Fate Or Destiny

Fate Or Destiny
Eps. 20. Seharusnya Hari Ini Sempurna


__ADS_3

Anak-anak sudah duduk menunggu di anak tangga pintu samping ruko dengan wajah riang. Keke jarang membawa mereka jalan-jalan karena rutinitas sepanjang hari, pagi mengurus rantang makanan, siang lanjut dengan kue atau dessert, kadang sore menjelang malam baru pesanan selesai.


Keke sedari tadi berperang dengan rasa tidak nyaman untuk situasi ini, tapi melihat ekspresi dua bocah yang begitu senang, Keke berusaha menyingkirkan rasa enggan di hatinya.


"Mami Thethe... omen itu cana... (sana)."


Lisya datang mendekati Keke yang duduk di anak tangga ke lantai atas. Anak-anak langsung turun ke jalan dan Ben membantu mereka naik ke mobil.


"Mel... kakak pergi ya... pintu kakak kunci dari luar..."


Keke berteriak dari tempat dia duduk. Dia mengambil salah satu flatshoes berwarna hitam yang ada di anak tangga itu.


Selesai mengunci pintu, Keke menatap Ben yang belum masuk di mobil, tampilannya sangat casual dan modis. Seperti sudah janjian memakai outfit yang sama dengannya, Ben menggunakan jeans biru pudar dengan kaos polo warna putih yang dibiarkan di luar, sementara Keke jeans dengan kaos oblong putih. Ada kacamata hitam bertengger di hidung mancungnya, terlihat sempurna. Keke cepat mengalihkan pandangan, sebelumnya dia tidak pernah menilai penampilan seorang pria. Tangannya bergerak hendak membuka pintu di deret kedua...


"Naik di depan Rens... ada anak-anak di situ..."


Suara ngebass tapi kalem dari Benaya membuat Keke mengangkat kepala, mendapati senyum Ben padanya. Senyum yang mengacaukan sirkuit di dalam otak Keke, sehingga Keke hanya mengikuti apa yang diminta Benaya tanpa bantahan.


Keke wanita dewasa yang juga punya rasa. Dia bisa membedakan mana sikap ramah dari seorang pria dan mana sikap perhatian dengan embel-embel. Dalam diam dia bisa mencerna sikap Ben dan tatapan Ben. Dia pernah tahu sikap normal seorang Ben terhadap perempuan, dan itu tidak nampak sama sekali.


Awalnya dia menerima kepedulian Ben pada mereka karena kedekatan keluarga mereka di masa lalu. Ben menandaskan dirinya bukan orang lain, mungkin Ben merasa ada hubungan keluarga secara di sini dia sendiri juga. Mungkin juga karena keprihatinan Ben terhadap dirinya karena kehilangan papi dan maminya.


Tapi... kepekaannya sebagai wanita merasakan hal yang lain sekarang. Tapi dia tidak ingin gegabah dan takut salah mengartikan, sehingga dia membiarkan saja sikap-sikap Ben selama masih wajar dan dapat dia terima. Lagi pula, Ben sudah merit kan, jadi gak mungkin dia sedang pdkt.


Dari belakang kemudi Ben melirik Keke yang duduk kaku di sampingnya. Ben memutar audio di mobil, sebuah lagu lembut mengalun dan sesekali Ben mengikuti bernyanyi kecil. Tak lama Keke juga terbawa, meski tak ikut bernyanyi tapi wajah kaku Keke mulai melembut. Sesekali juga jemari tangan yang ada di atas pahanya ikut bergerak mengikuti irama lagu. Ben yang mencuri lihat gerakan Keke tersenyum kecil. Dia mengerti kini, Keke harus didekati dengan perlahan, jangan mendesak dia, dia akan segera menjauh.


"Yica mau main gak di playground?"


Ben bertanya sedikit menoleh ke belakang.


"Yica tatut... ada tata natay... (Lisya takut, ada kakak nakal)."


"Kenapa takut?"


"Tata natay doyong Yica (Kakak nakal dorong Yica)."


Dahi Ben berkerut belum menangkap maksud Lisya.


"Dia pernah main, ada anak yang dorong dia sampai jatuh, sejak itu dia gak mau lagi..."


Keke menjelaskan dengan suara jernihnya, tidak kaku lagi. Ben menikmati itu. Semakin lama semua yang ada pada Keke semakin indah saja.


