Fate Or Destiny

Fate Or Destiny
Eps. 11. Seandainya Ada Kesempatan


__ADS_3

Memulai dengan sesuatu yang sulit justru membuat hidup seorang Benaya lebih bergairah. Adrenalin dalam darahnya langsung memicu otak bekerja lebih aktif, memunculkan pemikiran yang kadang mengejutkan sebagai langkah penyelesaian masalah. Pikirannya bisa tiba-tiba penuh ide, dan kelebihan Ben adalah tak ragu mengeksekusi idenya dan langkah yang diambil selalu efektif efisien.


Sore hari sekitar jam lima. Benaya dalam perjalanan pulang dari kantor. Kekacauan di awal tugasnya di sini mulai teratasi, untuk hari ini belum ada jam lembur lagi, sekarang dia sudah berkantor di tempat yang seharusnya.


Dia jengah sebenarnya menggunakan sopir, tapi sayang mubazir karena biaya untuk sopir sudah dianggarkan. Manado bukan Jakarta, ada memang sedikit macet, tapi selambat-lambatnya di perjalanan hanya memakan waktu maksimal setengah jam sudah sampai rumah, karena jarak dari rumah ke kantor hanya kurang lebih satu kilometer saja. Dia juga jarang keluar ke mana untuk hanya sekedar jalan-jalan.


"Farly... berhenti..."


Mobil berhenti tepat di mulut lorong sempit itu. Benaya melihat Lisya sedang jongkok di pinggiran selasar depan ruko yang tingginya lumayan dari jalan. Ben membuka kaca mobil.


"Yica... jangan terlalu di pinggir nanti jatuh..."


"Omen... Yica ada cocat (coklat)..."


Mulut anak kecil itu penuh coklat, belepotan, tangan juga. Coklat di tangan sudah setengah.


"Geser lagi, kalau jatuh sakit loh... ayo berdiri..."


Entah kenapa sejak pertama melihat gadis kecil itu, Ben tidak dapat menahan hati untuk peduli.


"Omen nayi mobiy (naik mobil)..."


"Iya, om Ben mau pulang..."


"Omen mau cocat?"


Anak itu sudah berdiri dan sudah mundur dari pinggir selasar tadi. Coklat merek ratu perak, tapi di kemasannya tak ada warna Silver, gambar bukan Queen pula tapi kacang mete. Lisya menyodorkan coklat di tangannya...


"Buat Yica aja, om pulang ya..."


Benaya menutup jendela mobil, mobil langsung bergerak masuk.


"Dede... ngomong sama siapa?"


Keke keluar dari ruko.


"Omen... nayi mobiy, cana puyang (sana pulang)..."


Tangan mungil penuh coklat menunjuk ke arah lorong sempit.


"Benaya?"


Keke melihat mobil Toyot a Land C ruiser baru warna hitam berhenti menunggu gerbang dibuka. Mobil bergerak kembali dan berhenti di rumah pertama sebelah kanan di dalam gerbang itu. Dia tidak pernah masuk ke dalam kompleks itu, tapi sering melihat kompleks itu dari lantai dua rukonya. Seorang laki-laki bertubuh atletis terlihat turun dari pintu belakang, itu Benaya.


Jadi dia salah satu penghuni baru di kompleks itu, berarti salah satu pelanggan kateringnya? Om Denny pernah bilang ada 6 orang yang tinggal di situ, berarti termasuk Benaya? Entahlah, jika ya... itu terlalu dekat dari rumah mereka. Ahh... kemungkinan untuk bertemu lagi ada, dan dia tahu dia harus bersikap seperti apa. Keke segera mengamit tangan kecil ponakannya...


"Ayo dede cuci tangan dulu, minum air putih juga ya... biar gigi gak sakit..."


"Cicat?" (sikat)


"Iya... sikat gigi juga, sekalian mandi aja kalo gitu... ayo..."


Rommel ada di meja kecil dekat pintu belakang sedang memeriksa pembukuan.


"Kak... besok hari terakhir langganan atas nama Rolly, yang langganan makanan porsi. Aku tanyain ke om Rolly ya apa mau lanjut?"


"Gak... gak usah..."


"Kenapa? Kita gak keteteran kan? Gak repot-repot amat cuma 6 kotak, malah untungnya besar, lagi pula mereka ambil sendiri."


"Gak apa-apa, gak mau aja... Kakak masuk dulu, mau mandiin si dede..."


Rommel agak menyayangkan sikap kakaknya, itu pelanggan potensial sebenarnya. Tapi dia gak bisa protes kakaknya yang selalu mengambil keputusan di sini, mungkin ada pertimbangan lain.




"Rol... makanan kita udah diambil si Farly?"



