Fate Or Destiny

Fate Or Destiny
Eps. 50. Dicintai dan Mencintai


__ADS_3

Keke dan Inge masih diam dengan pikiran masing-masing. Mima yang selesai melayani transaksi pembayaran balik lagi ke meja Keke dan Inge, duduk lagi di sana.


"Kak Renske, mereka temannya kak Benaya?"


Yemima bertanya dan menunjuk meja Ben dan teman-temannya dengan dagunya.


"Eh? Aku gak kenal sih... katanya teman saat tugas di Balikpapan beberapa tahun yang lalu..."


"Kak... coba deh kak Renske duduk di meja kasir, dari sini sih gak kelihatan, tapi dari situ kelihatan banget, tuh cewek yang pake baju kuning depan kak Benaya, gak berhenti ngeliat kak Benaya terus..."


Keke menoleh ke arah Benaya.


"Gak kelihatan kak ceweknya dari sini... kak Renske pindah baru kelihatan..."


"Kalau ngobrol kan memang gitu, suka saling tatap, wajar aja..."


"Yang ini beda kak, kayak menggoda gitu... manja, overreacting gitu..."


"Biarian aja..."


"Gak marah atau cemburu pacarnya digodain perempuan lain?"


"Marah kalau kak Bensnya menanggapi."


"Gak cemburu pacar dipepetin orang? Secara ganteng gitu..."


"Ehh? Gak lah..."


"Emang kamu... posesif sama cowok, ditinggalin kan kamu..."


Inge menimpali diikuti wajah cemberut Mima.


"Bu boss ihh... kan sayang makanya jadi posesif."


"Kak... yang diomongin udah ke sini..."


Mima berdiri dan pindah ke mejanya.


"Rens..."


Ben duduk di samping dan langsung merangkul Keke.


"Eh... kak Bens, udah ngobrolnya?"


"Udah... sorry agak lama, ya gitu deh... Salah satunya boss dari perusahaan yang dulu jadi partner kita, gak enak aja langsung pergi, dulu hubungan kita baik."


"Oh... mmmh... kak Bens disuruh papa nginap aja, gak usah pulang katanya, ada kamar kok."


Keke menatap Ben dari samping.


"Iya kak Ben... nginap aja, aku belum puas masih pengen liatin kak Benaya..."


Inge menimpali, disambut tatapan heran Benaya.


"Hehehe... becanda kak Benaya... becanda."


"Hadeeeh... ada yang udah jarang dibelai, jadi aneh hari ini..." Mima bersuara keras dari tempatnya.


"Mim... mau ngerasain terima gaji cuma separoh?"


"Jangan dong bu boss, maafkan diriku yang berkata benar hari ini... hehehehe."


"Sorry kak Benaya... kita suka iseng... hehe... Silahkan sayang-sayangan lagi, aku mau kontrol bagian belakang dulu..."


Inge beranjak meninggalkan senyum untuk pasangan itu.


"Anak-anak mana, Rens?"


"Di rumah sebelah, lagi nonton sih tadi..."

__ADS_1


"Inge tinggal di rumah itu ya?"


"Gak... kak Inge tinggal dengan papa... rumah itu tempat istirahat kak Inge aja. Atau kalau papa ke sini suka istirahat di situ..."


Benaya kini menghadap ke arah Keke, siku tangan kiri disandarkan di meja. Tangan kanan memperbaiki rambut pendek Keke, menyisipkan sebagian di belakang telinga. Sekarang tangan itu membelai-belai pipi Keke.


"Sweety... pipi kamu dingin..."


"Udah dari tadi seperti itu..."


"Apa kita pulang aja?"


"Pulang ke Manado?"


"Emang om Ramly ngasih ijin kamu pulang malam ini?"


Ben senyum dan kini menarik kepala Keke mendekat dengan lembut lalu dua telapak tangannya ditempel-tempelkan ke pipi Keke.


"Kenapa kak?"


Keke bertanya heran dengan apa yang Ben lakukan di wajahnya.


"Biar pipinya jadi hangat lagi..."


Keke terharu Ben begitu perhatian. Agak lama Ben melakukan tindakan itu. Dan saat memperhatikan sekeliling, Keke jadi risih, beberapa karyawan melirik ke arah mereka.


"Mmmh... udah kak. Kita ke tempat papa dan anak-anak aja ya..."


"Oke..."


Ben membantu Keke Berdiri, kedua tangan tak dilepaskan, kini berada di atas bahu kekasihnya sambil beranjak pelan mengikuti gerakan Keke tapi terhenti kemudian. Rombongan teman Benaya nampak udah selesai dua orang masuk, seorang pria yang bertubuh gempal dan seorang wanita yang memakai terusan kuning, sengaja datang mencari Ben. Dari tempatnya Mima memberi isyarat pada Keke. Keke melihat sepintas dan benar cewek itu matanya tertuju pada Ben.


"Kita mau pamit bro..."


Si pria mengulurkan tangan ke arah Ben untuk bersalaman. Ben menyambut tapi tetap merangkul Keke. Si wanita mulai menatap aneh dan mengulurkan tangan juga.


"Sampai ketemu yang Ben... ini adiknya ya..." dia berkata lembut dengan mata menatap pada Ben.


