Fate Or Destiny

Fate Or Destiny
Eps. 64. Siap Gak Sih?


__ADS_3

Keke terpaksa menelan kekecewaan tak bisa mewujudkan keinginannya memperbaiki rumah mama, dan mama menerima saja keputusan suaminya yang tak mengijinkan Keke melakukan sesuatu di rumah itu. Ide Keke memberikan uang dan si om memperbaiki sendiri juga ditolak. Apa susahnya menerima uluran tangan Keke? Ternyata ada orang yang sulit dibantu meskipun mereka butuh.


Keke terus bertanya dalam hati, mengapa mama menerima saja cara hidup seperti itu? Apa mama tidak punya keinginan? Tidak punya harapan untuk hidup lebih baik? Mengapa mama seperti mengabaikan kenyamanan dirinya sendiri? Begitu banyak pertanyaan soal mama, dan pertanyaan terakhir, apa mama bahagia? Lebih bahagia hidup yang mana, sekarang atau saat bersama papa?


Keke yang terbawa pikirannya yang begitu banyak soal mama, tak bisa fokus dengan pekerjaannya. Nutri jel untuk salah satu isi es buah yang sementara dia aduk meluber dari panci karena mendidih. Keke kaget dan dengan cepat mematikan api kompor. Sempat bingung harus apa, hanya memandang cairan jelly di panci sampai kehilangan buihnya. Beberapa waktu berlalu kemudian Keke ingat jelly itu harus di pindahkan ke wadah segi empat untuk didinginkan.


Beneran tidak fokus ternyata, memang beberapa hari ini juga tidurnya tak cukup, jadinya tubuh tidak fit, seperti melayang. Keke berdiri bengong beberapa saat sebelum akhirnya berjalan seperti setengah mengambang ke lemari tempat menyimpan segala macam wadah plastik, dengan bingung juga memilih, menentukan wadah untuk cetakan jellynya.


Keke mengambil sebuah kain lap dan mengangkat panci jelly dan tiga jari tangan kanan tak tertutup kain menempel di panci yang panas itu. Kaget dan rasa sakit kulit terbakar membuat Keke refleks meletakkan lagi secara sembarang panci panas itu, posisi miring dengan isi hampir penuh membuat panci terbalik dan cairan yang baru mendidih itu tumpah dan sebagian terpancar jatuh di kaki Keke. Refleks Keke menghindar tapi tetap saja ada sebagian cairan panas itu yang tersiram di bagian depan kaki kanannya.


"Ahkkkk!!!!"


"Keke!? Oh Tuhan tolong..."


Tante Wisye cepat datang dan menahan Keke yang limbung. Dapur langsung ribut, tante Lenda dan tante Yul menghentikan kegiatan memporsi makanan di rantang. Tante Yul mengambil sebuah kursi plastik untuk Keke.


"Tante Wis... diapain kaki kak Keke?"


Titin yang sekarang memapah Keke bersama tante Wisye dan membantu Keke duduk ikut panik, merasa bersalah juga karena itu adalah tugasnya sebenarnya, tapi dia datang terlambat tadi.


Kulit kaki Keke sudah berubah merah, area tumpahan cairan lumayan lebar, dari bawah lutut sampai bagian punggung telapak kaki. Keke sudah mulai meringis menahan sakit, masih pucat karena shock.


"Eh...bawah kak Keke ke bawah kran air... pertolongan pertama siram dengan air mengalir..."


Sergah Rommel yang langsung searching di hpnya. Mata masih di hp, teriakan Keke membuat dia datang dari toko. Mereka memapah Keke ke tempat cuci dan melakukan apa yang dibilang Rommel.


Papa Ramly juga mendengar suara teriakan dari dapur, dia sedang memperhatikan pekerjaan bangunan di area belakang dapur itu.


"Ada apa?"


"Keke tersiram nutri mendidih pak Ramly..."


"Oh God... mana, saya lihat..."


Papa Ramly mendekati Keke, tante Yul dan Titin bergeser memberi ruang untuk papa si boss.


"Ike... ke rumah sakit aja ya..." ujar papa setelah memperhatikan kaki anaknya. Rasa khawatir langsung nampak jelas di wajahnya.


Keke menggeleng. Dia masih mengumpulkan nyawa. Dia tadi tidak konsen dan tidak hati-hati. Tangan teriris pisau atau kena percikan minyak, kena wajan atau panci panas sudah tak terhitung, tapi selama bertahun-tahun di dapur baru sekarang dia ketumpahan cairan panas.


"Harus Ike, jaringan kulit kaki Ike bisa rusak kalau tidak ditangani dengan benar. Ini agak parah. Tadi air mendidih ya?"


"Iya pak... nutri yang baru mendidih kayaknya."


Titin menjawab pak Ramly.


"Rommel, kita bawa Ike ke rumah sakit, yang dekat sini saja."


"Rommel mau mengantar rantang, pa..."


Suara Keke lemah, dia mulai takut melihat kondisi kakinya juga perih yang sudah terasa.


"Nanti Tole yang gantikan, Dolly handle rantang yang didrop dengan motor... Keke ke rumah sakit aja, nanti kita yang atur di sini..."


Tante Lenda cekatan dan punya inisiatif tinggi, dia langsung mengambil alih mengatur semua.


"Biarkan kena air mengalir dulu kak, jangan diangkat dulu, paling tidak 15 menit kena air mengalir. Tante Lenda... ambil cling wrap yang baru di laci atas sana... aku mau ambil antiseptik di atas."


"Untuk apa?" Tante Lenda bertanya.


"Rommel, langsung ke rumah sakit saja..."


