Fate Or Destiny

Fate Or Destiny
Eps. 62. Ibu Pengawas


__ADS_3

Keduanya kini menangis bersamaan, atmosfir keharuan menyelimuti ruangan sempit itu. Ben juga terharu, ingin sekali ikut memeluk kekasihnya, tapi dia memberi ruang untuk mama dan putrinya menguatkan kembali benang emas ibu-anak yang sempat renggang.


Akhirnya keduanya saling melepaskan diri. Keke kembali ke kursinya. Ben sigap menyambut dengan kedua tangannya membantu Keke duduk. Tangan memeluk dari samping kemudian berpindah mengusap punggung Keke.


Gadisnya jadi suka menangis sekarang, tapi itu lebih baik dari pada dia terus-menerus menyimpan emosinya.


"Mama siapin sarapan ya..."


Ucap mama sambil mengeringkan air matanya dengan bagian leher kaosnya.


"Gak usah tante, saya udah makan dengan om Ramly sebelum berangkat ke sini."


"Oh... kalian dari Tomohon?"


"Dari Manado tante, om Ramly ada di rumah Rens..."


"Oh begitu..."


Si jutek yang tadi ada di depan warung yang sempat membuat Keke kesal  berdiri di depan pintu...


"Tante... aku mau pergi, udah dijemput teman aku. Warung kak Tom yang jagain."


"Ehh, tidak usah. Tante tutup aja."


Mama bergegas ke depan.


"Aku minta uang jajan..."


Si jutek yang berubah centil saat di dekat Ben teriak ke arah mama, kemudian masuk ke dalam mendekati kursi dua susun dan kini duduk seperti bu pengawas di depan Keke dan Ben, menatap tanpa berkedip ke arah Keke dan Ben ganti-gantian, tentu paling lama di wajah dan tubuh atletis Ben. Ben yang memandang sekilas, langsung menangkap pola lemak bertingkat empat, teringat burger, dan teringat roti yang dia beli untuk buah tangan bagi calon mama mertua.


"Rens, aku lupa turunin roti, aku tinggal ya, ke mobil sebentar... ada juga dus titipan si Rommel."


"Ya udah sama-sama aja..."


"Gak, kamu di sini aja. Dek... siapa nama kamu?"


Ben memandang si centil yang masih menjadi ibu pengawas... otak bossnya langsung beraksi, memanfaatkan tenaga super dari si centil.


"Shellomita kak... panggil Shello aja kak nama manja aku..."


Ben menyimpan senyumnya, tapi Keke langsung cemberut karena Ben beramah-ramah pada si centil yang makin centil dengan senyum lebarnya.


"Bantuin saya turunin dus dari mobil."


Ben langsung berdiri dan keluar, diikuti Shello yang terlihat girang banget. Keke yang ditinggal sendiri berdiri dan berjalan ke pintu belakang. Sejujurnya dia kaget dengan kondisi tempat tinggal sang mama. Jika mama tinggal di rumah depan, dia tidak mungkin menerima Keke di ruang belakang ini. Di pintu belakang dia melihat sebuah dapur yang sempit dan sebuah wc. Dari depan sampai belakang semua dindingnya tidak dicat, lantai pun hanya plester kasar. Dibandingkan rumah lama mereka di Manado yang sekarang sudah dirombak total, rumah itu jauh lebih nyaman dari pada rumah ini.


Kenapa mama tidak tinggal di rumah depan ya?


Ada suara orang bercakap di belakang dinding dapur, Keke mengintip dari lubang ventilasi yang rendah. Rupanya bagian belakang dapur ini area dapur juga dari rumah utama. Ada seorang pria dan wanita di sana, si wanita sedang memasak.


"Mana minyak goreng sama telurnya?"


Suara si wanita.


"Belum sempat aku ambil, tante keburu datang, warung dia tutup sekarang."


Jawab si pria.


"Kelamaan sih kamu... mana tante mau kamu jagain warung..."


"Siapa sih tamu si tante..."


"Kata Shello anaknya tante."


"Mau apa sih mereka ke sini? Mau ngemis apa lagi anak tante itu. Anak cowoknya aku ancam, makanya gak ke sini lagi. Awas aja aku lihat mereka ambil apa-apa dari warung, aku bongkar warung itu..."


Kalimat si pria membuat Keke geram, tapi dia menahannya ingin mendengar kelanjutannya. Dia penasaran dengan kehidupan mama sekarang.


"Tom... hati-hati, anak-anaknya mulai ke sini, jangan sampai kecolongan papa dirayu, si tante minta semua milik papa, papa sudah sakit-sakitan, papa mendadak mati, tahu-tahu kalian gigit jari."


"Tenang saja, makanya kita tinggal di rumah ini biar tante gak nipu papa, kita awasin terus dia. Kalau papa mati, tante langsung aku usir, dia gak punya hak sepeserpun atau sejengkalpun milik papa..."


