
Setelah makan siang, ada percakapan di meja makan, lebih tepatnya Keke yang mendengarkan dengan penuh perhatian cerita papa Ramly soal bagaimana membangun bisnis holtikulturanya hingga bisa seperti sekarang dengan omset penjualan yang membuat Keke ternganga.
Sebenarnya Keke punya banyak pertanyaan, tapi dia merasa tak enak memulai juga tak tahu bagaimana menanyakan itu. Lagi pula wajah papa sejak tadi terlihat senang sekali, tidak sopan sepertinya menyinggung masa lalu.
"Ike... bagaimana kabar mama?"
Akhirnya pembicaraan berganti. Sekarang mereka berdua saja si kak Lody sudah tidak terlihat. Mereka duduk di ruang keluarga yang begitu luas. Papa hanya berdua kak Lody di rumah ini tapi membangun rumah yang sangat besar. Para pekerja di rumah ini pun tampaknya punya tempat tinggal sendiri.
"Eh... Ike jarang menelpon mama..."
"Tapi mama sehat kan?"
Keke menatap wajah sang papa dan melihat garis sendu muncul di wajah itu, berbeda dengan ekspresi sebelumnya.
"Mungkin... kalau mama sakit pasti memberi tahu kita."
"Maafkan kami ya nak..."
"Itu sudah berlalu..."
"Papa sempat menjemput Ike waktu tahu Ike dibawa ke Jakarta, tapi tidak bisa membawa Ike pulang karena Ike sah diadopsi Vosye. Walaupun bingung kenapa Ike bisa diadopsi, papa dan mama kandung masih ada seharusnya tidak bisa, tapi papa mengalah karena mungkin Keke lebih baik bersama mereka dibanding dengan papa yang sendiri..."
Papa pernah berniat membawanya pulang? Keke tidak tahu hal ini.
"Pa... kenapa tidak menikah lagi?"
Keke bertanya sangat pelan, takut menyinggung sang papa. Terlebih sinar wajah papa sejak tadi masih sama.
"Ike masih kecil waktu papa dan mama berpisah... baik, papa cerita sedikit, mungkin sebaiknya Ike tahu sekarang karena Ike sudah dewasa, suatu saat pasti menikah, jadi jangan sampai seperti kami. Ike boleh tanya mama juga untuk melengkapi."
"Papa dan mama bertemu di Jakarta. Papa sempat kerja di pengeboran minyak lepas pantai shift kerja satu bulan di laut satu bulan di darat. Satu bulan di darat papa pulangnya ke Tanjung Priok ada kerabat papa di sana. Kenalan dengan mama karena papa suka nongkrong di resto Bambu Den bersama teman, mama manajer di situ."
"Mama statusnya cerai sama papanya Bonita. Singkatnya kami menikah, keluarga papa kurang setuju. Saat Ike 2 tahun, papa diminta pulang karena opa sakit-sakitan, papa anak lelaki satu-satunya, opa ingin papa yang teruskan usaha kayu dan mebel opa di Leilem. Papa membawa kita semua pulang."
"Mama kesulitan beradaptasi di desa, terbiasa di Jakarta, di samping itu keluarga papa masih sangat konservatif. Cara berpakaian mama, cara bicara, sikap mama pada opa dan oma, semua jadi bahan gunjingan. Terlebih status mama saat papa nikahi itu sensitif, itu jadi alasan opa dan oma kurang menerima mama. Dalam nilai-nilai yang mereka anut papa dianggap berzin ah karena mama itu cerai hidup."
Papa berhenti sejenak, menghembuskan napas dengan berat, guratan kesedihan sekarang bertambah, bahkan ada genangan air mata di pelupuk matanya.
"Pa... nanti aja, gak apa-apa, kita teruskan lain kali..."
Keke merasakan kesedihan papanya, bahkan melihat luka di mata itu.
"Papa teruskan ya... biar Ike tidak bertanya-tanya..."
"Karena mama tidak tahan tekanan di desa, papa beli rumah yang sekarang Ike tempati dengan tabungan papa saat kerja di perusahaan asing waktu itu."
"Pindah ke Manado, papa pikir persoalan selesai. Opa jatuh sakit lagi, dan mama diserang keluarga sebagai pembawa sial. Papa juga tertekan dengan usaha yang belum berjalan baik, kami jadi sering bertengkar, papa pulang ke Leilem karena opa kritis mendekati ajal juga menghindari pertengkaran."
Papa membuang napas dengan berat, luka lama seperti bangkit lagi, hal yang dia simpan sendiri selama ini...
"Akhirnya mama menggugat cerai, papa tidak mau, tidak ingin pisah, meminta waktu untuk menyelesaikan dengan keluarga papa. Tapi mama hanya mengirimi papa surat meminta rumah di Manado untuk Ike, dan tau-tau akta cerai sudah ada. Ternyata mama dibantu papanya Rommel, katanya teman lamanya mama. Papa tak bisa berbuat banyak untuk Ike karena masih kecil harus ikut ibu. Papa bersalah karena lama meninggalkan kalian sehingga mama akhirnya memilih pisah."
__ADS_1
Sekarang papa menangis.
"Maaf Ike... papa dulu lemah dan tidak berusaha bertahan dengan mama juga tidak berjuang untuk Ike... maafkan papa..."
"Papa tidak menikah lagi, bagi papa istri papa satu aja, mama, meskipun sekarang tidak bersama lagi... hiks..."
"Papa..."
Keke berpindah dari tempat duduknya, duduk di samping papanya. Pertemuan mereka selalu diwarnai airmata penyesalan sang papa.
