Fate Or Destiny

Fate Or Destiny
Eps. 77. Kontrak Seumur Hidup


__ADS_3

Saat yang dinanti... akhirnya tiba. Dua kekasih masuk dalam keseluruhan ikatan yang sungguh-sungguh dalam kesatuan pernikahan yang suci. Berdua berdiri di altar kudus dalam momen penyatuan kesejatian hubungan suami dan istri, satu ditambah satu menjadi satu, bukan sebuah konsep matematika tetapi konsep kudus sebuah pernikahan dalam rancangan mulia-Nya bagi eksistensi abadi sebuah rumah tangga.


"Saat pacaran, jarang ada perdebatan dengan pasangan, semua ok aja, saling setuju dan bertoleransi dalam banyak hal. Kelakuan minus pasangan menjadi sebuah kelucuan, dan ketidaksukaan tentang sesuatu dalam diri pasangan sepertinya jarang sekali berakhir pada sisi berlawanan. Ketika ada gangguan dalam hubungan cepat-cepat ingin menyelesaikan. Justru sesaat setelah marahan pasti ada momen manis yang tercipta, hubungan makin naik ke tingkat yang lebih intens, seolah semua dapat dipahami dengan mudah".


"Tapi saat menikah, semua akan menjadi berbeda. Niat hati untuk menjadi istri atau suami yang paling menyenangkan, paling mengerti, saling memberi dan saling menerima karakter masing-masing, tidak akan berjalan semulus angan-angan."


"Kalian harus mulai menyiapkan hati dari sekarang... komitmen kalian untuk saling membahagiakan harus kuat, ada tembok dalam ego kalian yang harus mulai dirobohkan karena setelah menikah kalian bukan lagi dua tetapi menjadi satu dalam ikatan kudus pernikahan, tak boleh ada kata perceraian dalam bahasa kalian."


"Suami diperintahkan untuk mengasihi istri seperti mengasihi diri sendiri, istri diperintahkan untuk tunduk dan menghormati suami. Dan ujian terhadap hal itu justru banyak terjadi pada detil sederhana dalam hidup sehari-hari, hubungan bisa memanas hanya karena hal-hal sepele. Jika hal-hal tidak berjalan sesuai impian kalian, jika ada banyak masalah yang menerpa kalian ingatlah janji suci pernikahan kalian: Cinta kalian menginginkan sehidup semati, terus bersama hingga maut memisahkan... itu harus diupayakan... sehingga mahligai rumah tangga kalian langgeng dan bahagia...


Panjang lebar nasihat pernikahan disampaikan untuk Benaya dan Renske, saat berdiri berhadapan, dengan tangan mereka saling menggenggam, setelah keduanya membacakan Janji Suci Pernikahan.


Keduanya saling melempar senyum penuh bahagia, rasa cinta yang utuh begitu sempurna menyebar di seluruh pori-pori kulit mereka berdua, rona yang nyata memancar dalam ekspresi kedua mempelai itu di altar Pemberkatan Nikah mereka, dengan banyak saksi di sekeling mereka bahwa cinta mereka sekuat maut, sedalam samudra, setinggi bintang dan seluas bentangan langit.


"Kalian boleh berciuman di hadapan semua orang, itu sah sekarang sebagai suami istri... silahkan."


Mata yang saling mengunci dalam kekaguman penuh cinta, menyatakan bahwa keindahan bukan lagi khayalan, dahaga hasra t untuk saling menyentuh dalam kebebasan bukan lagi imajinasi, cinta tumbuh sejak lama tapi hari ini bunganya mekar begitu indahnya.


Ciuman kali ini berbalut haru karena status yang baru, penyatuan dua bibir itu menyingkap rahasia yang dalam bagaimana keduanya begitu saling menginginkan. Dengan lembut Ben menyesap bibir istrinya, yaa... Rensnya telah jadi istrinya sekarang. Keke menerima dengan debaran saat kedua telapak tangan kak Bensnya menangkup lembut sisi wajahnya dan mulai membalas sama lembutnya ciuman berjuta makna dari suaminya di hari terindah hidupnya.


Tak ada yang menginterupsi momen bahagia ini, semua mata memandang dan tersihir pada pancaran pesona cinta yang dinyatakan oleh suami dan istri yang baru. Banyak cahaya blitz kamera ikut mengabadikan saat penuh keindahan ini, saat kedua mempelai menikmati kebahagiaan yang lebih besar.


Sesaat setelah ciuman terlepas, Ben beralih memegang kedua tangan Keke, menatap penuh kasih dan dengan suara dalam dan sedikit bergetar Benaya menyatakan kalimat cintanya...


"Istriku... Renske Eunike Supit, kamu adalah cermin jernih di mana aku dapat memandang diriku sendiri, aku bahagia dengan diriku yang mencintaimu... aku terpesona dengan cara Tuhan menyatukan cinta kita. Aku berjanji di hadapan Tuhan... aku tak akan melepaskanmu, aku akan tetap berada di sisimu, sampat ragaku terpisah dari jiwaku..."


