Fate Or Destiny

Fate Or Destiny
Bonus Eps. Jangan Menahan Kebaikan


__ADS_3

Keke gelisah di bandara, mereka sedang menunggu jam keberangkatan. Karena mendadak harus pulang mereka tidak bisa memilih maskapai yang dikehendaki tapi memilih penerbangan yang masih tersedia hari ini, dan ternyata penerbangan tertunda untuk waktu yang belum bisa ditentukan.


Dalam rencana sebenarnya masih tiga hari lagi mereka di Jakarta, tapi suami mama Virda meninggal subuh tadi. Sesaat setelah mendapatkan kabar Ben memutuskan untuk pulang ke Manado demi mama Virda. Keke awalnya menolak karena belum sempat bertemu kakaknya Dinand, sudah janjian mau ke makam orang tua sama-sama. Kak Dinand gak sempat hadiri acara syukuran karena berhalangan. Keke masih cape juga karena kemarin acara syukuran seharian meladeni tamu-tamu di rumah Ben, bukan acara formil hanya menjamu makan kenalan dan kerabat mertua di Jakarta, dan itu cukup melelahkan.


Keke sama sekali tak bersimpati dengan keluarga mama Virda sebab tahu mama tidak bahagia bersama mereka. Tapi Keke mengkhawatirkan mama Virda juga, untuk ketiga kalinya menjanda pasti bukan suatu hal yang mudah buat mama, mama pasti butuh dukungan anak-anaknya. Ini juga yang ditegaskan Ben, walaupun mama tidak meminta mereka datang tapi dalam keadaan seperti ini mama pasti butuh support dari anak-anak kandungnya.


Ponsel Keke berbunyi, panggilan dari Rommel.


📱


"Kak... kak Keke jadi pulang?"


"Iya, ini sudah di bandara, tapi pesawatnya delayed... masih di rumah sakit ya?"


"Gak... aku di rumah mama sekarang ikut mengantar mama pulang..."


"Iya baguslah... jangan tinggalin mama, kasihan mama..."


"Iya... mama sedih banget. Ehh... kak, mama perlu uang untuk lunasin peti dan semua perangkat duka yang digunakan, uang mama gak cukup..."


"Mel... itu urusan anak-anaknya om, kamu jangan ikut campur, kebiasaan kamu gak bisa lihat ada sedikit masalah... itu masalah mereka bukan kita..."


"Anak-anak om udah ngomong ke mama, katanya gak ada uang di tangan mereka..."


"Biarkan mereka usaha sendiri, Mel... itu papa mereka, kenapa kita yang urusin, tugas kita urusin mama..."


"Ini buat mama juga... kita kasih aja ya... mama yang malu kalau gak dibayar sekarang, orang floristnya nungguin soalnya."


"Mel... gak mungkin mereka gak ada uang atau gak ada cara. Jangan ikut campur, kak Keke gak suka..."


"Kak, ini masalah mama juga, mama lagi sedih dan gak kuat menghadapi atau berdebat dengan mereka..."


"..."


"Kak Keke..."


Keke membuang napas berat sekaligus mencoba menghalau rasa kesal di hatinya. Rommel punya hati yang lembut gampang tersentuh dan peduli dengan keadaan orang lain. Dan kadang Keke kesal dengan sikap adiknya yang dia anggap lemah dan selalu mau mengalah.


"Kak... kasihan mama..."


"Iya iya... Mama butuh berapa?"


Akhirnya Keke menjawab dengan suara masih terselip rasa jengkel.


"Untuk sekarang buat lunasin florist 5 juta. Itu udah termasuk peti, baju, sepatu, kaos tangan dan kaos kakinya om, sama dekor dan bunga... tapi masih ada kebutuhan lain sih..."


"Nanti kak Keke transfer ke rekening mama..."

__ADS_1


"Ke rekening aku aja, sekalian aku ambil uang buat pegangan mana tahu masih butuh bayar apa..."


"Iya... papa udah dikasih tahu?"


"Udah... papa katanya mau hadir acara pemakaman besok..."


"Mama mana?"


"Lagi tiduran, mama cape banget selama di rumah sakit gak tidur dengan baik..."


"Mel... perhatiin mama, suruh makan, kasih vitamin biar gak sakit..."


"Iya kak..."


.


