Fate Or Destiny

Fate Or Destiny
Eps. 33. Rutin Aja Sih...


__ADS_3

Keke menatap bingung karung-karung besar berisi beberapa jenis sayuran juga beberapa jenis bumbu, banyak banget.


"Tante Wis... ini dari mana, siapa yang bawa?"


"Gak bilang dari siapa, bilangnya dari Rurukan-Tomohon..."


"Untuk kita? Aku gak pernah pesan soalnya..."


"Iya... jelas kok bilangnya buat Renske Supit."


"Mereka gak minta uang atau tinggalin nomor hp?"


"Gak ada... katanya nanti mereka yang telpon Keke..."


Apa mereka orang yang dia kenal, karena mereka punya nomor ponselnya? Keke mengambil ponsel yang dia tinggalkan tadi di dalam sebuah lemari dapurnya. Tidak ada panggilan tak terjawab. Hanya ada sebuah pesan dari Benaya. Hampir dia mengabaikan lagi, tapi dia ingat Ben pernah komplain soal Keke yang tak peduli dengan chat atau panggilan dari Ben.


Ada chat kangen masuk pagi tadi. Keke senyum kecil, mencari emoticon senyum dan... send. Ben semakin sering mengungkapkan cintanya dan semakin berani mengekspresikannya. Perlahan juga sosok kakak menyebalkan berganti menjadi sosok kekasih penuh cinta di hati Keke, dia mulai terbiasa dengan semua afeksi seorang Ben untuknya.


Ponsel baru diletakkan sudah berbunyi... Tak puas rupanya hanya menerima sebuah senyum berbentuk bola kuning. Panggilan video si kak Bens...


"Ya..."


Keke memposisikan ponselnya tegak bersandar di atas lemari dapurnya dan langsung menyusun belanjaannya dari supermarket ke storage khusus botol bumbu. Ben sedikit terkejut Keke mau mengangkat panggilannya, biasanya kan gak.


"Hei... lihat sini dong..."


"Lagi rapihin barang, kak Bens ngomong aja... banyak kerjaan menunggu..."


"Ok... ok sayangku yang super sibuk..."


"Ini memang jam sibuk aku, bentar lagi mau porsi makanan rantang, itu makan waktu... ada perlu apa?"


"Astaga... gak ada manis-manisnya..."


"Iya karena aku bukan air mineral itu..."


"Hahaha... bisa ngelucu juga kamunya..."


Keke senyum sedikit aja, apanya yang lucu?


"Baru dari mana? Tumben gak pake apron sama topi...?"


"Heeiii..."


Keke selesai menyusun botol dan bumbu kemasan. Dia menghilang dari layar ponsel Ben, mengambil pakaian dinasnya sebelum lanjut kerja di dapur itu.


"Ya..."


"Dari mana tadi?"


"Supermarket, belanja..."


Keke menjawab pendek sambil mengenakan penutup kepala lalu apronnya, dua-duanya warna hitam. Kemudian Keke mulai mengenakan sarung tangan pinknya. Ben menyaksikan adegan itu sambil senyum, meskipun luas pandang terbatas tapi melihat Keke yang tak malu-malu lagi membuat Ben tenteram, jarak makin tipis di antara mereka berdua, berarti banyak buat Ben yang sudah menyusun banyak rencana untuk mereka berdua.


"Seksi deh... kamu yang seperti itu..."


"Omongannya gak mutu ah..."

__ADS_1


"Hahaha... beda aja liat kamu... Di kantor udah sering liat yang aneh-aneh baju yang gak selesai dijahit... lihat kamu yang seperti sekarang... unik aja. Belum sepatu boot plastiknya... hahaha."


Keke senyum simpul dan melirik tampilannya sampai ke kaki... biasa kan ya para koki pakai apron... apanya yang unik? Dia aja gerah tapi dia mementingkan kebersihan makanan, pasukannya juga menggunakan perlengkapan yang sama, kayak jadi APD lengkapnya mereka awak dapur Keke's Catering.


"Gak sibuk emang?"


"Sibuk sih, tapi lagi kangen kamu, makanya telpon aja, lagi butuh semangat juga, liat kamu jadi tambah semangat deh buat kerja hari ini..."


Keke melirik kiri-kanan, semoga ucapan Ben gak didengar pasukannya, untunglah mereka lagi konsentrasi sama pekerjaan masing-masing.


"Udah dulu ya... aku harus kerja..."


"Oke sweety... aku juga lagi sibuk nih... nanti siang aku minta klappertart aku ya kirim bareng makanan kita..."


"Iya..."


Keke mematikan ponsel. Harus gerak cepat sekarang, puluhan rantang menunggu dia, termasuk makan siang pacarnya bersama staffnya.


"Tante Lenda udah mulai ya..."


Keke bergabung dengan tante Lenda yang mulai menakar lauk ke beberapa rantang.


"Iya. Keke, besok kalau ke pasar tinggal beli tomat, kemiri sama bawang putih, itu karung-karung tante udah periksa semuanya bisa kita gunakan buat masakan besok malah seminggu ini..."


"Apa aja isi karung itu tante?"


"Bawang merah, jahe, kunyit, daun bawang, cabe keriting sama cabe rawit... ada wortel, kol sama kentang."


"Ada sawi juga Ke... banyak pokoknya," tante Wisye menimpali.


"Siapa yang kirim ya?"


"Ada kenalan atau keluarga kali?"


Tante Wisye juga penasaran, bahan makanan yang begitu banyak entah dari siapa. Tadi saat ditanya dari siapa si supir sama satu orang pria yang menurunkan semua itu tidak memberi informasi.


