
Kehidupan bersama sebagai suami-istri yang dinikmati belum lama, baru hitungan jam, dengan banyak hal pribadi yang semakin tersingkap. Bukan hanya pemandangan polos fisik masing-masing yang masih mengundang rona merah, tapi hubungan batin semakin ditegaskan dengan semua sentuhan hasrat mendalam yang tak lagi tabuh, pengembaraan eroti s dalam jam-jam keintiman karena akses yang tak susah lagi, semuanya… membuat seseorang enggan untuk beranjak meninggalkan ruangan yang semua dindingnya seolah berlukis romansa bersejarah moment pertama sepasang suami istri baru. Ada yang masih bermalas-malasan di tempat tidur, walaupun sudah didesak untuk segera mandi.
“Kak Bens…”
“Hhhmh…”
“Ayo bangun, kita harus sarapan dulu sebelum berangkat…”
Tak ada sahutan. Keke sudah selesai mengatur kembali semua pakaian dan perlengkapan pribadi lain milik mereka berdua, bahkan dia sempat merapihkan kamar itu, terbiasa merapihkan rumah membuat matanya tak nyaman melihat sesuatu yang berantakan. Hari ini setelah sarapan rombongan dua keluarga besar harus check out dari hotel dan melanjutkan menuju sebuah resort di pulau Siladen, dan akan menginap di sana selama dua hari.
Papa Ramly begitu antusias pada pernikahan anak tercinta, rela mengeluarkan biaya untuk trip kali ini, sekaligus bentuk hospitality untuk keluarga besan. Lagi pula sudah lama dia tidak menikmati hal lain selain berkutat dengan kesibukan menjalankan usahanya. Kali ini ingin rehat sejenak, menikmati hidup, menikmati kebersamaan terutama juga dengan keluarga sendiri, juga keinginan untuk membuat momen-momen dalam pernikahan Keke lebih berkesan.
“Kak…”
“Hhhhmh..."
"Aku gak apa-apa sih gak jadi ke Siladen..."
Si suami hanya bergerak sedikit.
"Benaya Petra Manoppo..."
Menyebut nama lengkap suami, mulai gemes belum kesel, si suami gak merespon sesuai keinginannya. Keke duduk di samping suami sekarang.
"Hhmmh... iya Renske Eunike Supit, nyonya Manoppo..."
Ben menjawab sama lengkap nama istrinya ditambah predikat, tapi dengan nada masih malas, tubuh masih berbaring setengah telungkup di kasur king size itu, menyembul tubuh bagian punggung dan dua lengan yang telanjang dari dalam selimut putih serta kepala yang bersandar posisi miring di bantal itu.
Sebelumnya, sama dengan kejadian di subuh pertama, Keke yang selalu terbangun lebih awal, aktivitas rutinnya ikut membangunkan sang suami, dan terjadi lagi apa yang menjadi kisah utama penganten baru di ranjang pengantin mereka. Kali ini memakan waktu lebih panjang, secara naluriah kemampuan dan keinginan untuk bereksperimen lebih dalam, lebih jauh, lebih panas dan lebih berani, datang dengan sendirinya. Intuisi bekerja dengan baik menuntun pada penemuan terbesar yang begitu mengubah hidup dua sejoli, bahwa ada kebutuhan yang pencapaiannya bisa saling memuaskan.
“Kaaak…
Keke menepuk-nepuk punggung telanjang itu. Mulai mencerna sebuah kebiasaan suami, saat tiduran meskipun dipaksa jika dia belum ingin bangkit maka dia akan diam tak bergerak.
"Kak Bensss..."
Nada merajuk mulai muncul.
“Apa… masih pengen tiduran, aku cape sayang...”
Suara bass sangat rendah kemudian, akhirnya membalikkan badan, membuka mata dengan enggan, mencari wajah sang istri.
"Eh... cape ngapain? Di kamar terus... ayo ahh..."
“Sweety… tadi subuh itu aku kerja keras loh... menguras energi...”
"..."
Keke melempar tatapan jengah tapi tangan Ben terulur mencari pelukan pada pinggang Keke yang belum beranjak dari sisi tempat tidur.
