
📱
"Ada apa..."
"Papa bisa ke sini? Aku butuh papa di sini hari minggu..."
"Untuk?"
"Bertemu papanya Rens... Senin subuh papa bisa pulang bareng mama dan anak-anak."
"Renske?"
"Iya... aku pengen nikah sekarang, Renske yang aku pilih."
"Kamu mau lamar dia?"
"Pengennya seperti itu, tapi kita saling tahu dulu aja, kenalan dulu. Papa mama bertemu om Ramly aja dulu, soal lamaran itu bagian aku."
"Ben... jangan tidak tahu adat-istiadat, di tempat lain kamu boleh lamar sendiri, tapi di Manado harus orang tua..."
"Aku gak tahu kebiasaan itu..."
"Sekarang kamu tahu... anak-anak sekarang sok jago ngelamar sendiri padahal melawan tata krama. Kalau minta seorang perempuan jadi istri harus secara resmi, itu sudah menyangkut orang tua, urusan orang tua... jangan bicara sendiri."
"Tapi aku sudah ngomong sendiri sama om Ramly tadi siang..."
"Eh... ni anak tidak tau adat bikin malu orang tua... sudah... nanti papa ke sana!"
.
Telpon mati... Dia tak tahu tahapan untuk meminta seorang gadis jadi istri di Manado sini. Tapi sudahlah... nanti urusan belakangan dengan papa. Yang penting papa bersedia datang, jadi rencananya bisa berjalan lancar.
.
☘
.
Selama ini meskipun sudah sering memikirkan dan memimpikan pernikahan, tapi Ben tak dapat membicarakannya dengan Keke. Tapi kali ini dia harus mengikuti dorongan hatinya ini, yakin aja dulu lalu mengambil tindakan maju, bergerak lebih dahulu baru bicara dengan Keke. Pengalamannya selama ini cara demikian selalu berhasil. Keke bukan tipe peragu lalu mengulur-ngulur waktu, tapi tipe sosok yang mengabaikan sesuatu yang bukan tujuannya, jangankan bertindak memikirkan pun dia enggan nampaknya.
Dua hari yang lalu dia tak bisa membicarakan dengan Keke hal penting ini, ada om Ramly. Tapi itu menguntungkan Ben, dia mengambil satu langkah tepat hari itu, menyinggung di depan papanya Keke, mengutarakan niat tulusnya untuk serius.
Kemarin Keke ada pesanan katering acara, dia sibuk sampai menjelang malam, dan tak enak mengganggu gadisnya yang kelelahan, saat datang ke ruko, Keke sudah tertidur di sofa dan tidak bangun lagi, Ben yang memindahkan dia ke kamarnya.
Tadi siang Ben menyempatkan diri ke Tomohon di tengah aktivitasnya. Dia berbicara berdua dengan om Ramly, tidak lama memang tapi om Ramly menyambut baik keinginan Ben dan menyerahkan sepenuhnya pada Keke. Nah ini yang masih harus diperjuangkan, bagaimana bicara dengan gadisnya.
Malam hari, setelah pulang kantor, Ben melihat sebuah peluang, Keke terlihat segar dan duduk santai di depan TV. Anak-anak masih main di lantai bawah di depan ruko dengan tante-tante karyawan Keke, juga dua ponakannya.
Ben mencium Keke saat duduk di samping, dan Keke segera menggeser tubuhnya menghindari tindakan Ben lainnya. Ben tersenyum, sikap dasar Keke masih suka kambuh.
"Sweety... gak cape kan malam ini?"
"Cape sih... udah biasa..."
"Tapi gak kayak semalam kan... kamu tertidur di sini loh..."
"Kak Bens ke sini semalam?"
"Aku yang pindahin kamu ke kamar..."
"Eh? Bener itu?"
"Iya... sayang."
Keke menghindari tatapan Ben, malu Ben sudah melihat cara tidurnya. Berarti dia benar-benar tidur pulas, tidak menyadari saat dipindahkan ke kamar.
"Udah makan sayang?"
"Udah tadi sore, tante Wisye ada buat tinutuan, masih kenyang. Kak Bens udah?"
"Belum, pulang telat dari kantor... Temenin aku makan yuk..."
Ben menarik tangan kanan Keke dan berjalan turun tangga.
"Eh... makanannya ada di atas..."
Ben masih menarik tangan Keke sampai ruko depan, ada tante Lenda. Anak-anak entah di mana.