Keke mengulurkan tangannya menyapa dengan sekilas senyum dan anggukan. Keke menangkap perubahan wajah wanita di depannya. Sementara Ben semakin merapat pada Keke, dua tangan sudah naik lagi ke bahu Keke, tubuhnya yang tinggi membuat dia leluasa melakukan itu. Keke mengerti akhirnya kenapa Ben bersikap seperti itu. Calon istri ya??


"Oke... kita mau bayar dulu..."


Pak  Stevi menuju kasir. Si wanita masih melirik-lirik Benaya.


"Pak... semua free... kak Renske owner tempat ini, karena bapak temannya kak Benaya, jadi gak perlu bayar pak. Semoga lain kali berkesempatan datang kembali di tempat ini..."


Mima menjawab dengan fasih dan ramah sambil menangkupkan tangan plus senyum di wajah, tapi Keke menatap Mima dengan bingung karena merasa tak memerintahkan apapun, lagian dia bukan owner.


"Oh... terima kasih, terima kasih..."


Pak Stevi senyum ke arah Keke. Keke hanya teraenyum segaris saja.


"Bro... sampai ketemu..."


Saat mereka jauh, Keke melepaskan diri dari Benaya mendekati Mima.


"Mim???"


"Tenang aja kak... gak akan nombok aku.  Rombongan besar tadi pesanan mereka baru keluar setengah mereka udah pergi, padahal udah dibayar semua sama ketua rombongannya, nanti bill ini aku masukkan ke situ..."


"Bukan itu Mim, aku gak bilang apa-apa sama kamu kan?"


"Aku sebel kak sama perempuan tadi, udah dikenalin kak Benaya sama calon istri, masih lirik-lirik ***** aja. Makanya aku sengaja biar dia tahu kak Renske siapa... malas liat tampang-tampang pelakor kayak gitu..."


Renske tertawa. Ternyata menyenangkan berinteraksi dengan lebih banyak orang, ada sesuatu dalam diri orang lain yang bisa membuat kita merasa dihargai dan terutama diperhatikan.


"Makasih deh... aku pamit ke rumah ya... "


"Iya..."

__ADS_1


"Sampai segitunya dia belain kamu, Rens..."


"..."


Keke sudah masuk rangkulan Ben lagi, berjalan pelan menuju rumah kecil tak jauh dari kafe itu.


"Kak Bens kenal perempuan tadi juga?"


"Iya... dia suka aku dulu... tapi aku gak suka, tidak melayani."


"Tampang kak Bens memang membuat banyak perempuan terpesona, kata kak Inge menyilaukan..."


"Kenapa dengan tampang aku, mmh?"


"Yaa... ganteng sih."


"Heii... terdengar seperti gak iklas mengakui itu... Emang kamu sendiri gak terpesona ya..."


"Gak. Biasa aja, udah bosan ngeliat dari kecil..."


"Dasar yaa kamu..."


Ben menghentikan langkah dengan gemas, tangan kiri memiting lembut leher gadisnya dan tangan kanan memegang rahang Keke membuat Keke tengadah menghadap wajah Ben...


"Ayo... jujur... aku  ganteng gak?  Mmh?"


Wajah Ben yang semakin mendekat membuat Keke berdebar, jangan-jangan dia mau... ini di bawah lampu besar terang banget, pasti kelakuan Ben terlihat jelas dari dalam kafe...


"Kak... lepasin..."


"Bilang dulu... kalau gak aku cium kamu di sini..."


Nah... bener kan?


"Kak Bens narsis..."


"Ngaku gak??"


Pitingan makin terasa dan hembusan napasnya makin kuat.


"Iya... ganteng."


Dan satu ciuman mendarat sempurna tanpa perlawanan. Keke mencubit pinggang Ben, hingga Ben meringis.


"Sakit sayaangg..."


"Kak Bens sih..."


"I love You... sweety..."


Ben mengacak rambut Keke gemas lalu kembali membawa Keke melangkah. Kini tangan Keke sudah dibawa Ben ke pinggangnya, saling berangkulan. Dan Ben tidak menghentikan ciumannya di kepala Keke, sebaliknya setiap satu ciuman dibalas Keke dengan satu cubitan di pinggang. Suara tawa dan ringisan Ben terdengar sampai ke kafe. Siapa sih yang gak iri melihat itu...


.


Dari mana datangnya kebahagiaan cinta? Dari pasangan atau dari diri sendiri? Banyak orang tidak bahagia karena merasa salah memilih pasangan, tidak heran cinta gampang memudar dan teralihkan.


Bagaimana jika menjadi bahagia karena diri sendiri yang berpikir untuk menjadi pasangan yang tepat dan serasi dengan siapa pria atau wanita yang ditempatkan oleh Yang Maha Kuasa... jika ada cinta di awal, mengapa tidak mempertahankan sampai akhir.


Karena pencaharian cinta tak akan pernah berhenti jika selalu merasa tidak menemukan pasangan yang cocok. Tuhan menetapkan satu untuk satu selamanya, berpasangan hanya ada dua, tidak lebih...


Mencintai dan dicintai harus jalan bergandengan.


Jangan marah jika gak setuju denganku yaaaa


☺😛🤭🤭🤭✌✌✌


.


.

__ADS_1



__ADS_2