
Ketakutan memang diakui atau tidak nampaknya menjadi masalah semua orang. Keke memang sudah menerima Ben sebagai pacar. Tapi Keke belum mampu menyingkirkan ketakutannya untuk serius dengan hubungan seperti itu.
Jelas dia seperti tertarik dengan sosok Benaya yang sekarang. Benaya yang penuh perhatian terhadap mereka, mungkin sejauh itu penerimaan Keke untuk kehadiran lelaki itu di sisinya. Selebihnya Keke masih membatasi dirinya untuk dekat dengan Ben. Bila Benaya datang, dia memilih menjaga jarak aman, dan anak-anak sangat membantu, mereka tidak akan membiarkan Benaya duduk diam dekat Keke.
Minggu siang... Ben membawa mainan untuk anak-anak, cara dia membuat anak-anak tidak mengganggunya biar dia punya lebih banyak waktu berdua Keke.
"Rens..."
"Ya..."
"Piring disimpan di mana?"
Tidak ada suara jawaban lagi. Si Keke sedang duduk malas di sofa, perhatian penuh ada di layar TV.
"Reeennnss... Minta piring dong... Ayam gorengnya udah penuh di sini..."
Benaya menunjukkan saringan minyak yang sudah penuh terisi ayam goreng kentucky buatannya. Anak-anak meminta dia memasak menu itu buat mereka makan siang, gampang aja kan, hanya membalur ayam dengan tepung instant. Dia sendiri lebih tertarik makan siang dengan ikan woku buatan Keke tadi malam yang sudah dipanasin si Rommel.
"Di laci atas..."
Keke hanya menoleh sebentar, sayang untuk meninggalkan tontonannya yang lagi seru. Hari minggu seperti ini Keke membiarkan Benaya melakukan apa yang dia mau di dapur kecil itu. Keke suka merasa aneh lelaki yang satu ini suka juga memasak, walaupun hanya menu sederhana.
"Rens... tangan aku penuh tepung..."
Keke terpaksa meletakkan remote TV dan meninggalkan film yang sedang ditontonnya. Tanpa banyak kata Keke mengambil piring di lemari hanya di dekat kepala si Benaya, memindahkan ayam dari saringan minyak ke piring.
"Tolong potong kentangnya ya... aku lupa motong itu tadi..."
Benaya mencuci tangannya, kloter terakhir daging ayam sudah masuk penggorengan. Ben kemudian memasukkan wortel ke panci, dia membuat juga sop ayam sederhana. Ben mencubit pipi Keke ketika dia lihat Keke memotong kentang dengan malas juga raut wajah kesal karena kesenangannya diinterupsi.
"Kenapa cemberut eh..."
"Gak apa-apa..."
"Bohong... kelihatan kok ada yang lagi marah..."
Keke diam saja, dia memang marah. Hari minggu itu hari keramat buat Keke, hari di mana dia gak akan menyentuh apapun di dapur. Sejak lama mereka hanya membeli makanan atau keluar makan bareng anak-anak, atau Rommel yang kadang terpaksa turun dapur masak nasi dan sayur jika ada lebih lauk pada hari sabtu.
"Kenapa..."
Benaya memasukkan kentang yang sudah dipotong Keke ke dalam panci, menutup panci dan menahan tangan Keke yang hendak kembali ke sofa.
"Bilang dong... aku gak bisa nebak apa yang ada di dalam sini..."
Benaya menunjuk jidat Keke dengan jari telunjuknya.
"Lepas kak... aku mau terusin nonton..."
__ADS_1
"Ngomong dulu..."
"Iya... aku ngomong tapi lepas dulu..."
"Oke... jadi ada apa..."
"Aku gak suka hari istirahat aku diganggu. Udah tahu kan hari minggu aku gak mau ke dapur, apapun alasannya. Cukup senin sampai sabtu dari pagi sampai malam urusan aku di dapur!"
Benaya terperangah mendengar intonasi suara Keke. Meskipun dia tahu ini hari istirahat si Keke tapi gak ada pikiran bahwa Keke bisa marah seperti itu, hanya mengambil piring dan memotong kentang juga...
"Maaf ya... aku belum tahu, aku pikir biar lebih cepat selesai aku minta bantuan kamu, kan cuman hal sederhana... maaf ya..."
Tangan dari lengan berpindah mengusap sejenak atas kepala si Keke, kemudian mendorong pelan di bagian punggung Keke.
"Sana balik lagi deh... sorry ya sayang..."
Keke berjalan perlahan ke sofa lagi, melanjutkan menonton filmnya, kerjaan Keke di hari senggangnya hanyalah menonton dari sebuah channel tv yang memutar film box office di masa lalu.
Masih begitu sulit untuk mendapatkan perlakuan lembut dari seorang Keke, tapi mau bagaimana lagi Benaya sudah terlanjur sayang. Seperti apapun sikap Keke yang dia terima, manisnya cinta telah terlampau kuat melingkari dirinya, dan yang dia rasa setiap kali berinteraksi dengan si kaku Rens itu selalu tentang keindahan sebuah rasa. Hahh si Ben... Begitulah orang yang jatuh cinta.
"Yica... Via... ayo makan, papi Bipi udah selesai masak, udah lapar juga, ayo..."
Benaya masuk ke kamar anak-anak.
"Ayok... matan tati Yica tan?"
