Fate Or Destiny

Fate Or Destiny
Eps. 34. Tawaran Indah


__ADS_3

Hari ini Keke ulang tahun, hari spesial yang tidak pernah dirayakan lagi tujuh tahun terakhir. 26 tahun, telah banyak catatan kehidupannya. Hari-hari yang penuh keindahan dulu bersama mami dan papi tinggal jadi kenangan berharga. Perjuangan di tahun-tahun terakhir, melewati semua kegelisahan dan ketakutan, kegagalan dan kekecewaan, membuat kakinya kuat berdiri tegar sekarang.


Seorang rohaniawan baru saja pulang setelah selesai memberi pelayanan pagi memohon berkat dan karunia untuk tahun yang akan datang.


"Kak Keke... selamat ulang tahun ya...?"


Rommel memberikan pelukan hangat pada kakaknya yang dia sayang, kakak yang menjadi pengganti sang mama.


"Makasih Mel..."


"Gak dirayain kak, buat syukuran gitu sesekali..."


"Gak usah, tadi udah kasih persembahan syukur ke Pakgemnya... itu aja."


"Ulang tahun kami bertiga kak Keke suka bikin ini-itu buat ngerayain, giliran kak Keke sepi-sepi aja..."


"Gak apa-apa Mel... udah bosan dirayain, dulu dari umur lima sampai tujuh belas dirayain terus. Sekarang yang penting gak lupa bersyukur. Udah... kak Keke mau kerja sekarang ada pesanan makanan untuk acara pesta nanti malam, agak sibuk hari ini."


Keke menghabiskan coklat hangatnya dan bersiap turun ke bawah. Kesibukan sudah terdengar di bawah sejak tadi. Ada keuntungan juga dua tante itu tinggal bersama dia, mereka memulai kerja lebih pagi dan Keke bisa punya waktu untuk urusan pribadi lebih panjang.


"Kak... katering entar malam pesan meja juga ya?"


"Oh... gak Mel, peralatan makan juga gak termasuk, kita gak ngatur meja prasmanannya, cuma makanan doang."


"Oh... gitu. Hitungan per kepala jadi beda dong ya..."


"Tetep, mereka minta ganti layanan itu dengan tambahan 1 macam lauk... Jam 5 sore loh harus diantar makanannya, jangan lupa."


"Iya kak... Via... ayo berangkat sekarang..."


"Bentar om Rommel, susu Via belum habis..."


Via sejak tadi duduk diam di sebelah Keke menghabiskan sarapan paginya.


"Via udah kasih ucapan selamat buat mami Keke?"


"Udah duluan tadi... Via yang pertama, ya kan mami Keke?"


"Iya. Cepetan Via, nanti telat..."


"Keke... ada yang cari di bawah..."


"Siapa tan?"

__ADS_1


"Tante Lenda gak kenal, tadi pas buka pintu ruko, udah ada di depan..."


Jam berapa sih ini? Pagi-pagi seperti ini pastinya bukan pelanggan yang jemput pesanan.


"Laki apa perempuan?"


"2 orang laki-laki 1 perempuan, udah tante suruh duduk di dalam ruko."


"Mel, tolong lihat dulu, kak Keke temenin Via sebentar, kalau gak susunya gak dihabisin..."


"Oke, Via... om tunggu di bawah ya..."


"Iyaa..."


"Ayo minum susunya Via..."


"Via neg mami Keke..."


"Dikit-dikit, biar punya banyak energi untuk belajar... ayo..."


"Iya... tapi pelan-pelan aja ya..."


"Iya... mami Keke tungguin..."


"Kak Keke... ada om Ramly..."


Keke kaget, dia berdiri dari kursinya. Langsung melayangkan tatapan protes pada adiknya yang mengijinkan mereka naik. Rommel menatap kalem saja.


"Via ayo jalan sekarang, ambil tasnya, jangan lupa kasih salam sama opa Ramly..."


Keke ingin sekali menyemprot adiknya yang dia anggap lancang kali ini. Adik yang terlalu perasaan pada orang lain, lebih suka mengalah dan terlalu ramah. Keramahannya kali ini melebihi batas toleran seorang Keke.


Ingin marah tapi tiga orang tamu itu sudah sampai di lantai atas sekarang.


"Ike... selamat pagi nak..."