Di satu sisi Keke tak ingin terlibat dengan keluarga suami mama, terlebih sejak awal pria itu menolak anak-anak mama, tak ada istilah papa sambung, karena tak pernah satu kali saja dia memberi perhatian pada Keke atau Rommel. Keke kesal mengetahui sikap anak-anak itu, apa mereka gak punya hati ya? Seharusnya mereka melakukan sesuatu buat papa mereka untuk yang terakhir kali. Tapi di sisi lain, ini juga berkaitan dengan mama. Dia sangat sayang mama Virda sekarang. Tapi kenapa hati ini berat ya?


"Sweety... telpon dari siapa?"


Ben datang dengan dua cup coffee serta sebuah kotak berisi roti. Matanya menangkap sesuatu pada raut wajah sang istri.


"Dari Rommel..."


"Ada apa?"


"Minta uang buat bayar peti si om..."


"Ehh... gak usah, pakai uang aku aja..."


"Rens... sekarang gak ada istilah uang kamu uang aku, tapi uang kita, oke? Berapa banyak yang mama perlukan?"


"Ehh... 5 juta..."


Keke menjawab dengan enggan.


"Udah semua kebutuhan itu? Pakai rekening siapa?"


"Belum, sih. Rekeningnya Rommel aja, ini ada aku simpan di profil aku..."


Keke menyodorkan ponselnya. Ben sejenak fokus melakukan transaksi lewat ponselnya.


"Udah aku kirim 10 juta..."


"Kebanyakan itu..."


"Gak apa-apa, ada peristiwa seperti ini, ada aja kebutuhan tak terduga. Lagian itu mama kita, kasihan lagi sedih kemudian harus ditambah memikirkan keadaan keuangannya..."

__ADS_1


"Sebenarnya aku gak suka... anak-anak om masa gak mau bertanggung jawab..."


Ben menatap lekat istrinya.


"Rens... kalau kita selalu melihat orang lain, kita gak akan pernah bisa memberi, gak akan pernah bisa berkorban. Jika kita bisa berbuat baik, jangan menahan kebaikan itu. Jika kita tahu bagaimana berbuat baik tapi kita tidak melakukan, kita berdosa. Lagian yang akan menerima balasannya kita juga Rens... Soal mereka tidak mau bertanggung jawab, itu menunjukkan siapa mereka, mereka akan menerima balasannya sendiri."


Keke memandang raut wajah serius suami saat berkata-kata. Keke jadi tertunduk kemudian. Sekarang Keke tahu, jika suami menyebut namanya, berarti dia sedang serius dengan sesuatu.


"Rens..."


"Iya..."


"Lihat mama aja ya? Pikirkan keadaan mama, supaya kamu sejahtera untuk memberi, keikhlasan itu penting saat kita bersikap peduli pada orang lain..."


Keke masih menunduk. Lama dia tak memiliki arahan soal tindakannya, bagi Keke selama ini 'kalau sikap kamu baik maka aku sama, akan bersikap baik padamu' hanya hukum saling membalas budi. Seperti sering dia dengar dari tante Wisye, tanam ubi pasti panen ubi, kamu beri satu aku balas kasih satu, selesai.


Ben membawa pengertian yang lebih lagi soal ini. Berbuat kebaikan itu tak peduli mereka jahat, lepaskan saja, ada yang tahu kebaikan kita dan DIA mencatat semua, kita lupa apa yang kita pernah lakukan tapi DIA tak pernah lupa.


"Rens..."


"Iya..."


Ben meraih kepala Keke dan mencium pelipisnya sekilas. Agak lama dia membujuk Keke untuk pulang. Alasan Keke, yang meninggal hanya suami mama yang selama hidupnya tak pernah peduli pada mereka, dia belum ziarah ke makam mami papi padahal itu salah satu tujuannya ke Jakarta. Dia juga belum beli pesanan anak-anak, dan masih cape karena acara kemarin.


Bagi Ben, yang lebih penting adalah orang yang masih hidup, mama butuh mereka, justru karena anak-anak om yang seperti itu maka mama perlu anak-anaknya sendiri untuk berdiri di sampingnya. Pesanan anak-anak bisa di beli di Manado, dan mereka bisa datang lagi kapan-kapan khusus untuk ziarah. Akhirnya Keke menyerah mengikuti keputusan suami.


"Minum dulu sayang..."


Ben menyodorkan satu cup coffee pada istrinya.


"Atau mau cari makan aja?"


"Gak... aku makan roti ini aja..."


Ben mengulurkan tangan memperbaiki geraian anak rambut Keke dan mengusap pipi Keke dengan sangat lembut.


.


🍀


.


Hi...


Terima kasih buat atensi kalian....


Blessing

__ADS_1


.



__ADS_2