
Ben masih betah duduk di teras samping memandang ke bawah, awan mulai muncul di atas langit kota Manado. Ada kursi nyaman di situ. Dia jarang pergi ke mana selama di Manado. Saat ini berada di rumah papa Keke yang lingkungannya hijau sejauh mata memandang, menikmati udara terbuka di pegunungan pula, rasanya beda, sejuk menenangkan. Terlebih ada si kekasih hati yang sedang bersandar di lengannya. Dia tertawa tadi saat menyadari Keke diam di sampingnya bukan karena diam yang biasa dia hadapi, tapi tertidur. Tangannya sudah kebas setengah jam ini tak berpindah, hanya sedikit bergerak takut Keke terbangun... demi apaaa Bens... Keke nyaman dong ya bisa tertidur di lengan kak Bens...
(Foto ini pemandangan Manado dari jln Raya Tinoor)
Papa Ramly keluar kamar menggandeng tangan dua bocah, sepertinya mereka sudah merebut hati si opa Ramly. Papa sudah segar sepertinya sudah mandi. Anak-anak ribut mencari Keke, dan saat mereka muncul di teras bersama si papa, Ben menaruh telunjuk di bibirnya memberi isyarat pada Lisya yang paling nyaring suaranya.
"Mami Keke bobo?"
Lisya berbisik dan melepaskan tangan dari opa Ramly, datang mendekat sambil mengamati wajah Keke. Sementara Ben mengangguk hormat saat bersirobok pandang dengan papa kekasihnya. Si om tersenyum menanggapi.
"Papi Bipi... mami bobo?"
Ben menganggukkan kepala. Yica berbisik kembali...
"Opa Lamly bilang kita mau pelgi... mau ke Glinhis (Green Hills)."
"Nanti ya... tunggu mami Keke bangun."
"Yica bangunin ya..."
"Eh... tunggu bangun sendiri."
Acara bisik-bisik itu akhirnya membawa Keke kembali ke alam nyata. Dia segera menegakkan tubuh saat menyadari posisi tidurnya. Yica ada di depannya.
"De... ada apa?"
"Kita mau pelgi mami... itu opa cudah bangun cudah mandi, cudah ganteng... ayok..."
Lisya bicara dengan kepala bergoyang-goyang berpindah dari wajah Keke dan opa Ramly yang berdiri di ambang pintu besar itu. Keke berdiri mendekati papanya...
"Papa udah gak lemes? Udah sehat?"
"Iya... papa merasa sehat, papa antar kalian ke Green Hills."
"Sekarang?"
"Iya. Ben... kamu yang bawa mobil ya..."
"Iya om... boleh..."
Benaya berdiri mengikuti mereka yang sudah masuk lagi ke rumah.
"Niek... telpon Engline, beritahu kita mau ke sana." Papa meraih sebuah kunci mobil dari atas meja dan menyodorkan pada Benaya.
"Di sana dingin kalau sore begini, suka tiba-tiba ada kabut juga. Anak-anak ada bawa sweater atau jaket, Renske?"
"Ada, Ma Ade..."
"Pakaikan aja sekarang. Kalian berdua juga..."
"Aku... cukup seperti ini. Kak Bens?"
"Sama..."
Keke mengenakan celana jeans biru dan kemeja flanel biru navy lengan panjang, Bens juga mengenakan lengan panjang, jadi tak masalah nanti dengan udara dingin. Keke masuk ke kamarnya mengambil baju hangat untuk anak-anak, tadi tas mereka sudah diturunkan dari mobil.
"Ayo berangkat..."
Papa Ramly meraih tangan dua bocah yang selesai mengenakan sweater dan menuju pintu belakang yang terhubung dengan garasi besar di rumah ini. Ada satu truk dan beberapa mobil pick up terparkir, juga ada tiga mobil besar jenis SUV, mobil yang biasa digunakan papa Ramly dan Lody di situ.
Dengan perasaan yang aneh hari ini, jengkel kesel dan entah apa namanya, selesai makan Lody kembali ke gudang dengan motornya. Tadi dia menyempatkan ke rumah untuk makan di tengah kesibukannya. Dia heran melihat sebuah mobil asing terparkir dan jadi galau melihat Keke dan Ben ada di sana, lagi beradegan romantis lagi.
