Fate Or Destiny

Fate Or Destiny
Eps. 63. Ada Kalian di Antara Kami


__ADS_3

Sejak pulang dari Pondang, Keke terus berpikir tentang mama. Setiap malam Keke tidak bisa segera tertidur, Keke masih akan berputar-putar di bawah selimutnya. Kebiasaan Keke di kamarnya, mengatur suhu pendingin pada suhu terendah tapi kemudian menggunakan piyama panjang serta kaos kaki dan bergelung di bawah selimut tebal, maka tak lama kemudian dia akan segera tertidur. Tapi kebiasaan itu jadi berubah beberapa malam ini.


Ingatannya terus tertuju pada kondisi rumah mama yang panas, dengan iklim tepi pantai yang panas rumah itu pasti jauh dari nyaman. Dan mama bertahun-tahun hidup dengan kondisi itu, dengan fasilitas di rumah yang seadanya pula.


Sementara hidupnya yang sekarang jauh berkali-kali lebih baik dari mama. Apalagi hidup papa Ramly, sangat-sangat berkecukupan. Beberapa usahanya berjalan baik, punya banyak asset dan properti di Leilem, Tomohon bahkan Manado. Keke berandai-andai, jika mama tetap bertahan dengan papa mungkin… ahh.


Sebuah gambaran yang salah tentang mama sekian lama, bahwa mama hidup senang sendiri dan tega terhadap anak-anaknya, itu menjadi salah satu penyebab Keke tidak mengacuhkan mama.


Pagi subuh hari ini, suara doa dari toa terdengar sayup di telinganya, menjadi pengingat juga buat Keke untuk mengambil saat teduh pribadi. Kemudian Keke keluar kamar. Beberapa malam tidur tak cukup membuat dia sedikit limbung pagi ini. Keke tengkurap lagi di meja makan.


"Kak… Kenapa? Sakit?”


Rommel duduk di depan Keke.


“Gak. Mel, kamu ternyata sering ke tempat mama, kenapa gak bilang soal kondisi mama… kasihan mama…”


“Kak Keke suka tak acuh kalau aku ngomong tentang mama…”


Keke terdiam dengan kepala masih bersandar di meja. Keke tidak ingin larut menyesali sikapnya, dia ingin melakukan sesuatu.


“Mel… kita renovasi rumah mama, gimana?”


Keke menegakkan badan dan bersandar di kursi. Rommel hanya menatap Keke.


“Kita beliin mama sofa, meja makan, kulkas. Miris banget hidup mama, di jaman sekarang dapur gak ada kulkasnya… sayuran sama tomat cabe yang kita bawa mama cuma angin-anginkan di atas rak dari bambu. Mel, rumah mama satu-satunya kali di negara ini yang gak punya TV…”


“Di suku terasing orang gak punya TV juga kak…”


“Iyaaa kak Keke tahu, cuma gak habis pikir mama mau jalani hidup yang seperti itu, minim fasilitas, omg wcnya gak bisa omongin lagi, jadi pengen nangis, hidup mama kok seperti jatuh ke dasar banget. Dengan papa dulu masih ada di memori… kami dulu punya mobil di jaman itu Mel, jaman orang beli mobil itu berarti orang yang punya duit banyak. Sekarang hidup mama…”


“Aku pernah beliin mama TV kecil 14’ sesuai uang aku waktu itu. Waktu ke sana lagi TVnya udah pindah di rumah depan. Kata mama TV rumah depan rusak jadi TV mama mereka pinjam karena cucu-cucu si om pengen nonton gak ada TV. Giliran mereka beli TV yang gede, TV mama gak dikembalikan malahan dipindah ke kamar. Aku waktu itu minta lagi kak, malah diancem terus dilarang ke sana lagi.”


“Si Tom kan ya… jadi gara-gara TV dia ngancem kamu. Kak Keke jadi penasaran, pengen hadepin dia. Wahh…”


“Kak… dihh belum ketemu mereka udah niat berantem…”


“Mel kalau memang harus berantem demi membela mama kak Keke gak takut… aku gak suka mama ditekan, gak suka mereka remehin kita… aku dengar sendiri dia nuduh kita ngincar harta mereka, mama juga katanya.”