"Om Ramly... duduk aja... mari om..."


Rommel berucap sambil memandang kakaknya dengan muka penuh isyarat, kemarahan Keke tak digubrisnya. Saat mengambil tas Via Rommel sengaja lewat depan Keke lalu berbisik...


"Itu papanya kak Keke, jangan jadi orang jahat dan gak punya perasaan, aku udah gak mungkin ketemu papa aku, udah dibuang. Kak Keke lebih beruntung..."


Rommel meninggalkan Keke, memanggil Via lagi dengan tangannya dan membawa Via depan om Ramly.

__ADS_1


"Ayo Via pamit..."


"Opa... Via ke sekolah dulu..."


"Iya... jadi anak pintar ya Via..."


"Iya..."


Hening saat Rommel dan Via sudah turun menghilang di tangga. Keke akhirnya duduk di kursi makan, sementara papanya bersama Engline dan satu lagi lelaki yang masih muda duduk di sofa, berjarak sekitar tiga meter. Tak lama tante Lenda naik dengan nampan berisi 3 minuman hangat dan kue yang diambil dari etalase di toko pastinya.


"Pak... diminum ya... kuenya juga dimakan, kuenya enak, itu buatan Keke semua..."


"Iya... terima kasih..."


Tante Lenda apa-apaan ngomong seperti itu? Mungkin Rommel sudah kasih tahu mereka siapa tamu yang datang pagi-pagi, sehingga tante Lenda juga menyambut dengan ramah.


Om Ramly itu sekarang berdiri dari tempat duduknya datang mendekati Keke lalu duduk di depan Keke sekarang, dekat... hanya berbatasan dengan meja makan minimalis warna putih. Keke menunduk, perkataan Rommel tadi tertancap tepat di hatinya, apa dia akan jadi orang jahat jika tak menerima dengan baik, dan apa memang dia tak menginginkan papanya?


"Ike... nak... papa ke sini... ingin kasih selamat ulang tahun buat Ike. Ike sudah 26 tahun sekarang, papa senang melihat Ike yang sekarang, sudah tumbuh dewasa, dan hidup Ike tampaknya baik."


Dia ingat? Sengaja datang untuk kasih selamat? Mama tidak pernah melakukan itu... masa seorang mama yang melahirkan dia bisa lupa? Tapi itu kenyataannya, bisa dihitung dengan jari berapa kali mama memberi perhatian di hari spesialnya, itu pun mami Vosye yang mengingatkan. Tapi pria ini...


Sesaat Keke mengangkat muka, bertatapan sejenak, melihat sebuah senyum lembut, pandangan yang... ahh bagaimana menjelaskan sorot teduh itu? Keke menunduk perlahan.


"Papa dengar usaha dan kegiatan Ike di sini, papa bangga dan bersyukur lihat Ike mandiri, Ike sudah berhasil ya padahal masih muda... Papa pastikan itu tidak mudah kan... tapi anak papa bisa sendiri walaupun gak ada papa dan mama..."


Dan... pria di hadapan Keke itu sekarang menangis. Kali yang kedua bertemu dan ada tangisan itu lagi.


"Maafkan kami nak... maafkan papa dan mama Ike yang egois di masa lalu... maafkan papa... Ike kesayangan papa... hkss..."


Keke tak menyadari pipinya pun basah, kata-kata papanya yang terakhir begitu menyentuhnya. Dia punya hati juga, memang sedikit keras mungkin karena banyak keadaan membentuk dia seperti itu.


"Papa minta maaf ya Ike... papa juga minta kesempatan untuk jadi papa Ike lagi... Maaf papa terlambat datang buat Ike... tapi papa ingin sekali dekat dengan Ike... ijinkan papa ya nak..."


Tangisan Keke langsung pecah, dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Dia ingat Benaya, dia menerima tawaran indah Benaya walaupun dia tak mengerti bagaimana hatinya, tapi akhirnya dia tak menolak Ben untuk hadir di sisinya.


Dan ini seorang papa, yang memberi awal kehidupan untuk dirinya, mengulurkan tangan padanya dan ingin memegang tangannya lagi sebagai anak, meminta maaf karena pernah melepaskan tangan kecilnya dulu, sanggupkah dia menolak?


.


.


__ADS_1


__ADS_2