
Livia tidak mau lepas dari Ben.
"Via... turun, om Ben mau bawa mobil..."
"Gak mau... hiksssz..."
"Rens... kamu yang bawa mobil, gak apa-apa aku duduk di belakang bareng mereka."
"Tapi aku gak biasa bawa mobil seperti ini..."
"Sama aja... dicoba ya... kasian mereka..."
Keke memandang Via yang memeluk erat leher Ben dan bersandar di pundak kekar itu. Anak itu masih terisak. Akhirnya Keke tak tega juga.
"Kuncinya?"
"Di saku kanan..."
Aduuuh... Keke menatap saku itu, masa harus mengambil sendiri. Ben tersenyum melihat mimik Keke, akhirnya memindahkan beban tubuh Via di tangan kiri dan mengambil kunci.
Keke berusaha menguasai mobil mewah itu yang berbeda jauh dengan mobil pick up miliknya. Ben yang mengerti memberitahu step yang harus Keke lakukan. Akhirnya mobil berjalan meskipun awalnya Keke ragu menambah kecepatan. Sampai di rumah terpaksa Ben masih menemani sampai Via tertidur pulas. Rommel yang membujuknya tak dihiraukan. Keke hanya bisa diam menyetujui kemauan anak itu. Anak itu sedang sedih, pasti kejadian tadi meninggalkan trauma untuk anak itu.
Keke ingat Via dulu saat si Rocky pergi, tiap hari duduk di depan pintu sambil menangis. Demikian juga saat kakaknya Bonita pergi, sikap anak itu sama berhari-hari duduk depan pintu rumah sambil menangis. Seperti mengharapkan mereka datang lagi, menunggu mereka di depan pintu itu. Pantas saja Via jadi pendiam, dia sudah mengerti siapa orang tuanya, dan dia sudah mengerti rasa kehilangan. Ditinggalkan adalah perasaan yang menyakitkan, termasuk anak ini tentu saja walau masih kecil.
"Via sudah tertidur Rens... Kasian dia. Kamu harus lebih perhatian padanya untuk sementara ini... sampai sedihnya hilang..."
Lamunannya terhenti, Ben sudah duduk di depannya di meja makan.
"Iya."
"Nanti aku ke sini juga liatin dia... Aku minta nomor hp kamu ya... kalau besok ada apa-apa sama Via, gak apa-apa kamu telpon aku aja, aku pasti datang..."
Tidak ada apa-apa pun jadi sering ke sini, apa lagi ada alasan. Livia tadi tidak mau turun dari gendongan Benaya, mungkin karena merasa Benaya seperti papanya? Ben memang terlihat punya hati seorang bapak, mungkin karena sudah punya anak ya... dia begitu telaten tadi meladeni dua bocah yang keluar manja mereka. Pada Keke memang mereka jarang bermanja, seperti mengerti kesibukan Keke, tapi terhadap Ben anak-anak terlihat nyaman.
Keke gak hapal nomornya sendiri, dia meraih ponsel dari laci tasnya yang ada di kursi samping, Ben segera mengambil ponsel itu tanpa sungkan dan menyimpan sendiri nomor ponselnya. kemudian melakukan panggilan ke nomornya, selanjutnya dia mengutak-atik ponselnya sendiri.
"Makasih kak... anak-anak... eh kita ngerepotin..."
"Jangan pernah merasa seperti itu Rens... aku sudah biasa direpotin anak-anak. Sejak suami Beca meninggal, aku sudah terbiasa ngurusin anak-anak..."
"Oh... Suami kak Beca sudah..."
"Iya... kamu kenal Paul kan?"
__ADS_1
"Iya... kan kak Beca nikah aku masih di sana..."
"Oh... iya ya... Yah aku udah seperti punya anak saja sejak dia pergi. Beca sempat down jadi anak-anak aku yang pegang. Sampai sekarang pun anak-anak gak berhenti nyuruh aku balik Jakarta..."
"Oh... Kak Bens belum punya anak?"
"Hei... bagaimana aku bisa punya anak, istri aja belum punya..."
"Hahh? Kak Bens belum nikah?"
Ben tertawa, jadi selama ini...
"Hahaha... Apa yang ada di kepalamu Rens?"
"Ituuu...."
Keke menunjuk jari tangan Ben. Oh.. Ben baru sadar, cincin itu belum dia lepaskan.
"Ini tameng aku, supaya gak direpotkan gadis-gadis nyeleneh di kantor. Hahaha... jadi kamu pikirnya aku sudah nikah gitu?"
Ben ingin memastikan, sekaligus menjadi terbawa dengan suasana indah setelah sebuah tragedi di mall tadi. Dia jadi bersyukur karena hal tak mengenakkan tadi menjadi pembuka jalan bagi dia untuk masuk lebih dalam lagi ke hati Keke.
Apa ini bisa masuk kategori 'sehabis hujan ada pelangi?' Karena di hati Ben ada warna-warni indah sekarang...
Keke menjawab pelan dan tak memandang Ben, ada rasa malu dan rasa yang lain yang cukup asing baginya sementara merayap di hatinya. Dia belum pernah sedekat ini berinteraksi dengan pria selain Rommel. Tapi dia suka rasa asing ini, dan dia mulai suka bercakap dengan Ben seperti ini.