“Iya sih, dia ngomong itu… makanya aku jadi malas nengok mama lagi, padahal kasihan mama, kayak seneng banget setiap aku datang…”


“Iya Mel… kak Keke lihat itu di wajah mama, mama kangen anak-anak juga…”


“Iya… mama suka nanya Via dan Yica sih…”


Kedua anak itu terpekur di meja makan, mengingat nasib miris sang mama, ada rasa sedih sebagai anak saat tahu mama hidup tidak sebaik mereka.


"Kak Keke ajak mama tinggal di sini mama gak mau gak ingin ninggalin suami katanya..."


"Iya. Mama gak ingin cerai lagi, mama sakit hati dicap perempuan yang suka kawin cerai. Mama pernah ngeluh sih sebenernya, anak-anak om udah punya anak-istri tapi gak kerja. Sengaja tinggal di rumah itu semua, makanya mama terpaksa pindah ke belakang. Si om lemah sama anak-anaknya, ngikutin semua perkataan mereka, ngambil semua duit. Makanya mama buka warung, aku sih yang tambahin modal, eh anak-anak om suka ambil apa-apa gak bayar..."


"Ohh?? Wahhh Kak Keke gak bisa diamin ini berarti. Mel... telpon mama. Siapa tahu udah bangun sekarang…”


"Udah bangun lah kak, pagi-pagi om harus sarapan sebelum ke kebun..."


Rommel beranjak ke kamarnya, saat balik lagi dia ngomong…


“Sini hp kak Keke, aku simpan nomor mama.”


“Tuh, di dekat TV…”


Rommel melakukan sesuatu di hp Keke dan langsung menelpon…


📱

__ADS_1


“Ma…”


“Rommel… udah lama mama gak ketemu kamu…”


“Iya ma, sorry ya… Rommel lagi sibuk, nanti ya Rommel ke rumah mama…”


“Makasih ya, selalu kirimin mama pulsa…”


“Iya ma… Mama sehat-sehat kan?”


“Iya… mama sehat kok. Ike datang waktu itu… mama senang banget Mel… Ike mau lihat mama.”


“Ini kak Keke mau ngomong sama mama…”


Hp pun berpindah tangan. Keke meletakkan di atas meja dan menghidupkan speaker.


“Ma… Ike rencana mau renovasi rumah mama… mau pasang plafon sama lantainya dikasih ubin. Semua pokoknya, dapur sama wc juga…”


Mama diam di seberang sana…


“Ma…”


“Iya Ike, maksud Ike baik, tapi mama tanya om dulu ya, om ijinin apa gak…”


“Ma… kasih tahu suami mama, itu untuk kenyamanan mama sama suami…”


“Iya… tapi kan tetap aja harus diomongin…”


“Oke… Ike tunggu beritanya…”


“Iya… mama nanti main ke Manado, pengen ketemu anak-anak.”


“Datang aja, tapi nginap ya ma…”


“Iya… mungkin minggu ini…”


“Iya…”


“Bye ma…”


.


“Kak… Papa Ramly ada di sini loh… Mungkin mama gak nyaman bertemu papa…”


“Aduuh… kak Keke lupa itu…”


“Kasih tahu papa atau biarkan aja jadi surprise buat mereka berdua?”


“Gak tahu… gimana baiknya?”


Keke bingung, kemarin mama terlihat sungkan membahas papa Ramly. Keke juga jadi tidak enak meminta kepastian kehadiran mama karena raut wajah mama berubah saat tahu tempat acara tunangan.


“Menurut aku, kalau mama tahu papa Ramly ada di sini, mama gak akan ke sini…”


“Iya, benar kamu Mel… gimana dong?”


“Papa Ramly sih biasa aja mungkin, bisa mengendalikan diri, gak mungkin baper… tapi mama?”