"Boss... sudah selesai muat, siap berangkat."
Menix si pengawas gudang menyambut Lody persis saat motor Lody berhenti di depan 2 truk yang bagian belakangnya sudah tertutup terpal.
"Biaya perjalanan juga fix boss..."
Lody tak menjawab hanya berdiri dengan kedua tangan di pinggang. Kedua truk akhirnya berangkat. Lambaian kedua sopir dan keneknya ditatap saja oleh si boss muda di perkebunan ini.
Lody kembali ke motornya dan meluncur pelan menuruni bukit perkebunan itu mengikuti kedua truk itu.
Di simpang jalan masuk ke perkebunan itu dia parkir motornya, ada beberapa pekerja sementara memupuk tanaman cabe di area itu. Ada Elon di situ sedang mengawasi para pekerja. Lody menuju ke semacam sabuah atau saung dan duduk di sana.
"Lod... pupuk kapan diambil? Stok sudah hampir habis..."
"Ntar sore aja..."
"Ini udah mau sore pak boss... dikit lagi jam tiga..."
__ADS_1
"Kamu yang urus deh, aku malas keluar... ini nota pengambilannya..."
"Tumben malas? Ada apa boss?"
Elon berkata dengan tatapan menyelidik ke arah Lody yang duduk selonjor di lantai papan itu, kepalanya bersandar di tiang penyangga saung. Sejak lama mereka berteman, Elon itu teman kuliah Lody di Fakultas Pertanian, berasal dari Sulawesi Tengah. Niat awal datang ke perkebunan ini hanya untuk penelitian penulisan skripsi, keterusan jadi karyawan. Elon ikutan duduk.
"Masih galau soal Inge? *Man*... apa kurangnya dia... kalau kamu udah gak punya rasa sama dia, aku suruh si Torino maju ya, udah lama dia naksir Inge..."
"Kenapa semua orang jadi mengira kita pacaran, sih?"
"Lah... memang gak pacaran ya? Kok deket banget?"
"Deket karena kita adik-kakak..."
"Gak ada yang percaya kalian cuma sebatas itu Lod, kalian berdua itu seperti kata lagu anak aku ya... 🎶 seperti celana dengan baju... 🎶 seperti mentega dengan roti. Seperti botol sama tutupnya udah klik. Gak ada juga hubungan saudara antara kalian. Masih ngeles aja anda, pak boss..."
"Memang seperti itu kenyataannya..."
"Masa sih... Terus kenapa dong, gak biasanya tampang kamu kayak gini..."
"Aku... aku suka seseorang..."
"Weiiii... *man*, anda banyak kali ngomong kayak gitu, eh... gak lama udah balik ke Inge lagi. Sepertinya kalau lagi marah sama Inge kamu jadi mengalihkan perasaan ke orang lain..."
"Ini beneran gak seperti kemaren-kemaren."
Lody diam dengan mata menerawang. Benar ya.. apa yang beda?
"Aku tahu dia punya pacar, tapi kok hati aku tetap aja menginginkan dia..."
"Hahh? Parah anda boss... mau jadi perusak hubungan orang ya, jadi pembinor??"
"Gak sih... tapi aku gak bisa menahan hati aku untuk gak suka dia..."
"Terus... kamu deketin gitu ceweknya?"
"Ya... aku coba seperti itu, aku gak bisa nahan diri aku tiap liat dia..."
"Terus... orangnya kayak gimana pak?"
"Dia... susah ditakhlukkan..."
"Hahahaha... ya iya lah pak boss, orang dia udah punya pacar, gimana sih anda ini?"
Lody diam terpekur. Dia memang melihat tak ada kemungkinan itu, Keke sangat menjaga jarak darinya dan terlebih pacarnya juga bukan pria yang biasa, nilai tawar pria itu jauh di atas dirinya.
"Jadi penasaran aku ini pak boss... siapa sih dia"
"Renske, anak papa..."
__ADS_1
"Hahh? Weiii... anda kena karma apa ini pak boss... semua cewek yang kamu suka ada di *circle*nya Tuan Boss... Si Inge ponakan, si Manda ponakan juga, si Leony saudara jauhnya pak Ramly... sekarang anaknya sendiri... astaga *man*..."
