Fate Or Destiny

Fate Or Destiny
Eps. 59. Berdua Aja


__ADS_3

Sesuatu bergolak dalam hati Keke berhari-hari setelah pembicaraan dengan papa Ramly soal mama. Dia masih enggan untuk menghubungi sang mama, bahkan masih cenderung tak menginginkan kehadiran mama, tak ingin keterlibatan mama dalam soal pribadinya. Selama ini sudah seperti itu hubungannya, jauh, biarlah tetap seperti itu. Tapi hatinya tak tenang, jika papa Ramly bertanya dia harus menjawab apa...


"Hei... ngelamun malam-malam..."


Ben datang ke balkon ruko dan langsung memeluk Keke sejenak, menciumi pelipis kanan Keke yang sedang berdiri di balkon itu.


"Kangen..."


Sebuah kata menyertai pelukannya. Seminggu ini benar-benar hanya bisa menelpon di pagi hari atau mampir buru-buru pagi-pagi. Tersisa satu minggu lagi untuk menyelesaikan terutama beberapa hal bersifat administratif, ternyata banyak hal yang perlu dibereskan. Bahkan sepanjang hari sabtu ini dia terpaksa masuk kantor juga.


Keke tersenyum, dia juga kangen. Ben melihat sesuatu yang indah di pipi, lekukan yang selalu mengundang dia... sebuah ciuman datang lagi di lesung pipit itu. Aduuuh... Keke mulai membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Kangen itu punya banyak 'teman' yang akan datang mengikuti, susul-menyusul.


Ben memegang kedua bahu Keke memutar sedikit dan mencium pipi sebelah sebelum lekuk di wajah itu menghilang sempurna. Tuh kan.... Keke mendorong tubuh Ben perlahan.


"Udah makan kak?"


"Udah... aku ke sini buat makanan penutup..."


"Aku gak buat klappertart hari ini... udah gak ada lagi di kulkas, di toko udah habis juga kayaknya..."


"Pikirkan sesuatu yang bisa kamu kasih ke aku..."


"Udah cape banget kalau mau buat sesuatu kak... sorry..."


"Mmh... ini aja makanan penutup aku..."


Dan sebuah trik berlabel makanan penutup dimulai.


Ben merapatkan tubuhnya ke tubuh Keke, satu tangannya menahan lembut punggung Keke, kemudian sebuah ciuman panjang menyatukan keduanya, melarutkan rindu yang menginginkan kebersamaan, merasakan keindahan yang selalu tersembunyi dalam misteri saat cinta diungkapkan, nyata mendamaikan batin keduanya. Lelah dalam keseharian berganti senandung nikmat sesapan dan luma tan lembut yang lahir dari hasrat cinta keduanya. Sebuah durasi yang panjang tapi tak mampu menuntaskan rindu.


"Kak Bens..."


Keke mengambil napas, sedikit sadar dengan situasi, melirik ke pintu yang ternyata sudah ditarik Ben. Ben sudah mengantisipasi, tadi sempat bertegur sapa dengan om Ramly yang menonton TV di ruangan dalam. Makanya dia menarik pintu biar aman. Benar-benar niat mengambil hidangan penutupnya.


Ben mengangkat ujung bawah kaosnya dan mengeringkan sisi-sisi bibir Keke.


"Kak... jorok ahh..."


"Itu punya aku kan, hehehe, gak ada tissue... bersih kok kaos aku..."


"..."


"Hahaha, muka kamu merah seperti tomat, temannya tomat sih ya..."


"Apaan kak..."


Ben menowel pipi Keke yang memerah. Keke malu dengan tindakan Ben barusan, malu juga karena sempat melirik apa yang ada di balik kaos oblong putih itu. Keke melempar pandangannya dari Ben ke langit yang hanya sedikit bintang kali ini, menentramkan rasa yang membungkusnya saat ciuman tadi.


Sejenak mereka terdiam dalam pusaran rasa. Ben yang mulai menginginkan lebih, coba mengontrol dirinya yang hampir menyergap bibir yang dia keringkan itu lagi. Setelah gejolak di hatinya surut dia memandang kekasihnya yang juga sedang membisu...


"Yang..."


"..."


"Rens..."


"Gak konsisten..."


"Maksudnya?"


"Iya... sweety, yang, sayang... Rens aja ahh..."


"Mami aja..."


"Lebih norak lagi itu..."

__ADS_1


"Ya kan kita mau nikah, persiapan sebelum punya baby, kita berdua dulu mami-papi..."


"Rens aja ahh..."


"Mami..."


"Silahkan, aku gak noleh atau nyahutin."


"Dasar... lempeng ya lempeng aja..."


"Pacar kak Bens loh..."


"Bukan..."


"Ehh... mau diputusin ya?"


"Gak dong, bukan pacar lagi tapi calon istri aku, itu yang bener sayang..."


Keke senyum kecil, status yang beberapa hari ini dia sandang. Kakak nyebelin dulu bisa berubah jadi orang yang paling dia sayang. Ben memperhatikan dari samping wajah bahagia Keke...


"Mami..."


