
Lima hari berjalan begitu berat untuk Benaya. Kalut bukan karena pekerjaan, tapi karena Keke yang tidak mau melihat padanya. Dia yang menjadi penyebab, membiarkan rasa cemburu menguasai akalnya sehingga tak bisa berpikir logis. Dia menyadari dia keterlaluan dan menyesalinya sekarang.
Wajar Keke marah, karena tuduhannya soal sikap Keke ke Lody. Padahal dia tahu Keke profil yang tidak gampang akrab dengan orang lain, dia mengalami sendiri berbulan-bulan berhadapan dengan kekakuan Keke. Sebenarnya dia hanya khawatir Keke cepat membuka diri untuk Lody karena term kakak-adik. Nampaknya hubungan mereka masuk akal, tapi dia melihat dengan klausal itu Lody cepat ditanggapi Keke dibanding dirinya pada awalnya. Dan Ben merasa tidak nyaman terutama soal Lody, bukan Keke sebenarnya.
Dalam pekerjaannya dia punya pengalaman berhadapan dengan banyak orang, pejabat, pengusaha, calo tanah, karyawan di level bawah yang punya banyak trik dan akal bulus. Dia tahu profil seseorang yang bergerak tepat dan cepat sehingga tak bisa ditolak, menutupi niat memanfaatkan atau mengeruk keuntungan dengan kebaikan serta perhatian yang manipulatif. Dia belum yakin tapi dia mencurigai Lody. Dan Keke terlalu polos.
"Rens..."
Keke sedang merapihkan peralatan yang dia gunakan untuk membuat kue-kue. Titin dan Dolly si karyawan baru sudah menyingkir ke depan sambil memindahkan pesanan yang sudah selesai.
Keke tak menggubris panggilan Ben yang ketiga kali tadi. Dia masih marah.
"Rens... maaf ya..."
Keke masih membisu. Peralatan sudah disimpan, meja sudah bersih, dia meninggalkan Ben di ruang belakang itu, naik ke atas tanpa suara. Ben memikirkan cara meminta maaf, masalah harus selesai hari ini, tak ingin menunda lagi.
Ibarat main bola, untuk membuat gol dia harus menguasai bolanya terlebih dahulu. Dia ingat perkataan Rommel juga, sikap Keke begitu kuat dan mengintimidasi, jika mengikuti dan menunggu Keke, mungkin selamanya dia akan tetap membisu dan tak menanggapi Ben.
Ben melewati Keke di tangga dan memegang erat tangan kanan Keke dan melanjutkan naik ke atas tanpa melihat ke arah Keke. Tarikan Keke dia rasakan, tapi kekuatannya menguntungkan dirinya saat ini.
"Papi Bipi... Yica sudah mandi, halum sekalang..."
Si kecil yang sudah semakin jelas berbicara menyambut mereka berdua di lantai atas. Ada Via juga, kedua anak itu sudah bisa mandi sendiri.
"Wah... pintar ya sekarang. Papi Bipi ada perlu sama mami Keke, kalian turun ke bawah hati-hati ya... main sama om Rommel dulu..."
"Iya papi Bipi..."
"Hati-hati ya pelan-pelan aja turunnya..."
Ben menyahut dan tak melepaskan tangan Keke, mungkin sudah memerah karena Ben menahan dengan kuat usaha Keke melepaskan tangannya. Tak apa kasar sedikit, dia tak ingin berlarut-larut.
Ben menuju kamar Keke, belum pernah masuk di sana, tapi dia ingin mengantisipasi keadaan saja. Dia belum ingin melihat wajah Keke. Pintu dia buka dan saat mereka di dalam Ben mengunci dan mengantongi anak kuncinya. Tangan Keke dia lepas. Dia tak mendekati Keke, hanya berdiri di balik pintu itu, dia tak ingin Keke tak nyaman, baru sekali ini berdua dengannya di ruang tertutup.
"Rens..."
Ben memanggil lembut, tak beranjak satu langkah pun, kedua tangannya masuk ke saku celana, bersikap rileks dan sekarang memandang Keke yang sudah berdiri di ujung ruangan memandang dengan marah juga curiga padanya.
__ADS_1
"Aku hanya ingin bicara... aku hanya ingin minta maaf. Di sini kita tidak akan terganggu, sampai kita selesaikan masalah kita. Jadi... please dengarkan aku ya?"
Keke tak menjawab, tapi melihat Ben tak bergerak di tempatnya, dan memandang sekilas raut wajah Ben yang terlihat kalem, Keke kemudian duduk di tepi tempat tidur. Tapi tetap waspada.