"Tapi aku gak tahan sama adik-adik kamu... si Shello makannya banyak Tom, kalau aku gak simpan makanannya pasti dia habisin sekali makan... gak mau bantuin aku pula, tapi sama tante dia deket banget di suruh apa aja mau. Adikmu si Arfie lebih parah, istrinya seperti tuan putri di sini, pemalas. Masa aku harus masak untuk semua orang sih..."

__ADS_1


"Bertahan aja Sarah... kalau gak gitu gak ada alasan kita pegang semua uang papa, nanti papa kasih semua ke tante aku gak mau seperti itu, enak aja si tante menikmati harta milik kita. Lagi pula kamu yang atur semua uangnya kan..."


Hati Keke mendadak sakit mendengar tuduhan dan prasangka jahat mereka untuk mama termasuk dirinya dan Rommel. Mengetahui bagaimana mama diperlakukan di sini membuat bathinnya teriris, terlebih karena dia juga tidak memperlakukan mama dengan baik. Keke menghapus air di sudut matanya, dia bertekad untuk berdiri di samping mama sekarang, hidup mama memprihatinkan ternyata.


Dia bisa pastikan pria dengan tuduhan jahat itu salah satu anak dari suami mama, dan si wanita pasti istrinya.


Kehidupan seperti apa yang mama hadapi setiap hari?


Keke ke depan saat mendengar suara girang si centil yang masuk dengan membawa empat kantong besar berisi segala macam roti dari gerai roti berlogo kincir angin. Sementara Ben dan mama masing-masing memeluk dus besar titipan si Rommel.


"Apa yang kalian bawa? Banyak banget..."


Mama bertanya sambil membuka dus yang sudah diletakkan di atas meja. Segala macam sayuran dan bumbu dapur ada di dalam dus itu.


"Kalian belanja di pasar sebelum ke sini?"


Keke tersenyum di antara sakit hatinya. Mama terlihat senang melihat apa yang mereka bawa. Keke bersyukur Rommel ingat itu, dia sama sekali tak terpikirkan membawa sesuatu. Besok-besok jika ke sini lagi dia pastikan akan membawa lebih banyak, kalau perlu semua kebutuhan mama. Ego Keke tergores di sini.


Astaga, anak-anak mama dituduh mau datang mengemis?


"Tante sama papa gak suka roti kan? Aku bawa ke depan, buat aku aja semuanya..."


Shello menatap rakus empat dus besar berisi roti itu. Keke menatap mamanya.


"Dia benar, mama dan om tidak suka roti."


"Kamu umur berapa?" Keke ingin memastikan sesuatu.


"Bentar lagi 16 tahun, udah bisa pacaran kok..."


Shello mengerling manja pada Ben. Keke terbatuk, sementara Ben menahan tawa. Ternyata Shello centil ini masih bocah, pantas aja dia marah saat Keke menyapa dia dengan sebutan tante tadi. Mukanya terlalu dewasa sih ya, kata-katanya juga waktu baru bertemu seharusnya gak ada di otaknya yang masih remaja... Keke jadi salah sangka.


"Ehhh... kamu adik saya berarti. Panggil saya kak Keke, ok? Bawa semua roti ini ke depan, tapi ingat bagi ke semua orang di rumah depan. Lain kali saya bawa lebih banyak biar kalian puas..."


Suara Keke yang tegas membuat si bu pengawas berubah jadi anak TK.


"Yaa kak... gak cukup buat aku kalau cuma dapet 1 atau 2, di depan pasti kak Tom ambil semua buat anak-anaknya..."


Oh si Tom yang tadi, dia rupanya raja di rumah ini, yang membuat mama hidup jauh dari sejahtera di belakang sini.


Keke menyodorkan tiga lembar uang merah yang dia ambil dari saku jeansnya. Tadi Ben menolak niatnya membayar di pompa bensin.


"Wow... kakak cantik baik banget..."


Si adek yang masa pertumbuhannya overdosis sudah gak jutek lagi, dia hampir melompat kegirangan, untung gak jadi, bisa terjadi gempa lokal di sini.


"Ikee... itu terlalu banyak..."


Mama melotot pada Keke.


"Gak papa ma... baru pertama ketemu kan..."


"Nih saya tambahin... "


Ben ikut menyodorkan 2 lembar merah pada si centil. Otak pintar biasa merancang strategi bisa menangkap sesuatu dari perubahan sikap Keke pada si adek yang baru bertemu. Tadi dia kesel banget sekarang berubah jadi dermawan, pasti ada alasannya.


Sementara Shello matanya hampir melompat keluar.


"Kakak ganteng juga baik banget..."


Mata Shello berkedip-kedip manja pada Ben, Keke risih melihat itu, dia menoyor jidat lebar di depannya.


