Fate Or Destiny

Fate Or Destiny
Bonus Eps. Bahagia + Sedih = ...


__ADS_3

Setiap hari setelah sarapan Ben akan tidur lagi hingga menjelang siang. Benar adanya nyaman itu ketika ada di rumah sendiri, tidur di kamar sendiri, dan ada di tengah-tengah orang-orang terkasih, tentu saja expecially istri tersayang. Selain masih dalam tahap pemulihan, Ben menikmati waktu istirahatnya setelah kerja keras selama beberapa bulan ini.


Ben meminta cuti panjang dengan alasan sakit. Dia memutuskan menunda untuk resign. Baru saja menikah dan tabungannya berkurang untuk biaya pernikahan yang tidak sedikit. Setelah berpikir panjang dia tak ingin terburu-buru mengambil keputusan. Ibaratnya performa kerjanya sedang bagus, ada di puncak atau ditempat yang dituju banyak orang dan dia telah bekerja keras untuk mencapai posisi ini di usia terbilang muda, dan yang terutama dia menyukai pekerjaannya, memang berat tapi seimbang dengan gaji, fasilitas dan bonus yang dia terima.


Setelah menikah, kehidupan yang sebenarnya baru dimulai, dan Ben harus realistis soal perencanaan rumah tangga adalah menyangkut masalah finansial juga, jadi dia memilih tetap bekerja, karena lelaki harus punya penghasilan, itu prinsip Ben. Sementara di Manado sini dia tak mungkin mendapatkan pekerjaan dengan nilai gaji yang sama. Hanya butuh bicara dengan Keke, meminta pengertian dan dukungan istri, semoga Keke bisa mengerti keputusannya, memang dari awal dia tidak benar-benar yakin berhenti, hanya karena Keke saja dia sempat berpikir seperti itu.


Hari ini menjelang siang di ruangan tempat Keke biasa mengolah dessert.


"Sweety... udah enakan ya?"


"Iya..."


Tangan suami langsung mengusap sayang kepala istri, memberikan satu kecupan hangat di kening.


"Mau buat apa?"


"Klappertart..."


"Emang gak pusing lagi?"


"Udah gak, cuma pagi aja..."


"Tapi jangan cape-cape kerja ya, biar gak kelelahan..."


"Iya..."


"Ada yang pesan ini?"


"Gak sih, buat Inyo aja, lebihnya buat di toko, suka ada yang cari..."


"Tahu aja sih... aku kangen itu..."


"Tahulah... pengen makan sekarang kan... apa besok aja ya aku buat ini..."


Keke berhenti sejenak dari aktivitas menakar bahan-bahan adonan klappertart, memandang suami dengan senyum menggoda..."


"Kamu ya... ngegemesin sekarang..."


Tangan Ben naik merangkul bahu Keke dan mata tidak tahan melihat lesung pipit begitu manisnya, langsung menjadi sasaran ciuman gemas siang ini.


"Udah ya... Inyo..."


Keke menggeliat menghentikan tingkah suami. Seminggu ini suami seperti balas dendam, semua bagian yang terlihat maupun yang tersembunyi di diri istri menjadi sasaran 'amukan' manisnya. Kadang tak melihat kondisi seperti siang ini, ada karyawan lalu-lalang karena kesibukan di area dapur belum usai.


"Kamu sering senyum sekarang, makanya aku gak bisa nahan diri..."


"Ehh... masa sih..."


Keke bergerak ke sebuah cermin yang terpasang di salah satu dinding, memastikan raut wajah sendiri, tingkah yang membuat Ben tertawa.


"Hahaha... kenapa gak percaya?"


Keke kembali ke sisi meja dan meneruskan kerjanya. Di lubuk hatinya dia mengakui dia lebih nyaman dan lega, hidup lebih baik sekarang, dia merasa seperti sedang berpindah di jalur yang seharusnya. Kepedihan dan kenangan pahit sekarang menjadi suatu cerita dari masa lalu saja. Sakit hati pada papa dan mama telah sepenuhnya berganti dengan cinta dan kasih sayang.


