
"Udah selesai kak?"
"Udah, ayo... kasihan Via udah kelamaan nunggu kita..."
Keke keluar dari kantor finance dengan tersenyum lega sambil berjalan menuju mobil. Akhirnya BPKB mobil sudah bisa diambil, pembayaran mobil pick up itu selesai sudah. Tiga tahun mencicil kini tidak ada rasa takut lagi soal pembayaran bulanan yang lumayan besar.
Sambil jalan Keke mengambil hpnya, ada rasa kuatir meninggal Lisya di tangan Titin, tapi hari ini dia tidak punya pilihan, dia sudah menunda beberapa kali datang ke kantor finance. Sebetulnya tak masalah menunda lagi, tapi dia merasa terganggu dengan telepon dari finance yang terus mengingatkan untuk urusan ini.
📱
"Titin... Dede udah bobo?"
"Belum kak..."
"Aduh Tin... seharusnya dia udah bobo siang sejak tadi, udah kelewat jauh jam bobonya. Dikasih dot susunya aja. Tolong kaki dan tangan sama bagian wajahnya dibersihkan dulu ya..."
"Oh iya kak..."
"Makasih Tin... ini mau jemput Via dulu setelah itu pulang..."
"Iya kak Keke..."
.
"Kok mau ya Titin jaga si Dede kak... biasanya gak mau dia pulang telat..."
"Dihitung lembur Mel... dibayar... mana ada gratisnya kalau Titin... Tante Wisye harus ke Puskesmas sih, anaknya melahirkan, jadi gak bisa dimintain tolong. Kakak lebih nyaman si Dede dijagain tante dari pada Titin, tangan sama mata di hp terus..."
"Dia jadi berhenti ya kak?"
"Iya... masih ragu-ragu sih, labil... antara lanjut kerja atau gak lagi..."
"Iya... kasian juga sih ya... masih umur gitu udah jadi tulang punggung keluarga... mamanya sakit-sakitan sih ya..."
"Apa bedanya sama kita berdua Mel... kakak nekat mulai usaha ini seumuran Titin juga... padahal kakak pengen kuliah, keinginan mami Vosye juga dulu... tapi ya seperti ini akhirnya..."
"Maaf kak... cita-cita kakak kandas gara-gara kita semua..."
"Eh... gak apa-apa buat kakak kok, kakak justru senang bisa sama-sama kalian sekarang... makanya kamu selesain kuliahnya ya..."
"Iya kak... Terus si Titin dapat uang dari mana kalau berhenti kerja?"
"Titin katanya mau buka warung makan di rumahnya... Mudah-mudahan serius dia, dari dulu juga minta berhenti alasannya sama, eh gak jadi lagi. Kalau kakak gak minta tanda tangan kontrak kerja setahun baru boleh berhenti, udah lama dia hengkang."
"Kakak pintar, pake buat kontrak segala..."
"Harus gitu Mel, kerjaan kita bisa kacau kalau orang kerja ganti terus... udah bisa eh berhenti lagi, malas ajarin orang baru melulu habisin tenaga sama waktu... Walau pun usaha kita terbilang kecil harus pintar menej biar tetap berjalan..."
"Terus... sudah ada gantinya?"
"Iya... sebetulnya udah lama tante Lenda minta balik kerja lagi... sejak suaminya meninggal kasian dia terpaksa jadi buruh cuci. Tapi gimana ya... kita belum perlu nambah orang kerja waktu itu. Tante Lenda mulai kerja senin besok."
"Wah... kalau tante Lenda sih kerjanya cepat kak, kita bisa nambah sampai 10 pelanggan lagi... aku terima aja ya... ada beberapa yang sering nanya minta rantangan di kita, katanya dapat rekom dari tetangga mereka makanan kita enak-enak..."
"Pastiin dulu tante Lenda masuk baru kamu terima, Mel... jangan sekarang..."
"Iya. Oh iya Kak... bulan depan kan udah gak bayar cicilan mobil, kita ganti motor ya, tukar tambah yang second aja, yang penting tahunnya lebih muda, biar si Tole gak mengeluh lagi pake motor butut saat mengantar sebagian rantang..."
"Rencana kakak sih gitu... Setelahnya mau lanjutin bangun bagian atas ruko... buat tempat kita tinggal... kita bikin tiga kamar dan ruang keluarga yang lebih besar lagi, sekalian space buat cuci jemur... kita masih perlu uang banyak... Tiga bulan ini nabung buat biaya tukang. Sebagian bahan bangunan udah kakak cicil sih, di tokonya ko A Liong. Semen, bata, sama kusen udah lunas tinggal diangkat. Mudah-mudahan tiga bulan lagi udah mulai bangun ya..."
