Fate Or Destiny

Fate Or Destiny
Eps. 61. Mama Aku


__ADS_3

"Ike??"


Mama tadi buru-buru dari dapur mendapat info dari anak sambungnya ada anaknya mencari dia. Dia pikir Rommel yang datang, anak itu suka muncul bertemu dirinya di hari minggu, dan sudah lama anak itu tidak datang.


"Ma..."


"Masuk Ike, masuk ke dalam..."


Mama tidak menunggu Keke bergerak dia langsung masuk ke dalam kios, dia menarik bagian atas kaosnya mengeringkan sudut matanya. Rasa haru tiba-tiba menghampiri, anak gadisnya yang tak tersentuh, sejak awal pulang ke Manado tak pernah bisa dia dekati, hari ini datang mencari dia.


Keke menarik tangan Ben dan menggandeng tangan kokoh itu dengan posesif. Keke dan Ben berjalan melewati si wanita jutek yang kini gak pake daster lagi, sekarang pakai kaos oblong hitam yang melekat ketat di tubuh besarnya, dan mengunakan jeans pendek beberapa sentiii di atas paha... wahh indikasi apa ini?


Ben paham hati Keke sedang panas, dia tahu bagaimana reaksi Keke, saat terpancing dia akan menjadi lebih ganas dari orang yang dia hadapi. Ben juga paham mengapa Keke berjalan menempel padanya. Ben melepaskan tangan Keke dan balik merangkul Keke dan sedikit mengusap lengan Keke dengan jemarinya...


Hati Keke perlu diademin bang... abang tahu aja sih...


Keluar dari kios mereka berjalan di samping rumah itu dan menuju bagian belakang, mengikuti mama Virda. Keke heran, tadinya dia pikir saat di teras akan berbelok masuk ke rumah itu.


Di bagian belakang, ada sebuah pintu masuk ke sebuah ruangan. Ruangan itu tampaknya tambahan pada bangunan rumah yang lumayan besar sebenarnya. Aksesnya memang dari samping rumah ini.


"Mari masuk Ike, maaf mama belum beberes, berantakan."


Mama mengambil dua buah kursi plastik biru yang sudah pudar, meletakkan di dekat pintu.


"Duduk dulu..."


Mama melanjutkan dan mengambil juga kursi plastik lain yang bersusun dua terlihat sudah patah di sandarannya. Mama duduk di situ dan melempar senyum pada mereka berdua.


Keke mengedarkan pandangan sejenak. Ruangan sempit mungkin hanya 3x3, hanya ada meja makan berukuran kecil, di atasnya ada magic jar, tudung saji dan beberapa kotak plastik hasil daur ulang, ada 1 kemasan kopi merek Kotamobagu yang ujungnya diikat karet, gula juga sama masih di plastik yang diikat karet gelang di atas meja, serta sebuah gelas besar kopi hitam yang sudah diminum setengah.


"Ike sehat?"


"Iya... mama... gimana?" Keke menjawab kaku.


"Mama sehat juga. Dede sama Via gimana?"


"Mereka sehat-sehat juga."


"Kenapa gak diajak ke sini?"


"Ehh... lain kali Ike ajak mereka datang."


Keke menangkap reaksi yang berbeda saat mama bertanya tentang anak-anak. Rindu kah?


"Ini siapa?"


Mama memandang pada Benaya.

__ADS_1


"Ini... ini Benaya."


Keke menjawab dengan ragu bagaimana memperkenalkan Ben. Ben berdiri menghampiri tante Virda, Keke harus dibantu soal ini, dia pasti gak akan bilang apa-apa lagi selain nama Benaya. Ben mengulurkan tangan mengajak tante Virda salaman. Mama Virda juga berdiri sejenak menyambut tangan Ben.


"Panggil saya Ben aja, tante. Saya calon suami Rens."


"Oh... Ben ya... Ike mau menikah ya?"


Mama antara senyum atau mau menangis mengucapkan kalimat itu. Keke hanya memperhatikan wajah mamanya, masih kaku untuk merespon balik, Kenapa mama seperti mau menangis?


"Iya tante... bentar lagi mau ada acara tunangan. Makanya kami ke sini, sekalian saya kenalan sama calon mama mertua, mau meminta tante hadir juga..."


"Oh... kapan acaranya?"


"Tiga minggu lagi tante, tanggal 8, pas hari minggu sih..."


Ben meletakkan tangannya di pundak Keke yang masih mematung di sebelahnya, memberi tepukan lembut. Keke menoleh dan mengerti arti isyarat yang dikirimkan dagu Ben.


"Ekhm... ma, Ike mau mama hadir saat Ike tunangan."


Keke berkata pelan sambil memandang mama lagi.


"Oh... iya, iya... nanti mama ke Manado hari itu..."


"Ma... acaranya di Tomohon..."


"Bukan ma... di... di rumah pa...pa. Acaranya di rumah papa."


Keke menjawab terbata, dan kemudian melihat guratan yang lain di wajah mama.


"Papa?"


"Iya ma... papa Ike, papa Ramly."


Keke menjawab hati-hati, tak tahu apa yang tersimpan di benak sang mama mengenai hal ini, tak bisa menafsirkan arti tatapan mata mama padanya sekarang.


