
Banyak orang menghabiskan seluruh hidupnya untuk mencari kebahagiaan, tapi di akhir hidupnya dia tetap merasa hampa. Hanya segelintir orang yang mampu mengenali sumber kebahagiaan ternyata ada sangat dekat.
Benaya tahu dia tidak harus mencari lagi, dia sudah menemukan bahagia pada sosok gadis remaja menjengkelkan di masa lalu tapi gadis paling berarti di masa sekarang. Ben hanya perlu berusaha meraih hati gadis itu, dan dia menikmati hari-hari pendekatannya, tetap semangat 45 dia.
Nyatanya hari ini Benaya hepi, menikmati makan siang di hari minggu di tempat Keke. Di lantai atas ruko ada pantry kecil dan ruang makan minimalis yang bersambung dengan ruang duduk, lebih luas dan lebih nyaman. Selera Keke bagus juga ternyata, sekalipun tak banyak furniture sesuai kebutuhan saja, tapi ruang atas ini sangat nyaman.
Walaupun Keke masih pelit omongan tapi dia tak menunjukkan keberatan lagi Ben ada di sekitarnya hampir setiap hari. Ruko ini seperti jadi rumah kedua Ben. Rumah belakang hanya tempat untuk mandi dan tidur, selebihnya dia akan ada di sini. Jika benar-benar sibuk di kantor baru dia tidak muncul di sini, maklum sedang memperjuangkan masa lalu untuk menjadi masa depan.
Tapi Ben harus pintar-pintar menjaga dan menahan kerinduannya untuk menyentuh Keke. Walau kadang harus menahan gemas karena Keke belum mau merespon ucapannya.
"Enak... ya Yica... makannya lahap banget... hahaha..."
Ben mengulurkan tangan mengambil tissue di dekatnya dan membersihkan wajah Lisya yang belepotan karena ayam kecap. Mulutnya penuh makanan, lucu... sampai pipinya menggembul.
Ben sengaja memasak hari ini karena dia tahu di hari minggu dapur di ruko ini walau ada dua sekarang tidak akan berasap. Menunya sederhana saja, ayam kecap doang resep dari mama saat dia pindah ke apartemen. Stok makanan mentah di ruko ini banyak jadi Ben tak kesusahan mengambil sendiri semua bahan dan bumbu dan memasak sendiri di lantai dua.
"Makannya sedikit-sedikit, De... ayamnya ada banyak kok gak akan habis..."
Keke duduk di samping Lisya, dan... persis di depan Benaya. Ahh... ada yang mulai membuka diri.
"Nati tata Pia ambiy... (nanti kakak Via ambil)..."
"Nanti mami Keke simpan buat Dede makan sebentar malam ya... atau kalau abis... minta Omen masak lagi..."
Hati seseorang sedang penuh bunga sekarang, walau tak bicara langsung, tapi kalimat itu berarti banget buat Ben, semacam sebuah pengakuan dan penerimaan buat dia. Tak sia-sia rupanya dia bersabar, menanam benih kepedulian pada keluarga Keke, adiknya dan dua ponakannya. Tulus memberi kedua bocah ini perhatian tanpa dia sadari sebenarnya seperti menyiram benih kepercayaan di hati Keke. Mungkin Keke sudah mulai melihat Ben sekarang ya...
"Iya... Yica bilang aja kalau pengen ayam kecap, Omen masakin... Oke?"
Jadi mengikuti cara Lisya menyebut dirinya, eh tapi karena Keke menyebutnya seperti itu. Pernah berharap Keke memanggil dia kak Bens lagi tapi udahlah... Omen aja, enak dengernya saat keluar dari mulut si Keke.
Ben.... you makin absurd deh...
Ben teringat sesuatu...
"Rens... aku janji ajak anak-anak main ke mall sore ini, boleh?"
Keke menatap Ben sebentar, tapi tak menjawab.
"Dede mau ikut Omen ke mall?"
"Mau itut (ikut)... Matan tati boyeh?"
"Ini lagi makan ayam, nanti malam juga makan ayam kan? Yang lain aja..."
__ADS_1
Dasar anak kecil ya... setiap hari makannya gak bosan lauknya ayam. Keke tersenyum pada Lisya. Ben terkesima... sekalipun bukan untuk dirinya, tapi lesung pipit yang sudah lama dia angankan bisa terlihat hari ini.
"Pica?" (Pizza)
"Tanya Omen..."
"Omen, matan pica boyeh?"
"Itu apa Rens?"
Mata Ben yang belum bergeser sejak tadi kembali bersirobok dengan mata Keke yang langsung berkedip dan menoleh ke Lisya lagi.
"Pizza, maksudnya..."
"Oh... boleh boleh, nanti kita makan pizza ya?"
