantaran. Si Rommel sedang ke kampus harus mengurus beberapa hal, jadi dia mengambil-alih tugas Rommel.
58 rantang selesai dimuat. Tak lama Keke muncul sudah melepas celemek, mengganti sepatu dengan sandal, tapi kepala masih terbungkus kain bunga-bunga. Keke jalan ke mobil di sisi sopir, siap jalan.
"Eh... bisa minta tolong..."
Ragu Keke bertanya pada Ben yang tengah menatapnya. Ben menunjuk dirinya, Keke tidak menyebut namanya jadi Ben memastikan bahwa dirinya yang dimaksud Keke.
"Iya..."
"Apa?"
Ben masih menatap Keke... kenapa dia kaku sekali?
"Bentar lagi tante Wisye, tante Lenda sama Titin mau pulang, anak-anak sendiri... bisa tolong liat sampai saya pulang?"
"Oh... boleh boleh..."
Ben merasa gemas melihat kekakuan Rens, padahal dulu kan...
"Eh... di meja makan sudah ada makanan, makan aja bareng anak-anak..."
Keke naik ke mobil pintu mobil sudah dia tutup kemudian menurunkan kaca setengah.
"Rens..."
Keke menoleh menatap Benaya, tak ada ekspresi. Ben batal melanjutkan perkataannya. Mobil pun berangkat, menyisakan Ben yang meringis. Gadis remaja cerewet dulu berubah menjadi gadis kaku dan tak ada senyum.
"Yica, Via... kita makan yuk..."
Makan siang aja, mumpung gratis, makanannya enak pula, yang masak cantik pula.
.
.
✴✴✴
__ADS_1