"Tante... titip anak-anak ya... saya mau ajak Rens keluar sebentar..."
"Iya... boleh. Mereka berempat lagi ke Indimart diantar Wisye, mau beli ice cream katanya..."
"Sayang... tunggu di sini, aku ambil mobil sebentar..."
__ADS_1
"Kita mau ke mana? Aku ganti baju..."
"Gak usah..." Ben yang sudah melangkah teriak dan bergegas balik ke rumahnya.
"Rommel mana tan?"
"Eh... gak tahu, ke atas mungkin, tante gak liat dia keluar, Ke..."
"Tan... tolong anak-anak cuci tangan dan kaki juga bilas muka sebelum tidur..."
"Iya... iya..."
.
Di mobil...
"Kita ke mana..."
"Kak Bens yang ngajak pergi, kok nanya ke aku?"
"Aku jarang ke mana-mana di sini, gak tahu tempat makan di sini..."
"Apalagi aku. Kak Bens, baju aku kayak gini..."
"Gak usah turun dari mobil, kita cari yang take away aja..."
Beberapa saat kemudian, setelah Ben makan makanan cepat saji dari sebuah gerai. Mobil diparkir di atas sebuah jembatan yang dulu sempat viral jadi tempat foto orang-orang, kali ini hanya ada beberapa mobil terparkir di situ. Mereka berdua tetap duduk di dalam mobil.
(Jembatan Soekarno di Manado)
"Tadi siang aku ke Tomohon ketemu om Ramly..."
Keke menoleh memandang Ben dengan raut muka penuh tanya...
"Duduk menghadap aku Rens... aku pengen ngomong sesuatu..."
Ben melanjutkan kemudian saat melihat posisi Keke yang sudah bersandar nyaman di pintu mobil, kepalanya sedikit menunduk...
"Rens... ingat gak kapan kita jadian?"
"Ehh? Aku... aku gak ingat, udah setahun kayaknya..."
"Setahun dua bulan. Maaf waktu itu aku sibuk, jadi lupa sama momen penting kita."
"Gak papa, kita berdua kayaknya bukan tipe yang seperti itu, ngerayain atau apa. Aku juga jarang ngasih sesuatu sama kamu... sorry ya..."
"..."
"Rens... hubungan kita udah cukup lama... aku pengen kita nikah. Hati aku sudah mantap milih kamu jadi istri aku. Sejak awal perasaan aku terhadap kamu terus tumbuh... aku tau kamu juga sayang aku... dan gak ada yang perlu kita tunggu kan? Jadi, kita nikah aja ya... mau ya Rens?"
Seperti biasa, Keke selalu kehilangan kata, tak bisa menjawab atau mengutarakan apa yang ada di hatinya dengan lebih terbuka. Dia hanya menatap Ben sekilas dan kembali tertunduk. Ben meraih satu tangan Keke, mengusap punggung tangan itu dengan ibu jarinya.
"Rens... aku udah ngomong ke om Ramly soal ini, dia mendukung sepenuhnya apa keputusan kamu... sweety... kali ini aku butuh jawaban... mau menikah dengan aku?"
Ben sedikit mengguncang tangan Keke, kepala yang tadi tertunduk terangkat dan saling tatap dengan Ben. Dia tak bisa menerjemahkan dengan kata-kata apa yang ada dalam hatinya, rasa takut tentang sebuah pernikahan, rasa takut ditinggalkan, rasa takut punya anak tapi kemudian harus merawat sendiri. Semua hal itu menyeruak, tapi tak mampu dia ucapkan. Dia menarik tangannya...
"Kenapa Rens? Gak ingin menikah dengan aku?"
Keke menatap Ben lagi, jika harus jujur dia tak ada target itu, memikirkan pernah tapi tak pernah memupuk harap tentang hubungan mereka, trauma menghalangi dia untuk itu.
"Rens... please, aku butuh jawaban kamu..."
"..."
"Apa yang kamu pikirkan soal kita...?"
Keke menggeleng pelan. Ben coba bersabar dan ingin menyelami Keke lebih jauh, dia tahu kesulitan Keke mengungkapkan apa yang dia pikirkan, kecuali dalam keadaan marah maka bibir itu akan lancar berkata-kata. Ben mendekatkan tubuhnya dan meraih kedua tangan Keke...
"Kamu sayang aku Rens?"