"Aku minta maaf, aku salah... aku menyalahkan sikap kamu terhadap Lody. Aku hanya... aku cemburu Rens... aku tidak menyukai ada lelaki lain yang perhatian sama kamu. Aku tahu dia kakak kamu, tapi justru itu yang membuat aku cemburu. Maaf jika aku katakan ini, kalian hanya saudara angkat tidak ada hubungan darah, dan itu yang membuat aku tidak nyaman dia deket sama kamu."
"Aku tak akan menghalangi hubungan kalian, aku hanya bersikap jujur sama kamu apa yang aku rasa. Jika menurut kamu aku berlebihan menanggapi ini, mungkin ini cara aku melindungi apa yang menjadi milik aku. Kamu milik aku Rens..."
"Rens... mau memaafkan aku?"
Ben menunggu, tadi saat dia berbicara panjang Keke sudah tertunduk. Ben menangkap gerakan kepala Keke yang mengangguk. Dia mengerti sekarang alasan Ben. Cemburu kata orang tanda sayang, tadi itu Ben mengaku cemburu. Dia baru belajar mengenali bentuk emosi ini. Dan itu ternyata yang membuat Ben tak mau bertegur sapa dengan kak Lody sejak awal.
"Rens... aku dimaafkan?"
"Iya..."
Lirih Keke menjawab dengan kepala masih tertunduk. Ben menghembuskan napas lega. Ternyata tak perlu berdebat, hanya perlu kepala dingin dan niat serta tekad mengakui kesalahan, itu bisa memperbaiki keadaan mereka.
"Boleh aku mendekat?"
Keke mengangkat kepala, menatap mata Ben yang memohon. Keke melunak di bawah tatapan teduh Benaya.
Perlahan Ben datang dan tersenyum hangat, dia berjongkok dan meraih satu tangan Keke, meremasnya perlahan. Ingin sebenarnya segera meraih tubuh Keke ke pelukan, tapi dia menahan kerinduan itu, meraih kepercayaan Keke lebih penting sekarang.
"Kangen Rens..."
Keke sekarang berani menatap Ben. Dia juga kangen sekarang. Kemarahan yang surut, dengan cepat berganti menjadi rasa rindu yang mengental.
"Mana milik aku di sini..."
Ujung telunjuknya menusuk tempat favoritnya di wajah itu. Keke masih ragu melepas senyum, hanya menatap wajah tampan itu yang tak mau dia pandang beberapa hari ini.
"Mana... eh?"
Sedikit senyum sudah membuat pola lengkung itu nyata. Ben tersenyum juga melihat itu. Berdamai itu melegakan dan menyebar keindahan di jiwanya.
"I love You, my Rens..."
__ADS_1
Tangan ganti membelai lembut pipi Keke, sementara tangan yang satu masih menggenggam tangan Keke. Pipi Keke mengeluarkan semburat merah, pipinya yang putih menunjukkan itu dengan jelas. My Rens... sesuatu buat Keke, itu penyebabnya.
"Keluar yuk..."
Ben berdiri dan menarik Keke perlahan untuk keluar dari kamar. Berlama-lama di dalam ruangan tertutup dan menatap wajah cantik itu dari dekat membangkitkan gelora yang lain di dadanya.
"Aku pulang mandi ya... nanti balik lagi... masih kangen..."
"..."
Ben gemes sebenarnya. Keke yang normal adalah Keke yang irit bicara. Gak normal itu jika sudah tiga empat kalimat keluar beruntun dari mulutnya, pasti ada sesuatu. Tangannya mengacak rambut pendek Keke.
"Kamu juga mandi, pengen peluk tapi bau bawang..."
Keke cemberut.
"Hahaha... pulang ya..."
Sebuah ciuman kilat mampir di pipi dan Ben menuju tangga.
"Kenapa cium, katanya bau..."
Keke menggerutu pelan.
"Hahaha... itu buat DP, nanti balik lagi aku lunasi sisanya..."
"Ehhh???"
Keke senyum sendiri, kak Bens selalu punya cara untuk memutar-balik hatinya. Tidak ada alasan untuk marah lagi berlama-lama. Tadi penjelasan Ben juga menjawab tanya dalam hatinya sendiri bagaimana bersikap pada kakaknya Lody. Tidak mencurigai hanya perlu bijak saja untuk bersikap. Tak mengapa membangun batasan sejak awal. Tanpa ngomong sebenarnya Lody tahu siapa Ben. Lody kakak tapi mungkin tidak perlu terlalu akrab juga. Menjaga hubungan tetap baik dengan keluarga barunya memang perlu tapi dia juga harus menjaga hati Benaya.
.
.
Happy weekend π
.
__ADS_1
π§ πΆπ