"Kalau Omen temenin, mau gak main?"


Ben masih coba menawarkan Lisya bermain.


"Nda mau... Yica beyi yapa ja (gak mau, Yica beli jerapah aja)."


"Beli apa?"


"Jerapah, Om Ben... boneka jerapah punya Dede udah banyak loh, masa beli lagi?"


Livia menyambung kemudian, sekaligus protes pada keinginan adiknya.


"Yica mau beyi bayu (beli yang baru)"

__ADS_1


Suara Lisya mulai berubah...


"Eh... jangan nangis ya, nanti kita beli jerapah, ok?"


"Yec... beyi yapa..."


Sore yang berjalan sangat manis buat Benaya, meladeni keinginan dua bocah dengan senang hati. Apa yang diinginkan Yica Ben turutin, Via juga awalnya masih malu-malu tapi kemudian dia mengikuti adiknya bermanja pada Benaya.


"Eh... gak usah menuruti semua kemauan anak-anak..."


Keke mendekati Ben saat Via dan Yica sedang memilih-milih ikat rambut dan bando di sebuah gerai yang menjual segala macam perintilan perempuan.


"Gak apa-apa Rens, biarin aja... gak setiap hari kan, liatin mereka hepi aku juga hepi kok..."


"Omen... boyeh bana-bana?"


"Rens??"


"Banyak-banyak..."


"Oh... boleh...boleh..."


Haha, si Rens kadang jadi penerjemah jika om Ben gak konek sama maksudnya Yica. Keke hepi juga sebenarnya melihat dua ponakannya. Dulu dia sangat terbebani mengurus mereka. Perlahan dari perasaan iba dan tidak menginginkan mereka mengalami hal yang pahit karena ditinggal kedua orang tua mereka, akhirnya berganti rasa sayang seorang mama. Siapa lagi yang akan peduli pada mereka selain dirinya. Dan sekarang ada sosok Ben... anak-anak jadi lengket padanya, apa gak apa-apa ya?


Akhirnya setelah cape berputar keliling mall dengan beberapa plastik belanjaan yang telah dimuat di trolly, kini mereka sedang duduk menunggu pesanan di gerai pizza ternama. Kedua bocah berebutan duduk di sofa di tempat yang dipilihkan pelayan menyisakan dua kursi berdampingan, Keke tak ada pilihan selain duduk di samping Benaya. Ada yang senang banget pastinya.


"Pica bana bana..."


"Iya... makan yang banyak ya... Ini punya kamu Rens..."


"Kak Bens masih ingat aja apa yang aku suka..."


Suara lirih Keke masuk ke telinga Ben. Fungsi sensorik pada sistem saraf tubuh Benaya segera merespon suara itu dengan baik, Ben tambah hepi. Senyum lembut dia lemparkan ke arah Keke yang melihat padanya.


"Semua tentang kamu masih aku ingat dengan baik Rens..."


Keke menarik tatapannya dengan gugup..


Dia ingat? Semua? Maksudnya? Mengapa juga suara dan tatapannya seperti itu?


Keke mulai makan dengan sedikit gelisah, mana jarak mereka begitu dekat. Kadang tangan mereka berdua bersenggolan, dan Keke merasa seperti kena sengatan listrik. Ben seolah tak menyadari hal itu, tapi Keke agak terganggu. Dia jadi makan dengan diam sementara anak-anak makan dengan celotehan yang tak berhenti bertanya ini itu. Bahkan Via yang pendiam pun jadi banyak bicara saat ini. Kehadiran Ben memberi stimulus yang baik bagi emosi anak-anak rupanya.


"Rens... makan ini ya..."


Ben mengganti wadah Fettuccine yang sudah kosong dengan piring berisi sepotong pizza lengkap ada saos di piring itu. Keke yang tadi sempat memandang sebuah keluarga di meja sebelah, jadi merasa aneh dilayani Ben, serasa seperti dilayani suami? Ahh... Pikiran aneh melintas, bagaimana jika ada yang mengenali Ben, mengenal istri Ben, kemudian mengambil foto mereka... ohh. Keke menggeleng perlahan mengusir gelisah.


"Kenapa? Gak suka?"


"Eh... bukan..."


Selanjutnya, Keke lebih banyak diam. Ben membiarkan saja, tak ingin bertanya, dia takut salah lagi dan tak ingin rasa bahagia ini terhenti. Saat sedang berjalan keluar mall di selasar antara toko dekat toilet, Ben berhenti menurunkan Lisya dari gendongannya dan mendudukkan di sebuah bangku yang tersedia.