Kehadiran Ben adalah awal dari semua perubahan di diri Keke. Bukti rancangan Maha Besar yang begitu misterius mengirimkan kembali Ben di sisi Keke, karena Benlah yang Keke butuhkan, selalu Keke mengakui dirinya yang sebenarnya semakin nampak saat bersama Ben.


Keke tersenyum lagi.


"Tuh kan... senyum lagi. Tapi aku suka kamu yang ini, cantik banget..."


"Inyo ahh..."


Lagi dan lagi suami tidak dapat menahan hasrat untuk menyalurkan rasa sayang tak memusingkan keadaan sekitar. Tante Lenda menarik pintu penghubung di area baru dapur mereka, memahami aktivitas suami si bos tak bisa dihentikan.


"Udah dong... kapan aku bisa mulai buat ini kalau digangguin terus..."


Suara manja setengah merajuk Keke akhirnya membuat suami menghentikan petualangan di wajah sang istri, menarik kaosnya sendiri dan mengeringkan dua sudut bibir istri yang basah. Keke tak protes lagi kebiasaan Ben setelah ciuman panasnya.


"Berapa lama bikin klappertartnya?"


Ben masih tak bergeser dari sisi Keke, memperhatikan gerakan lincah sang istri yang sudah konsen lagi menyiapkan adonan.


"Ini sih gak sampe 2 jam... sabar ya..."


"Iya. Sweety kita gak punya timbangan ya?"


"Ada kok... nih... di dapur ada timbangan daging juga..."


Keke menggeser sebuah timbangan dapur berwarna orange.


"Bukan timbangan ini sayang, timbangan badan..."


"Oh... ada di kamar anak-anak..."


Keke mengamati sejenak postur tubuh suami.


"Belum naik kayaknya, tulangnya masih kelihatan. Hati-hati aja jalan di depan toko kita, entar ada yang naksir..."


"Emang kamu rela ada yang naksir aku..."


"Gak rela sih... tapi buat Heli sama Moli aku gak masalah, mereka imut..."

__ADS_1


"Siapa itu?"


"Gukguk di kos-an depan, hehe..."


"Ehhh... mulai berani sama suami..."


"Hahaha..."


Hidung jadi sasaran cubitan gemas dan jangan ditanya ke mana bibir suami berkarya lagi. Sementara tangan menggelitik pinggang istri. Suara tawa keduanya mengisi penuh area belakang ruko itu. Tawa bahagia tentu saja. Bahagia bisa muncul dari mana saja, hal-hal remeh dan gurauan receh pun bisa jadi sesuatu yang membahagiakan buat mereka berdua.


Kata seorang motivator, setelah cinta, tertawa digambarkan sebagai emosi yang paling kuat yang diekspresikan manusia, tertawa adalah seperti jogging internal karena tertawa menstimulasi sistem pernapasan, membuat santai otot-otot dan melepaskan zat-zat kimia di otak yang menghasilkan rasa senang...


Tertawa berkalori rendah, bebas kafein, tidak mengandung garam, tanpa bahan pengawet atau zat tambahan lain, tertawa 100 persen alami aman untuk memenuhi kebutuhan, gak ada yang akan overdosis atau kelebihan berat badan meskipun banyak tertawa, justru makin awet muda.


Tertawa juga murah dan gak ada pajaknya, asal jangan tertawa tanpa sebab dan kemudian gak bisa berhenti, itu beda lagi... sering-seringlah tertawa jika waktunya untuk tertawa, sebab mungkin terjadi di waktu selanjutnya kita harus menangis --maaf author jadi ngelantur 🤣😂--


"Kamu makin cantik sayang... tertawa bikin kecantikan kamu makin glowing...."


"Apa... gombal ahh... sana jangan di sini, aku gak bisa kerja kalau Inyo di sini..."