"Mandi, kaaakk... sekarang. Ayoo... kak Bens loh yang antusias mau ikut..."
"Cium dulu..."
"Gak ahh... udah tadi..."
Keke melepaskan pelukan suami dan berdiri, ekspresi kecewa suami membuat Keke tertawa lembut. Kak Bensnya berubah total dua hari ini, lelaki dewasa yang selalu menatap dengan tatapan mengendalikan dan menguasai dirinya, selalu ada sorot ketegasan yang menyertai setiap ucapannya. Sekarang… begitu imut dan manja, Keke jadi Ingat Lisya saat menginginkan sesuatu.
Suami akhirnya duduk di tempat tidur.
"Atau kita batal ikut aja? Aku masih belum yakin bisa naik speed boat."
"Masa batal, kapan lagi bisa belajar mengatasi phobia kamu... oke aku mandi ya..."
Ben menuju kamar mandi, sebelumnya menyempatkan memberi satu kecupan di bagian samping kepala Keke. Saat di depan kamar mandi Ben membuka celana training berwarna hitamnya.
"Jam berapa berangkatnya?"
"Jam 10 pagi, makanya cepetan mandi biar masih keburu sarapan..."
Keke menjawab sambil mengambil celana yang dilepas Ben dan menahan godaan untuk memandang tubuh polos suami yang ada di balik kaca, melipat celana dan menyisipkan ke sebuah tas ramah lingkungan, kemudian keluar kamar menenteng tas itu dan mendorong koper sedang milik mereka ke ruangan sebelah. Lebih nyaman duduk menonton tv dari pada menonton suami mandi.
Sementara duduk sendiri, pikiran Keke mulai tertuju pada perjalanan nantinya, rasa tidak enak mulai muncul di bagian perutnya mengingat laut dan kapal. Tidak pernah naik kapal, tidak pernah pergi ke pantai, entah sejak kapan rasa takut ini ada, yang dia tahu sejak lama dia tidak menyukai ini, bahkan yang dia tahu dia ngeri hanya berdiri di pinggir sebuah kolam renang.
Bell pintu kamar berbunyi. Keke menutup pintu kamar dahulu kemudian membuka pintu keluar. Ada mama dan anak-anak.
"Ike... maaf mama mengganggu..."
"Gak kok... ayo masuk aja..."
"Ben mana?"
"Mandi..."
"Mami, Via gak mau pulang, mau ikut mami... ya?"
__ADS_1
"Yica juga, Yica mau belenang di laut, mau cali kelang sama Metu..."
"Eh... iya... gak ada yang pulang kan?"
Mama dan Via duduk di sofa, si Yica mengekori Keke dang langsung duduk merapat dengan sang mami.
"Oma mau pulang, gak jadi ikut. Kata oma, Via sama Dede juga mau oma anterin ke ruko, gak ada yang jagain kita di Siladen... Mami aja yang jagain ya... sama papi Bipi, ya?"
Via jadi cerewet karena belum ingin pulang ke rumah.
"Kenapa ma?"
"Mama harus pulang, Ke... om masuk rumah sakit, tadi Shello telpon mama... om nginap di kebun, tadi pagi om jatuh..."
"Sakit apa?"
"Kata Shello stroke, untung om ada teman di kebun... Om memang sudah sering pusing belakangan karena darah tinggi tapi masih suka makan daging merah, masih suka maksain diri bekerja..."
"Kenapa nginap di kebun ma?"
"Kalau mengolah kopra memang harus menginap beberapa hari, kerjaan om seperti itu. Makanya mama anterin anak-anak pulang aja, ada Lenda sama Wisye bisa jaga mereka di ruko..."
"Mami..."
Via mau menangis. Keke tidak tega.
"Iya... Via sama Dede ikut mami..."
"Yica jadi pelgi Silamen?"
"Siladen, De..."
"Iya... itu."
Keke senyum sejenak mengacak sayang kepala Yica, Via juga langsung tersenyum.
"Ike... nanti mereka gangguin Ike..."
"Gak ma... Ada Rommel ma, ada papa juga."
"Rommel bilang dia mau mengantar mama aja ke Amurang..."