"Rens..."
Keke mengangkat mukanya dan bertemu dengan pandangan hangat Ben padanya...
"Aku belum nikah, belum punya pacar atau gadis semacam itu..."
Keke memalingkan mukanya yang panas. Dia menyadari sesuatu dalam pandangan Benaya, dan dia menjadi sadar sekarang ada sesuatu untuknya dalam tatapan Ben, dalam semua sikap Ben selama ini.
"Aku sedang mendekati seseorang, aku tertarik dan mulai jatuh cinta pada seseorang... aku berharap dia mau membuka hatinya untukku..."
Keke jadi tegang dan kaku. Walaupun bisa menduga tapi dia mulai tak nyaman. Ben membaca itu dan Ben tak ingin buru-buru, dia cukup puas dengan posisi sekarang, keadaan yang mulai nyaman di antara mereka.
"Kamu galak juga tadi ya sama papanya anak-anak... eh... dia papa mereka kan?"
Ben mengalihkan saja supaya Keke tidak menutup akses yang sudah Ben buka dengan susah payah.
"Oh itu... iya, dia papa mereka."
__ADS_1
Keke menjawab dengan geram, rasa marah seolah bangkit lagi. Laki-laki itu, sudah selingkuh tak mau mengakui anak-anaknya lagi. Dan bagi Ben, lebih baik melihat Keke marah dari pada melihat Keke mengunci ruang komunikasi mereka.
"Galak juga kamu ya..."
Ben mengulangi, dia juga surprise dengan sikap Keke tadi, jadi ingat saat Keke remaja.
"Eh... abis si Via dia dorong sampai jatuh, kalau gak lihat Via sama Dede udah nangis, aku hadepin sih..."
"Istrinya mau mukul kamu kayaknya..."
"Hah... mau ngebalas mungkin pernah aku tampar."
"Serius?"
"Iya kejadiannya hari minggu juga kita keluar makan di KF C, aku lagi antri buat pesan makanan, anak-anak udah duduk sama Rommel. Mereka di samping aku sindir-sindir, tambah lama tambah pedas, pas mereka bilang nama kak Boni terus ngomong gak bener, aku tampar aja mereka berdua."
"Astaga... Rens... sadis kamu..."
"Biarin, dia udah gak bertanggung jawab, udah pergi dari kak Boni, ya pergi aja, kenapa mau recokin hidup kita lagi, aku gak ganggu mereka, mereka yang nantangin ya... udah. Sampai diurus securiti mall..."
"Aku sih gak heran ya... udah ada benihnya dulu, suka ngelawan aku, berantem sama aku, hahaha... aku yang ngajarin kali ya kamu berani seperti itu..."
"Mungkin... kak Bens dulu galak sih, aku balas galakin aja..."
"Tapi... kenapa terakhir kali, kamu diam aja saat aku marahin, malah abis itu gak mau datang lagi ke rumah..."
"Aku punya perasaan kali... malu juga jadi sering merepotkan orang..."
Keke menjawab sambil menunduk, peristiwa sesudah diantar Ben terakhir kali terlalu menyakitkan buat dia, dan rasa sakit itu kadang masih terasa.
"Maafkan aku... aku terlalu egois saat itu. Mungkin kalau aku gak marahin kamu om Reinhart sama tante Vosye masih ada... Maaf Rens..."
Lama Keke tertunduk, mengingat lagi mami papi yang begitu menyayangi dia, juga emosi sejak tadi di Mall, akhirnya dua butir airmata keluar dari matanya. Ya dia wanita yang punya sisi ini, kadang ingin menangis juga ketika ada beban dalam hidupnya. Cukup banyak waktu dia melewati semua cerita hidupnya menyimpan sendiri dalam ketegaran. Tapi malam ini entah kenapa dia menjadi lemah di hadapan Ben, dia menangis kemudian.
"Maaf Rens..."
Benaya jadi merasa bersalah, cara dia mengalihkan perhatian Keke malah melemparkan Keke ke sebuah kesedihan. Dia ingin membawa punggung yang kini sedikit berguncang itu ke dalam pelukannya, tapi dia takut Keke menolak. Akhirnya Ben hanya berpindah di samping Keke, sedikit menjauhkan kursi yang dia duduki dan memegang sejenak kepala Keke.
Ben menyodorkan tissue saat Keke melirik padanya. Ben susah payah menahan tangannya yang ingin menarik Keke masuk dalam pelukannya. Akhirnya tangannya hanya terangkat lagi ke kepala Keke. Saat Keke diam tak menolak, Ben mengusap sayang kepala itu. Mengerti beban Keke yang selama ini dia tanggung sendiri, belum menikah tapi harus mengambil tanggung jawab terhadap dua anak yang masih kecil, bekerja dengan rajin demi supaya hidup mereka terjamin. Ben tahu itu tidak mudah, dan dia bertekad mengambil beban Keke, dia sudah semakin sayang... semoga Keke juga bisa berubah sayang padanya.
.
.
__ADS_1
🍭🍭🍭