"Perasaan aku gak kenal siapapun orang Tomohon, keluarga mama juga gak ada di sana..."


"Emm... keluarga papanya Keke?"


Tante Lenda bertanya asal saja, tapi Keke jadi terhenyak...


"Gak tahu juga kalau ada yang tinggal di sana."


Keke tahu lah dari mana marga yang melekat di namanya. Opanya Keke memang bermarga Supit asal dari Tomohon, tapi baik opa maupun papanya setahu Keke mereka sudah lama tinggal di Leilem, di kampungnya oma Beatrice. Ya... Keke jadi ingat oma Beatrice itu mama dari papanya, sering diulang-ulang sama mama sebagai alasan mama dan papanya pisah.


"Banyak banget buat stok kita, cabe, kunyit dan jahe malah bisa buat sebulan, tinggal dibersihin masukin freezer. Bawang merah tahan juga asal jangan disimpan di tempat lembab. Sayuran juga banyak banget, malah sekarang bingung mikirin menunya, gak mungkin kan itu-itu aja selama seminggu ini," tante Wisye ngomong sambil memeriksa lagi isi karung.


"Itu gampang, kita pikirin nanti... yang harus dikasih tahu si Ety, apa-apa yang gak perlu dia siapin lagi. Keke telpon si Ety deh..."


"Itu juga... kita biasa langganan sama Ety..."


"Gak apa-apa Keke, kita juga gak tau dapat kiriman banyak begini..."


"Tapi gak enak menggunakan itu, belum tahu dari siapa..."


"Ini bahan makanan yang gak tahan lama, Keke... kita gunakan aja hitungnya belakangan."

__ADS_1


"Aku gak biasa seperti ini, kayak berhutang..."


"Keke... dibiarin dalam karung juga justru cepat busuk, mubazir jadinya."


"Ya udah... tapi malah repot kan buat bersihin itu semua..."


Keke memikirkan efisiensi pekerjaan juga waktu.


"Nanti tante Wisye yang bersihin, Keke... sebentar gak apa-apa pulang sore."


"Banyak itu tante, aku siang ini gak bisa juga bantu bersihin, aku sama Titin ada pesanan kue dan klappertart untuk Rudis walikota."


"Tante Lenda gak pulang juga deh... bantuin Wisye..."


"Oke... tante-tante yang baik hati... makasih banyak, nanti deh aku hitung lembur aja..."


"Ehh... gak usah, ya kan Wis..."


"Iya gak usah... kita berdua juga ada perlu sama Keke, mau minta tolong..."


"Apa tan... kalau aku bisa ya..."


"Len... kamu yang ngomong..."


"Apa tan... gak usah malu..."


Keke menatap kedua ibu yang terlihat malu-malu mengutarakan maksud mereka. Keke bersyukur mendapatkan orang-orang yang termasuk setia. Awal-awal orang yang kerja dengannya suka gak betah dua tiga bulan sudah berhenti. Mereka yang sekarang, tante Wisye, tante Lenda, Titin dan Tole sudah beberapa tahun bersama dia. Tante Lenda memang sempat berhenti merawat suami yang sakit beberapa bulan.


"Ehmm... tante Lenda sama Wisye boleh gak tinggal di sini aja, kan kamar Keke yang di bawah kosong. Wisye anaknya bulan ini akan pindah ke perumahan di Minut sana, jauh kalau ke sini berapa kali naik angkot. Tante Lenda sih berharap bisa juga biar gak ngontrak rumah lagi, dua bulan lagi sih selesai, tapi dua bulan kan gak lama lagi, terus cucu tante juga minta pulang ke rumah mamanya, jadi tante bakal tinggal sendiri."


"Oh... begitu ya..."


"Iya... Keke, tante pikir juga kalau ada kerjaan lain kan lebih enak aja, kita cuma di sini gak perlu pulang, waktu kerjanya bisa lebih panjang."


"Terserah tante berdua deh, kalau maunya gitu... tapi aku pikirin dulu soal gajinya ya kalau tambah jam kerja..."


"Terserah Keke kalau soal itu, yang penting kita udah gak pikirin soal ngontrak atau ngekos lagi... impas aja sih sebenernya..."


"Mmmh... gak lah... Titin aja kalau tambah jam suka dihitung lembur... nanti aku pikirkan ya gimana baiknya, biar kita sama-sama enak. Tapi kamarnya bersihin sendiri, udah beberapa bulan gak dipakai. Ada tempat tidur sama lemari, di ruangan situ juga ada TVnya... terserah mau pindahan kapan ya..."


"Iya Keke, makasih ya... tante Lenda tau Keke gak keberatan... Keke memang baik, banyak berkatnya kalau orang baik..."


"Amiin tante..."


"Ini buktinya... berkatnya berkarung-karung..."


Keke tersenyum... anggap saja seperti itu, bahan makanan mentah yang banyak itu entah dari siapa, masih penasaran hingga detik ini. Jika dihitung nilai rupiah itu lumayan banget dia menghemat pengeluaran.


Sebuah pemberian, besar atau kecil, banyak atau sedikit, patut disyukuri. Mereka yang menerima dengan rasa syukur tak segan untuk memberi juga. Kadang orang antusias disaat menerima, tetapi tertekan disaat memberi...


.


.


Maafkan... mungkin part ini agak membosankan. Ada kesibukan dan aku sempatkan nulis di sela--selanya... ada ide yang udah mampir eh pas mau nulis udah pergi aja...


Sorry ya, jika kurang menarik 🙏

__ADS_1



__ADS_2