"Iya kak... semoga ada berkat buat kita ya..."
"Amin..."
.
🍳🍳🍳
.
__ADS_1
"Pak Benaya..."
Seseorang menyambut Benaya di pintu kedatangan.
"Saya Boy Rumangkang, dari Sinar Jaya..."
"Oh... Halo pak Boy..."
Benaya berjabat tangan, dia mengenali nama tersebut sebagai Manajer Proyek Sub-Kontraktor di sini. Benaya membiarkan seseorang yang bersama dengan pak Boy mengambil alih kopernya.
"Ini Farly pak... dia supir pak Benaya nantinya, dan ini Kindy, nanti sebagai sekretaris pak Benaya..."
Benaya menganggukkan kepala pada dua orang di depannya. Hidupnya menjadi berbeda sekarang punya sekretaris dan supir, terbayang seperti apa beratnya pekerjaannya nanti. Muncul rencana di otaknya berapa lama dia di kota ini, tiga bulan saja ... setelah itu dia akan minta balik ke kantor pusat, jika ditolak resign aja.
"Silakan naik pak... kita akan mampir makan siang, setelah itu pak Benaya akan diantar ke rumah tinggalnya selama di sini. Nanti malam kita jemput lagi untuk bertemu pak Sony Wijaya, boss Sinar Jaya."
"Oh baik... tapi maaf saya tidak terbiasa semobil dengan orang yang belum saya kenal."
Benaya segera menolak saat melihat perempuan yang dikenalkan sebagai sekretarisnya tadi naik ke jok depan mobil untuknya.
"Tapi dia Kindy, sekretaris bapak nanti..."
"Hari ini belum ada pekerjaan kan, saya belum butuh sekretaris..."
"Oh baik, maaf pak Benaya... Kin... pindah ke mobil saya..."
Pak Boy mengetuk jendela mobil...
"Ya pak Boy?"
Si Kindy membuka jendela, rupanya tak mendengar perkataan Benaya tadi.
"Pindah ke mobil saya..."
"Kenapa..."
Pak Boy mengulang dengan suara berubah tegas diikuti isyarat di wajahnya. Si Kindy turun dengan mimik bertanya, tapi tak dijawab pak Boy. Sementara Benaya belum mau naik ke mobil, dia merogoh ponsel di tasnya dan menghidupkan ponselnya .
"Maaf pak Benaya, silahkan..."
"Terima kasih..."
Benaya mengangguk ke arah pak Boy lalu naik ke mobil, mata masih di ponsel mencari nama mama Talitha hendak memberi kabar.
Sementara di mobil pak Boy si Kindy memberengut saat tahu mengapa dia pindah.
"Astaga pak Boy... gitu amat yang jadi boss gw, kaku, dingin... sadis tau gak, baru sekali ini gw disuruh turun dari mobil, seumur-umur baru sekali ini ada yang nolak semobil sama gw... diih sok jaim banget..."
"Santai Kin... slow but sure, gak lama dia udah nempel ke kamu, deh... kamu ahlinya..."
"Mhmmm... Kita lihat berapa lama dia bertahan acuhin gw... udah dandan maksimal gw tau gak... gak dilihat sedetikpun sama boss Ben itu..."
"Hahaha... udah jangan baper kamu Kin... baru sejam juga... baru mulai..."
"Jangan panggil aku Kindy pak, kalau gak bisa naklukin si sombong itu..."
"Udah nikah sih kayaknya..."
Wanda sekretaris pak Boy yang duduk di jok depan nyeletuk kemudian.
"Tau dari mana kamu dia udah nikah, Wan?"
Kindy masih kesal.
"Aku liat ada cincin di jari manis kanannya..."
"Eh cepat matamu ya... saya gak merhatiin... gak ada data juga sih, nama doang yang dikasih tau ke kita, tadinya saya pikir boss dari pusat itu sudah tua... gak taunya masih lebih muda dari saya nampaknya..." ujar pak Boy dengan suara canggung.
Si pak Manajer Proyek yang supel itu dan mudah dekat dengan siapa saja tadi sedikit salah tingkah, mau coba mengakrabkan diri dengan pak Benaya, tapi sikap kaku yang langsung terasa membuat dia risih.
__ADS_1
"Biarpun udah nikah juga... gak masalah buat Kindy, liat aja nanti..."
"Kin... kamu belum tobat dilabrak istri pak Jerol... kelakuan minus kok dipelihara... Kalau liat tampang si boss tadi, kamu ketahuan niat gangguin dia kamu pasti dipecat deh kayaknya..."