Kepala itu mengangguk pelan.
"Kalau kita pisah, bagaimana menurut kamu? Pekerjaan aku di sini hampir selesai, mungkin tak lama lagi aku harus tinggalkan kota ini..."
"Kak Bens... mau pulang ke Jakarta? Kak Bens mau... tinggalin aku?"
Suara Keke berubah serak, ada emosi tertahan di sana. Membayangkan tak ada Ben lagi? Akan seperti apa dia, anak-anak juga... ada rasa takut yang lain yang tumbuh sekarang.
"Tergantung... makanya aku butuh jawaban kamu sekarang..."
"..."
__ADS_1
"Reennsss..."
"Iya..."
"Iya apa??"
"Iya... aku mau nikah sama kak Bens..."
Lirih Keke menjawab. Wajah Keke bersemu merah saat mengucapkan itu.
"Sweety..."
Ben membawa Keke ke pelukannya. Ada nyanyian indah dalam hatinya. Kata-kata memang perlu untuk menjabarkan sebuah rasa, dan dengan cepat bahagia merasuk seluruh raga saat mendengarkan kata-kata yang dia harapkan.
"Kak Bens..."
Keke mengurai pelukan itu.
"Aku... aku takut nikah sebenarnya, aku takut... takut seperti mama..."
Sesuatu dalam dirinya mendorong dia mengucapkan itu. Dia mencari mata Ben yang belum melepaskan pelukan.
"Maksud kamu apa, sayang..."
Ben berkata lembut, satu tangannya naik dan mengusap pipi Keke dengan punggung jari telunjuknya.
"Aku... aku hanya ingin menikah sekali seumur hidup, aku... aku tidak mau kita pisah atau cerai. Kalau kak Bens menyanggupi itu, aku mau jadi istri kak Bens..."
"Sweety... aku juga sama... aku janji gak akan ada kata cerai nantinya... sekalipun kita berselisih, bertengkar hebat, aku janji gak akan ucapin kata itu untuk kamu..."
"Kak Bens harus bisa pegang janji itu..."
Keke masih berusaha mencari keyakinan dirinya tentang pernikahan, tentang lelaki yang mengajaknya menikah. Dia menatap Benaya dengan mata yang mulai berair.
"Ya... aku janji Rens... aku janji sama kamu..."
Keke membawa kedua tangannya ke balik tubuh Benaya, menyandarkan kepalanya di dada Ben. Dan airmatanya pun tumpah di sana. Keke menangis, ada isakan pelan terdengar.
"Hei... kok jadi nangis sayang..."
Ben tertawa pelan, dia berhasil melamar kekasihnya dan tak menyangka lamaran itu diwarnai airmata. Tapi Ben tahu sebenarnya luapan emosi itu bukan karena sedih tapi karena bahagia.
"Sweety... udah dong, kamu dilamar loh... bukan diputusin, hehehe... gak sedih kan kamu?"
Keke masih terisak. Ben akhirnya membiarkan Keke menuntaskan emosinya di pelukannya. Dia hanya memberi ciuman dan usapan di kepala menanti emosi Keke reda.
"Sayang... kita pulang sekarang ya..."
Ben melepaskan pelukan, membantu Keke mengeringkan muka dengan tissue, memberikan sebuah ciuman singkat di pelipis kanan Keke, lalu menjalankan mobilnya.
Saat mobil sudah berbalik arah dan menyusuri jalanan lengang malam hari, Ben meraih tangan Keke, menggenggam hangat.
"Kita lanjutin ngobrol di rumah ya... banyak yang harus kita bicarakan."
"Iya..."
"Sorry ya, aku bukan tipe romantis Rens... ngelamar kamu dengan tangan kosong, gak ada cincinnya. Nanti sekalian aja ya di acara lamaran resmi dengan orang tua kita..."
"Ada kok yang kak Bens kasih malam ini..."
"Apa??"
Ben mengalihkan tatapan dari jalan ke wajah Keke.
"Ini..."
Keke mengangkat kantong kertas berisi burger dan kentang goreng yang dibelikan Ben untuknya tadi, dia belum menghabiskan itu.
"Hahaha... itu? Kamu jadi satu-satunya gadis yang dilamar pakai burger dong..."
Ben mencubit gemas pipi Keke.
.
💚
.
.
Sorry guys jika lamaran Ben terasa garing...
🥴🥴🤪🤪
__ADS_1
.
🍀