Fate Or Destiny

Fate Or Destiny
Eps. 28. Bahagia yang Beda


__ADS_3

"Reennss..."


Benaya mengekori Keke ke lantai atas. Kemarahan masih jelas di wajah itu. Keke tidak menggubris panggilannya tadi.


Di lantai atas Keke sudah mencapai pintu kamarnya. Anak-anak sekarang tidur pisah dengannya, mereka punya kamar sendiri, walau begitu Keke masih membuatkan pintu penghubung di dalam kamar, mengingat si kecil Lisya yang masih suka mencari dirinya saat malam.


"Rensss... "


Benaya tak rela ditinggal Keke masuk kamar, dia baru saja tiba di sini. Hari ini cukup sibuk sehingga sempat overtime di kantor tadi, makanya agak malam baru bisa datang ke ruko. Lagi pula insiden tadi bukan salah Benaya kan...


Keke sudah membuka pintu dan tangannya ditahan Benaya. Dengan kekuatan tubuhnya dia menarik Keke ke arah sofa, tarikan yang tidak bisa dilawan seorang Keke. Tenaga pria ini terlalu besar, cengkraman di pergelangan tangan begitu terasa walau Benaya mengukurnya supaya tidak kasar.


Benar kata si Rommel, aura intimidasi Keke harus dipatahkan dengan lembut tapi bertenaga dan harus tegas. Rommel menunjukkan tadi bagaimana kata-katanya membuat Keke pergi dan tak membantah lagi.


"Duduk Rens... jangan masuk kamar dengan hati marah, kemarahan gak boleh disimpan dan dibawa tidur, gak bagus..."


Benaya menatap lembut dan menguasai tatapan Keke hingga Keke tak tahan dan berpaling. Dia duduk di samping Keke. Keke diam tak bergerak atau bicara, duduk tegak di sofa dengan muka masih mengeras penuh emosi. Benaya membiarkan beberapa saat, duduk diam juga tapi mata tetap mengawasi Keke. Kemudian ketika kepala Keke bergerak menunduk, punggung sudah bersandar di sofa, sebuah pertanda bagi Benaya bahwa Keke mulai turun emosinya, Benaya mengangkat tangannya mengusap kepala Keke dengan sayang.


"Sini... sweety..."


Benaya meraih tubuh Keke dan membawa ke pelukannya. Kecupan sayang dilabuhkan di puncak kepala itu beberapa kali.


Keke berulang kali menghadapi masalah, kekecewaan, kemarahan, kesedihan, sendiri saja... menyelesaikan sendiri, dia sudah terbiasa seperti itu. Bahkan Rommel bukan seseorang yang bisa dia ajak berbagi tentang masalahnya.


Tapi kehadiran Ben di sisinya beberapa waktu terakhir menggiring dia ke zona yang lain. Zona di mana ada seseorang yang berdiri membelamu di hadapan orang lain, memberikan tissue untuk mengusap airmatamu, menepuk kepalamu memberitahu dirimu tak sendiri, dan bahkan memberikan dekapan nyaman yang meluruhkan rasa marahmu.


Perasaan Keke jadi campur aduk. Rasa marah sejak lama ada karena keadaan, karena stigma seorang janda. Di sisi lain entah rasa apa namanya, berada di dekapan lelaki ini membuat Keke ingin menangis sekarang, apa boleh menangis sambil bersandar di dada ini?


Benaya perlahan melepaskan dekapannya, memandang dalam ke mata Keke seolah ingin menyingkap rahasia hati seorang Keke yang tersimpan sendiri... Benaya mendapati mata yang sayu dan mulai mengembun di antara wajah yang memerah masih menahan emosi.


"Sweety... pengen nangis ya... nangis aja, gak apa-apa..."


Benaya memeluk Keke erat, seolah ingin memindahkan semua emosi yang sementara bergejolak di hati Keke.


"Gak apa-apa kok menangis... "


Awalnya tangisan tertahan, kemudian berganti isakan pelan dengan bahu yang sedikit berguncang. Benaya membiarkan Keke melepas semua emosi buruknya malam ini di dadanya, Keke berubah jadi cengeng di hadapan Ben.


Beberapa saat setelah itu...


"Udah ya... gak marah lagi kan?"


Benaya melepas pelukan, tangan berpindah mengusap seluruh wajah basah Keke membersihkan sisa-sisa tangisan di situ.


"Marah boleh, tapi harus dilepasin biar gak jadi beban, biar bisa tenang lagi, hati plong dan gak mendendam. Jangan pikirkan perkataan orang ya, gak usah sedih, karena mereka gak tau siapa kamu. Nanti aku ngomong ke staff aku ya, siapa kamu buat aku, biar mereka gak kurang ajar lagi. Manaa... pengen lihat sesuatu di sini..."


"Ahh... kak..."


Benaya menusuk-nusuk kedua sisi di pipi tempat si lesung pipit biasanya muncul.


"Mana... eh..."


"Nanti aja... aku haus..."


Dengan sigap kedua tangan Ben membungkus tubuh Keke lagi.


"Gak boleh ke mana-mana sebelum aku lihat apa yang pengen aku lihat... pelit amat sih..."


Keke malah menyembunyikan wajahnya di dada Benaya, dia masih canggung untuk tersenyum meski hatinya sudah ringan lagi.

__ADS_1


"Hei... masih pengen aku peluk rupanya, oke... ini sesuatu yang langka, nona Rens mau menyerahkan dirinya sama aku... oke..."