Benaya memanggil, menggoda kekasihnya.


"Rens aja kak Bens, jangan mulai deh..."


"Hahaha..."


"Kok bisa ya aku ikutan manggilnya jadi Bens gitu..."


"Lupa? Kamu protes waktu itu, saat aku bilang nama Renske itu ribet ngucapinnya. Akhirnya kamu tambahin 's' ke Ben."


"Lucu ya, Rens & Bens, kayaknya cukup menjual ya kalau jadi merek sesuatu..."


"Hahaha... bener. Kamu boleh gunakan untuk nama dessert kamu..."


"Ganti aja..."


"Gak ahh..."


"Gemesin banget..."


Ben menarik Keke masuk ke pelukan eratnya. Keke menyambut pelukan Ben, keinginan untuk bersentuhan dengan Ben sekarang ada, keinginan untuk dimanja pun sering muncul. Dia perempuan normal kan ya... Dengan Ben dia gak bisa kaku lagi, percakapan remeh kayak barusan pun meninggalkan sesuatu yang bahagia di hati.


"Sweety, besok libur kan, kita cari cincin ya..."


"Iya..."


"Ada yang lain gak, yang pengen kamu beli?"


"Gak ada..."


"Gaun untuk acara nanti?"


"Udah diurus sama Inge..."


"Oh... warna apa, biar aku menyesuaikan..."


"Aku minta warna putih kak... gak terlalu suka warna lain..."


"Oke... nanti aku menyesuaikan ya..."


"Kata Inge dress code-nya putih sih... Inge yang ngurus semua kak, papa bilang dia jago, udah biasa jadi EO dadakan keluarga besar papa..."


"Oh... gitu... nanti aku kasih tahu mama..."

__ADS_1


"Kak Beca nanti datang ke sini juga kan..."


"Semua datang sayang..."


"Baguslah..."


"Mmh... aku dapat bonus ke Thailand sebenarnya, 5 hari sama anak-anak, tapi gak aku ambil, mau liburan di sini aja sama kamu..."


"Kenapa... sayang banget kak..."


"Nanti aja setelah nikah... kan gak bisa diuangkan, jadi aku pending aja buat honeymoon kita..."


Pipi Keke memerah mendengar kata itu. Jengah dengan hal-hal berbau keintiman. Dia melepaskan dirinya dari Ben.


"Masuk yuk..."


"Sini aja... ada om Ramly di dalam..."


"Udah larut malam kak... kan cape seharian ini..."


"Baru jam sembilan kok, udah hilang juga capenya... kita lagi malam mingguan sayang, meskipun cuma di balkon..."


"Cape berdiri dari tadi kaak..."


"Ya udah... duduk aja di sini..."


Keke lebih dulu mengambil tempat duduk di sofa bulat kecil yang dia tempatkan di balkon itu. Ben menyusul, lebih dahulu Ben memindahkan sofa bulat yang lain lebih dekat ke samping Keke, tak mau berjarak meski hanya 1 sentimeter.


"Kak Bens..."


"Apa sayang..."


"Mmhm... papa minta aku beritahu mama aku soal acara kita..."


"Sudah seharusnya dia tahu kan..."


"Tapi... kak Bens tahu kan perasaan aku sama mama..."


"Iya, kamu pernah ngomong itu. Tapi gak ada salahnya juga kan kasih tahu, terserah nanti hadir atau gak..."


Keke menarik napas. Semua nampaknya mendukung ide memberitahu mama soal acara istimewa dirinya dan Ben. Papa, Ben juga Rommel. Saat ngomong ke Rommel, anak itu marah-marah ketika tahu Keke ogah-ogahan soal itu, dan anak itu semakin cerewet padanya saat dia meminta Rommel aja yang memberitahu pada sang mama.


Dengan Ben dia tak bisa terang-terangan menyatakan keengganannya. Dan dia menangkap persetujuan Ben dengan niat si papa Ramly.


"Kita berdua yang temui mama kamu..."


Ben berucap kemudian.


"Eh... gak usah, nanti aku telpon aja..."


"Kurang baik seperti itu Rens, bukan orang lain kan... mama kandung kamu. Gak usah lihat kondisi hubungan kalian yang menurut kamu gak pernah dekat, anak itu wajib menghormati orang tua. Lagi pula aku perlu kenalan dengan mama juga kan, mau minta ijin juga menikahi anak cantiknya..."


Keke tak memberi respon, meskipun kalimat Benaya tidak dapat dia tolak.


"Rens... kita akan punya anak-anak nanti, kalau kita hormat terhadap orang tua kita maka kita akan sanggup mengajar anak-anak kita menghormati kita."


"Kita temui mama kamu berdua ya? Nanti aku cari waktu... atau besok aja? Pagi-pagi kita pergi, siang baru nyari cincin... oke sayang?"


Seseorang dilahirkan oleh seorang wanita yang bernama mama, itu yang tak bisa dipungkiri oleh Keke, dia ada karena mama yang mengandung.


.


.


Kakak2 semua, mohon maaf jika isi ceritanya kurang berkenan.

__ADS_1



__ADS_2