"Oh iya... gak apa-apa dia temenin mama aja..."
"Eh... gak ma. Jangan pernah berpikir seperti itu, mama itu bukan beban, mama yang buat Ike bahagia juga, anak-anak... kami semua..."
Mama berdiri, merasa bersalah pada Keke tapi suaminya memerlukan kehadirannya.
"Mama berangkat sekarang ya... koper anak-anak nanti mama titip Ramly..."
"Mama udah sarapan?"
"Udah... anak-anak juga. mama pamit ya... Dede, Via jangan nakal ya?"
"Iya oma... Dede mau tulun lagi mau cali Metu, oma antelin ya..."
"Ayo, Via sama Dede tunggu mami di bawah..."
Lalu, akhirnya setelah cukup lama menunggu suami yang melakukan ritual lengkap di kamar mandi, si suami siap dengan outfit couple kaos oblong putih lengan panjang dan celana pendek bahan warna coklat muda. Selain ke kantor, Ben memilih menggunakan sandal ke mana-mana. Kali ini sandal berbahan kulit warna coklat melekat di kakinya. Keke sendiri nyaman dengan flat shoes.
"Tadi ada siapa, sweety?"
Suami ganteng senyum menawan depan istri yang memandang sambil menyembunyikan kekaguman. Dulu suami terlihat biasa aja, gak ada yang terasa menarik, tapi setelah menikah kenapa daya tarik suami jadi berlipat-lipat ya? Si suami yang beberapa hari ini dia perhatikan begitu menonjol secara fisik di tengah keluarga besar suami, rupanya jadi primadona di keluarga juga. Rasa kuatir terhadap mama tersingkirkan sejenak.
"Mama sama anak-anak. Mama pamit pulang..."
"Kenapa gak ikut kita?"
"Om masuk rumah sakit di Amurang..."
"Oh... sakit apa?"
"Stroke."
"Oh kasihan... nanti kita jenguk ya?"
"Ehh? Jenguk?"
"Iya dong... om keluarga mama kan? Masa kita tidak peduli? Nanti pulang dari Siladen kita ke sana..."
"Eh... iya..."
Keke menjawab pelan, iya setidaknya peduli sama mama. Bagaimana pun sikap om dan keluarga mereka pada mama serta pada Keke dan Rommel, sekarang mama pasti sedang susah dengan keadaan ini dan mama juga butuh orang yang mendukungnya. Keke bersyukur Rommel punya inisiatif itu, anak itu selalu lebih awal melakukan sesuatu untuk mama dibandingkan dirinya, dan barusan suaminya juga. Keke harus belajar di sisi ini, belajar lebih peduli dengan keadaan orang lain.
"Kenapa, sayang?"
__ADS_1
Ben datang menghampiri istri yang termenung di tempat duduknya.
"Ehh... gaaak."
"Mulai takut membayangkan laut atau?"
"Eh... iya."
Takut sama laut dan kasihan sama mama...
Ben menarik tubuh istrinya berdiri dan memeluk mesra sang istri.
"Butuh pelukan suami?"
"Ehh??"
Tapi iya, dia sepertinya butuh pelukan. Dan pelukan sungguh besar kuasanya, sanggup menyejukkan hatinya yang gelisah sesaat tadi karena membayangkan perjalanan ini dan ditambah memikirkan mama. Ahh salah satu alasan seseorang harus punya suami, karena pelukan suami bisa berarti banyak.
Ciuman sayang melengkapi rasa yang sekarang tercipta di hati Keke.
"Kita turun aja ya? Aku lapar sekarang. Kita sekalian bawa barang aja, biar gak bolak-balik..."
Keke keluar dari kenyamanan pelukan dengan sedikit enggan. Ben mengambil tas kecilnya dan disampirkan di punggungnya kemudian menarik koper, Keke menenteng 2 tas ramah lingkungan berjalan mengikuti Ben.
"Check lagi aja, sweety, jangan-jangan ada yang ketinggalan..."
"Udah tadi... eh iya charger hp kak Bens..."
Keke berbalik ke kamar dan mengambil charger di nakas, mengedarkan pandangan memastikan bahwa tidak ada lagi yang tercecer.
