
Benaya sedang menata botol minuman yang baru dia beli ke dalam kulkas.
"Selamat siang... pak Ben..."
Ada suara dari teras mungil depan rumah. Benaya bergegas ke depan.
"Oh Josh..."
Benaya membuka pintu dan langsung masuk lagi ke ruang makan menyelesaikan menyimpan botol minumnya, kulkas belum dia tutup tadi. Josh mengikuti dari belakang.
"Duduk Josh..."
"Makasih, pak."
"Kapan kamu tiba di sini?"
"Sudah sejak dua hari yang lalu pak... tapi saya ikut Rolly ke kampungnya..."
"Rolly?"
"Salah satu staff kita, dia asal sini, pak."
"Oh. Ada berapa orang dari kantor kita yang ikut datang?"
"Untuk sekarang kami bertiga pak, saya Rolly dan Elijah... nanti Fransien dan Hapsari menyusul minggu depan."
"Ada staff perempuan?"
"Iya pak... 2 orang dari divisi keuangan."
"Kasih tahu HRD di sana ganti laki-laki semua, saya tidak suka staff perempuan, suka merepotkan."
"Wah... pak, itu pengaturan Pak Nicolaas sendiri, semua staff pusat yang turun... itu pilihan boss..."
"Ahk... shi*t... Kalian dapat akomodasi di mana?"
"Di sini semua, kompleks ini sudah disewa untuk staff pusat pak. Saya persis di depan pak, saya gunakan rumah itu sendirian karena istri dan anak saya mau nyusul. Rolly dan Elijah menempati rumah di samping saya, Fransien dan Hapsari paling ujung..."
"Oh... jadi di deretan saya ini kosong?"
"Iya... disiapkan bila ada penambahan staff dari pusat atau ada kunjungan apa dari pusat."
"Baik... Josh, atur Elijah jadi sekretaris saya. Bilang ke pak Boy, saya tidak suka sekretaris yang mereka pilih."
"Baik pak... ada yang harus saya kerjakan?"
"Kamu sudah lihat kantor di sini?"
"Sudah pak, waktu tiba di sini kemaren saya langsung minta diantar ke kantor."
"Tempat kita kerja sudah siap kan?"
"Belum sih, katanya menunggu bapak..."
"Dana sudah turun, seharusnya urusan teknis sudah mereka siapkan... gimana sih cara kerja mereka? Kantornya seperti apa?"
"Ruko pak... 3 lantai. Pak... kantornya masih kosong, belum ada kegiatan apapun."
"Astaga... sub kontraktor seperti apa yang jadi rekanan kita...? Mmmh... begini saja, kamu siapin salah satu rumah yang kosong untuk base kita sementara, saya tidak mau pusing kantor di sini seperti apa, masa kita yang harus turun mengurus hal itu. Besok kita mulai kerja di sini dulu, saya akan lihat bagaimana mereka memulai di kantor itu... wahh..."
Benaya terlihat gusar, hari pertama yang luar biasa. Dia jadi penasaran bagaimana Sinar Jaya bisa lolos jadi rekanan.
__ADS_1
"Oh... baik pak. Rumah Rolly sama Elijah ruang tamu sama ruang makan gak ada sekat... di situ aja kali' ya pak..."
"Kamu atur saja, kamar bisa mereka gunakan... mereka single kan gak butuh banyak ruangan..."
"Iya pak. Kalau belum ada penambahan staff, mereka berdua pindah ke rumah di sebelah bapak... mana tahu bapak kadang perlu seseorang, gak terlalu jauh..."
"Iya. Eh... kamu tahu jalan di sini? Saya butuh ke supermarket..."
"Tidak, pak... tapi Rolly pasti tahu."
"Oke... sekarang kita pergi..."
"Baik... saya panggil Rolly dulu... pakai mobil saya atau mobil bapak?"
"Oh... kita dapat berapa mobil kerja?"
"5 unit pak..."
"Kebanyakan itu... 2 aja cukup sebenarnya, itu pengeluaran yang tidak perlu..."
"Ada 22 unit yang disewa pak, sepertinya 17 unit digunakan mereka. Kemarin waktu di kantor, saya sempat mengamati sedikit lah..."
"Hah... G ila apa...?"
"Iya agak berlebihan karena rata-rata mobil mahal yang disewa, mobil operasional harusnya yang standar aja..."
Benaya jadi tahu mengapa dia perlu ada di sini. Boss Nico ternyata punya alasan, dan dia sudah mulai tertantang untuk membereskan hal yang tidak perlu. Baru beberapa jam sudah mulai tercium sesuatu yang tidak wajar, mungkin ada yang kurang beres di sini. Ben jadi penasaran mengapa sub kontraktor ini yang terpilih.
"Pak... pakai mobil mana?"
"Mobil kamu aja..."
"Baik... saya tunggu di depan..."
