
Ben masih berdiri di teras atas rumahnya. Kelembutan angin di sore hari yang mulai mengganti cuaca panas sepanjang siang seperti masuk juga ke pori-pori kulitnya. Perasaannya pun ikut melembut, dia lupa seketika omongan mama Talitha, lupa perasaan jengkelnya karena harus mencari seseorang dari masa lalu. Matanya sekarang terpaku pada pemandangan menyejukkan.
Dan Ben masih saja menatap wanita itu yang sesekali mengangkat kepalanya memandang ke ujung lorong. Tak lama sebuah truk terlihat masuk, mamanya Yica langsung berdiri, rupanya dia sedang menanti itu. Memang belum pernah dia melihat wanita itu bersantai tak melakukan apa-apa, kemunculan dirinya di lorong itu selalu karena melakukan sesuatu, entah membuang sampah, menurunkan belanjaan, bahkan sering membersihkan lorong sepanjang bangunan ruko itu.
Sesuatu berubah dalam hidup Ben, perubahan yang belum dia sadari. Dia mencari damai batinnya pada sosok itu. Ben masih memperhatikan kesibukan yang terjadi setelah kedatangan truk pengangkut bahan bangunan, terutama aktivitas mama Yica yang mengecek satu persatu setiap item yang diturunkan, perempuan yang teliti nampaknya. Ben tersenyum saat melihat aktivitas penutup, mama si Yica memberikan tip kepada tiga orang karyawan toko bangunan yang langsung tersenyum lebar.
Kembali hal yang sama terjadi, Keke hendak menutup pintu samping dan menemukan seseorang sedang memandang langsung kepadanya. Tatapan mereka berlangsung sedikit lebih lama, memunculkan reaksi berbeda di diri masing-masing. Saat mengunci pintu, Keke bertanya-tanya...
"Apa dia mengenali aku sekarang?"
Di tempat yang berbeda...
"Kenapa cepat-cepat menutup pintu sih? Belum puas memandangmu..."
Ben menunduk di sisi railing pagar terasnya, tangan masih bertumpu pada pagar besi hitam itu. Dia mulai menggali rasa di hatinya sendiri. Kembali dia tertarik dengan seorang wanita, setelah sekian lama. Ketertarikan ini terasa lebih kuat, ada sesuatu yang tidak dimengerti yang selalu menarik dia di sisi teras ini setiap kali dengan harapan menemukan pemandangan berharganya, sosok wanita itu.
.
🥣🍲🥘
.
Ben naik ke lantai dua kantornya, melewati si Kindy yang akhirnya jadi FO, tanpa bicara atau sekedar mengangguk pada Kindy yang menyapa Ben dengan sangat manis.
Kembali tidak diacuhkan Kindy masuk ke ruangan pak Boy yang ada di lantai satu itu dengan muka cemberut.
"Pak Boy... gak bisa apa usahakan gw jadi staf di lantai atas... mana bisa gw ngedekin si boss kalau cuma jadi FO..."
"Kind... terima aja, masih untung kamu gak masuk daftar karyawan yang dipangkas si Ben itu... Saya pasang badan pertahankan kamu loh..."
"Kenapa sih bapak setuju aja dia main atur kita di sini..."
"Saya gak tahu kenapa kali ini ada orang pusat yang turun langsung, biasanya kalau dapat proyek, mereka hanya datang cek progress proyeknya. Kontraktor yang ini lain... udah sana ke tempat kamu lagi, ada cctv sekarang di semua ruangan..."
Wanda yang ada di ruangan itu mengulum senyum. Kali ini bosnya kena batunya, gak bisa berkutik, terutama soal keuangan. Si Kindy juga gak bisa menarik perhatian si bos Ben.
"Katanya, gak lama si boss udah nempel sama kamu..."
"Apa!!!"
__ADS_1
Si Kindy keluar ruangan hanya bisa melengos ke Wanda.
"Far... kamu bawa apa?"
Kindy melihat sebuah peluang ke ruangan boss. Farly sedang menenteng sebuah plastik hitam besar berisi kumpulan berkas.
"Punya bos..."
"Sini gw bawa ke atas..."
"Ya udah... awas ada yang kececer..."
Kindy naik ke atas, lumayan berat ternyata, sialnya dia lagi pakai highheels serta rok span pendek, mana anak tangganya pas seukuran telapak kaki. Penuh perjuangan Kindy sampai ke lantai dua. Di ruangan itu dia ditatap dengan wajah aneh oleh Fransien dan Hapsari.