"Emang mereka bisa pecat kita bukan karyawan mereka kok... "
"Aduuuh Kin... otak gak dipake, gaji kamu pake duit mereka tau gak?"
"Bener pak Boy?"
"Iya bisa... kalau dia minta seperti itu. Makanya kamu pintar-pintar mainnya..."
Di jok depan Wanda hanya menghela napas dengan otak kotor bossnya dan si Kindy. Sejak lama Kindy dimanfaatkan pak Boy untuk banyak keuntungan pribadinya. Kindy mau aja disodor-sodorin ke client dan para boss demi memuluskan rencana licik pak Boy mengeruk keuntungan.
Tapi, melihat aura boss baru kali ini, nampaknya dia bukan orang yang mudah ditipu atau dipermainkan... moga-moga proyek kali ini bisa berjalan baik. Wanda heran juga Pak Wijaya masih saja memakai pak Boy padahal sudah banyak kali dia mendapati bukti permainan licik pak Boy memanfaatkan dana proyek untuk kepentingan pribadi. Dirinya sendiri kalau bukan karena hutang budi sama pak Wijaya sudah lama resign.
...
Setelah makan, di dalam mobil Benaya memperhatikan keadaan kota yang dia lewati, ternyata banyak sekali perubahan. Banyak bangunan modern, jalan-jalan telah diperluas, luas kota nampaknya bertambah, dan ada beberapa sentra bisnis, kota telah jauh berkembang, bukan kategori kota kecil lagi.
Masuk ruas jalan utama kota ini, di jalan Sam Ratulangi, sang sopir, si Farly menelpon...
📱
"Pak Boy... di mana jalan masuknya..."
"Sesudah lorong rumah sakit Pancaran Kasih, lorong Samrat 33, ada plangnya..."
"Sebentar, pak... oh iya... sudah pak saya sudah masuk lorong Samrat 33..."
"Terus aja, mendekati Boulevard ada lorong kecil sebelah kiri..."
"Ini ada lorong pak? Masuk di situ?"
"Ada beberapa lorong di situ. Sesudah ruko cat putih pintunya biru, itu lorongnya. Masuk ke situ, ada gerbang..."
"Oh iya pak, sudah ketemu..."
"Ya sudah... tanya om Denny yang jaga kompleks itu mana rumah untuk pak Benaya..."
"Baik pak..."
.
Mobil masuk lorong sempit hanya untuk satu mobil. Benaya mengernyitkan dahinya, kenapa dapat rumah di pemukiman padat sih?
Di ujung lorong ada gerbang yang masih tertutup. Farly turun, dan ternyata ada pos mungil di dekat gerbang, seseorang berjaga di sana.
"Om Denny... ini pak Benaya sudah datang... tolong buka gerbangnya..."
Rupanya lorong ini akses khusus ke kompleks ini. Saat mobil melewati gerbang terlihat ada 6 rumah, 3 di kiri dan 3 lagi di sebelah kanan jalan masuk itu, rumah-rumah berkonsep minimalis semacam sebuah cluster perumahan yang kecil di tengah padatnya pemukiman tengah kota. Unik juga. Rumah pertama sebelah kanan paling besar dan satu-satunya bertingkat dua, mobil masuk ke garasi rumah itu.
Benaya turun dan memperhatikan kompleks itu dengan cepat kemudian memperhatikan tampak depan rumah yang akan dia tempati. Full furnished, lumayan...
Masuk ke dalam, langsung mendapati ruang duduk kira-kira berukuran 4 x 5 m berisi 1 set sofa, ruangan ini bersebelahan dengan garasi. Lebih ke dalam ada 1 kamar tidur, ruang makan menyatu dengan dapur serta ada 1 kamar mandi dan 1 ruang cuci. Ada tangga menuju lantai atas, Benaya langsung naik. Ada 1 ruangan, dia bisa memfungsikan ruangan itu sebagai ruang kerja atau ruang tv. Ada 1 meja kerja dan 1 kursi argonomis di sisi kiri, si sisi kanan ada 1 sofa tiga dudukan, sebuah meja kopi yang menghadap ke dinding tempat tv 42 inch terpasang. Kemudian ada 1 kamar tidur yang luas berukuran 6 x 4 m lengkap dengan kamar mandi. Dari ruang kerja ada pintu keluar menuju sebuah teras, ada 2 kursi teras dari rotan dan sebuah meja bulat kecil. Dia suka rumah ini.
Di sinilah Benaya Petra Manoppo akan tinggal selama .... hmmm 3 bulan kah?
.
.
Enjoy ya.... dukung karya aku dengan Like, comment, jadikan Favourite....
Blessing 😇
.
✴✴✴
__ADS_1