"Rol... turun... minta mereka pindahkan mobil mereka, itu pintu samping rukonya terbuka..."
"Baik pak Josh..."
Rolly turun dan menuju pintu samping ruko yang bercat biru itu. Benaya mengangkat kepala dari ponselnya, menangkap bayangan perempuan berdiri di depan pintu, perempuan bercelemek merah, seluruh rambut terbungkus kain hijau, memakai sepatu boots plastik berwarna merah. Tampak perempuan itu sedang bercakap dengan Rolly. Tak terdengar apapun dari dalam mobil. Benaya kembali memperhatikan ponselnya.
"Maaf om, boleh tunggu sebentar, adik saya masih di kamar mandi..."
"Wahh... boss saya sedang buru-buru..."
"Oh... ya udah... saya turunkan galon airnya dulu, tinggal satu kok... setelah itu baru saya mundurkan mobilnya..."
"Buruan ya mbak..."
Rolly langsung balik dan masuk mobil.
Di dalam mobil...
"Rol... kenapa kamu gak bantuin angkat galonnya... kasian berat itu..."
"Dia gak minta bantuan..."
Benaya mengangkat lagi kepalanya dan melihat pemandangan tak biasa, seorang perempuan memeluk galon air, seperti enteng saja membawa beban yang lumayan berat itu. Dia tersenyum kecil, sangat samar, teringat adiknya yang pasti akan berteriak minta bantuan jika air di dispenser habis.
Matanya kembali ke ponsel.
"Perkasa juga gadis itu..."
__ADS_1
Josh berujar saat mobil pick up itu bergerak mundur.
Benaya kembali terusik, sedikit menangkap siluet kepala terbungkus kain hijau di dalam mobil yang bergerak mundur.
"Bukan gadis, udah janda anak 2..."
"Wah... ada yang langsung update status seseorang di sini... hehehe..."
"Gak sengaja pak Josh... denger dari om Denny..."
Oh... mungkin mama si gadis kecil. Siapa namanya... Lisya eh... Yica.
Benaya teringat sapaan gadis kecil bermata sipit itu...
Om, beyi apa? Beyi puca? ... Sepertinya masih sangat muda, sudah janda? Dua anak? Dan... apa pedulimu hai Benaya???
Benaya menggeleng tak kentara mengusir racauan pikirannya. Sejak adiknya ditinggal mati suaminya, dia suka sensitif dengan kisah janda dengan dua anak.
Mobil memasuki sebuah kawasan...
"Di sini ada mall?"
"Iya pak... Ini Manado Town Sq... Ada 4 mall di sini, ini yang terbesar..."
Rolly menjawab bossnya.
Perasaan si boss orang Manado deh... apa lama gak pulang ya?
Benaya tertawa dalam hati untuk dirinya sendiri yang terlalu memandang remeh kota asalnya. Saat ditugaskan di sini dia masih membayangkan kota ini masih sama seperti 17 tahun yang lalu... dan mall yang akan mereka teruskan pembangunannya adalah mall pertama di kota ini, ternyata... sepertinya dia terlalu sinis dengan kota dan daerah nenek moyangnya sendiri.
Satu-satunya orang yang perlu disalahkan mengapa Benaya begitu antipati dan kehilangan rasa tentang daerah nyiur melambai ini, mungkin itu papa Fredrik. Dulu dia masih suka mengikuti orang tuanya dalam kegiatan Kawanua, setelah mulai Dewasa, setiap kali orang memuji fisiknya yang istimewa, ganteng abisss, papanya selalu berkata, lagi mencari menantu orang Manado. Awal-awal Ben berpikir itu sebuah gurauan, ternyata papanya serius. Maka rasa tidak suka ikut semua acara berbau Manado mulai ada dan lama-lama mengental menjadi antipati.
Area parkir yang dipilih Rolly adalah bagian belakang mall, tepat di bibir pantai. Pulau atau gunung Manado Tua terlihat jelas dari sini.
"Area supermaket di sebelah mana?"
"Di Mantos Satu pak... kita ke kiri..."
"Saya tidak lama... hanya membeli toiletries dan beberapa kebutuhan harian, kalian mau ikut saya atau ada keperluan sendiri?"
'Kami ikut saja, pak... sama ada kebutuhan toiletries juga..."
"Baik..."
Hari pertama di sini... seperti ada gairah baru bersemi di hati Ben, dia suka tantangan dan dia mulai merasakan ada itu di hari-hari berikutnya. Mungkin dia akan menikmati kehidupannya di sini. Apa yang akan terjadi kemudian... who knows.
.
.
Hi hi.... suka kah kalian alurnya?
Apa hanya aku yang penasaran mau lanjutin hayalan baruku yaaaa?? 🤔🤔🤔
.
.
Baiklah... aku akan bersabar menunggu respon pembaca semua....
Jika responnya baik aku akan meneruskan 😌
__ADS_1
.
✴ ✴ ✴