"Ngapain ke sini?"
Kalimat tajam langsung lolos dari mulut Fransien. Dia kurang suka anak FO yang kelihatan sekali suka cari perhatian sama boss. Kelihatan sekali juga modal cuma di wajah sama bodi, sedangkan isi otak semata kaki.
"Ini bawa berkas punyanya pak Benaya..."
Kindy menjawab ketus langsung menuju ruangan si boss, mengetuk pintu...
Kindy mengusahakan sapaannya terdengar lembut nan merdu. Ben hanya melirik sepintas tak menjawab, perhatian tak terbagi tetap di laptop yang baru dihidupkan.
"Pak Benaya... saya bawa ini... tadi Farly nitip ke saya..."
"Letakkan di meja dan cepat keluar..."
Suara datar dengan nada tak peduli itu menggema.
"Pak Benaya, Kindy..."
"Keluar!!!"
"Kindy ada keperluan pak..."
Si Kindy masih berusaha...
"Saya tidak ada urusan dengan kamu. Keluar sekarang!!!"
__ADS_1
Kasar... suara naik 3 oktaf tanda marah. Ben teriak dengan jari menunjuk pintu yang terbuka. Si Kindy tahu tak ada gunanya tetap memaksa bicara, akhirnya keluar dari ruangan disambut raut puas dan senang dari Fransien.
"Lu masih berani gangguin boss? Boleh kok coba lagi, entar lu dipecat tau rasa, keganjenan sih..."
Kindy gak bisa beradu kata. Pedenya hilang seketika, suara tadi mengerikan. Kindy jadi kapok. Sepertinya kerjaan kali ini jadi kurang menarik, gak mungkin menikmati bonus-bonus karena 'kedekatan' dengan boss-boss seperti sebelum ini.
Fransien menggerutu di mejanya, trik gadis itu mudah terbaca. Dia kesal setiap kali melihat ada perempuan yang mendekati bossnya, bahkan di kantor pusat sana, dia adalah pengamat yang baik untuk hal ini, dia tahu siapa saja yang mengincar si boss. Dan dongkolnya Fransien, si boss malah tidak tahu nama dia dan dari divisi apa sebelumnya. Padahal sebenarnya dia juga punya rasa untuk si boss.
"Pak Benaya sudah kebal sih jika hanya tipe cewek seperti si Kindy, banyak yang lebih gigih parah memperjuangkan perasaan mereka. Mereka ngasih-ngasih barang apa gitu mahal-mahal pula... lah... dia modalnya apa, malah niatnya morotin kan?"
"Fran... kamu kenapa? Tumben peduli... biasa aja kali, urusan boss lah soal itu..."
Hapsari bertanya heran Fransien marah hanya karena si Kindy naik ke sini.
"Kesel aja pagi-pagi udah denger boss teriak gara- gara si Kindy."
"Boss lebih kesel lagi kalau tau kita belum mulai kerja. Udah... entar dia teriakin kamu malah kalau kerjaan kamu gak beres..."
"Sari... tipe wanita seperti apa sih yang boss cari ya...? Yang cantik dan smart kayak Ferna gak digubris, yang baik kayak bu Andien dicuekin, yang kaya punya perusahaan adiknya pak Nicolaas juga lewat kayaknya..."
"Aduuuh Fran... jangan diurusin ah... kenapa kamu penasaran, jangan-jangan kamu suka si boss juga ya?"
"Eh... gak, siapa bilang..."
"Ya udah jangan gibah pagi-pagi..."
Di ruangannya, suara Fransien bisa didengar si boss Benaya, dinding penyekat ruangan tak bisa meredam suara. Benaya tak menyangkali itu, wanita seperti apa yang dia cari selama ini? Dia pria normal tentu saja, sesekali dia juga memikirkan wanita, sesekali dia juga memikirkan menikah seperti yang selalu ditanyakan papa mama. Tapi belum ada wanita yang menggoncangkan rasa di hatinya... apa mungkin wanita itu? Si mama Yica? Janda loh, anaknya dua???
Cari tahu terus Ben... mulai penasaran kan ya... rasanya sesuatu mulai terjadi di hati seorang Benaya karena dia...
.
.
Semoga readers semua selalu sehat dan enjoy membaca tulisan aku....
.
✴✴✴
__ADS_1