“Iya Mel, papa kayaknya siap aja ketemu mama. Papa yang minta kak Keke kasih tahu mama soal acara tunangan kan… Jujur, sekarang ini kak Keke pengen mama dan papa hubungannya baik lagi. Mungkin papa juga seperti itu, soalnya papa yang mendorong kak Keke bertemu mama, tapi apa mama mau? Aduuh bingung… bilang ke mama aja kali ya… takut mama marah atau apa…”


“Ada apa dengan mama, Ike?”


Papa sudah di dekat meja makan dan mendengar akhir kalimat Keke.

__ADS_1


“Eh… selamat pagi, pa…”


“Pagi… kenapa mama kalian?”


Keke dan Rommel saling tatap dan saling memberi isyarat. Akhirnya Keke menjawab sang papa…


“Pa… mama mau ke sini…”


“Kapan?”


Papa duduk di sebelah Keke.


“Belum tahu, kata mama minggu ini sih…”


“Oh begitu…"


“Tapi… mama kelihatannya gak mau ketemu papa.”


“Toch mama pasti ketemu papa saat Ike tunangan…”


“Sebelum tahu di mana tempat acara, mama antusias pengen hadir, setelah tahu di rumah papa, mama langsung diam.”


Papa Ramly menghela napasnya. Dan berkata pelan...


"Cepat atau lambat kami pasti bertemu. Tidak usah beritahu mama kalau papa ada di sini, biarkan mengalir aja... semoga hubungan kami bisa baik lagi karena ada kalian semua di antara kami. Papa juga ingin ketemu mama..."


"Ehh... baik pa... Papa mau sarapan apa?"


.


🍀


.


"Anak tante mau perbaiki rumah belakang..."


"Hekh... ngapain dia urusin rumah orang, emang beneran dia punya banyak uang?"


"Biar kami nyaman katanya..."


"Alaah... alasan... modus, supaya kalau papa mati tante itu bisa klaim itu miliknya. Akal-akalan mereka aja itu, sok mau tunjukin orang kaya... kasihan banget sampai harus ngaku-ngaku dia banyak uang lah, punya banyak mobil lah... pacarnya boss perusahaan lah. Basi itu, gak mungkin... realitanya mama mereka nikah sama papa buat nguras harta papa. Untung kita anak-anak gak bisa ditipu."


"Anak tante itu memang punya usaha di Manado papa pernah anterin tante ke sana. Dia kerja jadi dia punya uang tentu saja. Dia juga anak satu-satunya dari mantan suami tante yang di Leilem. Istri om Bert orang Leilem, dia cerita sama papa, mantan suami tante punya banyak usaha, memang orang kaya, banyak hartanya. Jadi dia gak membual kalau bilang punya uang, dia gak sok mau tunjukin ke kita. Untuk apa dia mau ambil punya kita..."


"Alaah belagu aja, sok mau tunjukin hidup mereka di atas kita begitu? Gak usah recokin milik orang... sombong banget... Sekarang aja alasannya buat kenyamanan si tante, begitu papa mati mereka pasti ngomong itu mereka yang bangun..."


"Tom... dari tadi kamu ngomong papa mati... kamu minta papa mati sekarang?"


"Bukan, tapi papa kan menuju ke sana. Aku mau bilang tante itu gak ada hak apapun di rumah ini atau rumah belakang bahkan semua milik papa, ingat itu pa..."


"Dia istri papa, rumah belakang papa bangun karena kalian semua datang di sini, itu jadi hak dia."


"Gak pa... gak ada, tanah ini dari muka sampai belakang sertipikatnya nama mama ya... gak ada hak tante itu di sini."


"Tom... dia istri papa..."


"Gak ada yang suruh dia menikah dengan papa kan, apa tujuannya nikah sama duda selain ngejar harta."


"Tom, tante gak seperti itu..."


"Jangan bela tante itu lagi dan jangan lakukan sesuatu di rumah itu. Gak akan aku ijinkan."


.

__ADS_1


.



__ADS_2