
Keke selesai menata kue pesanan di dalam dus warna putih berlogo Keke's Dessert. Matanya memperhatikan sejenak beberapa dus itu, memastikan kondisi kue dan kerapihan kemasan, lalu dia melepaskan napas lega karena bisa selesai tepat waktu. Ada 2 jenis kue pesanan sore ini, brudel keju dan biapong isi kacang, tak lama lagi pesanan akan diambil pelanggan yang sudah otw. Menjelang sore hari, saatnya mandi dan mengistirahatkan tubuh lelahnya karena rutinitas sepanjang hari.
"Selesai akhirnya. Tin... teman kamu jadi kerja? Kalau gak jadi ada kenalan tante Lenda yang butuh kerja juga..."
"Nanti Titin cari kepastian kak..."
"Hari ini Tin... biar besok udah masuk kerja. Pesanan kita makin banyak, kak Keke mau ada yang khusus tangani kerjaan ini. Tante Lenda sama tante Wisye fokus sama katering aja."
"Kata tante Wis, ada tante Yul mau masuk kerja juga..."
"Oh iya ada dua orang sih... ya mereka tangani katering. Kak Keke butuh orang bantuin kamu ngurus kue dan dessert..."
"Gitu ya..."
"Jam kerjanya kayak kamu Tin... sampai sore..."
"Iya nanti Titin telpon..."
"Iya, harus ada kepastian loh... kita mau terima pesanan kue beberapa kafe soalnya mulai bulan ini..."
"Iya kak sesudah ini Titin telpon ya..."
"Kamu yang bawa dus-dus ini ke depan ya, bentar lagi mau dijemput."
"Iya kak..."
"Kak Keke mau mandi sekarang..."
"Iya..."
Titin sekarang kerja sampai sore, membantu Keke menangani pesanan. Usaha penganan ringan berupa makanan penutup, kue-kue khas Manado maupun kue populer lainnya yang Keke tekuni berjalan semakin lancar. Ada saja pesanan setiap hari di luar pesanan rutin. Sekarang jenis penganan ringan yang dia tawarkan semakin bervariasi dan ada yang unik kreasinya sendiri. Awal-awal berani mencoba resep baru kemudian dengan kreatif memodifikasi rasa, bentuk, toping atau isi. Coba-coba jual sampelnya dan ternyata ada yang menyukai.
Keke naik ke lantai atas, belum sampai di anak tangga terakhir sebuah suara terdengar dari mulut tangga di bawah. Keke menoleh...
"Ike..."
"Eh... kak?"
Tanpa disuruh Lody sudah naik dengan senyum di wajah. Keke meneruskan langkah saat Lody sudah kian dekat. Keke menuju dispenser mengambil air minum, dia kadang lupa kebutuhan yang satu ini bila sudah sibuk bekerja. Kadang dia ingat meletakkan tumbler di meja kerjanya, tapi hari ini dia lupa lagi, makanya tenggorokan terasa kering sejak tadi.
"Kakak numpang mandi ya..."
Ucap Lody saat sudah mencapai lantai atas. Lody semakin akrab aja menyapa dan bersikap. Dia meletakkan ranselnya di sofa.
"Oh boleh... tuh kamar mandinya..."
Keke menunjuk sebuah pintu di sudut belakang, kamar mandi untuk anak-anak dan Rommel. Di kamarnya Keke punya kamar mandi pribadi. Penataan ruang di lantai atas ini memang tidak ribet maklum tidak menggunakan arsitek juga desain interior. Tiga kamar ada dalam satu jejer dari muka sampai belakang. Ruangan keluarga pun bersambung dengan ruang makan dan dapur kecil tanpa partisi. Ada balkon kecil di depan dan ada teras untuk cuci jemur di belakang. Furniture pun hanya sesuai kebutuhan.
"Ok. Boleh kakak pinjam handuk?"
"Ehh?"
Keke terperanjat. Dia tidak memiliki handuk cadangan untuk digunakan orang lain, tidak punya handuk baru pula. Keke berpikir sejenak kemudian melangkah ke kamar adiknya, mengambil salah satu handuk bersih dari sebuah tumpukan baju yang masih terbungkus plastik laundry.