" Bimbim embee... tucing meongg... todo teo bum bum 🎶 (Kambing embek embek, kucing meong meong, kodok... teok tek bum, teok tek bum...🎶)..."
Lisya melompat-lompat keluar kamar sambil bernyanyi, tangan kecilnya berpegangan pada tangan Benaya. Via mengikuti dari belakang.
"Via... ajak om Rommel makan juga..."
"Iya, papi Bipi..."
Keke melirik 4 orang yang sedang asik makan siang di meja makan, Keke memang gak diajak makan, Ben enggan mengajak makan tidak ingin mengganggu lagi, dia harus lebih banyak bertoleransi sekarang, jika tidak hubungan mereka yang akan terus jalan di tempat. Batu sekeras apapun dapat terkikis oleh tetesan air yang terus menerus, nah si Ben harus seperti tetesan air saja supaya keengganan dan kekakuan sikap si Keke perlahan terkikis dari hatinya.
"Rom... kak Bipi minta bantuannya boleh..."
Benaya berkata pelan tak ingin didengar si Keke. Rommel langsung tanggap dia senyum-senyum...
"Boleh kak..."
"Bawa anak-anak keluar ke mana, sebentar aja... kakak kalian sulit diajak omong, anak-anak juga suka gangguin..."
"Hahaha... iya iya..."
Rommel tahu bagaimana cara Keke memperlakukan Benaya, dia juga punya pacar sekarang, gadisnya sangat jauh berbeda dengan sang kakak.
__ADS_1
"Diam-diam perginya, entar dia tahu batal nanti..."
"Iya... gampang, serahkan sama aku kak. Kak... aura kak Keke itu mengintimidasi orang, jadi kak Bipi yang harus membalikkan itu, harus balik mengintimidasi, baru dia takhluk hahaha..."
"Gimana caranya?"
"Ya... itu yang kak Bipi harus cari tahu, hahaha..."
Cerita si dewa cinta, udah tepat membidik hati si Benaya tapi kayaknya belum menyasar tepat di hati Keke, api cinta belum terlihat di matanya, belum ada cerita romantis tentang mereka. Dan Benaya harus pintar mengatur siasat cinta, biar gadisnya mau mengembangkan sayap cintanya sendiri dan datang dengan rela di pelukan Benaya.
Benaya selesai membereskan piring dan peralatan masak yang dia gunakan. Dapur di lantai dua itu sudah bersih dan wangi lagi. Sementara si Rommel dan anak-anak sudah tak terdengar suara mereka. Benaya menghempaskan tubuhnya di sofa samping Keke. Keke melirik dan menjauhkan sedikit tubuhnya.
"Gak makan Rens?"
"Nanti... tanggung..."
Ben memperhatikan film yang sedang ditonton Keke, senyum sendiri, film itu pernah dia tonton juga, itu kan genrenya romantis. Benaya menangkap sesuatu yang tersirat, gadis di sampingnya ada sisi itu sebenarnya tapi dia coba mengingkarinya, ya setiap manusia butuh kasih sayang, butuh afeksi, termasuk Keke.
"Aku ambilkan ya..."
Keke tidak menyahut. Benaya ke meja makan, makanan belum disimpan di lemari hanya dia tutup pakai tudung saji. Balik lagi dan mengambil tangan Keke kemudian memberikan piring berisi nasi dan sepotong ayam serta sedikit sop. Keke melirik piring di tangan...
"Makasih..."
Keke makan sambil nonton, Ben bersabar di sebelahnya, tadinya dia pengen menyuapi si kekasih hati tapi dia urungkan, pelan-pelan saja. Piring yang sudah kosong di tangan Keke Ben ganti dengan segelas air.
"Minum dulu..."
"Eh... iya..."
Gelas dan piring yang kosong dibawa Ben ke dapur. Dia kembali dan siap melancarkan aksi selanjutnya. Siapa tahu Keke terpengaruh dengan beberapa adegan di TV dan...
Keke yang terlalu asik atau tak sadar merasa nyaman dengan sentuhan Benaya di kepalanya atau efek menonton yang manis-manis, dia membiarkan Benaya melakukan itu, lamaaa. Benaya yang mendapat peluang manis dengan lembut menarik tubuh Keke bersandar padanya, tangan sesekali masih mengusap kepala Keke. Beruntung banget durasi film yang masih panjang mendukung Benaya untuk menyalurkan rasa sayang yang selalu tak bisa dia tunjukkan.
Keke sempat menyadari posisinya dalam dekapan Benaya, tapi dia tak kuasa menolak tubuh kekar itu yang menguasai tubuhnya, sensasi yang dia rasa di sekujur tubuhnya juga begitu menggoda bahkan tubuhnya merespon dengan baik, dia enggan menjauh. Dan perlahan tubuhnya yang menegang akhirnya bersandar nyaman, bahkan membiarkan Benaya mengambil alih dan menguasai sepenuhnya, kini kepalanya dekat di dada Benaya, sesekali hembusan nafas wangi Benaya menerpa kulit pipinya, dia menikmati itu, sesuatu yang baru tapi ternyata membuat dia terlena.
Mengekspresikan kasih dan sayang membutuhkan waktu, energi, kearifan, dan daya upaya. Benaya melakukan untuk dirinya sendiri dan demi seseorang yang dia kasihi... waktu telah menjawab hari ini.
.
.
.
Semangat ya... kasih itu perlu diekspresikan tiada henti.... lv u all 🥰😇
✴
__ADS_1