"Rens, aku ke toilet sebentar ya..."


Tak menjawab, Keke mendorong trolly dekat bangku dan ikut duduk di sisi Lisya, Livia juga duduk.

__ADS_1


Sebuah keluarga lewat dengan ribut, ada anak kecil dalam gendongan sang mama yang sedang menggerutu, diikuti seorang pria yang juga membalas gerutuan si wanita dengan omelan. Beberapa meter melewati mereka, Livia berdiri dan mengejar...


"Papaaaa..."


Keke tak sempat menahan karena Lisya sedang bersandar padanya. Mantan ipar dan keluarga barunya ternyata. Keke memperhatikan dengan cemas. Lisya dia dorong pelan dari tubuhnya. Dan sesuatu terjadi membuat Keke naik pitam, tangan Via dihempaskan pria yang dia panggil papa dengan kasar, Via meraih kembali tangan pria itu kemudian tubuh kecil Via didorong hingga terjatuh.


"Heh...breng sek! Kenapa kasar sama anak kecil!!!"


Keke mengangkat tubuh Via yang sudah menangis.


"Salah dia kenapa mengganggu saya..."


"Heh karena anda papanya!!! Masih bagus dia ingat anda!!!"


Keke semakin berteriak karena marahnya.


"Saya tidak ada urusan dengan kalian, jangan ganggu saya..."


"Papaaaa... hiksss... papa... hikss..."


Via masih memanggil papanya sambil menangis. Anak itu mengenali papanya, ada foto dia bertiga papa mamanya yang terselip di baju-baju miliknya. Dia juga sudah besar saat papanya pergi.


"Saya bukan papamu!!!"


Tangan si Rocky papa Livia hampir menjitak kepala Livia kalau tidak segera ditepis Keke.


"Bajing an!!! Mau main pukul??? Gak ada sepeser pun uang anda buat besarin mereka ya... Dasar Ban ci... gak bertanggung jawab!!! Bagus gak usah ngaku papa mereka!!!"


Keke berdiri dengan sikap siaga dengan tatapan garang menghadapi pria kasar ini, sekali lagi tangan laki-laki di hadapannya terangkat maka Keke akan ladeni berantem sekalian. Via menangis, Lisya juga terdengar menangis di bangku, akhirnya Keke beranjak pergi menarik Livia masih dengan kemarahan di wajahnya. Dari belakang seorang wanita hendak menyerang Keke tapi tangannya dengan cepat ditahan satu tangan Benaya.


"Jangan main kasar... kalian bisa kena ancaman hukuman, ada cctv di sini. Saya juga bisa main kasar kalau saya mau!!"


Suara Ben serta tatapannya sangat mengintimidasi membuat istri si Rocky menarik tangannya dan mundur.


"Pergi kalian...!"


Suara Berat Ben terdengar lagi, dia masih berdiri tegap di antara Pasangan itu dengan Keke dan anak-anak. Keke mendudukkan Via yang terisak di bangku tadi di samping Lisya yang juga menangis sekarang. Keluarga itu pergi, anak mereka juga sudah teriak-teriak tak keruan.


Keke bingung mau menenangkan siapa, dua ponakannya sudah menangis. Dia hanya bisa berjongkok memeluk keduanya. Padahal sebelum ini mereka sangat gembira. Rasa trenyuh merambat di hati Keke melihat dua bocah ini.


Sebuah usapan dia rasa di kepalanya sebentar saja, tapi aneh rasa yang ditinggalkan begitu melekat... meninggalkan sebuah ketenangan, seperti mengambil sedikit bebannya. Terlebih ada suara lembut yang menyusul kemudian...


"Rens... kita pulang ya..."


Keke tak menjawab tapi dia berdiri dan sadar ada beberapa orang yang memperhatikan mereka, ya mereka ada di tempat yang ramai. Keke menggendong Lisya yang masih menangis senggukan. Trolly sudah didorong seorang sekuriti, entah kapan Ben memanggilnya. Dia mengikuti Ben yang sudah menggendong Via. Seharusnya hari ini sempurna, tapi...


.


.


Happy Reading....


JEJAK kalian semua mana.... hehehe 😊


✳

__ADS_1


__ADS_2