"Aku lapar sayang... makan aja sekarang ya..."


"Oh...ya udah, ayo ke atas..."


Keke menarik tangan Ben. Melewati dapur ada Titin di sana.


"Tin, kerjaan kamu udah selesai?"


"Dikit lagi kak... kenapa?"


"Nanti tolong terusin buat klappertartnya ya..."


"Iya kak..."


Di tangga gantian Ben yang memegang dua pundak Keke dari belakang, menjaga Keke dari belakang saat naik tangga.


"Sweety, gak boleh keseringan naik turun tangga ya, hati-hati juga... takut kenapa-napa kamu sama adeknya..."


"Iya..."


"Kapan lagi ke dokter?"


"Bulan depan..."


"Masih lama, mungkin gak di sini aku tuh..."


"Masih mau kerja di sana?"


"Iya..."


Keke menjawab pelan, tak suka mereka berjauhan. Kenapa suami gak mau melepas pekerjaan itu dan mencari peluang kerja di sini? Masa gak ada yang cocok...


Di meja makan, sudah ada papa Ramly sedang makan ditemani mama Virda. Mama Virda menoleh saat mereka muncul dari tangga.


"Ben... ayo makan..."


"Iya ma..."


"Makan yang banyak, biar cepat pulih..."


"Ke dokter aja lagi Ben, check lagi..." Papa menimpali.


"Udah sembuh pa, hanya perlu makan aja biar semakin fit..."


"Iya... silahkan, papa sudah selesai."


Ben dan Keke mulai makan. Mama dan papa yang duduk bersisian belum beranjak, sesekali mereka berdua bercakap, hubungan keduanya makin baik aja. Mama Virda sudah tidak sungkan lagi berdekatan atau bercakap dengan papa Ramly, tapi sejauh ini keduanya terlihat biasa sejak Keke mengungkapkan keinginannya pada papa, tidak ada perubahan apa-apa, tapi Keke hepi melihat hubungan baik orang tuanya.


Keke makan dengan diam di samping Ben, gejolak pikirannya mempengaruhi minatnya untuk makan. Entah bagaimana merubah keputusan Ben, dia mulai mengerti bahwa suaminya punya sikap yang kuat dan punya prinsip terutama bila tentang pekerjaan.


"Aku ke kamar ya... badan aku gak enak..."


Keke akhirnya menyerah, moodnya yang berubah membuat tak nyaman duduk di sini dan tidak bisa menelan makanannya.


"Ike belum selesai makan kan, harus makan biar janinnya tumbuh dengan baik..."


Mama mencoba menahan Keke.


"Nanti Ike makan lagi..."


"Aku antar ke kamar..." Ben berdiri.


"Aku bisa sendiri... lanjutkan makan aja, Nyo..."


Sore hari... Keke terbangun. Tadi akhirnya dia tertidur, sementara Ben setelah makan terlibat percakapan panjang dengan papa Ramly di meja makan itu. Saat kesadaran kembali sepenuhnya, Keke melihat suami sedang duduk menghadap laptopnya di sebuah meja kerja yang ada di sudut kamar di samping jendela besar kamar itu.


Keke duduk bersila di tempat tidur. Ben yang menangkap dengan ekor mata gerakan sang istri datang mendekat.


"Inyo gak tidur siang?" Serak suara Keke.


"Iya... aku memeriksa beberapa email..."

__ADS_1


Ben duduk di samping Keke dan meraih tubuh istri masuk ke pelukannya.


"Makan lagi ya... tadi kamu gak makan loh..."


Keke tak merespon.


"Sweety..."


"..."


"Rens..."


"Iya... nanti..."


"Ayo makan dulu, aku temenin..."


"Nanti aja, masih malas gerak..."


Keke kemudian tiduran lagi sambil meraih sebuah guling dan memeluk guling itu sambil menutup matanya lagi.