Lody meringis mendengar ucapan sahabatnya.
"Sekarang aku nanya serius Lod... emang seperti apa perasaan kamu sama Inge sih... kok berubah-ubah kayak bunglon gitu... era Power Rangers udah lama lewat pak boss..."
"Perasaan aku sama dia biasa aja..."
"Pak boss, kamu pintar banget bohong sama diri sendiri ya ternyata... aku tahu *man*, kamu itu peduli sama dia, sayang sama dia... gimana sih gak sadar sama perasaan sendiri. Emang setiap kali jalan sama dia apa yang kamu rasakan?"
"Ya... nyaman aja, gak lebih..."
"Lod... rasa nyaman itu tanda ada cinta. Sesat tuh pikiran kamu yang membedakan cinta dengan rasa nyaman. Kenapa ada orang yang memilah-milah itu, karena belum yakin aja atau karena tidak mau terikat."
Lody diam menyelami hatinya sendiri, apa memang ada rasa cinta antara dirinya dan Inge atau hanya karena terbiasa saling peduli saja?
"Lod... sama seperti filosofi orang Jawa ya *witing tresno jalaran soko kulino*... cinta kadang tidak ada di awal perjalanan relasi dua orang, tapi cinta itu adalah akibat yang muncul dalam perjalanan hubungan itu. Cinta ada akibat relasi kalian... kamu dan Inge, makanya kamu nyaman sama dia... jangan berpikir terbalik *man*..."
Lody masih diam...
"Aku bingung sama pasangan di luar sana, katanya cinta tapi nyaman sama orang lain, dilema dengan perasaan katanya, eh... itu mah karena memang pengen selingkuh aja..."
"Jadi pintar ceramah kamu, udah bijak sekarang ya..."
"Weiii... pak boss wajar dan pantas aku ceramahin anda, aku sudah nikah udah punya anak, sebagai lelaki aku lebih di atas anda sekarang, anda harus akuin itu *man*..."
"Iya... iya memang kamu udah sering di atas istri kamu kan..."
"Hahaha... iya jelaslah... hasilnya udah mau tiga. Tapi Lod... serius ini pengalaman aku juga sama Greity, kita gak seperti cerita orang-orang saat jatuh cinta... aku dan dia bukan dua orang yang saling terpikat gitu kena panah asmara. Gak ada itu cerita gak bisa makan gak bisa tidur gak bisa apa-apa karena teringat si dia. Ngalir aja hubungan kita karena kita teman kan... ngajak nikah aja kayak becanda. Kamu tahu kan gimana ceritanya kita sampai menikah, dia pacaran sama siapa lagi galau diputusin, aku becandain nikah aja sama aku, dianya mau. Dan... sekarang aku gak nyesel kok nikah sama temen aku, Greity juga begitu. Sekarang aku bisa pastiin kalau kita saling cinta."
"..."
"Lod... wajar juga sih seperti kamu bilang, Inge seolah-olah nuntut kejelasan soal status kalian, dia udah 28 tahun juga kan, itu usia kritis seorang gadis. Dia selama ini hanya jalan sama kamu, kalau kamu gak jelas seperti ini... dia punya hak juga untuk kenal pria lain kan...
"..."
"Beneran ini Lod... kamu gak boleh larut dengan perasaan suka pada cewek yang sudah jelas ada pemiliknya, itu salah. Dan yang lebih penting lagi kamu harus tegasin ke diri kamu soal Inge bagi kamu... kalau gak aku suruh si Torino maju deh..."
"Udah ahh... mana notanya, aku berangkat aja ngambil pupuk. Awas kesurupan pak boss... jangan kelamaan bengong di sini."
Sore sudah lewat, matahari sudah sampai di ufuk timur, Lody masih bersandar dengan mata menatap jauh melewati ribuan tanaman cabe di sekitarnya. Para pekerja sudah selesai menyiram pupuk dan sudah beranjak pulang ke *base camp* mereka. Lody masih belum selesai masuk ke relung hatinya sendiri untuk mencari jawaban tentang sebuah rasa.
.
.
🌶
.
__ADS_1
✳