Lama tak ada suara di antara mereka. Mama Virda membuang muka ke tempat lain. Keke pun melempar pandangan ke langit-langit rumah. Ada kabel-kabel panjang berseliweran di atas, kabel yang seharusnya berwarna putih terlihat sudah menghitam sama seperti warna seng di atas. Terlihat ada satu lampu di atas dinding pembatas dengan ruangan lain, jadi satu lampu untuk dua ruangan ini dan sebuah kamar, mungkin itu kamar mama Virda? Rumah ini tak ada plafon, dengan tinggi bangunan tak sampai tiga meter. Pantas terasa panas di dalam sini. Pantas juga saat masuk tadi Ben harus menundukkan kepala, Ben tingginya 180 cm, berapa tinggi pintu itu?


"Tante... saya dan Rens berharap sekali tante hadir di acara kami, ini acara penting buat anak tante..."


Ben menghentikan pusaran atmosfir dingin yang membuat Keke dan si mama membeku di ruangan panas ini.


"Di... di Tomohon ya, Ramly di Tomohon sekarang ya..."


Si mama kembali mencari tatapan Keke. Rasa senang karena anaknya mau tunangan dan datang memberitahu dan meminta kehadiran si mama, segera luruh berganti rasa berat bertemu mantan suami. Jika tempat pelaksanaan acara putrinya di tempat lain dia mau, sangat senang turut menyaksikan moment penting itu, mengingat seperti apa hubungan mereka berdua selama ini. Anaknya mau datang padanya itu sesuatu yang luar biasa untuk dirinya. Tapi ini di rumah Ramly, dia tidak punya keberanian berjumpa lagi.


"Iya ma... papa pindah ke Tomohon, katanya sejak tiga tahun yang lalu saat oma Beatrice meninggal."

__ADS_1


"Oh... mami sudah tidak ada ya..."


"Iya..."


"Ike pernah ketemu oma?"


"Gak ma... Ike ketemu papa belum lama, papa datang ke ruko cari Ike..."


"Oh... Ruko Ike sudah selesai? Terakhir Rommel datang katanya lagi bangun lantai atas..."


"Udah... mama udah lama gak main ke rumah..."


"Oh... mama tidak enak selalu menganggu kalian..."


Keke terdiam mendengar suara mama dan isi kalimat itu. Sesuatu menyentuh hatinya, terlebih saat memandang wajah sedih sang mama. Wajah mirip mami Vosye, wajah yang tak pernah dia kangeni, tapi mulai detik ini dia merasakan dalam kesadaran nuraninya bahwa mereka terhubung, dan hubungan itu bukan hubungan biasa. Kesedihan di wajah mama entah kenapa menjadi kesedihannya sekarang.


"Ma... mama tidak pernah menganggu kami. Rumah itu rumah mama, Ike hanya memperbaikinya..."


"Bukan Ike... mama meminta rumah itu dari Ramly untuk Ike, bukan untuk mama."


Pungkas mama. Ingatan di masa lalu membuat matanya memanas. Mata yang telah nyata keriput di sudutnya memandang Keke dengan lapisan kristal yang siap menjadi butiran airmata.


"Ma... mama kan mama aku, mama Rommel, oma Dede sama Via... masa mama merasa tidak enak?"


Walau pelan saja suara Keke, namun lancar mengungkapkan kalimat itu. Dia memilih mengatakan sesuatu yang berbeda sekarang, dulu jujur kedatangan mama selalu dia anggap gangguan.


Rasa prihatin melihat langsung hidup mama sekarang, serta rasa lain yang baru tumbuh, membuat Keke hampir menangis mengungkapkan kalimat tersebut.


Mama hanya menunduk. Dia tak pernah saling mengungkapkan perasaan dengan Keke, dia hanya cukup tahu dari sikap Keke bahwa Keke tidak menginginkan dirinya, karena itu mama yang merasa bersalah pada anak keduanya ini memilih menjauh. Tapi baru saja dia mendengar sesuatu yang indah dari bibir anaknya. Hatinya bergetar membuat airmatanya jatuh, bukan hanya satu dua tetes tapi telah menganak sungai membasahi pipinya.


Sesaat kemudian suara lirih isakan terdengar. Ben menyentuh tangan Keke dengan gerakan kepala memberi kode untuk mendekati mama. Keke enggan untuk berdiri walau hatinya kini hampir porak-poranda oleh tangisan sang mama. Tapi saat tangisan mama semakin jelas, Keke akhirnya melangkah mendekat dan sambil berdiri di depan mama dua tangannya terulur mendekap sang mama.


Keduanya kini menangis bersamaan, atmosfir keharuan menyelimuti ruangan sempit itu. Ben juga terharu, ingin sekali ikut memeluk kekasihnya, tapi dia memberi ruang untuk mama dan putrinya menguatkan kembali benang emas ibu-anak yang sempat renggang.


Akhirnya keduanya saling melepaskan diri. Keke kembali ke kursinya. Ben sigap menyambut dengan kedua tangannya membantu Keke duduk. Tangan memeluk dari samping kemudian berpindah mengusap punggung Keke.


.


💚


.


~ Kasih itu tidak berkesudahan, hanya kadang tak terlihat, tersembunyi dan tertutup ego, dan teralihkan oleh keadaan.


Kasih akan selalu bertahan sekalipun seolah-olah tak ada yang perlu dipertahankan ~


.

__ADS_1


✳


__ADS_2