"Sekarang cuci tangan, cuci mulutnya ya... nonton sebentar atau main apa, lalu bobo siang, sorenya kita ke mall..."
"Mami Keke ikut?"
Livia yang sejak tadi makan dalam diam, tiba-tiba nyeletuk.
"Eh... gak Via... kalian sama Omen aja, mami Keke di rumah..."
Via sedikit memaksa, sudah beberapa kali janji mami Kekenya tertunda. Mata memohonnya yang menatap Keke membuat Keke tak tega. Anak pendiam ini jarang sekali meminta sesuatu padanya. Keke jadi salah tingkah, masa ikut dengan si Ben sih, meski ada anak-anak tapi itu canggung amat.
"Nanti aja, mami Keke rencananya pergi bareng om Rommel..."
"Kak, ikut aja sekalian, aku mau belajar besok ada ujian.."
Rommel yang duduk di sofa, matanya ada di TV sedang menonton F1 langsung menyela.
"Yec....mami Thethe itut mol..."
Keke tak bisa berkelit lagi. Tangannya menarik turun Lisya dari kursi, kemudian mengambil sebuah Dengklek dari kayu buat Lisya berdiri di depan wastafel untuk mencuci tangan dan mulut. Sementara Benaya menyimpan senyumnya, tak ingin Keke mengetahui betapa senangnya dia saat ini. Berharap Keke tidak bersikeras tidak ikut di depan anak-anak.
Ada kasur tipis yang sering dipakai anak-anak saat nonton TV, Ben tertidur di sana. Hatinya semakin plong sekarang, jadi kayak bebas aja mau ngapain di rumah ini. Dia terbangun saat ada suara anak kecil dekat di telinganya, bahkan bagian perutnya terasa ada beban yang membatasinya bergerak. Kemudian ada suara perempuan terdengar merdu...
"Dede... jangan ganggu Omen ya... kasihan cape. Nanti Omen bangun sendiri aja. Ayo turun, nanti perut Omen sakit Dede duduki seperti itu."
Ada suara wanita yang peduli padanya, siapa sih?
"Omen... mau te mol, banun... (Mau ke mall, bangun)."
__ADS_1
Ben yang sudah sadar sepenuhnya, tapi belum membuka mata, masih ingin mendengar lagi celotehan wanita dewasa itu tentang dirinya...
"De... ayo, nanti aja, kita pasti pergi kok. Tapi Omen jangan dibangunkan, Omen bobo siangnya cuma hari minggu... ayo berdiri De..."
Suara lembut itu kembali terdengar dan seluruh pori-pori kulit Benaya menyerap kelembutan itu, adem banget hati ini... Terasa kemudian si Lisya sudah berdiri dan tidak merengek lagi. Ben menunggu beberapa menit siapa tahu masih ada lanjutan suara Keke... Malah sunyi sepi... saat dia membuka mata tak ada orang di ruangan itu. Ben duduk masih malas, mata mencari jam dinding... ternyata 1 jam lebih dia tidur. Dia berpindah ke sofa dan kembali duduk bersandar memejamkan mata.
"Om Ben... kita jadi pergi?"
Livia keluar kamarnya sudah berpakaian rapi.
"Jadi... jadi... Yica udah selesai?"
"Lagi dimandiin mami Keke."
"Mami Keke udah siap?"
Ben berharap keajaiban...
"Udah..."
"Oh oke... tunggu bentar ya... om Ben ke rumah, mau mandi sama ambil mobil... gak lama kok... bilangin mami Keke ya..."
"Iya..."
Ben menuruni tangga ruko dengan wajah senang, seperti anak kecil yang mendapatkan es krim tambahan, senyum lebar melekat di wajah gantengnya. Senyum yang sering sekali terlihat sekarang walau hanya untuk penghuni rumah ini.
Banyak hal terjadi hari ini. Benar kata orang di hari minggu jangan lupa bersyukur, maka berkat akan dilimpahkan di sepanjang minggu. Dan Ben tadi subuh telah melakukan itu, bersyukur kepada Yang Maha Pengasih dan Penyayang, masih di hari minggu berkah buat Ben sudah mulai dia nikmati. Senyum Keke menjadi berkah tak terhingga buat Ben, apalagi tadi dia mulai menyebut Ben secara implisit, dan mulai merespon Benaya... wow hari ini sangat indah.
.
Membuka mata dan melihat apa yang ada di sekitar, kita akan tahu ada hal-hal yang membahagiakan yang kadang luput dari perhatian sangking kecil dan sederhananya hal itu...
~Author~
.
Bonus up deh... mumpung lagi suka dan lagi punya waktu. Semoga tetap suka yaaaa readers tersayang dan terbaik... lv pollll 🥰
Minta respon baiknya dengan klik Like, Fav, Comment, Vote, Rate.... Tengkiiuuu
.
✳
__ADS_1