"Ini... bukan handuk baru tapi bersih."
"Kakak gak bawa sabun..."
"Eh? Di kamar mandi ada sabun cair..."
"Ok..."
Lody masuk kamar mandi dan Keke masuk kamarnya sendiri yang terletak paling depan, mengunci pintu lalu masuk kamar mandi. Si kak Lody makin sering singgah di ruko Keke, sepertinya setiap ada keperluan di Manado dia mampir.
Keke sebenarnya masih kaku dengan hubungan kakak-adik ini, tapi dia tak ingin bersikap tidak sopan dengan tidak mengacuhkan kedatangan kak Lody. Dia menerima kehadiran Lody tapi selalu hanya dengan sebuah percakapan singkat atau basa-basi pendek.
Satu jam Keke dalam kamar, maksudnya hanya berbaring sebentar, dia malah tertidur. Memang sekarang dia tak terlalu kuatir soal anak-anak, selain Rommel, kedua tante ikut memperhatikan Via dan Lisya. Itu menguntungkan karena dia bisa punya waktu beristirahat, dan ternyata tubuhnya butuh itu.
Sambil mengucek-ngucek mata Keke keluar dari kamar, di luar mata Keke beradaptasi dengan cahaya mentari sore yang sudah meredup. Dia melangkah berniat mencari anak-anak di bawah.
__ADS_1
"Baru bangun, Rens?"
Ada Benaya ternyata, dia tak begitu memperhatikan karena tidak ada suara terdengar di ruangan itu saat dia keluar kamar. Keke berhenti dan menatap Benaya yang duduk di sofa.
"Sini..."
Tangan kanannya melambai memberi isyarat pada Keke untuk mendekat. Ada seulas senyum merekah membuat dia terlihat tampan di mata Keke.
"Hei... sini Rens..."
Keke bengong karena terpesona dengan senyum itu atau karena belum sadar sepenuhnya... yang jelas dia tengah terpaku di tempatnya. Ben melambai lagi...
"Sayaaaanggg... sini."
Keke yang tersadar melempar senyum kecil membalas Ben. Dengan langkah pendek-pendek dia mendekat. Saat hendak duduk Ben menangkap pergelangan tangan Keke dan membawa Keke duduk di sampingnya.
"Tumben tidur sore-sore?"
"Gak tau... tadi itu pengen meluruskan punggung aja, keterusan. Kak Bens udah lama?"
"Hampir sejam..."
Jawab Ben setelah melihat jam di dinding.
"Belum pulang rumah?"
"Iya, langsung ke sini."
"Kalau gitu, jangan peluk... kak Bens belum mandi, masih bau keringat, pulang mandi gih..."
Keke menurunkan rangkulan tangan Ben di bahunya.
"Hahaha... bisa ternyata kamu seperti itu, lucu deh... Biasanya lempeng aja... nih muka minim ekspresi, minim reaksi, nih mulut minim ucapan..."
Ben menutup seluruh permukaan wajah Keke dengan tangannya. Keke menggerakkan kepalanya berusaha melepaskan tangan Ben yang tertempel di wajahnya.
Ben masih tertawa dan sengaja semakin menempelkan tangan sementara Keke juga berusaha melepaskan tangan Ben di wajahnya. Kedua tangannya kini memegang tangan Ben.
"Ike..."
"Iya kak?"
Keke menjauhkan tubuhnya dari Ben, menatap kikuk sang kakak. Baru ingat dia ada Lody di sini.
"Ike baru bangun?"
"Iya..."
Keke melirik Ben yang wajahnya begitu cepat berganti ekspresi.
"Kakak mau pamit, ada acara di Hotel Five Point..."
Keke baru sadar kakaknya sekarang mengenakan pakaian rapih, batik lengan panjang berpotongan slimfit yang membentuk tubuhnya. Terlihat ganteng wahh... Keke menyimpan senyum menyadari telah menilai penampilan si kakak.
"Iya kak, hati-hati."
"Kakak nginap sini... acaranya mungkin panjang. Kakak malas pulang ke Tomohon, udah malam banget kayaknya baru selesai."
"???"