.
Keke melihat air laut yang biru menghitam di bawah dermaga di salah satu bagian pelabuhan Manado, serta speed boat yang akan mereka tumpangi yang bergoyang-goyang, membuat rasa takut kembali datang, dan rasa tak nyaman di perut pun tiba-tiba muncul lagi.
Rombongan yang berjumlah 37 orang dengan anak-anak sudah bersiap hendak naik ke dua speed boat. Oma dan orang tua Ben serta Rebecca dan anak-anak dan beberapa keluarga dekat lain ada dalam rombongan, sementara sebagian keluarga Ben tinggal di hotel karena harus pulang ke tempat masing-masing dengan penerbangan siang.
Dari keluarga Keke, ada papa Ramly dan dua bocil, ada juga Ma Ade Noniek serta beberapa sepupu Keke, dan tentu saja Inge dan Lody yang jadi panitia kecil mengatur perjalanan mereka dibantu Mima karyawan sekaligus sahabat Inge.
Rombongan keluarga yang cukup besar, akan berangkat dengan dua speed boat kecil.
"Kak... aku mau ke toilet..."
Keke yang gelisah tak bisa menahan serbuan rasa di perutnya. Ben menatap wajah sang istri yang mulai memucat.
"Ayo aku temani..."
"Inge, toilet di mana?"
Keke menghampiri Inge.
"Di sana Ke... agak jauh, di belakang agen tiket itu ada toilet bersih..."
Keke berjalan cepat ke arah yang ditunjuk meninggalkan Ben yang akhirnya bisa mengejar dan meraih tangannya yang dingin.
"Hati-hati sayang..."
Keke tak menjawab, karena perutnya sudah begitu bergolak. Akhirnya setelah lama di dalam toilet Keke keluar. Belum tuntas, rasa tak nyaman masih ada.
"Udah? Gimana?"
Suami langsung meraih tubuh Keke yang tak nyaman itu.
"Sayang, kamu mungkin stress mau naik speed boat. Ayo... gak apa-apa. Nanti aku carikan minyak angin..."
Ben memapah Keke berjalan ke tempat mereka akan naik speed boat.
Melewati perjalanan yang sama sekali tidak menyenangkan, Keke mabuk laut, m untah-munta h dan tak bisa menutupi ketakutannya. Suami yang sigap dengan kantong plastik dan minyak angin, papa juga yang ikut memegang tangan Keke. Tiba di Siladen, Keke lemes. Tapi setidaknya satu hal dia lakukan hari ini, menghadapi ketakutannya.
Tak ada pemandangan yang begitu tenang dan teduh selain di sini, tepi pantai dengan pasir putih yang terasa lembut di kaki. Pantai yang indah, panorama alam yang lengkap... di kejauhan ada pulau Manado Tua yang seperti gunung menjulang di tengah laut, warna putih gading pasir kontras dengan birunya laut. Cahaya siang memunculkan warna biru terang dan bercahaya sejauh mata memandang sampai di horison langit dengan hiasan awan putih. Lanscape laut lepas yang begitu menyegarkan mata. Pepohonan di tepi pantai membuat panas matahari tertahan di antaranya, di barengi hempasan air sesekali di tepian pantai... wahhh... sebuah keindahan yang tersembunyi di pulau ini.
Setelah Keke tenang dan tertidur, Ben keluar dari kamar mereka. Di sudah merencanakan mencoba beberapa hal yang sudah lama tidak dilakukannya sejak sibuk bekerja. Dulu semasa kuliah sering pergi ke beberapa tempat bersama teman-teman untuk diving atau snorkling. Dia ingin mencoba kembali di sini. Tapi yang pertama-tama mengajari istri berenang, membantu istri mengatasi ketakutannya, hari ini satu langkah telah berhasil dihadapi Keke, sebentar sore mungkin Keke akan semakin beradaptasi.
Di luar kamar mereka, rombongan keluarga sudah berhamburan di pantai, langsung berbaur di tengah indahnya pantai Siladen. Ben tersenyum... ini bulan madu ya? Bulan madunya terasa unik.
.
💟
.
__ADS_1