"Jangan godain kakak ipar kamu, ngerti?"


"What? Kakak ganteng ini kakak ipar aku? Pacarnya kakak cantik ya?"


"Pintar kamu..."


Keke menjawab pendek. Sementara Ben tak bisa lagi menahan ketawanya. Kelakuan Keke terlalu imut kali ini, dia mengaku tidak cemburu tetapi terganggu dengan sikap Shello yang sejak tadi mencari perhatian si Ben. Bagaimana si Keke kalau beneran cemburu ya?


"Huahhh, aku patah hati..."


"Ehh... udah sana bawa rotinya... mau saya ambil lagi uangnya?"

__ADS_1


"Jangan dong kakak cantik, aku bisa beneran patah hati gak jajan..."


Shello segera menghilang membawa roti ke depan, mama ke dapur mengatur bahan-bahan yang Keke bawa.


"Rens?"


Keke memahami Ben acapkali hanya menyebut namanya jika butuh penjelasan tentang sesuatu.


"Shello baik sama mama, mungkin satu-satu yang memperlakukan mama dengan benar di rumah ini..."


Ben masih mengernyitkan dahi, tatapan belum lepas dari mata Keke, mata masih mengandung tanya."


"Nanti aku cerita..."


Mama muncul...


"Ike dan Ben makan siang di sini ya... mama sudah selesai masak ikan sejak tadi, nanti pas mau makan baru mama masak sayur..."


"Iya ma... setelah makan siang kami pulang..."


Ben senyum menyetujui saja keputusan Keke untuk tinggal lebih lama, meskipun dia mulai merasa gerah dengan cuaca yang mulai semakin panas.


Si Shello udah balik lagi. Mama memandang heran.


"Katanya mau pergi kamu?"


"Disuruh kak Tom ke sini lagi..."


"Ngapain?"


"Disuruh ngawasin kakak berdua, disuruh lapor ke kak Tom kalau kakak berdua nanti bawa sesuatu dari sini..."


Shello menjawab polos pertanyaan mama, dan itu langsung membuat hati Keke panas lagi.


"Shello... bilang sama kak Tom kamu, saya gak akan ambil apapun dari sini oke? Bilang juga saya punya banyak uang, saya punya usaha sendiri, pendapatan saya banyak, papa saya orang kaya dan calon suami saya juga banyak uangnya. Kamu tahu Mall Marina Bay di Manado? Kak Bens boss dari perusahaan yang bangun mall itu. Jadi bilang ya saya gak datang ngemis di sini!"


"Reennss!"


Ben menarik Keke ke dalam rangkulannya. Dia tahu Keke kalau sudah tersinggung akan seperti itu. Tapi kali ini mungkin salah tempat, Shello hanya remaja yang tak mengerti apa-apa, terlihat kaget karena Keke bersuara keras dan marah padanya. Mama juga kaget. Ben tahu ada sesuatu saat Keke tiba-tiba berubah pada Shello, dan kalimat panjang penuh emosi tadi pasti ada pemicunya.


"Shello, kak Keke gak marah sama kamu ya..."


Ben menenangkan remaja bongsor itu yang terlihat mau menangis.


"Kakak cantik gak marah sama aku?"


Suara Shello masih tercekat mungkin belum hilang kagetnya.


"Iya... mungkin kak Keke tahu sesuatu makanya jadi marah-marah."


"Kata kak Sarah, mobil di depan pasti sewa atau pinjam, gak mungkin kakak cantik punya mobil mewah..."


"Itu mobil kak Bens, saya punya mobil sendiri, papa saya punya 18 mobil!"


Emosi Keke belum surut meski sudah dirangkul Benaya. Sebetulnya Ben pengen tertawa karena Keke jadi kekanakan pamer ini-itu. Sementara mama terlihat tak berdaya bersandar diam di kusen pintu dapur.


"Udah Rens... kasihan mama loh..."


"Ma... mama tinggal dengan Ike aja... ikut Ike pulang. Ike gak mau kita direndahkan sama mereka. Ike sanggup nanggung biaya hidup mama... rumah mama di Manado jauh lebih bagus... kita pulang ma..."


"Ike... nanti kita bicara ya... lagi pula mama tidak mungkin ikut Ike, mama punya suami..."


"Ma... kenapa mama bertahan tinggal bersama orang-orang yang gak baik sama mama..."


"Mama bertahan karena saat menikah lagi, mama memutuskan itu pernikahan terakhir mama. Cukup dua kali mama tidak menghargai janji mama dengan suami untuk sehidup semati. Kali ini mama harus bisa Ike..."


Mama menjawab sambil tertunduk, suatu kalimat yang tidak bisa disanggah Keke.


.


🍀


.

__ADS_1


💚


__ADS_2