"Udah pak Josh... udah sejak tadi perginya..."



"Kok lama ya? Udah lapar ini... tadi saya gak sempat sarapan..."

__ADS_1



"Pak Josh mah suka terlambat sekarang, sejak mbak Ruth ke sini..."



"Iya...iya Fran... lu suka perhatiin juga yaa, hahaha, gak sempat sarapan tapi sarapan yang lain itu..."



"Hush... kalian ngomong apa..."



"Hahaha... eh... itu makanan kita datang akhirnya..."



"Maaf terlambat pak Josh... sedikit macet tadi depan Mega..."



"Gak apa-apa Far... makasih ya..."



Farly meletak 2 kantong plastik di meja kosong di sudut ruangan si lantai 2 ruko itu.



"Rol... bawa ke dalam punya pak Benaya... udah dua kali dia keluar ruangan tadi... udah lapar juga kayaknya..."



"Baik, pak Josh..."



"Wah... menunya istimewa nih... lauknya dua, ada tambahan telur matasapi juga, *dessert*nya juga lebih besar kan ya..." Seru Fransien girang.




"Pak, ini makan siangnya..."



"Oh ya... makasih."



Ben meninggalkan meja kerjanya dan menuju sebuah meja berukuran kecil si sudut lain ruangannya. Tempat yang disediakan buat si boss untuk menikmati makan siangnya. Sejak lama Ben memang tidak suka keluar di jam makan siang. Di kantor pusat dulu makan siangnya dibelikan OB.



Di sini, seleranya benar-benar terpenuhi. Lidahnya dimanjakan selama sebulan ini, menikmati menu makan siangnya yang bervariasi juga enak. Ben membuka tutup wadah makanan miliknya dan mulai makan dengan lahap. Kenyang... tentu saja karena porsi makanan hari ini lebih banyak dari biasa, dan dia makan sampai tandas ludes isinya.



Ben berdiri sejenak di depan jendela sambil memperhatikan jalanan Boulevard yang padat di siang hari. Matahari sangat cerah, sinarnya menembus kaca jendela dan sedikit terasa di kulit tangannya karena lengan kemeja *navy*nya telah dia gulung hingga siku.



"Pak... Pak Sony Wijaya sudah *fix* mau bertemu jam tiga..."



Elijah melongok ke dalam ruangan bossnya.



"Baik...siapkan semua data temuan kita."



Ben menjawab tanpa mengalihkan pandangannya dari kaca.

__ADS_1



"Baik pak..."



Ben duduk kembali di kursi kerjanya, matanya terpaku pada *cup dessert* yang belum disentuhnya tadi, dia kemudian menuju meja kecil dan mengambil *cup* tersebut, sambil berjalan membuka tutup *cup*... aroma, warna dan bentuk *dessert* itu pernah dia kenal.



Saat mencicipi salad buah berupa campuran nenas apel dan timun dengan saos berwarna kuning pudar, rasanya sama persis. Dulu mama suka memesan saos salad itu pada tante Vosye, itu *dessert* andalan tante Vosye, buatan sendiri katanya resep warisan dari mertuanya, diajarkan hanya kepada anak turun temurun. Perempuan dalam keluarga mereka pasti tahu resep itu.



*Mungkin yang punya catering ada hubungan keluarga dengan tante Vosye atau om Reinhart, ya*...



Sambil makan perlahan dessert di tangannya, ingatan Ben melayang ke beberapa tahun silam...



\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_



"Pa... Vosye sudah pergi... dia menyusul Reinhart..."



Mama terisak kemudian setelah menerima panggilan telepon...



"Oh *my Lord*... kasihan anak-anak mereka, baru empat puluh hari sudah berduka lagi..."



"Pa... kasian si Renske, ternyata dia dilecehkan si Marlon, Reinhart kena serangan jantung karena itu..."



"Oh *my Lord*..."



"Itu mengapa Vosye selalu menitipkan dia di sini, karena si Marlon yang bejat. Tapi terakhir ini Renske gak mau lagi menginap di sini, ya makanya kejadian..."



"Dia pemakai obat sih ya..."



Benaya terpaku di tempat duduknya. Renske diperkos.... Deg. Ada rasa bersalah muncul di hati Benaya, dia tahu alasan mengapa gadis remaja itu tak mau lagi dititipkan.



\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_



Ben menarik napas... *dessert* dinikmati dengan sepenuh hati, setiap mengingat tante Vosye dan om Reinhart dia selalu merasa bersalah, terutama pada gadis itu... seandainya ada kesempatan bertemu... mungkin dia harus meminta maaf??



.



Ben... muka mata lebar-lebar....



.


__ADS_1


✴✴✴


__ADS_2