Benaya memeluk erat si Rens sambil sedikit menggosokkan dagunya di puncak kepala si Rens. Bahagia banget bisa mewujudkan sebuah tindakan sayang untuk Keke. Tindakan itu ditutup dengan sebuah kecupan di pelipis kanan.


"Sayang kamu deh..."


Seperti sebuah obat di luka hatinya, seperti sebuah ritme yang pas dalam sebuah lagu, seperti takaran bumbu yang pas di dalam masakan terlezat yang pernah dia buat. Seperti itu perasaan indah yang hadir dan membuat Keke merasa ringan, tiba-tiba dia seperti punya sayap dan jadi pengen terbang bersama kupu-kupu saat mendengar pernyataan sayang seorang Benaya. Bahagia memiliki seseorang yang begitu care dan mencintai, melebihi bahagia mendapat pujian atas makanan buatan tangannya.


"Kak... "


"Mhmm..."


"Udah ya, aku pengen minum..."


"Mana yang aku minta..."


Akhirnya Keke keluar dari pelukan Benaya dan memberikan sebuah senyum canggung.


"Nah... gitu dong... walau senyum kamu sedikit aneh sih, gak apa-apa yang penting ini muncul di sini..."


"Ihh... "


Keke mengurai pelukan dan menuju pantry.


"Kak... mau minum juga?"


"Ehmm... bikinin teh panas ya, jangan terlalu manis."


"Iya. Udah makan malam?"


"Udah tadi di kantor..."


"Mau kue juga?"


"Gak usah... sini duduk deket aku..."


Keke mendekat dengan ragu. Benaya menangkap pergelangan tangan Keke dan membawa Keke duduk di sampingnya.


"Kenapa sih masih malu juga..."


"Gak kok..."


"Rens... gak usah malu atau ragu ya deketan sama aku, atau minta bantuan aku, apa aja selagi aku bisa aku pasti lakukan."


Ben menyesap sedikit tehnya...


"Dan kalau cape atau sedih atau marah, tempat kamu di sini..."


Ben menunjuk dadanya sambil senyum, tangannya kemudian merapikan deraian rambut di bagian pelipis di kepala Keke, rambut yang selalu dipotong pendek hanya sedikit di bawah telinga.


Keke diam menikmati hal yang dia sering lihat di scene film-film romantis yang dia tonton, menikmati perasaan yang baru dia temukan hari ini, dia tak mengerti tapi hati seperti penuh, ini bahagia yang beda aja, dan juga perasaan yang tersingkap bahwa dia butuh seseorang dalam dirinya. Perlahan tubuh Keke bergerak dan menyandarkan kepalanya di lengan Benaya. Mmmh... dia memiliki tempat seperti ini sekarang...


"Sweety... aku nanya boleh?"


"Apa?"


Ben meraih satu tangan Keke masuk dalam genggamannya.


"Kenapa bisa muncul cerita... kamu seorang janda dengan dua anak... "

__ADS_1


"Gak tau juga awalnya gimana... ya aku malas untuk protes, waktu itu lagi fokus bangun usaha aku... aku membiarkan seperti itu."


"Memang di sini gak ada yang kenal mamanya anak-anak ya?"


"Ada sih... tapi beberapa tahun ini tetangga kita berubah, area ini jadi daerah kos-kosan, jadi cluster rumah kak Benes sama jadi dealer mobil..."


"Oh... seperti itu..."


"Kak Bens juga gak ngenalin aku awalnya..."


"Hahaha... itu... aku gak perhatiin. Gak nyangka juga kamu berubah cantik seperti ini..."


"Ihh..."


Keke memukul ringan tangan Benaya.


"Bener kok... dulu kamu gak selangsing ini, mukanya chubby banget, berubah pokoknya."


"Dulu kan aku di fase pertumbuhan, porsi makannya masih banyak. Mami sama tante Litha kalau ketemuan di resto, mereka makan gak habis aku disuruh habisin... di rumah juga gitu, mereka masak apa aku yang disuruh makan banyak... ya makanya berat badan aku sampai 70 kg..."


Benaya tersenyum mendengarkan Keke yang sekarang lebih bebas ngomong sesuatu.


"Mmmmh, tau gak... saat baru di sini aku disuruh mama nyariin kamu... aku sempat kesel... hahaha, mau nyari Renske ke mana di Manado ini... gak taunya kamu deket banget, malah jadi pacar aku sekarang..."


Pacar aku... sesuatu ya... diakuin seseorang jadi miliknya dia...


"Tante sama om sehat kak?"


"Sehat... aku jadi penasaran gimana reaksi mereka kalau tau tentang kita..."


"Apa... eh... gak apa-apa ya kita punya hubungan ini, tante sama om gak marah kan?"


"Eh... kenapa mikir seperti itu... mama malah merasa berhutang sama tante Vosye gak ngerawat kamu waktu itu..."


"Oh..."


"Tau gak... aku merasa takjub aja cara kita bertemu lagi... cara aku jatuh cinta sama kamu, bener-bener gak pernah terpikirkan bisa seperti ini..."


"Mungkin kalau kak Bens tau aku Rens sejak awal, langsung mengenali aku... gak akan jatuh cinta hehehe.... dulu kan paling gak suka sama aku..."


"Mhmm... apa seperti itu?"


"Mungkin saja..."


.


Ada kekuatan di luar diri kita yang memberi awal dan menetapkan akhir dari sesuatu...


Banyak hal yang tak terselami dan rahasia dalam rentang awal dan akhir itu...


Tapi kita diberikan kemampuan untuk menemukan cara bagaimana menikmati hidup dalam kebahagiaan dan keindahan.


~Author~


.


.


__ADS_1


__ADS_2