Fate Or Destiny

Fate Or Destiny
Eps. 54. Melangkah Lebih Jauh


__ADS_3

Sore hari yang lain dari biasa, bukan karena matahari yang masih memancarkan sinarnya yang memang terasa lebih panas, bukan juga karena mereka menerima order katering atau makanan yang lebih banyak.


Ada Ben di dalam kamarnya, Keke tidak melihat sejak keluar dari kamar apa yang Ben lakukan di dalam sana, dia enggan mengintip walau ingin tahu. Dia minta ijin tidur di situ entah dengan alasan apa. Sekarang ada papa juga, datang bersama Inge dan Lody serta dua orang pria yang tidak Keke kenal. Ruko yang sekarang menjadi lebih terbuka dikunjungi lebih banyak orang dekat. Tahun-tahun sebelumnya hanya ada Keke, Rommel dan anak-anak serta tiga karyawannya.


Papa minta ijin melihat-lihat rumah bagian belakang dan sekarang ada di lantai atas bersama dua orang pria tadi. Lody duduk bersama Rommel di bagian depan ruko, adiknya mudah berbaur dengan siapa saja termasuk dengan Lody. Dan anak-anak belum balik dari rumah di kompleks belakang. Inge sejak tadi mengekori Keke, pertama memperhatikan Keke menyelesaikan lumpia pesanan untuk rudis wawali, sekarang Keke dan Inge duduk bersama di meja makan lantai atas.


Ada beberapa penganan kecil buatan Keke di atas meja serta teh dan kopi buatan tante Lenda. Keke baru selesai mandi, dia tidak berani masuk kamarnya sendiri, dia mengambil baju dari jemuran yang baru aja kering, memakai setelah menyetrika terlebih dahulu.


"Ke... tiap hari rutinitas kamu seperti itu?"


"Iya kak Inge..."


"Gak cape kamu?"


"Cape lah... tapi udah terbiasa. Makanya malam aku gak ke mana-mana, nyimpan energi buat besoknya."


"Aku gak bisa kayak kamu... mungkin passion aku bukan di dapur ya..."


"Mungkin juga kak..."


"Panggil nama aja ya Ke... aku lebih suka seperti itu, toh beda usia kita 2 tahun aja..."


"Oh... gak papa emang?"


"Iya... gak papa..."


"Nanti hut papa aku masak di sini aja, bawa makanan jadi aja dari sini."


"Terserah kamu kalau gitu, Ma Ade juga masak itu...


"Undangan berapa banyak?"


"Wah itu Lody yang tahu, mungkin gak banyak cuma saudara dekat aja. Tapi nanti kamu pastikan ke Lody..."


"Oh... ok, biar tahu harus masak berapa banyak."


"Kayaknya nasi gak usah dari sini deh, nanti aku suruh Ma Ade yang siapin itu. Ke..."


Dari arah tangga, papa muncul dengan Lody.


"Pa... minum dulu ya..."


Keke langsung berdiri menyambut sang papa.


"Ike ambil air hangat buat papa dulu... kak Lody minum apa?"


Lody memperhatikan apa yang ada di atas meja dan mengambil satu gelas kopi.


"Ini aja Ike."


Lody mengambil tempat duduk di samping Inge. Mendelik tak suka, Inge berdiri dari tempat duduknya, tidak mau berdekatan dengan Lody. Dengan halus Inge membawa papa Ramly duduk di tempatnya tadi.


"Kita langsung pulang aja ya..."


Papa berkata sambil mengambil gelas air hangat yang disodorkan Keke.


"Terserah papa aja..."


Lody menjawab enteng dan mencomot sebuah kue di piring. Mereka berempat sekarang duduk mengelilingi meja makan.


"Makan malam dulu baru pulang, pa..."


Keke bersuara, saat mendengar perkataan Lody.

__ADS_1


"Baik... baik."


Papa mengusap sejenak tangan putrinya yang ada di atas meja.


"Ike, minggu depan papa sudah mulai ya bangun bagian belakang. Tapi, karyawan Ike harus pindah sementara... papa lihat banyak rumah kost di sekitar sini, mereka ngekost dulu dua bulanan lah... nanti papa yang bayar..."


"Oh... ehh... nanti Ike kasih tau mereka, tapi pa... tante-tante itu, mereka berempat sekarang..."


"Tidak masalah Ike, sewa 2 atau 3 kamar deket sini..."


"Iya... pa. Ehh... papa makan cemilan apa ya... kue-kue ini manis semua..."


"Lumpia itu boleh kayaknya... satu masih boleh Ike, papa diet nasi sekarang, sesekali makan yang manis masih boleh lah..."


Keke mendekatkan piring lumpia, papa mengambil satu.


"Papa tahu kalian mau buat acara untuk ulang tahun papa... acaranya siang ya, jangan malam-malam, biar papa tidak kelelahan... sekarang papa gampang banget kelelahan..."


Lody mengernyit...


"Siapa yang kasih tahu papa?"


Lody menatap tajam ke arah Inge, Inge balas menatap sama tajamnya. Keke yang memperhatikan itu jadi tahu kondisi hubungan mereka.


"Ike yang kasih tahu papa, kak... gak ngerti kalau kak Lody mau kasih surprise buat papa, sorry ya..."


"Oh... ya udah... kalau papa udah tau."


Lody melengos saat ditatap marah oleh Inge, protes karena sempat dituduh Lody lewat kalimat dan tatapannya tadi.


"Ke... aku bawa seragam buat acara papa hari minggu, tuh aku taroh di sofa. Ada untuk kak Benaya sama Rommel dan anak-anak. Tapi aku gak tahu untuk kak Benaya muat gak ya... atasan doang sih, udah mepet waktu. Warnanya hijau muda, warna kesukaan Pa Ade. Kita pakai bawahan putih aja semua..."