Keke berdiri, berjalan mengikuti Lody yang sudah memutar tubuh dan bergerak menuju tangga. Tadi kakaknya tidak meminta persetujuan, hanya memberi tahu. Keke ingin menanggapi tapi si kakak sudah mau jalan.
Mau tidur di mana? Jam berapa pulang ke sini? Pertanyaan itu tertahan di tenggorokan.
Di ujung tangga, Lody sengaja menunggu Keke yang mengikutinya, entah kenapa Keke melakukan itu.
"Kakak nunggu Ike tadi, tapi Ike ketiduran kayaknya..."
"Ehh iya..."
__ADS_1
Lody menatap intens ke arah Keke, Keke menunduk menghindari tatapan. Di bagian lain ruangan ini ada yang menatap tak suka.
"Kakak pengen ngomong sesuatu. Besok aja ya..."
"Oh..."
"Kakak pergi ya..."
"Iya..."
Lody memegang sesaat bahu Keke dan meninggalkan sebuah senyum sebelum turun. Keke berbalik menuju sofa lagi, duduk dekat Ben lagi.
"Dia sering ke sini sekarang."
"Iya..."
"Aku gak suka kamu deket dengannya Rens..."
"Ehh? Siapa yang deket... aku?"
"Iya... kamu."
"Maksud kak Bens? Di mana aku deket sama kak Lody? Deket seperti apa?"
"Sikap kalian lah... sikap kamu padanya, aku terganggu."
Keke berdiri dari tempat duduknya menjauhi Benaya, sesuatu bekerja di otaknya sekarang.
"Memangnya seperti apa sikap aku? Aku kenal kak Lody baru beberapa minggu, ngomong juga seperlunya... di mana sikapku yang deket dengan dia yang mengganggu kak Bens?"
"Seperti tadi itu..."
"Aku tanya seperti apa?"
"Yang tadi..."
Keke menatap Ben dengan kesal bahkan kemarahan mulai menguasai hatinya. Ada apa dengan cowok yang biasanya dewasa ini? Tak bisa menjelaskan dengan benar sikap Keke yang seperti apa yang menjadi masalah buat dia.
"Denger ya... aku gak tau sikap ku yang bagaimana yang kak Bens gak suka. Tapi ini aneh... dia kakak aku, dia datang di sini sebagai keluarga aku... aku juga masih bingung bagaimana harus memperlakukan dia sebagai kakak. Aku hanya bersikap sopan sejauh ini. Aku tidak mengharapkan mereka ada, papa dan kak Lody, tapi kenyataannya mereka ada... tolong kasih tau aku, seperti apa aku harus bersikap yang benar..."
Keke kini menatap Ben dengan sorot marah, demikian juga intonasi suaranya. Ucapan Ben tadi membangkitkan rasa marah di hati Keke. Ben yang mendengar suara Keke sadar, dia seperti membuka jalan air yang besar. Dia yang memulai ini. Melihat Keke yang emosi saat marah pada orang lain, beda dengan melihat Keke emosi karena dirinya.
Dia tak mengerti juga kenapa dia melontarkan kalimat tadi. Sejak pertama melihat Lody, dia merasakan sesuatu di hatinya. Menyimpan selama beberapa minggu dan tadi tersulut saat pulang kantor dia melihat mobil Lody diparkir di depan ruko.
Saat melihat Ben hanya diam tak menjawab apapun, Keke semakin emosi.
"Pulang!!"
"Rens..."
"Pulang sekarang! Aku gak suka kak Bens di sini..."
Keke masuk ke kamarnya meninggalkan Ben yang belum mampu menelaah apa yang terjadi dalam dirinya sendiri.
.
.
.
.
Hi...
Aku coba menulis rangkaian besar konflik untuk mereka berdua biar ada greget gituuuu... tapi kok gak pas ya...
Aku ternyata penulis yang gak terlalu suka intrik dan kerumitan dalam sebuah hubungan.
Mungkin juga karena jam terbang aku dalam menulis yang masih pas-pasan hehehe, belum punya kemampuan mengelola konflik dan menyajikan secara menarik, jadi ku putuskan menulis semampuku aja 🤗✌😌
__ADS_1
✴