Papa semakin khawatir terlebih melihat raut wajah Keke, serta merasakan suhu dingin tangan Keke yang kini berpegang pada tangan sang papa.


"Aku baca di goog le sebaiknya langsung di rawat seperti tadi, kalau ke rumah sakit, daftar dulu, pasti lama baru bisa ditangani. Setelah 15 menit dialiri air, dikeringkan, disiram antiseptik, dibungkus cling wrap biar dingin dan gak kena kuman, baru kita pergi pa... begitu panduan pertolongan pertama luka bakar..."




Kurang lebih tiga jam di IGD dengan semua proses dan prosedur penanganan. Syukur luka hanya pada bagian epidermis atau jaringan kulit luar, tapi tetap saja nyeri sangat terasa bahkan Keke tak mampu menginjakkan kaki kanannya. Kini dia berbaring di kamar tidurnya, obat penghilang rasa sakit tak mampu menghilangkan sepenuhnya rasa perih dan panas di kakinya.



"Mami Keke... Yica kipas-kipas ya..."


__ADS_1


"Tidak usah Lisya... nanti malahan kena luka kipasnya, tambah sakit kaki mami."



Opa Ramly menanggapi keinginan si kecil. Mereka berdua sejak tadi tak beranjak dari kamar Keke.



"Yica pijit tangannya?"



Keke menganggukkan kepalanya, anak kecil ini punya rasa peduli yang tinggi.



"Papa istirahat aja... Ike udah gak apa-apa..."



"Iya opa, Yica yang jagain mami Keke, Yica sudah besal..."



Keke tersenyum di antara rasa sakit yang mendera, anak ini selalu jadi penghiburan buat dirinya.



"Baiklah, opa mau mandi dulu, Lisya sudah mandi?"



"Belum... Yica mandi duluan sebelum opa..."



"Papa tinggal ya..."



"Iya..."




Entah berapa lama Keke tertidur, sepertinya tak lama. Lisya sudah naik lagi ke tempat tidur dengan rambut yang masih basah, berarti baru selesai mandi.



"Ada papi Bipi di lual mami..."



"Opa sudah mandi?"



"Belum, masih celita itu..."



Pintu terbuka... Si kekasih masih dengan baju kantor masuk.



"Papi Bipi, liat lukanya besal..."



"Rens..."



Sapaan suara bariton yang kalem itu menggema di kamar, tak ada suara lanjutan tapi mimik muka menatap prihatin. Saat duduk di tepi ranjang, Ben mengamati kaki Keke sambil tangannya meraih tangan Keke di dekatnya. Kekhawatiran semakin nyata melihat kondisi kaki Keke.


__ADS_1


"Via telpon kasih tahu kamu kecelakaan, pikiran aku langsung gak tenang... kenapa bisa ketumpahan air panas?"



Keke hanya meringis mendengar suara Ben yang khawatir.



"Kamu pakai sepatu boot kan? Harusnya kaki kamu terlindungi... gimana kejadiannya?"



"Lagi gak pake itu..."



Keke mencicit pelan, dan tak sanggup melanjutkan penjelasannya. Rasa nyeri belum hilang dan masih menyiksa.



"Sweety, biasanya lama loh luka seperti ini. Gak sampai dua minggu lagi acara kita."



Suara rendah Ben mengingatkan sesuatu yang penting yang hilang dari pikirannya beberapa waktu ini berganti kerisauan tentang mama. Keke menelantarkan tubuhnya sendiri. Dia tidak tidur dengan baik, dia juga tidak makan dengan benar, tapi masih aktif melakukan pekerjaan setiap hari. Jadinya seperti ini. Tubuh yang kuat pasti batin juga kuat, jika tubuh gak fit keseimbangan emosional juga terganggu.



Acara tunangan sudah dekat, tidak mungkin ditunda, keluarga Benaya sudah siap untuk datang. Ada perasaan bersalah yang menyelusup, Keke mengabaikan persiapan untuk acara itu. Inge beberapa kali menelpon meminta waktu Keke untuk datang ke seorang penjahit langganan Inge di Manado ini, dekat saja sebenarnya dari ruko, dia sudah menunggu Keke untuk mengambil ukuran. Dengan keadaan seperti ini dia tak mungkin ke sana, berarti gaunnya belum siap, dan mungkin tak akan siap sampai hari H. Belum gaun anak-anak, dan si mama. Hanya satu tugas yang Inge kasih dan dia mengabaikan itu.



"Sakit ya..."



Ben yang sejak tadi melihat ekspresi Keke tak tahu harus berkata apa, selain kalimat pendek itu, tak tahu juga dia apa yang sementara bergolak di hati Keke.



"Padahal hari ini kita janjian mau cari sepatu kita sama kemeja aku kan... Cincinnya udah selesai juga harus kita coba dulu sebenarnya. Aku pergi sendiri aja, gak apa. Kamu konsen sama kesehatan kamu aja ya..."



"..."



"Oh iya, mama tadi telpon aku... minta maaf model bajunya gak samaan sama tante Virda, takut gak keburu jahitnya. Mama nungguin kamu wa modelnya, gak kamu wa."



Aduuh Keke... kecelakaan datang tak bisa diduga dan bisa dipahami, tapi sikap mengabaikan dan kelalaian... siap tunangan gak sih??



.



.



Terima kasih noveltoon karya ini lolos kontrak.


Terima kasih buat semua pembaca setia, buat respon baiknya, selalu komen dan kasih like juga hadiah dan vote... 🙏💪✌😇💚


Dari hati aku yg terdlm memohon maaf jika cerita ini tidak sesuai ekspektasi kalian...



💪💪✌✌



.

__ADS_1



💐


__ADS_2