Mimik Lody sedikit berubah, tidak menyukai Inge yang juga memasukkan Ben sebagai keluarga inti, yaitu dengan memberikan dia seragam juga.


"Ike boleh undang teman-teman dari sini ke acara papa..." ujar papa Ramly.


"Ehh... pa... Ike boleh undang mamanya kak Bens, kebetulan ada di sini..."


Keke berkata malu-malu.


"Boleh... boleh. Sekalian papa kenalan kan sama calon besan..." Papa senyum.


"Ehh... belum pa, kita belum ke sana..."


"Jangan lama-lama Ike... kalian sudah sama-sama dewasa, papa lihat Ben serius kok... Di usia kalian, sudah harus memikirkan masa depan dengan lebih baik, mengatur masa depan bukan nanti, harus direncanakan dari sekarang, termasuk pasangan hidup kalian. Kalau sudah merasa cocok jangan main-main lagi dan jangan terlalu lama pacaran kurang bagus itu..."


Papa menatap Lody di sampingnya dengan tatapan tegas. Lody menunduk, perkataan itu untuk dia juga, selalu papa menasehati dia tapi baru sekarang papa bicara soal masa depan, soal pasangan hidup. Dia merasa disuruh papa serius kali ini.


Seseorang datang mendekat dengan muka sembab karena baru bangun tidur...


"Sore om Ramly..."


Papa dan Lody menoleh ke belakang, ada Benaya berdiri di sana dekat area meja makan. Terlihat canggung tak menyangka bangun tidur keluar dari kamar sang pacar ada papa sang pacar di sini.


"Ben...?"


"Iya om... maaf saya numpang tidur di sini, di rumah ada anak-anak, ribut dan suka gangguin..."


Ben mengusap tengkuknya sendiri agak gugup ditatap om Ramly.


"Ada dua ponakan kak Bens datang, Lisya dan Via ada si rumah kak Bens, main di sana..."


Keke menjelaskan tahu kalau kak Bensnya sedang tak nyaman ditatap papa dan kak Lody. Keke juga salah tingkah, apa kata papa melihat Ben bebas seperti ini. Keke menatap papanya. Papa menganggukkan kepala tanda mengerti.

__ADS_1


"Mari, Ben... duduk di sini..."


Papa senyum sekarang, sementara Lody mencoba menguasai hatinya. Jika dia harus serius dia tahu tidak mungkin Keke, dia tahu batasannya dengan Keke sekarang. Nampaknya om Ramly setuju aja dengan Ben. Dia memandang Inge yang duduk di depannya, mata mereka bersirobok, Inge menghindar, memilih memberikan kursinya pada Ben, Inge pindah di posisi kepala meja di antara papa dan Keke. Keke menyodorkan gelas berisi teh panas pada Ben.


"Ike kasih tahu ada mamanya Ben datang..."


"Iya... om, ponakan saya pengen liburan ke sini, mama menemani mereka..."


"Om undang ke acara ulang tahun om ya... om titip salam juga..."


"Oh... iya om, terima kasih..."


"Sekalian kenalan ya... mungkin hubungan kalian akan berlanjut kan..."


"Papa..."


Keke menatap papanya, tidak suka dengan kalimat itu, seperti mendahului sesuatu.


"Gak apa-apa Rens... aku udah niat seperti itu kok..."


Tak ragu Ben mengusap pundak Keke dan memberi tatapan lembut, saat Keke melihat padanya. Gadisnya bukan seseorang yang suka membicarakan sesuatu menyangkut dirinya dengan terbuka. Dia meraih tangan Keke dan menggenggamnya, tak terlihat orang-orang makanya Keke membiarkan saja.


"Om... dalam waktu dekat saya akan bicara dengan om soal hubungan saya dengan Rens... nanti saya minta waktu om ya..."


"Oh... boleh... boleh... nanti Ben pilih waktunya, om tidak pernah ke mana-mana..."


Keke menatap Ben bingung, kesungguhan Ben terlihat di wajahnya tapi Keke tak nyaman Ben melangkah lebih jauh sekarang tapi tidak memberitahu padanya. Papa terlihat tenang saja, tentu saja dia bahagia mengetahui pacar anaknya punya niat hati yang baik. Sementara Lody saling tatap dengan Inge, entah apa yang ada dalam pikiran mereka berdua.


"Kingkong badannya besal 🎢, tapi aneh kakinya pendek 🎢, lebih aneh si bebek angsa lehelnya pan... eh... ada opa Lamly sama Onty Ine..."


Lisya dan Via muncul di mulut tangga. Lisya langsung mendekati si opa dan naik ke pangkuan opa. Ben menarik tangan Via dan memeluk anak itu. Dia tahu anak ini suka cemburu diam-diam jika orang-orang lebih perhatian pada Lisya.


"Dede... mandi dulu ya..."


"Mau duduk sama opa dulu..."


"Ke... tau gak, kemaren waktu kalian ke Green Hills, karyawan aku pikir kalian berdua udah merit, terus dua bocil ini anak kalian..."


"Oh ya..."


Ben tersenyum lebar menanggapi, kemudian melanjutkan...


"Mudah-mudahan bentar lagi..."


Keke tersenyum masam, Ben mulai menyinggung hal itu, papa juga. Apa sudah saatnya dia memikirkan langkah hidupnya selanjutnya. Keke tak punya target apa-apa soal nikah, begitu juga tentang hubungannya dengan Ben. Apa itu maksud Ben tadi saat di kamar ya?


.


.


Happy reading...


Semoga alurnya tidak membosankan


πŸ˜ΆπŸ˜‘πŸ₯΄πŸ˜ƒπŸ˜


.


☘


.


✳

__ADS_1


__ADS_2