Keke hanyut dalam haru mendengar ucapan suaminya dengan mata yang melepaskan kristal bening di kedua sudutnya. Dengan alunan suara pelan juga penuh getaran Keke menjawab...


"Suamiku, Benaya Petra Manopo, aku menemukan diriku yang sebenarnya dalam cintamu, aku berharap aku akan terus menjadi bahagiamu, melengkapi hidupmu dan mendampingimu seumur hidupku..."


Suara wibawa Pakgem yang melakukan pemberkatan terdengar kemudian...

__ADS_1


"Apa yang diberkati Tuhan terberkati untuk selama-lamanya... Amiien."


Seluruh hadirin pun menjawab bersama-sama...


"Amiiiien..."


Dan tak ada kalimat yang tepat untuk mendeskripsikan kebahagiaan Ben dan Keke yang sejak hari ini telah terikat dalam kontrak kekal, kontrak seumur hidup yang tidak dapat dibatalkan, untuk saling setia, saling menerima tanggung jawab penuh dengan fungsi suami dan fungsi istri di dalam semua musim kehidupan mereka.


Bukan sekedar sebuah pengertian abstrak atau suatu teorik idealistik tentang mewujudkan rumah tangga yang langgeng dan harmonis, tapi benar-benar menjadi keinginan kuat dari dua pribadi yang telah membangun komitmen mereka. Kiranya Tuhan menolong mereka berdua.


.


πŸ€΅β€β™‚οΈπŸ’–πŸ‘°β€β™€οΈ


.


Acara resepsi di sebuah ballroom salah satu hotel di utara kota Manado, berlangsung selama beberapa jam. Acara tidak terlalu formal bahkan cenderung santai dan lebih bersifat kekeluargaan, karena umumnya undangan adalah dari kalangan keluarga besar saja dan kenalan terdekat.


Di panggung, saat semua orang sedang menikmati hidangan pesta, kedua mempelai baru duduk melepas lelah setelah mengitari ruangan menyapa undangan dan beberapa kenalan bahkan sahabat Ben yang jauh-jauh datang ke Manado demi turut berbahagia dengan Ben.


Inge datang mendekati pasangan yang sedang hepi ini, dan menunjuk sebuah meja bulat yang terletak paling depan.


"Iya Nge... aku memang udah lapar ini, sejak pagi gak bisa makan, terlalu nervous..."


Keke menyahut sambil nyengir kecil. Ben yang tak mau melepaskan tangan Keke sedetikpun sejak tadi, yang begitu posesif sejak dipertemukan di altar siang tadi, memandang kuatir pada istrinya.


"Ayo makan kalau gitu, aku juga lapar sayang, tadi makan siang aku gak terlalu berselera."


"Kalian berdua makan yang banyak, setelah resepsi selesai kalian masih punya acara yang lebih penting dan acaranya bisa memakan waktu panjang, jadi stamina kalian harus pulih dulu..."


"Inge, acara apa lagi... udah cape banget dengan gaun ini sama heels ini... punggung sama betis aku udah nyut-nyut dari tadi..."

__ADS_1


"Minta pijit kak Bens kalau gitu, biar 'acara'nya lancar..."


Inge mengedipkan sebelah mata pada Ben yang langsung menangkap apa arti 'acara' yang dimaksud Inge, si EO yang mewujudkan pernikahan megah nan cantik mereka dengan apik.


Ben senyum-senyum di samping Keke, mengalihkan pengangan tangan pada Keke ke tangan kanannya, kemudian tangan kiri Ben mulai mengusap-ngusap punggung Keke yang terbuka. Jemari tangan yang besar itu yang langsung menyentuh kulit meninggal sensasi yang tak biasa membuat Keke merinding.


"Kak Bensss..."


Keke sedikit menggeliat sambil menatap jengah dan risih bergantian pada Inge dan Ben.


"Udaahhh, sabar dulu kak Ben, gak lama lagi... yang penting sekarang tenaganya harus mantap modal untuk mantap-mantap... sana ajak Ike makan... hehehe..."


Keke membulatkan matanya pada Inge paham apa yang dimaksud sepupunya, bibir memberengut dan batal membalas Inge yang sudah kabur meninggalkan mereka berdua. Semburat wajah berganti karena memanas ditambah debaran di dada yang meningkat sekarang, masih malu membahas hal intim, bahkan malu saat hanya membayang saja. Dan sekarang itu mungkin tak lama lagi... ahh.


"Kenapa wajah kamu Rens, haha... gak sabar untuk menghabisi kamu..."


"Apa sih, aku bukan klappertart..."


"Sweety... kamu lebih sweet dari klappertart... lebih lezat dari semua hidangan malam ini..."


Mata Ben menatap dalam keintiman seolah menembus semua hal yang masih membatasi mereka.


"Kak Benss... hentikan khayalannya, ayo makan dulu..."


Keke berdiri dan menarik Ben menuju meja makan.


.


.


Hi... makasih utk semangat dan supportnya. Aku nulis walaupun jumat... semoga kalian suka πŸ’Ÿ

__ADS_1


.


🌺🌺🌺


__ADS_2