Ben kembali ke meja kerja, kembali fokus menatap laptop. Keke memperhatikan suaminya, raut wajah serius yang belum pernah dia lihat selama ini, menyimpulkan bahwa suami akan memilih pekerjaannya, memilih berjauhan darinya, dulu pernah bilang akan berhenti dan nampaknya itu tak akan terealisasi.


Memikirkan itu, rasa sedih segera menancap di hati, merasa bukan siapa-siapa untuk suami dibanding pekerjaan. Beberapa saat dia menahan tangisnya tanpa suara, hanya airmata yang turun di pipi dan Keke mengunakan bantal gulingnya untuk menutupi wajahnya.


Kenapa jadi sedih sih... marah juga... kenapa perasaan jadi begitu terikat padanya? Dia sendiri nampaknya gak masalah saat berjauhan, malah lebih sering lupa sama aku... hiks.


Di tempat tidur, Keke bergulat dengan pikiran dan kesedihannya, ingin keluar saja dari kamar, tapi tubuhnya terasa lemah. Lama-lama tangisan tak bisa dibendung lagi, akhirnya suara isakan keluar tak bisa di tahan.


"Heiii.... sayang, ada apa?"


Ben yang mendengar tangisan kecil istrinya datang dan segera memeluk Keke yang sudah menyembunyikan kepalanya di bawah bantal. Ben meraih bantal itu, Keke menempelkan wajahnya di guling yang dia peluk, masih terisak.


"Kenapa?"


Tangan meraih guling yang Keke peluk lalu menggeser lembut wajah Keke ke dekat dadanya. Tangannya kemudian mengusap sayang kepala sang istri, memberi beberapa ciuman di sana.


"Ada apa? Apa yang sakit, sweety..."


"..."


"Ayo... ngomong, biar aku tahu... pusing lagi ya?"


"..."


"Kita ke dokter ya?"


Keke menggelengkan kepala, masih menangis di dada suami.


"Lalu apa? Apa yang kamu rasakan? Perutnya sakit?"


"Gak..."


"Apa dong?"


Keke diam, tak mengerti dengan perubahan dalam dirinya, dengan cepat bahagia berganti menjadi kesedihan, tertawa menjadi tangisan, tapi malas juga untuk menjelaskan pada Ben apa yang ada di hatinya.


"Sweety... kamu menangis kenapa? Kamu sedih ya? Karena aku... atau? Apa dong, kasih tahu ya..."


"..."


"Rens..."


Ben melepaskan pelukan dan menatap wajah istri yang sembab, ada airmata di pipi. Ibu jari tangannya mengeringkan pipi istri.


"Ngomong ya Rens... biar aku gak bingung... aku sedih juga kamu menangis kayak tadi..."


"Aku gak suka Inyo pergi lagi ke Manokwari, itu jauh, di sana Inyo suka gak kasih kabar malas telpon aku... pekerjaan kayaknya lebih penting dari aku... hiks... hiks"


Akhirnya keluar juga alasan sakit hati pada suami yang terpendam selama ini...


.


.


Jika tubuh sakit atau terluka sakitnya mungkin hanya sementara walaupun membekas tapi setelah sembuh... selesai, dan manusia bisa menahan dan melupakan rasa sakit yang dialami tubuh.


Tapi jika yang sakit adalah hati, kadang rasa sakitnya lebih besar dari pada sakit yang menimpa tubuh. Luka yang disebabkan sakit hati bisa menggores begitu dalam menyimpan kenangan pahit dan kepedihan tidak gampang hilang atau dilupakan.


Tapi... sakit hati bila menemukan cinta, itu obat yang manjur, termujarab. Cinta yang sabar dan lemah lembut bisa meredakan sesakit-sakitnya sebuah hati...


.


Aku mengucapkan selamat Natal buat yang merayakan... Happy Christmas... bagikan cinta untuk semua, cinta membuat damai sejahtera bekerja dalam hati...


.


Maaf ya... banyak kesibukan makanya gak bisa up.


Love you all....


❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2