"Sekarang ada Ike bersama papa, jangan sedih lagi ya..."
"Nak..."
Papa Ramly memeluk anaknya. Banyak waktu telah hilang, tapi anaknya bisa dia miliki lagi.
"Sering-sering ke sini ya... nanti papa juga akan sering mengunjungi Ike."
"Iya pa..."
Papa akhirnya bisa tenang lagi. Keke beranjak keluar dari ruangan, tadi dia penasaran dengan pemandangan dari teras samping, selain itu tak ingin papa terus bersedih mengingat masa lalu. Papa mengikuti Keke.
"Papa sengaja buat teras di sini, karena viewnya bagus..."
"Iya pa... pemandangan dari atas sini sangat indah, seluruh kota Manado terlihat dari sini."
"Iya..."
"Belum lama, tiga tahun mungkin... tadinya dengan oma di Leilem. Saat oma meninggal papa menetap di sini."
"Oh gitu. Eh... kak Lody sudah lama ikut papa?"
"Lody? Berapa tahun ya... sejak dia SMP, 15 tahun mungkin. Dia anak dari salah satu karyawan papa dulu, dia yatim-piatu. Papa bantu mengasuh dia aja, beda dengan Ike yang diadopsi. Tapi dia sangat membantu papa, dia S1 pertanian, ilmunya berguna untuk usaha kita."
"Oh..."
.
.
Sore hari, udara yang semakin dingin, Keke tak tahan lagi, meskipun sudah menggunakan sweater tapi dirinya belum terbiasa. Kulit kaki di bawah lutut sudah semakin dingin dan terasa ngilu di persendian.
"Pa... Ike mau pamit kayaknya, kasihan anak-anak kalau Ike kelamaan pergi, terutama si Lisya..."
"Oh... Ike makan malam aja dulu baru pulang..."
"Gak usah pa... nanti di Manado aja, lagi pula Ike belum hafal jalan, kalau kemalaman takut kesasar..."
"Ke... mobil Ike sudah diantar karyawan..."
Lody yang baru keluar dari kamarnya datang mendekati Keke yang sudah duduk di sofa lagi. Semakin bebas dia, duduk dekat Keke di sofa three seater itu.
__ADS_1
"Eh?? Udah pergi?"
"Iya... tadi kebetulan ada beberapa mobil kita yang jadwal mengantar bahan ke restoran-restoran langganan. Kak Lody suruh aja satu sopir sekalian antar mobil Ike, nanti pulang ke sini sopir itu ikut mereka..."
"Eh... terus Ike gimana?"
"Kamu kakak antar. Mau berangkat sekarang?"
Keke heran kakak yang ini melakukan sesuatu untuknya tanpa mengkonfirmasi dulu. Mau gimana coba sekarang selain ikut dengannya...
"Eh... i.. iiyaa, sekarang."
Keke berdiri mengambil tas di meja. Keke selama ini dominan dalam memutuskan sesuatu, berubah setelah Ben hadir dan sekarang kakak angkatnya juga bersikap sama padanya.
"Papa, Ike pamit ya..."
"Ike gak bawa sesuatu dari sini?"
"Gak usah pa... kemaren yang papa bawa belum kita gunakan..."
"Oh... baiklah... Lod hati-hati ya..."
"Iya pa..."
.
.
Perjalanan lebih singkat dibanding saat Keke berangkat, 45 menit saja buat Lody yang lincah membawa mobil terlebih jalan yang terus menurun dan jalan yang tidak terlalu ramai, tanpa terasa mereka sudah tiba di Manado. Lody berusaha membangun komunikasi dengan bercerita macam-macam soal kegiatannya pribadi, soal beberapa peristiwa dengan papa. Keke menjawab pendek dan menanggapi seperlunya, Keke memang tidak seluwes Lody di sini. Duduk berdua saja di mobil itu membuat Keke ingin mereka cepat sampai di tujuan.
Akhirnya...
Di pintu samping ruko, seperti biasa di hari minggu lalu-lintas masuk adalah lewat pintu samping, Keke turun dari mobil, Lody juga. Keke membuka sweater putih yang dia gunakan sejak siang dan menyodorkannya saat Lody sudah di dekatnya.
"Makasih kak, udah pinjamin sweaternya..."
"Oh... ini buat Ike aja..."
Lody kembali memakaikan sweater itu ke tubuh Keke. Eh... ampun deh kakak yang ini, kan udah gak dingin lagi, udah di Manado suhu udah 35 atau 36° lagi. Keke yang agak bingung dan masih sedang orientasi tempat lagi akhirnya hanya mengambil ponsel dari tas yang sudah tertutup sweater... menelpon tante Wisye minta bukain pintu.
Seseorang dari terasnya sedang galau ditinggal sang pacar tadi yang juga menyesali tertidur begitu lama sehingga tak bisa pergi bersama sang pacar, yang juga bosan menunggu sang pacar pulang, mana telpon tak dijawab... haduuuh.
Sekarang dia terperangah melihat kekasihnya datang dengan seorang lelaki dan terlihat begitu dekat. Dan apa-apaan itu? Dia tak suka adegan memakaikan kembali sweater putih itu, dengan terang lampu jalan itu terlihat seperti sikap romantis seorang kekasih. Dengan gerakan cepat, berlari dia turun dari teras rumahnya dan dalam hitungan detik sudah ada di depan pintu ruko yang belum terbuka... Posisi Keke masih berdiri dekat dengan Lody.
"Rens..."
.
.
✴
__ADS_1